Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Sang Naga*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra panik karena sang Naga seperti mengamuk. Namun, Kiarra menyadari satu hal jika nama Negeri Kaa didapat dari sang Naga. Makhluk besar seperti raksasa yang terbentuk dari gumpalan aura pohon Naga menyebut dirinya Kaa berulang kali. Kiarra yang melihat kesempatan saat Ram mematung dengan tangan gemetaran memegang buah naga, membuatnya segera berlari mendekati lelaki itu.


"Hah!" kejut Ram ketika buah naga di tangannya direbut oleh Kiarra seperti permainan bola.


Ram yang sangat menginginkan buah naga segera beranjak dan mengejar Kiarra.


"Kaa!" raung sang Naga terlihat begitu murka.


Kini, tubuhnya yang besar dan panjang mulai terlihat. Meskipun hanya berupa gumpalan seperti asap, tetapi wujudnya tetap membuat Kiarra dan Ram ketakutan. Sang Naga mengejar dua manusia yang saling berebut buah naga sampai ke tepian kolam naga. Sebuah kolam besar yang mengitari pohon raksasa dan menjadikannya seperti pulau tersendiri yang diselimuti oleh awan-awan lembut layaknya permen kapas berwarna-warni.


"Heahh!"


BRUKK!


"Ugh!" Kiarra jatuh tersungkur dan membuat buah naga miliknya jatuh menggelinding.


Tubuh Kiarra didorong oleh Ram dengan dua tangan dari belakang. Ram ikut terjatuh, tengkurap, sama seperti Kiarra. Wanita cantik itu segera berdiri, tetapi Ram memegang salah satu kaki Kiarra kuat dan menariknya. Kiarra yang marah, menendang wajah Ram dengan kaki lainnya. Sontak, perkelahian berdarah tak terelakkan.


"Kau pengkhianat, Ram!" teriak Kiarra marah besar saat usahanya dengan menendang wajah lawan berhasil.


"Kau seharusnya mati untuk selamanya!" teriak Ram yang membuat mata Kiarra membulat penuh seperti menyadari maksud dari ucapannya.


"Agh!" rintih keduanya saat Ram berhasil mendapatkan sepatu Kiarra yang terlepas, dan sang Jenderal menjadi jatuh terjengkang ke belakang.


"Kau ... kau pembunuh Kia! Serangan monster-monster itu, pasti kau penyebabnya!" teriak Kiarra yang dengan sigap duduk dan siap berdiri seraya menunjuk Ram.


"Heh, baguslah kalau kau tahu. Namun, aku juga tahu jika kau bukanlah sang Jenderal. Lalu, untuk apa membela orang yang seharusnya kau biarkan mati saja! Dra dan Kia harus mati! Hargh!" teriak Ram seraya berdiri dan melemparkan sepatu boots Kiarra ke sembarang tempat.


Kiarra yang akhirnya tahu jika Ram musuh sebenarnya entah memiliki motif apa karena sangat membenci kakak beradik kebanggaan Vom tersebut, membuat Kiarra harus menghabisinya, atau Ram akan menjadi ancaman selama ia hidup di Negeri Kaa. Saat keduanya siap untuk saling menyerang, tiba-tiba ....


"Kaa!"


"Argh!" rintih keduanya karena sang Naga menyeruduk mereka hingga terpental jauh menghantam batang pohon naga.


Buah naga terlempar dan membuat keduanya kembali berlari untuk saling berebut. Kiarra yang tiba lebih dulu karena letak jatuhnya buah lebih dekat dengannya, segera mengambil buah itu dengan satu tangan dan mendekapnya kuat di samping. Ram mulai mengeluarkan pisaunya dan hal tersebut membuat Kiarra tertegun karena tak menyangka jika pria yang mengaku mencintainya ingin menghabisi nyawanya.


"Jadi itu yang kau namakan cinta, Brengsekk?"


DUAKK!


"Ugh!" rintih Ram saat Kiarra tak takut dengan serangannya. Ia menangkap tangan yang memegang pisau itu kuat lalu menendang lututnya sehingga Ram ambruk.


"Hahhh!" teriak Kiarra yang dengan sigap meluncurkan kaki kirinya dan tepat mengenai kepala Ram sehingga pria itu langsung linglung meski tangannya masih memegang pisau.


Saat Kiarra siap mematahkan tangan Ram yang memegang pisau, tiba-tiba ....


"Kaa!"


"Aghh!" rintih Kiarra karena sang Naga menyerangnya dengan menyeruduk lagi sehingga wanita itu jatuh terlentang.


Serangan sang Naga membuat pisau Ram ikut terjauh, tetapi ia terbebas dari Kiarra. Wanita cantik itu mengerang kesakitan karena jatuh dengan keras. Punggungnya mendarat di akar pohon naga yang menyumbul di permukaan tanah. Saat Kiarra berusaha bangun dengan menahan sakit yang teramat sangat, Ram datang mengambil buah naga yang ia dekap kuat. Kiarra yang tak ingin haknya diambil berusaha mempertahankan buah itu. Aksi saling serang kembali terjadi.

__ADS_1


KRAUKK!


"Aghhh!" raung Kiarra karena Ram menggigit tangannya.


BUAKK!


Ram menambah serangan dengan memukul wajah sang Jenderal tepat di hidung dan membuatnya berdarah. Kiarra mulai linglung dan pegangannya pun terlepas. Ram menarik kuat buah naga dari dekapan Kiarra sampai membuat wanita itu terseret karena mempertahankannya.


"Kau ... kau tak punya hati, Ram! Buah itu untuk menyelamatkan Dra! Kau tak membutuhkannya!" teriak Kiarra masih berusaha meski harus menahan sakit di sekujur tubuh.


Namun, Ram tak menjawab. Ia yang melihat jika sang Naga kembali untuk menyerang mereka lagi segera mengakhiri pertarungan itu.


KRAKK!!


"AAAA!" teriak Kiarra merintih kesakitan hingga air matanya menetes.


Ram menginjak lengannya hingga suara tulang patah terdengar miris memilukan hati. Buah naga berhasil direbut. Kiarra mengerang dan percaya dengan jilatan Ooo yang bisa menyembuhkan luka, bergegas bangun meski wajahnya sudah merah padam.


"Ram!" teriaknya marah dan jalan tergopoh.


Ram melihat Kiarra berusaha mengejarnya. Dengan sigap, Ram berbalik dan JLEB!!


"Ah ... agg," rintih Kiarra saat melihat tangan Ram menghunuskan pisau ke perutnya.


Darah langsung tersembur dari mulut wanita cantik itu. Mata Kiarra membulat penuh. Ia akhirnya merasakan bagaimana sakitnya tertusuk pisau. Kiarra jalan terhuyung ke belakang dengan mata berkedip. Kali ini, ia sangat yakin jika ajalnya siap menjemput.


"Bu-buah itu untuk Dra ... jangan ...," ucapnya terbata.


"Kau dan Dra memang seharusnya mati. Aku akan menggantikan tugas kalian. Sampai jumpa."


DUAKK! BYURR!


Perut Kiarra kembali ditendang dan membuat wanita itu tercebur ke kolam naga. Ram menatap sang Jenderal yang tenggelam dengan darah menyeruak di kolam jernih itu sehingga sosoknya terlihat. Ram bergegas pergi karena sang Naga kembali dan mungkin akan membunuhnya. Ram yang tahu ke mana harus pergi, berlari tergopoh dengan buah naga dalam dekapan. Ia masuk ke pintu yang bersinar seperti emas pada bagian batang bawah pohon.


Sedang Kiarra, matanya tetap terbuka saat melihat bayangan sang Naga melintas di permukaan air. Hati Kiarra mengatakan tak rela jika mati dengan cara seperti ini. Air mata dan darahnya menyatu dengan air dalam kolam. Ia begitu sedih dan kecewa.


Maafkan aku, Dra ....


"Kaa ...," ucap sang Naga yang melayang di atas permukaan kolam memperhatikan Kiarra.


Entah apa yang terjadi, tetapi Kiarra bisa melihat atap ruangan yang bercahaya lampu redup berada di atasnya. Tangannya terjulur dan baru sadar jika terperangkap dalam sebuah benda karena ia tak bisa keluar. Ada semacam lapisan kaca yang tak mengizinkan dirinya pergi dari situ.


"He-help! Tolong!" teriaknya panik berusaha keluar dan menggebrak lapisan itu.


Kiarra berusaha mendorong kaca tersebut dengan dua tangannya, tetapi usahanya gagal. Ia melihat sisi kiri dan kanan. Kiarra baru menyadari jika terbaring. Hingga matanya mendapati sebuah benda yang seperti ia kenali berada di kakinya.


Seketika, KLEK!


"Oh, hah, hah!" engahnya dengan napas tersengal dan langsung duduk.


Kiarra yang panik segera berdiri dan keluar dari benda itu. Namun, saat ia memijak lantai, tubuhnya seperti tak mampu menopang dan langsung ambruk.


"A-apa yang terjadi? Kenapa ... emph, rasanya seperti ada benda mengganjal di dadaku," ucapnya seraya memegangi dadanya.

__ADS_1


Namun seketika, matanya melebar. Ia melihat banyak bekas luka di kedua tangannya. Kiarra melihat sekitar dan tak mengenali ruangan yang dilapisi lembaran besi seperti seng pada bagian dinding. Kiarra jalan tergopoh karena dinding itu bisa memantulkan bayangan seperti cermin.


"Oh! Oh!" kejutnya sampai berjalan mundur ke belakang.


Kiarra panik dan ketakutan. Ia melihat sekeliling dan merangkak mendatangi sebuah benda yang ia kenali dengan cepat. Ia merambat dan berpegangan kuat pada tubuh benda berbentuk kapsul itu. Ketika ia berdiri, rasa sedih langsung menghujam jiwanya.


"Dex ... Dexter ...," ucapnya saat melihat jasad sang ayah tiri yang telah berpulang untuk selamanya terpejam di dalam sana.


Kiarra roboh dengan tubuh menyender pada tabung. Tubuhnya gemetar saat ia menyadari jika telah mati.


"Kenapa ... kenapa aku bisa bangkit dengan tubuh dari mayatku? Apakah ... apakah aku dikutuk?" tanyanya dengan napas tersengal.


"Kaa ...."


"Oh!" kejut Kiarra sampai tersentak. Ia mengenali suara itu.


Kiarra panik dengan mata memindai sekitar. Tiba-tiba saja, ruangan di sekitarnya gelap. Wanita malang itu makin ketakutan saat lukisan naga emas pada pintu ruangan bergerak dan menjadi nyata.



"Apa yang kauinginkan dariku? Aku sudah mati!" teriaknya yang disertai tangisan, tetapi tak ada air mata menetes.


"Kau kembali karena ada sumpah yang belum ditepati di kehidupanmu sebelumnya. Selesaikan lalu tuntaskan janjimu di Negeri Kaa agar hidupmu selanjutnya dihiasi kebahagiaan," ucap sang Naga yang membuat Kiarra melongo karena bingung. "Jasper ... Ram ... dua orang itu memiliki keterkaitan meski berada di dunia berbeda. Tuntaskan dan aku akan menjanjikan hal yang sangat kau inginkan di akhir hidupmu."


Sontak, ucapan sang Naga membuat Kiarra langsung menatapnya lekat.


"Mungkinkah? Kau tahu yang sangat kuinginkan? Sungguh?" tanya Kiarra memastikan. Sang Naga mengangguk. Senyum Kiarra terkembang. Ia terlihat mantap dan siap melakukan permintaan sang Naga. "Katakan, apa yang harus kulakukan."


"Ram dan Jasper adalah sumber petaka di dua dunia. Negeri Kaa dan Bumi. Mereka memiliki sebuah ambisi besar yang bisa merusak tatanan dunia dan keluarga. Oleh karena itu, saat kau berhasil melenyapkan Jasper, kau juga harus melenyapkan Ram di Negeri Kaa. Dengan demikian, keseimbangan terjadi," ucap sang Naga yang membuat senyum Kiarra terpancar.


"Pasti akan kulakukan tanpa kau minta," ucap Kiarra mantap dengan wajah pucat karena ia telah menjadi mayat.


"Ingat, Kiarra. Kau hanya kuberikan waktu 7 hari untuk menuntaskan. Jangan terlena dengan kehidupan dunia. Kau, sudah mati, dan orang mati tak bisa tinggal di tempat orang hidup. Kau memiliki ragamu, tetapi gairah sebagai manusia telah musnah. Kau tak akan merasakan lapar, haus, sakit, lelah, dan hal-hal yang dirasakan oleh manusia hidup. Jadi, keberadaanmu bisa dianggap sebagai sebuah ancaman bagi mereka yang menganggapmu petaka. Oleh karena itu, saat matahari tenggelam di hari ke-7, aku akan menarik rohmu untuk kembali ke dunia Kaa," ucapnya.


"Jika aku berhasil, apa imbalannya? Kau tahu 'kan jika permintaanku sedikit mustahil?" tanya Kiarra seraya menaikkan salah satu alis.


"Aku bisa melakukannya. Aku berjanji akan memberikan buah naga untuk menyembuhkan Dra. Aku juga akan membawa arwah keluargamu yang nanti akan mati ke Negeri Kaa sehingga kalian bisa berkumpul kembali," jawabnya yang membuat Kiarra tak mampu berkata-kata karena begitu bahagia. "Namun, dibutuhkan raga untuk mengisi roh yang datang. Seperti tewasnya Kia dan raganya kau tempati. Begitupula dengan keluargamu nanti."


Kiarra diam sejenak terlihat berpikir, tetapi kemudian senyum liciknya terpancar.


"Akan kubunuh parasit-parasit yang menghuni Dunia Kaa. Sebagai gantinya, tubuh orang-orang itu akan dihuni oleh keluargaku nantinya."


Sang Naga yang terbang melayang menatap Kiarra tajam.


"Hem, aku izinkan. Akan kuberitahu, siapa saja manusia di Negeri Kaa yang patut untuk dilenyapkan," ucap sang Naga yang membuat Kiarra kembali bersemangat untuk menyelesaikan urusannya di Bumi karena tertunda. "Ingat, Kiarra. Tujuh hari dan kau akan kembali ke Negeri Kaa ...."


Setelahnya, sang Naga menghilang. Kiarra terdiam dengan pandangan tertunduk menatap lantai. Ia berpegangan pada tabung Dexter untuk membantunya berdiri. Ia kembali menghadap dinding besi yang memantulkan raganya. Kiarra terlihat sedih. Ia yang memakai pakaian tipis berwarna putih berbentuk dress bertali, bisa melihat tubuhnya yang memiliki banyak luka.


"Jasper ... ya. Ini semua karenamu. Kau pantas mati," ucap Kiarra bengis dengan wajah pucat dan bola mata telah berubah kelabu.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2