Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Hadiah Kompetisi*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra terlihat gugup saat Ratu Nym menyerahkan sebuah benda seperti tongkat, tetapi memiliki batu kristal biru di atasnya. Kiarra menerima benda itu dengan rasa takjub. Ternyata, batu kristal birunya masih disimpan dalam hutan kabut putih oleh para peri dan menjadikannya tongkat sihir seperti milik penyihir agung lainnya.


"Ini hadiah untukmu, Kiarra. Ayahmu ikut merancangnya agar terlihat cantik sepertimu," ujar sang ratu yang membuat Kiarra terharu.



"Wah! Ara mendapatkan tongkat sihir seperti milik Lon, Boh, dan Rak!" seru Kenta menunjuk.


Orang-orang yang penasaran mendekati panggung. Kiarra menerimanya penuh rasa bangga dan senyum terkembang. Ia membalik tubuhnya dan menatap orang-orang lekat. Ratu Vom tersebut menggenggam tongkat itu erat dan diangkat ke atas dengan satu tangan.


"Re kaa kaa!"


SRINGG!


"Woah!" seru orang-orang kagum dengan mata melotot saat muncul sayap kristal di punggung Kiarra.


Para Nym ikut terkejut karena sihir kristal Kiarra kembali lagi, meski kini ia harus mengucapkan sebuah mantra agar sihir itu tercipta. Tora dibuat melongo saat melihat putrinya terbang ke atas sembari memegang tongkat dengan batu biru bersinar terang. Mata Kiarra menyala biru, yang ternyata, bayi Kristal ikut melayang. Tora sampai tertegun dan bingung. Rambut bayi Kristal ikut menyala terang seperti kristal sang ibu.


"Luar biasa," ucap Tora penuh kekaguman.


"Lihat! Kristal bisa terbang tanpa sayap! Keren sekali!" seru Chiko saat melihat bayi itu berceloteh riang.


Tubuhnya melayang di udara ke sana kemari sesuai pergerakan. Tora yang panik dan takut jika cucunya terjatuh, sigap menjaganya dengan dua tangan siap menangkap.


"Ara! Turunkan Kristal! Nanti dia bisa jatuh!" pekik Tora panik.


"Bukan aku yang melakukannya! Dia memang bisa terbang sendiri saat kekuatan dari Negeri Kaa terpancar. Tak apa, Ayah. Kristal bisa menjaga dirinya. Kau ... cukup mengawasi saja," ucap Kiarra seraya terbang turun.


Saat dua kakinya memijak di lantai panggung, sayap kristalnya kemudian pecah. Serpihannya yang berserakan di lantai panggung, seperti tenggelam dalam tanah dengan sendirinya. Orang-orang kembali dibuat kagum.

__ADS_1


"Sen-sei ... Sen-sei," panggil Kristal yang membuat Tora tertegun.


"Kristal memanggil ayah dengan sebutan Sensei! Hebat!" pekik Ryota tertegun.


Tora tersenyum lalu mengulurkan dua tangannya ke arah sang cucu yang masih melayang di hadapannya. Kristal tertawa riang lalu bergerak maju mendatangi kakeknya. Tora terharu saat Kristal memeluk kepalanya, tetapi membuat orang-orang tertawa karena wajah tampan Tora jadi tak terlihat.


"Lucu sekali," ujar Aiko terlihat gemas karena keponakan dan ayahnya begitu saling menyayangi.


"Oh, terima kasih, Nym. Ini indah sekali. Jujur, aku sempat iri karena tak memiliki tongkat sihir padahal aku penyihir agung," ucap Kiarra cemberut.


"Lihat, lihat! Dia menunjukkan keimutannya. Dasar tidak tahu umur. Untung kau masih pantas memasang wajah menggemaskan itu," gerutu Kenta yang mendapat sambutan tawa dari anggota keluarga.


"Lalu ... hadiah untuk pemenang. Sesuai dengan perjanjian dari lima kerajaan. Bagi kerajaan yang kalah, kalian harus memberikan benda-benda dari hasil karya sesuai kesepakatan," ucap Ratu Nym seraya menunjukkan gulungan yang telah ditandatangani oleh semua peserta kompetisi.


"Ahhh, aku senang sekali! Kita akan membawa banyak hadiah untuk dibawa pulang, Suami-suamiku!" teriak Kiarra gembira dari atas panggung.


"Yeahhh! Hidup Ratu Vom!" teriak keempat suami Kiarra, yang diikuti oleh para pengikutnya.


"Apa boleh diganti seperti itu?" tanya Hiro ragu.


"Tak apa. Aku tetap menerimanya. Terlebih, ini kapal kerajaan dari Tur bukan? Terima kasih, ya," ucap Kiarra saat melihat Aiko mempersiapkan benda terbang itu untuk digunakan tim pulang ke Vom.


Para pengikut Kiarra dengan sigap memindahkan hadiah-hadiah lomba untuk dinaikkan ke atas kapal pengangkut. Aiko dan Hiro mengajarkan bagaimana mengoperasikan kapal terbang balon udara itu kepada tim Kiarra.


"Bagaimana jika kita menginap di sini semalam? Mm, maksudku selama bulan merah bersinar. Kita akan kembali pulang saat bulan ungu kembali datang," tawar Kiarra saat ia turun dari panggung.


"Ya, kalian buatlah semacam pesta api unggun! Mainkan alat-alat musik Zen! Ayolah, pasti seru!" pinta Aiko merengek.


"Benar, benar! Sudah lama sekali kami tak mendengar Chiko dan Michelle menyanyi. Ini mengingatkan kita saat berkemah bersama ayah dan ibu di Kastil Hashirama!" sahut Ryota gembira.


"Wah, kalian memiliki acara seperti itu? Bolehkah aku ikut bergabung?" tanya Raiden.

__ADS_1


"Tentu saja. Kau 'kan saudara kami juga. Cepat kemari!" ajak Rein.


Tora tersenyum melihat anak-anaknya begitu akrab dengan anak-anak para pion. Kepalanya mendongak ke atas melihat bulan merah yang memancarkan sinarnya dan menyulap langit menjadi seperti lautan darah.


"Mungkin harus kupertimbangkan untuk membangkitkan Rui, Lian dan Mei. Aku ... merindukan mereka," gumamnya yang ternyata didengar oleh anak-anak Tora.


"Kalian dengar itu?" bisik Hiro yang diangguki saudara saudarinya.


"Kapan tepatnya pembangkitan jasad di kolam naga bisa dilakukan?" tanya Azumi berbisik saat mereka berkumpul.


"Tepat saat bintang biru bersinar. Itu ... setara dengan sepuluh tahun. Karena satu tahun sudah kita lewati, jadi seharusnya ..." jawab Kiarra menggantung.


"Sembilan tahun lagi. Woah, lama juga, tapi tak apa. Kita akan sibuk membangun Negeri Kaa. Akan sangat hebat ketika ibu-ibu kita dibangkitkan, mereka melihat negeri ini sudah berubah menjadi lebih layak huni," ujar Kenta.


"Kau benar. Ayo, semangat untuk kita semua demi melakukan perubahan!" ucap Michelle gembira.


Hari itu, di tengah bulan merah yang bersinar terang, pesta api unggun dilangsungkan. Chiko dan Michelle bernyanyi menggunakan alat musik Zen ciptaan mereka dibantu oleh beberapa orang. Pop yang suka menari, membuat orang-orang ikut menari bersamanya. Sisanya, memeriahkan acara dengan memasak sebagai pendamping pesta, bertepuk tangan, saling berbincang membicarakan inovasi baru atau perbaikan dalam karya yang sedang dikerjakan agar menjadi lebih baik. Praktis, suasana di luar hutan kabut putih begitu meriah layaknya pesta besar.


Para Nym tampak menyukai hal tersebut dan terlihat asyik menyaksikan para manusia berkumpul untuk bersuka cita bersama. Mereka yang juga pandai dalam memainkan alat musik, ikut memeriahkan acara. Para manusia dibuat terpesona karena nyanyian para Nym sungguh menghipnotis dan malah membuat mereka tertidur lelap di luar dinding pelindung hutan kabut putih.


"Aku tak sabar untuk melihat kompetisi tahun depan," ujar Peri Kupu-kupu tampak antusias.


"Ya, semoga kedamaian ini terus berlangsung di Negeri Kaa untuk selamanya," ucap Ratu Nym yang diangguki para peri di sekitarnya.


Para Nym mengawasi para manusia yang tertidur di sekitar kawasan perkemahan. Suasana hening kembali menyelimuti kawasan. Para Nym ikut mengistirahatkan tubuhnya karena lelah mempersiapkan acara. Manusia ubur-ubur yang ikut datang menonton kembali ke lautan. Semua orang terhibur dengan acara ajang unjuk kebolehan itu.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Makasih tipsnya Jeng Riana😍Terima kasih LAP semua atas dukungannya di novel Kiarra❤️ Novel Kiarra tamat hari ini ya. Selanjutnya lele nanti akan up Jono. Kasian doi terdampar di hutan lama banget tar jadi orang utan beneran. Kwkwkwkw. Tapi lele upnya Senin aja karena lele mau ngerjain yg novel english dulu. Jangan lupa di favoritkan novel Jono biar tau saat up eps. Lele padamu 💋


__ADS_2