Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Berita Duka*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra segera meninggalkan wilayah Tur bersama Lon. Mereka sengaja terbang tak menggunakan pohon jembatan untuk melihat kondisi Negeri Kaa paska Raja Tur dan pasukannya berhasil ditaklukkan. Kiarra yang telah mempersiapkan banyak hal untuk kemajuan ekonomi dan peradaban Negeri Kaa, singgah di beberapa tempat untuk membuat tanda.


"Kau ingin aku apa?" tanya Lon bingung saat mereka berada di perbatasan Tur dan Yak.


"Kau tuli, ya? Buatlah seperti sebuah gunung yang menyerupai pohon. Setinggi pohon saja. Aku akan meletakkan kristal biru ciptaanku berbentuk bintang di atas sana," jawab Kiarra kesal seraya menunjuk ke atas. Seolah, apa yang diharapkan telah terwujud.


"Oh, baik. Namun, untuk apa?" tanya Lon lagi, tetapi ucapannya membuat mata biru Kiarra menyala terang. "Baik, baik!" jawab Lon panik.


Penyihir muda itu lalu melakukan hal yang diperintahkan Kiarra. Sebuah kristal biru berukuran cukup besar berbentuk bintang diletakkan pada bagian pucuk gundukan tanah. Bentuk tersebut membuat benda itu seperti Piramida, tetapi memiliki bintang di atasnya. Kiarra ingin agar terlihat seperti pohon natal, tetapi, Lon yang tak mengetahui hal itu membuat wanita tersebut hanya bisa memakluminya.


Di rumah Naga.


Kenta dan para dayang Kiarra mengabarkan jika kelima kerajaan di Negeri Kaa telah berhasil digabungkan. Raja Tur telah tewas dan pasukan yang bisa disadarkan telah bergabung bersama Kiarra. Tentu saja, kabar gembira ini membuat warga gabungan dari lima kerajaan bersukacita. Mereka begitu bersyukur dan berterima kasih pada sang naga.


Kenta mengajak orang-orang itu untuk pulang ke kerajaan masing-masing dan membangun kembali bangunan-bangunan yang rusak termasuk sistem pemerintahan. Hal tersebut disambut gembira oleh semua orang. Hanya saja, saat Kenta memberitahu jika Dra tewas, duka langsung menyelimuti hati semua orang.


"Izinkan kami untuk melakukan penghormatan terakhir bagi penyihir agung Dra. Dia sangat berjasa untuk mewujudkan perdamaian di negeri Kaa," pinta seorang warga Yak penuh harap.


Kenta mengangguk mengizinkan. Saat orang-orang itu berkemas, tiba-tiba muncul beberapa hewan asli Negeri Kaa dari pintu di batang pohon naga. Kenta dan lainnya terkejut ketika hewan-hewan itu membungkuk seperti mempersilakan untuk ditunggangi.


"Sungguh mulia sekali. Terima kasih, Naga," ucap seorang warga Vom seraya bersujud di atas rumput sebagai bentuk puji syukur.


Kenta tersenyum karena akhirnya peperangan tak berkesudahan telah usai. Ia yang menunggangi Eee memimpin kelompok besar para manusia dalam berbagai ras meninggalkan rumah naga. Mereka berbondong-bondong menuju Vom menunggangi berbagai jenis hewan Negeri Kaa. Bayi Kiarra tampak damai saat digendong oleh Eur yang menaiki Ooo.


Hewan seperti yang pernah Kiarra jumpai kala itu. Bahkan, ada jenis Aaa si ayam besar yang ditunggangi oleh Mor dan Tar, anak-anak Panglima Rat. Mereka melintasi beberapa wilayah yang tak pernah disambangi sebelumnya karena ada teror monster di lokasi tersebut. Namun, makhluk-makhluk jahat tersebut tak muncul menyerang termasuk Grr si monster ular berkepala banyak.


"Tuan Ken-ta. Apa Anda tahu? Kenapa para monster iblis tak muncul menyerang kita?" tanya seorang warga Tur gugup yang menaiki Ggg bersama empat orang di punggungnya.

__ADS_1


"Kurasa ... mereka semua tertidur. Seperti yang dilakukan Ara kepada Wii. Ya, mungkin demikian," jawab Kenta santai dengan kepala mengangguk-angguk.


Para warga terlihat lega. Mereka awalnya khawatir akan diserang. Namun, melihat para monster tak bangkit saat mereka melintasi wilayah teror tersebut, orang-orang itu semakin percaya jika kedamaian telah terwujud. Bahkan, warga Yak yang konon dikatakan tak bisa hidup di luar wilayah es karena mereka telah dikutuk adalah dusta.


Hal itu sengaja dibuat oleh raja zalim pada masanya agar warga ketakutan akan dunia luar dan tak ada niatan kabur dari Yak. Saat mereka mulai memasuki wilayah perbatasan Vom, orang-orang kembali dibuat terkejut. Mereka melihat kelompok dari pasukan penjaga perdamaian. Orang-orang tersebut menandai wilayah dengan sebuah papan kayu besar layaknya baleho.


"Ini ... apa?" tanya seorang warga Ark bingung.


"Oh. Ini adalah salah satu ide dari Jenderal Kia, eh, maksudku ... Ratu Kiarra. Wilayah ini nantinya akan menjadi sebuah desa. Ratu mengatakan jika daerah ini adalah persimpangan yang tepat untuk persinggahan dan perdagangan. Akan ada penginapan bagi para pedagang yang kelelahan dan hiburan," jawab Pop menjelaskan.


"Benarkah? Jadi ... kami bisa tinggal atau mendirikan sebuah tempat berdagang di tempat ini nantinya?" tanya seorang warga Zen dengan wajah berbinar.


"Ya, begitulah teknisnya," jawab Kenta yang membuat semua orang sedikit bingung dengan penuturannya, tetapi kemudian mengangguk.


"Apa nama desa ini nantinya, Tuan Ken-ta?" tanya seorang warga Tur.


"Harmoni."


"Akan ada desa-desa lain yang didirikan pada wilayah perbatasan, mirip seperti ini nantinya. Jadi, mulailah mendaftar agar kalian tak kehabisan tempat jika ingin berbisnis," ucap Kenta lagi, tetapi kalimatnya yang sedikit rumit, membuat orang-orang hanya mengangguk. Namun, mereka yakin jika hal tersebut adalah pertanda baik.


Saat rombongan Kenta berisitirahat sejenak di wilayah itu, Kem dan Hem muncul dengan mengendarai Eee. Kenta menyambut dua pria itu dengan senyum terkembang.


"Melihat jumlah kalian yang cukup mengagumkan, apakah ... menghadiri acara pemakaman?" tanya Kem seraya turun dari punggung Eee.


"Ya. Sangat disayangkan. Lalu ... apakah Ara sudah datang?" tanya Kenta yang belum mendapatkan kabar tentang adiknya itu.


"Belum, Tuan. Namun, sebaiknya segera kita persiapkan," jawab Hem yang kini berdiri di samping kawan seperjuangannya itu.


"Tolong, ya. Aku ... tak mengerti bagaimana ritual pemakaman di negeri ini. Ingatan Wen tak menunjukkan padaku," jawab Kenta lugu.

__ADS_1


Hem dan Kem mengangguk dengan senyuman. Keduanya segera pergi meninggalkan rombongan dalam jumlah besar tersebut untuk kembali ke Vom. Mereka mengabarkan kehadiran Kenta dan warga Negeri Kaa kepada para penjaga Vom. Laksamana Noh dengan sigap memerintahkan para prajurit dan orang-orang yang tersisa di tempat itu untuk merapikan istana.


"Laksanakan, Laksamana!" jawab orang-orang itu serempak.


Panjang umur, apa yang diharapkan oleh sang Laksamana terwujud. Kiarra datang bersama Lon. Mereka disambut dengan penuh hormat oleh semua orang. Namun, Laksamana Noh memberikan isyarat dengan wajah sedih.


"Ada apa? Kenapa ... aku melihat ada banyak sekali taburan bunga seperti membentuk sebuah jalan dari kuil Dra sampai ke wilayah kosong di belakang istana?" tanya Kiarra menatap Laksamana lekat.


"Kau tak tahu? Apa ingatan Jenderal Kia tak menunjukkan padamu?" tanya Lon heran. Kiarra menggeleng.


Noh dan Lon saling berpandangan. Lon sepertinya menyadari jika ada pemakaman yang akan terjadi di istana tersebut. Namun, tak tahu siapa.


"Dra tewas."


DEG!


"Ha!" teriak Lon yang membuat Laksamana Noh mengembuskan napas panjang.


"Ba-bagaimana bisa?" tanya Kiarra yang tiba-tiba saja merasakan kehilangan yang teramat sangat.


"Salahku. Jika saat itu aku tak merengek memintanya melindungi pasukan, Dra tak mungkin meninggal," jawab Noh yang membuat air mata Kiarra tiba-tiba menetes.


Wanita cantik tersebut langsung berjalan tergesa menuju ke kuil Dra. Tempat tersebut telah disulap menjadi begitu cantik layaknya dekorasi pernikahan. Suasana duka yang tadinya menyelimuti hati Kiarra sekejap berubah. Kain-kain warna ungu terbentang indah sebagai atap ruangan.


Bunga-bunga dengan berbagai warna dan jenis menghiasi kuil tersebut. Kiarra melangkah perlahan diikuti beberapa orang sampai kakinya berhenti di depan sebuah papan batu. Penyihir agung Vom berbaring di atasnya. Kiarra meneteskan air mata dalam diam.


***


__ADS_1


Nah, begitulah kira2 wujud pemetaan Negeri Kaa termasuk lokasi kerajaan. Gambar daun itu maksudnya pohon jembatan. Gambar meong muka merah itu monster. Lalu yg ada gambar naga itu lokasi rumah naga. Jadi harusnya para monster iblis penjaga pohon jembatan yang pernah lele ceritakan, berada di lokasi-lokasi tersebut, baik yang lagi ditidurkan, atau disegel sama Raja Tur.


ILUSTRASI. By Lele (Pic Collage)


__ADS_2