Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Makhluk-makhluk Iblis Negeri Kaa*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Para nelayan Yak ditangkap dan dikumpulkan di atas geladak kapal Kapten Mos. Kapal besar itu akhirnya meninggalkan perairan es wilayah Yak untuk kembali ke Tur. Akan tetapi, tanpa sepengetahuan mereka, ada seorang nelayan yang berhasil lolos dari tangkapan karena ia ahli berenang dan mampu bertahan di air dingin. Pria itu berenang ke tepian saat kapal berlayar putih besar pergi.


"Hah, hah, hah, ini buruk," ucapnya dengan napas terengah dan menggigil usai berjuang keras menahan dingin.


Lelaki itu bergegas kembali ke kerjaan untuk memberikan kabar buruk. Sontak, kabar mengejutkan dari nelayan tersebut membuat kepanikan tersendiri bagi warga Yak. Putri Xen dan Pangeran Owe yang dipercaya untuk memimpin negeri tersebut, dengan sigap mengabarkan hal ini kepada kerajaan lain dengan mengirimkan burung pengantar pesan.


"Pergilah," ucap Putri Xen saat menerbangkan seekor burung khusus yang memiliki bulu dengan warna campuran di tubuhnya dari halaman istana.


Burung-burung sejumlah tiga ekor itu dikirim ke Vom, Ark, dan Zen. Mereka bisa merekam suara dari si pengirim lalu mengucapkannya ketika tiba di tangan penerima. Burung tersebut bisa mengidentifikasi orang yang akan menerima pesan darinya melalui ingatan dari gambar yang telah dilukiskan sebelumnya oleh si pengirim. Ia juga akan menanyakan kode khusus yang hanya bisa dijawab oleh si penerima pesan sebelum menyampaikan berita.


Di Sungai Agung.


Kapal yang dipimpin oleh Jenderal baru kerajaan Tur yakni Rog, berhasil memasuki wilayah perbatasan. Namun, pasukan Ark telah bersiap sebagai bentuk penjagaan mengingat Tur belum menjadi sekutu empat kerajaan yang memutuskan berdamai atas harapan sang Naga.


"Itu kapal Tur! Hentikan dan tangkap mereka!" titah seorang kapten yang melihat tiga buah kapal berlayar di Sungai Agung berlayar hijau.


TOOTT!!


Suara terompet dari seorang penjaga bergema di wilayah merah tersebut. Rog tersenyum lebar. Ia mengeluarkan botol pemberian Raja Tur untuknya. Rog yang tak ingin membuang waktu dengan meladeni musuh, memilih untuk menyerahkan tugas itu kepada makhluk dalam botol.


"Kau kubebaskan. Sebagai gantinya, lenyapkan semua musuh yang menghalangiku," ucap Rog seraya mengarahkan botol berisi asap ke depan wajahnya dalam genggaman.


"Okk," jawab makhluk dalam botol yang membuat Rog tersenyum miring.


PLUK! DUKK!


Rog membuka tutup botol lalu melemparkan benda kaca itu jauh hingga terjatuh di tanah. ABK yang dipimpin oleh Rog bersiap dengan meriam-meriam di geladak kapal untuk ditembakkan. Rog berdiri di haluan kapal dengan gagah. Ia menatap para prajurit Ark yang siap menghujani mereka dengan anak panah dan tembakkan meriam.


"Menunggu perintah Anda, Jenderal!" seru salah satu prajurit yang telah mengarahkan moncong meriam ke salah satu menara di sisi kiri sungai.

__ADS_1


"Tak perlu. Kita bisa melintas tanpa harus menghabiskan amunisi. Tetap melaju ke depan dan jangan terusik apa pun! Kalian paham!" tegas Gor.


"Baik, Jenderal!" jawab para ABK yang terlihat bingung dengan hal ini.


Namun, benar saja. Tiba-tiba, wilayah merah itu berubah menjadi gelap. Asap warna ungu mulai menyeruak dan menyelimuti sekitar sungai Agung. Kegelapan menguasai wilayah luas tersebut dan meninggalkan keheningan dalam debaran jantung yang berdetak cepat.


Baik kubu Tur atau Ark terkejut karena merasakan perubahan yang drastis itu. Mereka bisa merasakan hawa jahat dan hal buruk akan terjadi di wilayah tersebut. Mata Rog menyipit saat melihat pergerakan besar di balik kepulan asap hitam dengan cahaya ungu di kejauhan. Seketika ....



"OOKKK!" lengking seekor makhluk yang menembakkan semacam sinar laser berwarna ungu ke arah menara pengawas kerajaan Ark.


BLUARRR!


"Arghhh!" raung para prajurit Ark saat mereka terkena serangan telak dan tak bisa menghindar.


"Hahahahaha! Bagus, Okk! Bunuh mereka semua! Aku akan menaklukkan Ark dengan mudah!" seru Rog begitu gembira karena rencananya berhasil.


Tembakan seperti laser itu mampu meruntuhkan dinding menara dan merobohkannya. Kapal Tur terus melaju mengikuti aliran Sungai Agung untuk membawa mereka sampai ke pusat kota. Monster Okk terus menembakkan sinar penghancur dari dalam mulutnya yang terbuka lebar. Para prajurit Ark yang tewas dengan cepat disantap olehnya.


Namun, prajurit Ark tak menyerah. Mereka lantas menembakkan meriam ke tubuh makhluk itu untuk dilumpuhkan. Sayangnya, serangan itu malah membuat Okk marah. Makhluk itu meraung kencang dan suaranya yang besar bergema hingga ke perbatasan wilayah.


"OOKKK!"


Di tempat Dra, Boh, Lon, dan Rak berada.


Meskipun mereka berada di tempat yang berbeda, tetapi empat penyihir itu bisa merasakan kehadiran monster iblis Okk.


Dra yang tiba di Vom berkat bantuan pohon jembatan dan sihirnya, berhasil menyelinap ke istana tanpa ketahuan oleh pasukan Gor. Dia dibantu oleh Hem dan Kem yang membawanya terbang di atas awan. Lon ikut Dra kembali pulang usai mengetahui ancaman dari Tur. Sayangnya, saat ia melintasi wilayah perbatasan, ia dikejutkan ketika melihat tempat tinggalnya dulu telah menjadi arang.


Lon turun ditemani Hem untuk melihat langsung kondisi desanya yang sudah tak bisa dihuni lagi. Anak lelaki yang mulai beranjak remaja itu terbakar amarah saat mengetahui desanya terbakar akibat serangan balon udara pasukan Gor. Ia mendapatkan informasi tersebut dari si tikus tanah yang menunggunya di tempat tersebut. Dua tangan Lon mengepal kuat dan tanda di dahinya menyala terang.


"Keterlaluan!" teriak Lon marah hingga membuat matanya bersinar kuning layaknya kilauan emas.

__ADS_1


Saat Hem dan Cok dibuat tegang karena bisa merasakan sihir Lon yang semakin kuat dari waktu ke waktu, tiba-tiba ....


"Apa itu?" ucap Lon dengan mata kembali normal saat ia bisa merasakan sesuatu dari kemampuan sihirnya.


Di tempat Rak berada. Kerajaan Zen.


"Tidak mungkin," gumam Rak sampai matanya melotot.


Ia beranjak dari kasur malasnya akibat menunggu kepulangan Kenta. Rak berjalan tergesa menuju ke jendela. Mata penyihir berambut putih tersebut melebar melihat langit di wilayah Ark berubah karena adanya awan hitam di sana pertanda sesuatu. Jantung Rak berdebar kencang. Ia tahu dengan apa yang terjadi.


Ternyata, Boh dan Dra juga merasakan kebangkitan monster Okk. Makhluk raksasa itu dulunya adalah penjaga pohon jembatan sebelum ditebang. Rohnya diyakini dikurung oleh seseorang. Hal tersebut dilakukan sebelum monster mengamuk dan menimbulkan petaka di sekitarnya.


Dra berlari ke kuilnya ditemani oleh dayang-dayang Kiarra. Mereka merasakan ancaman karena batu kristal biru Kiarra di halaman istana memancarkan cahaya berkedip. Para petinggi kerajaan ikut berkumpul dan menatap Dra tajam yang membuka banyak gulungan dari kulit hewan kemudian disejajarkan di atas meja.


"Oh, Naga. Itu benar dia. Okk dibebaskan," gumam Dra yang membuat mata semua orang melebar karena mengetahui siapa Okk itu.


"Selama ini, makhluk itu dikurung di mana?" tanya Ben dengan wajah pucat.


Dra terlihat tegang dengan bola mata bergerak ke sana kemari seperti memikirkan sesuatu.


"Sial. Ini pasti ulah Ram," jawabnya dengan wajah kesal.


"Ram?" sahut Eur mengulang. Dra mengangguk.


"Pria itu. Dia sangat licik. Aku cukup yakin jika makhluk-makhluk yang disegel oleh para raja dan penyihir dicuri olehnya dari tempat penyimpanan. Jika Okk sampai dibebaskan, hanya satu orang yang menyimpan semua makhluk pelindung pohon jembatan," jawab Dra serius.


"Raja Tur," jawab Pop dengan wajah tegang. Dra mengangguk pelan membenarkan.


"Arg! Lalu ... sekarang bagaimana? Apakah ... cara menyegelnya kembali seperti ketika kita menghadapi Xii?" tanya Fuu yang sudah ikut bergabung dengan kawan-kawan.


"Ya, hanya itu satu-satunya cara. Akan tetapi, ... entahlah, aku tak yakin. Apakah kristal Kiarra bisa menampung makhluk-makhluk dari pohon jembatan?" tanya Dra cemas seraya menggenggam pecahan batu kristal Kiarra yang ia jadikan liontin kalung.


Semua orang di kuil terdiam. Meskipun Okk tak berada di Vom, tetapi mereka bisa membayangkan kengerian yang terjadi jika makhluk tersebut sampai ke kerajaan mereka dan menyerang sekitarnya.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (ArtStation)


__ADS_2