
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Beruntung, warga desa Lon tak diserang oleh pasukan Tur karena mereka terfokus untuk menembus pertahanan benteng terluar Vom. Mata Laksamana Noh tertuju pada tiga balon udara yang terus bergerak ke arah mereka seraya melesatkan anak panah api. Para prajurit penjaga berusaha menghindar agar tak terkena serangan. Namun, sang Laksamana berdiri tegak di atas benteng dengan pedang dalam genggaman tak gentar. Ia menangkis serangan anak panah yang ditujukan untuknya dengan sekali ayunan.
"Heh, dasar pencuri! Akan kuberi tahu hukuman bagi orang-orang yang mengambil benda milik orang lain," ucapnya garang. Para prajurit penjaga benteng menelan ludah. Entah kenapa pemimpin mereka lebih menakutkan ketimbang serangan Tur. "Potong tangan."
"Laksamana?" panggil seorang prajurit gugup dengan anak panah siap dilesatkan di balik dinding benteng.
Pria berambut putih panjang itu diam saja tak menjawab dengan mata terfokus pada satu balon udara yang terlihat memiliki moncong senjata seperti meriam kapal.
"Tembak!" teriak sang Laksamana mengejutkan.
"Tembak!" seru kapten pasukan pemanah benteng meneruskan titah Laksamana Noh.
Segera, luncuran anak panah api dari prajurit Vom terlontar, menyerbu tiga balon udara bidikan. Gor yang melihat serangan Vom dimulai, dengan sigap bertitah.
"Tameng!" teriaknya lantang.
"Tameng!"
"Tameng!"
Para prajurit yang berada di dua balon udara berbeda meneruskan perintah Gor. Perisai pelindung dari besi berbentuk segitiga itu langsung diarahkan ke depan melindungi tubuh. Anak-anak panah yang mengenai perisai prajurit Gor terjatuh. Akan tetapi, api tersebut mulai merusak keranjang kayu balon udara. Prajurit lain dengan sigap memadamkan api dengan menginjaknya.
"Luncurkan!" teriak Gor kemudian.
DOOM! DOOM! DOOM!
"Serangan!" teriak Laksamana Noh ketika melihat tiga moncong meriam dari tiga balon udara menembakkan bola-bola penghancur tersebut.
__ADS_1
BLUARR! BRUKK!!
"Awas!" teriak para prajurit Vom saat melihat menara yang tadi disinggahi oleh sang Laksamana terkena serangan dan merobohkannya.
Laksamana Noh segera berlari menjauh diikuti oleh prajurit lainnya. Bangunan tinggi menjulang itu runtuh terkena tiga tembakan bola meriam. Puing-puing dinding menara berjatuhan mengenai beberapa prajurit yang tak sempat melarikan diri. Mereka tertimbun dan tewas seketika. Namun, bongkahan besar itu juga menimbulkan keretakan pada benteng bagaikan gapura besar dan panjang sebagai dinding pertahanan terluar Vom.
"Jangan beri jeda! Tembak lagi! Runtuhkan pertahanan Vom!" seru Gor lantang saat ia melihat kain menggembung di balon udaranya berlubang dan membuat kendaraannya perlahan terbang turun.
Suara dentuman dari meriam kecil di balon udara membuat benteng Vom perlahan runtuh. Para prajurit penjaga memilih untuk menyelamatkan diri agar bisa terus berperang. Meskipun dorongan dari lontaran bola meriam membuat balon udara pasukan Tur terdorong ke belakang, tetapi hal itu memberikan keuntungan karena anak panah Vom tak bisa mengenai mereka.
"Cepat perbaiki! Kita tak boleh jatuh sampai berhasil menerobos! Bakar benteng mereka!" teriak Gor lantang berpegangan erat pada keranjang kayu tempat kelompoknya melakukan serangan terus-menerus.
"Baik, Jenderal!" jawab pasukan Tur lantang.
Para manusia setengah monyet dengan sigap memanjat tali balon udara. Mereka mengelem pinggiran bagian yang robek terkena tusukan anak panah dengan lendir dari makhluk bernama Bbb lalu menambalnya dengan kulit binatang bernama Kkk. Kulit Kkk anti air dan tidak mudah terbakar. Para manusia monyet itu sangat lincah dan begitu cekatan bekerja. Balon udara yang awalnya sudah hampir menyentuh permukaan, dengan cepat naik usai dibenahi.
"Kerja bagus! Kita akan berpesta pora di Vom jika berhasil menaklukkan benteng mereka!" teriak Gor penuh semangat.
Pasukan Vom yang bertugas di benteng dibuat kocar-kacir karena serangan tak berkesudahan itu. Pasukan burung Eee di bawah komando Jenderal Aim yang menggantikan posisi Panglima Wen, dengan sigap melakukan serangan balasan dari tiga penjuru.
"Kepung mereka dan jatuhkan!" teriak Aim lantang siap menerjang dari belakang balon udara Tur.
"Heahhh!" teriak para penunggang Eee yang dengan cekatan membagi kelompok menjadi tiga bagian.
Mereka mengepung tiga balon udara Tur dari sisi kanan, kiri dan belakang. Fokus mereka adalah melubangi kain yang menggembung itu agar robek dan menjatuhkan balon udara.
Namun, prajurit Tur tak tinggal diam. Para manusia setengah monyet ikut melakukan serangan balasan dengan melemparkan pisau-pisau yang disarungkan pada bagian luar baju tempur ke arah lawan.
SWING! JLEB! JLEB! JLEB!
"Eekkk!"
__ADS_1
"Arghhh!"
Para penunggang burung Eee jatuh bersama dengan tunggangannya dari ketinggian dan menghantam permukaan dengan keras. Burung-burung perkasa itu terluka dan kehilangan kendali atas tubuhnya karena tertusuk pisau. Para penunggang juga terluka parah dan kesulitan untuk ikut bertempur lagi.
"Huh, huh, huh, akk, akk!" seru para manusia monyet yang berpegangan pada tali balon udara saat aksi mereka berhasil menjatuhkan lawan.
Laksamana Noh dan beberapa prajurit Vom berhasil selamat dari hujan puing menara. Pria berambut panjang itu melihat jika pasukan Tur—entah dalam komando siapa—tak bisa diremehkan, mulai melakukan persiapan. Ia mengumpulkan para prajurit yang tersisa dan meminta mereka bersembunyi di balik reruntuhan. Mata para penjaga benteng terfokus pada pergerakan tiga balon udara yang terus bergerak ke arah mereka. Laksamana Noh memberikan isyarat dengan tangan kanannya yang masih terbuka sebagai tanda untuk menahan serangan. Jantung semua orang berdebar karena armada musuh sebentar lagi menembus pertahanan terluar Vom.
"Jenderal Gor! Para penjaga benteng Vom berhasil kita lumpuhkan! Mereka tewas tertimbun puing dan serangan anak panah kita!" seru seorang pengamat dari atas balon udara.
Namun, Gor seperti bisa merasakan kejanggalan. Para prajurit Tur menunggu instruksi darinya. Gor diam sejenak lalu menatap lima prajurit yang tersisa di balon yang sama.
"Bakar benteng! Kita harus pastikan jika mayat-mayat itu tak bangun lagi. Bisa jadi, itu tipuan," titahnya.
"Laksanakan!" jawab manusia monyet.
Prajurit dengan ekor panjang itu meneruskan pesan Gor ke prajurit lainnya. Mereka dengan sigap membakar batang kayu yang sudah dilumuri minyak dari seekor makhluk Ccc. Hewan itu menghasilkan banyak minyak dalam tubuhnya. Ccc bisa hidup di darat dan air.
Sangat mudah menemukannya karena hewan mirip platipus tersebut suka berendam dalam kubangan lumpur. Bedanya, paruh Ccc seperti burung bangau. Bulunya berwarna kuning dan memiliki garis memanjang berwarna ungu. Kepalanya memiliki sirip berbentuk seperti ayam jantan berwarna merah dan ekor layaknya singa laut. Ccc diternak untuk diambil bulu, daging dan minyaknya.
"Jatuhkan!" teriak Gor lantang saat para prajuritnya bersiap dengan balok-balok kayu dalam genggaman.
DUK! DUK! DUK! WHOOM!
Balok-balok kayu menutupi benteng dengan kobaran api. Asap tebal mulai membumbung tinggi karena melahap benda-benda di sekitarnya. Mata Gor memindai sekeliling dan tak terlihat pergerakan di bawah sana.
"Yeah!!" teriak para prajurit Tur bersukacita.
Akan tetapi, ....
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (DeviantArt)