
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra melakukan ritual seperti yang diisyaratkan oleh Dra. Rak tampak serius saat ia duduk di belakang Kiarra yang bersimpuh ketika ritual itu dilakukan. Lon yang ingin menyaksikan langsung ritual pengembalian ingatan di mana ia sangat tertarik dengan dunia sihir, diminta untuk tetap diam dan tak ikut campur jika hal tak terduga terjadi. Lon berjanji akan bungkam dan tak menganggu jalannya ritual.
"Oke, aku siap," ujar Kiarra mantap meski wajahnya tegang.
BOM! BOM! BOM!
Kiarra sampai tersentak saat bejana berisi debu berwarna ungu yang mengelilingi dirinya tiba-tiba seperti meledak dengan suara ledakan kecil. Asap ungu membumbung tinggi ketika Dra menggerakkan tangannya seperti melemparkan sesuatu kepada bejana-bejana itu, tetapi tak terlihat apa pun di telapaknya. Pandangan Kiarra mulai kabur. Ia mengibas-ngibaskan asap ungu yang mengganggu pandangan dan pernapasannya. Kiarra mulai batuk-batuk dan sosok orang-orang yang tadinya berada di sekitar mulai menghilang. Kepala Kiarra sampai menoleh ke sana kemari saat ia merasakan seperti sendirian, diselimuti kabut ungu.
"Dra? Rak? Lon?" panggil Kiarra, tetapi sunyi. Tak ada jawaban dari orang-orang yang dipanggilnya. Kiarra terlihat gugup hingga tiba-tiba ia melihat ada seorang wanita berlari dengan rambut tergerai panjang tampak gembira melewatinya begitu saja. "Hei!" panggil Kiarra karena wanita itu seperti tak melihatnya.
Kiarra yang penasaran bermaksud untuk berdiri, tetapi tiba-tiba kabut ungu itu lenyap dan tampak gambaran seperti sebuah kejadian yang membuatnya kembali duduk dengan wajah serius.
"Kia?" panggilnya dengan mata menyipit.
"Jadi ... namamu Kia? Aku Yor," ucap seorang lelaki tampan dengan bentuk wajah yang tegas, menunjukkan jika memiliki kepribadian yang kuat.
Kia yang masih muda saat itu menerima sambutan jabat tangan lelaki bernama Yor dengan senyuman. Keduanya tampak akrab, menghabiskan waktu bersama hingga bulan berganti. Jarak yang tak terlalu jauh antara Ark dan Vom, membuat mereka sering bertemu. Perlahan, senyum Kiarra terkembang. Ia bisa melihat jika keduanya seperti memiliki perasaan yang sama, yakni saling menyukai.
Kia dan Yor sering bertemu karena hubungan dagang antara dua kerajaan. Tampak kedamaian antar kerjaan besar itu. Masyarakatnya banyak dan makmur. Hingga tiba-tiba, asap berwarna merah mulai menyelimuti sekitar dan membuat keharmonisan di depan Kiarra sirna. Mata Kiarra melebar ketika melihat sang Jenderal yang telah menjadi dewasa tampak bersedih. Tangan kanannya mengepal kuat di depan dada dengan tangan kiri menggenggam sesuatu seperti sebuah kertas berwarna cokelat.
"Kita mungkin tumbuh bersama, Kia. Namun, kau bukan takdirku. Aku calon pemimpin dan orang-orang percaya padaku. Untuk menjadi seorang raja, aku harus menikah dengan gadis bangsawan dari kerajaanku. Lin adalah masa depanku," ucap Yor yang membuat Kia meneteskan air mata dalam diam.
"Kau tak pernah mencintaiku. Kau menipuku selama ini, Yor!" teriak Kia dengan suara bergetar di mana sedari tadi, Yor memunggungi teman semasa kecilnya.
Ark tersenyum miring. "Yor adalah nama karangan yang kugunakan untuk mendekatimu, Kia. Terima kasih atas segala informasi yang kauberikan padaku tentang Kerajaan Vom. Aku memang calon raja, tetapi harus ditunda sampai dianggap mampu. Kini, ayahku telah tiada, dan aku penerus sah Kerajaan Ark. Yor sudah tak ada lagi dan pria di depanmu kini adalah Ark. Pergilah sejauh yang kau bisa dan jangan menampakkan diri di depanku lagi. Atau, aku tak segan membuatmu menderita, Kia," ucap Yor yang ternyata adalah Ark di masa kini.
Napas Kiarra memburu. Ia bisa merasakan patah hati sang Jenderal yang ternyata mencintai Ark. Ia melihat Kia berusaha tegar dengan meremat kuat kertas di genggaman tangan kiri dan wajah tertunduk, meneteskan air mata. Hingga kabut merah kembali datang menyelimuti. Sosok Kia hilang di depannya dan digantikan oleh sebuah peperangan yang mengerikan di mana sang Jenderal menjadi pemimpin untuk menyerang perbatasan dengan Kerajaan Ark.
"Itu dia, serang!" seru Kiarra saat melihat pasukan iblis Ark muncul, persis seperti yang dilawan Kiarra kala itu.
Makhluk-makhluk dengan mulut terbuka bergigi tajam disertai lendir bagaikan kelopak bunga yang merekah, menjadi lawan pasukan Vom. Kiarra melawan makhluk-makhluk buas itu dengan gagah berani, meski tak sedikit dari pasukannya yang tewas. Hingga Kia bisa melihat jika kemenangan Vom sudah hampir di depan mata. Saat sang Jenderal berlari untuk menancapkan bendera kerajaan Vom, tiba-tiba saja, Ark muncul dari dalam hutan yang kala itu Kiarra masuki demi menghindari kumpulan bandit. Mata Kiarra melebar saat sang Jenderal menghentikan langkah ketika Ark tersenyum sembari merentangkan tangan seperti menyambutnya.
"Kau merindukanku? Pastinya, ya. Kau sampai membuat keributan hanya untuk menemuiku," ujar Ark dengan senyum manisnya.
Kiarra menatap sang Jenderal yang memegang bendera Vom sedang mematung ketika melihat cinta pertamanya berjalan mendekati.
__ADS_1
"Dia menipumu, Kia! Jangan diam saja! Kau akan dibunuhnya!" teriak Kiarra gemas bukan main karena Kia seperti akan menangis saat melihat Ark yang kini ada di hadapannya.
Namun, tiba-tiba, "Harghhh!"
"Aaaaa!" teriak Kia saat tangannya digenggam kuat oleh Ark dan mengakibatkan bendera yang dipegangnya berkobar dalam api merah.
"Arghhh!" teriak pasukan Vom yang tiba-tiba saja terbakar oleh api merah.
Kia tak bisa melepaskan diri dari genggaman Ark yang memeganginya kuat. Napas sang Jenderal memburu melihat pasukannya tewas dimakan dan terbakar. Hingga Kia menyadari jika pria yang dicintainya itu adalah seorang penyihir. Mata Ark menyala merah dan tubuhnya diselimuti api, tetapi tak membakarnya.
"Aku sudah memperingatkanmu. Kau akan menderita. Kau kubiarkan hidup untuk dipersalahkan oleh rajamu karena membiarkan pasukanmu tewas dan gagal merebut perbatasan. Kau ... bodoh."
BRUKK!
"Kia!" teriak Kiarra saat Kia tiba-tiba saja tak sadarkan diri dan tergeletak di atas tanah.
Kedua tangan Kiarra mengepal melihat aksi Ark yang ternyata memanfaatkan kelemahan hati Kiarra padanya. Ternyata, hal tersebut terjadi berulang kali. Kia seperti tak bisa melawan Ark sehingga pasukannya selalu kalah dan ia mendapatkan hukuman dari sang Raja. Beruntung, Dra selalu ada untuknya. Hingga pada tugas terakhir, Dra ikut serta untuk memastikan Kiarra kali ini menang dalam pertempuran dan tak kalah dari Ark. Namun, kematian malah merenggutnya.
"Ara ... Ara?"
"Kau ... tak apa?" tanya Dra cemas.
"Hem," jawabnya dengan anggukan.
"Apa kau melihat yang terjadi pada Kia dan Ark?" tanya Dra lagi. Kiarra mengangguk. "Namun, kau diam saja dari tadi."
"Aku diam saja?" tanya Kiarra mengulang.
Kali ini, Lon, bahkan Rak mengangguk membenarkan. Padahal, Kiarra yakin jika ia sempat berbicara bahkan hampir berdiri. Kiarra diam lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu mengembuskan napas kasar.
"Aku ... lelah dan ingin tidur. Akan kuberitahu jika sudah siap untuk melawan Ark. Selamat malam, atau ... terserahlah," ucapnya seraya berdiri lalu menguap.
Tentu saja ekspresi Kiarra mengejutkan bagi Rak, Lon dan Dra. Mereka bingung karena Kiarra terlihat biasa saja bahkan melenggang dengan tenang. Lon yang tak puas karena ia tak tahu apa yang terjadi, berlari mengikuti Kiarra.
"Ara, Ara, apa yang ... emph!" kejut Lon saat Kiarra tiba-tiba membungkam mulutnya ketika mereka berbelok dan tertutup dinding koridor.
"Aku ingin kau siapkan bola es yang banyak milik Kerajaan Yak. Pastikan semua pasukanku memiliki kantong untuk membawanya. Satu prajurit, harus membawa 10 bola. Kau sanggup?" tanya Kiarra menatap Lon lekat yang ia apit dalam lengannya.
__ADS_1
"Em-uluh-ola-es?" tanyanya dengan mulut masih dibekap tangan Kiarra. Wanita cantik itu mengangguk dengan senyuman. "Em!" jawab Lon dengan anggukan mantap.
"Tiga hari lagi aku pergi. Jangan sampai informasi ini bocor. Aku khawatir, Ark sudah bersiap dengan kedatangan kita karena dua kerajaan berhasil kurebut. Pasti, ada mata-mata yang mengawasi pergerakan kita entah siapa. Jadi, waspadalah," ujar Kiarra dan Lon mengangguk mantap.
Kiarra melepaskan bungkamannya. Lon segera berlari untuk mempersiapkan yang Kiarra perintahkan. Saat Kiarra membalik badan, betapa terkejutnya ketika Aaa berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Kiarra sampai memegangi dada dan hampir berteriak histeris karena kemunculan Aaa yang tak disangka.
"Jika kau melakukan hal ini lagi, aku tak segan membuatmu menjadi ayam panggang!" bentak Kiarra.
Aaa tiba-tiba meletakkan paruhnya di kepala Kiarra. Seketika, sosok sang Jenderal kembali muncul. Kiarra merasa jika sang Naga memberikan berkat khusus bagi Kia agar bisa berkomunikasi dengannya sampai misi selesai.
"Aku tahu jika Dra selama ini menyembunyikan sesuatu padaku. Aku mendengar semuanya. Oleh karena itu, aku tak akan ikut dalam pertempuran melawan Ark atau semuanya akan kacau karenaku. Jadi, kumohon menanglah dan tebuslah kesalahanku di masa lalu dengan ragaku," pinta sang Jenderal dalam sosok asap di depan Kiarra.
"Tentu saja, aku sudah memikirkan cara untuk melenyapkan Ark. Kau bisa membantuku untuk mempersiapkan semua sampai waktunya keberangkatan."
Sang Jenderal mengangguk. Seketika, mereka kembali ke dunia nyata. Kiarra mengedipkan matanya karena ia masih belum terbiasa dengan perpindahan antar dimensi yang baginya unik itu. Si ayam besar pergi meninggalkan Kiarra usai menyampaikan keinginannya. Kiarra yang benar-benar membutuhkan istirahat, segera kembali ke kamar di mana keempat dayang sudah siap memanjakannya.
Sejak awal, Ark sudah mempersiapkan semuanya. Ia sama liciknya dengan Ram. Dra salah, Ark tak pernah sekalipun berhati mulia. Semua yang ditunjukkan hanyalah kepalsuan agar dirinya disegani orang-orang dan dipercaya untuk menjadi pemimpin. Aku yakin, jika raja sebelumnya tewas dibunuh olehnya bukan karena wafat dengan cara yang layak. Akan kubongkar semuanya, Ark. Kau sama busuknya dengan Ram, batin Kiarra dipenuhi amarah dalam diri hingga bahunya naik turun.
"Jenderal, Anda tak apa?" tanya Eur yang tidur menemani Kiarra karena tiga dayang lainnya membantu Lon mempersiapkan bola es.
Kiarra yang tidur memunggungi Eur membalik tubuhnya dan memeluk tubuh kekar sang dayang. Eur bingung, tetapi ia bisa merasakan gejolak dalam diri wanita yang dicintainya. Eur balas memeluk sang Jenderal di mana keduanya tak terbalut pakaian dan hanya tertutupi selimut.
"Apa yang membuatmu resah, Jenderal?" tanya Eur seraya mengelus kepala kekasih hatinya lembut.
"Aku takut kehabisan waktu, Eur. Aku sangat merindukan keluargaku," jawab Kiarra yang meletakkan kepalanya di lengan pria tampan itu.
Eur tersenyum dan mengecup lembut kepala sang Jenderal. "Aku bisa memahaminya. Aku juga tak sabar untuk bertemu dengan keluarga Anda, Jenderal. Oleh karena itu, tidurlah. Penyerangan Ark pikirkan lagi esok. Kau harus prima untuk menyelesaikan misi dari naga."
Kiarra tersenyum dan semakin memeluk pria tampan itu lekat. Hingga tangannya bergerak ke bawah dan membuat Eur terkekeh. "Lagi? Sungguh, harus berapa kali untuk membuat Anda terlelap, Jenderal?" tanya Eur heran.
"Aku belum mengantuk," jawab Kiarra manja.
Eur membalasnya dengan senyum merekah yang dilanjutkan belaian penuh gairah di tubuh sang Jenderal.
***
eaa selanjutnya imajinasiin sendiri aja. kwkwkw good nite^^ ngetiknya jam 9 entah upnya jam berapa😆
__ADS_1