
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Bulan ungu kembali memancarkan sinarnya. Permukaan yang terkena bidikannya, memantulkan cahaya keunguan yang indah. Kapal-kapal berlayar dengan aman melintasi lautan karena monster iblis Wii masih tertidur lelap di dasar laut wilayah Yak. Monster-monster lain juga tertidur dan tak mengganggu kegiatan para manusia di daratan.
Hal ini akan dimanfaatkan oleh para pemimpin kerajaan untuk segera membangun kembali tempat-tempat yang rusak, sekaligus menyiapkan kompetisi. Namun, sebelumnya ada pesta besar yang harus dihadiri. Para manusia ubur-ubur berkumpul di tepi laut Vom untuk merayakan pesta pernikahan ratu mereka. Beberapa warga yang masih mengurung diri di kerajaan masing-masing dijemput dengan kapal-kapal kerajaan Vom agar mereka bisa ikut bergabung dalam kemeriahan. Praktis, Vom menjadi tempat paling ramai se-negeri Kaa di mana hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.
Dekorasi-dekorasi berwana keunguan menghiasi pantai. Pesta pernikahan dilangsungkan di tempat tersebut agar para manusia ubur-ubur bisa ikut menikmati. Setelahnya, warga bisa mengunjungi istana untuk pesta dansa dan jamuan makan saat bulan merah bercahaya. Saat bulan ungu berikutnya muncul, barulah mereka akan kembali ke kerajaan masing-masing setelah mendapatkan cap izin dari pemimpin kerajaan yang bersangkutan jika orang tersebut diperbolehkan menetap di wilayahnya.
"Hahaha! Hahahaha!" tawa Tora saat ia berkumpul bersama para pria untuk minum bersama.
Para pria di keluarga Kiarra saling memperkenalkan diri kepada orang-orang yang ditunjuk oleh para pemimpin kerajaan. Dengan cepat, mereka dikenal karena dari segi fisik cukup berbeda. Para manusia dari Bumi dianggap oleh orang-orang Negeri Kaa memiliki kulit yang tipis. Cara bersikap dan bertutur kata juga lain, terlihat seperti manusia yang memiliki kecerdasan tinggi. Mereka juga sopan dan ramah. Keluarga Kiarra disambut baik oleh semua orang termasuk para manusia ubur-ubur, tak terkecuali para wanitanya.
"Oh, mereka harus diajari cara berdandan dan memakai make up, Ara," ujar Michelle karena orang-orang Yak memiliki kulit yang pucat dan baginya akan terlihat sangat cantik jika diwarnai.
"Kuserahkan padamu," ujar Kiarra yang mendapat sambutan hangat dari saudarinya.
Bayi Kristal terlihat cantik. Sosoknya yang unik mendapat banyak pujian dari orang-orang. Kristal didoakan agar kelak menjadi penyihir agung yang bijak seperti ibunya. Meskipun kabar jika bayi itu adalah keturunan Ram telah tersebar luas, tetapi hal tersebut tak menimbulkan kekhawatiran berlebih melihat keluarga besar sang Ratu mengawasi perkembangan Kristal dengan ketat. Tora menggendong Kristal ke mana pun ia pergi.
"Anda pasti lelah, Ratu," ujar Eur saat melihat istrinya hanya duduk sedari tadi usai disalami banyak orang yang mendoakan kebahagiaan untuknya.
"Setelah ini, tolong mandikan aku, Eur," pinta Kiarra lesu.
"Dengan senang hati," jawab pria tampan itu berbisik yang membuat wajah Kiarra bersemu merah.
Prosesi pernikahan pun terbilang unik. Kiara yang tak tahu tentang budaya menikah di Negeri Kaa sampai harus melakukan semacam gladiresik sebelum pernikahan sebenarnya dilakukan.
Sehari sebelumnya. Di aula Kerajaan Vom.
"Aku apa?" tanya Kiarra sampai memekik.
"Memang seperti itulah budaya di Vom, Ratu Kia-rra," ujar Pop yang membuat Kiarra langsung memegangi kepala yang mendadak berat.
Rein dan saudara saudarinya yang baru mengetahui adat unik di negeri itu menahan senyum. Mereka membayangkan betapa melelahkannya bagi Kiarra untuk melakukan itu semua bahkan sampai empat kali. Mengingat pria yang harus dinikahinya adalah empat orang.
"Oke, oke, sebentar. Aku ulangi," ucap Kiarra yang berdiri di atas mimbar bersama empat dayang. Semua orang terlihat fokus menatap Kiarra yang tertekan. "Jadi, pertama-tama, aku menikahi Eur." Pria tampan itu mengangguk pelan. "Lalu aku menikahi Pop, setelahnya Ben dan yang terakhir Fuu."
__ADS_1
"Ya," jawab empat dayang itu dengan senyuman.
"Hehe, seperti pernikahan estafet," sahut Raider spontan.
"Oke. Saat bersama Eur, aku menari dengan ... apa tadi?"
"Tarian Hee," jawab Eur mengulang.
"Ya, ya, si Hee-hee itu. Mm, aku menari Hee seraya membawa sebuah keranjang bunga ungu. Aku menari sepanjang jalan batu ungu sembari menaburkan bunga kepada orang-orang yang bertepuk tangan untukku?"
"Pintar!" puji Chiko, tetapi mendapatkan desisan ular dari Kiarra. Semua orang terkekeh.
"Maaf. Seberapa jauh jalan bata ungu itu?" tanya Kiarra penasaran.
"Jika melihat panjang pantai yang dibagi menjadi empat, berikut jumlah tamu yang datang ... Anda cukup menari sekitar 100 orang merentangkan tangan," jawab Fuu tenang.
"Hahahaha! Itu sama saja 300 orang berjejer rapi seperti sedang berbaris, Ara!" tawa Kenta yang mendapat pukulan di lengan oleh Rak. Kenta langsung terdiam dan Kiarra terlihat lemas.
"Tak bisakah aku melakukannya sambil menaiki kuda atau semacamnya?" tawar Kiarra memelas.
"Tidak bisa," jawab empat dayang dengan wajah serius. Kembali, orang-orang menahan tawa karena Ratu Vom tersebut mendadak pucat.
"Mudah kepalamu. Ah, sudahlah. Sekarang ajari aku cari menari Hee-hee itu," ujar Kiarra mendadak pusing.
"Dengan senang hati, Ratu Kia-rra," sahut Pop yang dengan sigap mengulurkan tangan.
Kiarra menyambutnya lalu menari bersama Pop di aula tersebut. Eur dan dua dayang lainnya berlagak menjadi pengantin. Lon yang sangat ingin menikah, menjadikannya calon pengganti Pop karena lelaki berambut gondrong itu sedang mengajari Kiarra menari.
"Ada yang salah dengan otak anak itu," ledek Ryota dan diangguki orang-orang yang sepemikiran dengannya.
Saat pesta pernikahan dilakukan, ternyata Kiarra sangat mampu untuk menyelesaikan budaya yang sudah dilakukan selama turun-temurun itu. Meski pada akhirnya, ia tak bisa menahan rasa lelahnya akibat menari hampir seharian penuh. Para dayang bisa memahami jika kekasih hati mereka letih. Pesta pernikahan terus berlangsung sampai ke istana seperti jadwal. Kiarra terlihat gugup saat membayangkan melakukan malam pertama mengingat setelah raganya kembali, ia hanya berhubungan dengan Eur.
"Hehehe, kau kenapa, Ara?" tanya Hiro penasaran.
"Kau bisa bayangkan itu?" jawab Kiarra menahan pekikannya. Hiro yang menemani Kiarra duduk di sebuah meja bundar menggeleng karena ia memang tidak tahu. "Aku harus bercinta dengan empat pria sekaligus! Bagaimana aku melakukannya?"
"Hahahahaha!" tawa Hiro meledak. Entah kenapa pertanyaan itu membuat perutnya tergelitik. Kiarra kesal dan menatap Hiro tajam. "Mana aku tahu. Nanti setelah dipraktikkan juga kau akan tahu dengan sendirinya. Malah kudengar, dulu kau sangat bersemangat melakukannya saat dalam raga Jenderal Kia. Jadi, apa bedanya?" tanya Hiro heran.
__ADS_1
"Tentu saja berbeda. Aku sekarang adalah aku. Dulu saat merasuki raga Jenderal Kia, aku tak merasakan beban karena bukan tubuhku. Namun, rasanya sekarang berbeda. Aku takut," ucap Kiarra yang membuat Hiro kembali tertawa.
Kiarra yang merasa salah menuangkan kegundahan hati mengusir saudaranya itu. Hiro terus tertawa seraya melangkah pergi meninggalkan saudarinya yang dirundung kebingungan. Benar saja, saat pesta usai, Kiarra dibuat gugup. Ia tampak ragu saat memasuki kamar pengantin. Namun, ternyata dugaannya salah.
"Mm, aku bingung," ucap Kiarra sampai mengedipkan mata.
Kamar pengantin yang ditunjukkan terdapat lukisan dirinya dan Eur saja, tanpa ada tiga dayang lainnya. Selain itu, ukuran kasur hanya muat untuk dua orang. Semua perabotan hanya untuk dua orang. Tak seperti kamarnya yang memiliki ranjang super besar dan beberapa furniture untuk lima orang.
"Oh, di Vom. Saat menikah, istri akan menggunakan kamar milik suami. Nah, kami berempat telah sepakat untuk memiliki kamar masing-masing. Anda juga memiliki kamar sendiri yang tetap berada di atas sana bersama bayi Kristal. Kami akan ke kamar Anda saat diminta. Jika tidak, kami akan tetap di kamar," ujar Ben menjelaskan.
"Ah, aku mengerti," ujar Kiarra lega.
"Lalu, kami juga telah bertanya kepada Sensei tentang bagaimana agar menjadi suami yang adil. Menurut Sensei, gunakan cara seperti majikannya dulu yakni ... maaf, namanya sedikit sulit," ujar Eur gugup.
"Ves-per," sahut Fuu dan diangguki Eur.
"Ah, ya itu. Kata Sensei, kami nanti akan disibukkan oleh pekerjaan di istana, terlebih sekarang menjabat sebagai menteri kerajaan. Oleh karena itu, Sensei memberikan jadwal kepada kami kapan harus menemani Anda dan berkumpul bersama. Hal itu juga dilakukan olehnya saat bersama tiga istrinya dulu," sambung Eur yang membuat Kiarra melongo karena tak mengetahui hal tersebut.
"Oke, aku mendengarkan. Lalu, bagaimana pembagiannya?" tanya Kiarra yang memilih pasrah dan menurut.
"Saat bulan ungu bersinar, Anda akan bergantian bersama kami sampai empat bulan ungu muncul. Lalu setelahnya, kami akan bersama dengan Anda sampai tiga bulan ungu bersinar. Setelahnya, kembali lagi ke peraturan pertama," ujar Pop menjelaskan.
"Oh, aku mengerti. Ayahku menyamakan satu bulan ungu setara dengan satu hari. Jadi selama satu minggu, empat hari bersama masing-masing dari kalian, lalu tiga hari sisanya kita bersama-sama. Begitu, bukan?" tanya Kiarra memastikan.
Namun, empat lelaki itu mengedipkan mata. Kiarra tahu jika persamaan yang digunakannya masih menyulitkan bagi para suaminya, tetapi ia memahami hal tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu, tunjukkan padaku kamar-kamar kalian, suami-suamiku," pinta Kiarra manja yang membuat empat pria tampan itu tersipu malu.
"Baiklah, sebagai suami pertama, ini kamar saya, Ratu Kia-rra. Saya menggunakan kamar milik Panglima Goo," ujar Eur yang diangguki Kiarra.
"Saya selaku suami kedua, menggunakan kamar Panglima Wen," sambung Pop. Kiarra mengangguk paham.
"Ben selaku suami ketiga, menggunakan kamar milik Laksamana Noh."
"Lalu saya selaku suami keempat, menggunakan kamar milik Anda dulu, Jenderal Kia," ucap Fuu.
"Aku mengerti. Pilihan kamar yang bagus. Buat yang indah agar aku betah saat singgah ke sana," ujar Kiarra yang mendapatkan senyuman manis dari para suami barunya.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE