Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Berkumpulnya Keluarga Kiarra


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kembali, orang-orang dibuat tegang. Rein yang melihat keanehan ini hanya bisa diam. Ia masih bingung karena ingatan terakhirnya adalah berbaring di rumah sakit karena penyakit gagal ginjal. Namun, saat ia terbangun dan membuka mata, dirinya telah berada di sebuah tempat tak dikenal dan bertemu dengan saudara dan saudari yang telah meninggal dunia.


"Mimpi ini terasa sungguh nyata," gumam Rein mencoba untuk memulihkan kewarasannya.


SPLASH!


"Harghh ... hah, hah. Kenapa aku tiba-tiba bisa berada di dalam air dan ... oh! Ki-Kiarra?" pekik seorang jasad yang tak lain adalah Panglima Goo.


"Hei. Kemari, kubantu kau naik," ucap Kiarra dengan senyuman.


Panglima Goo menerima uluran tangan itu. Akan tetapi, setelah dua kakinya memijak daratan, hal serupa terjadi seperti Rein Mikha.


"AAAA!" teriak Rein histeris karena kulit di tubuh pria bertubuh besar di hadapannya mengelupas.


Kenta langsung memeluk adiknya erat. Kening Rak berkerut. Meski Rein adalah saudari Kenta, rasa cemburu membakar jiwanya. Bayi Kristal yang menyadari hal tersebut memegang dada Rak. Seketika, amarah Rak reda. Ia menatap bayi cantik itu yang berceloteh entah apa yang diucapkan.


"Kau memang luar biasa, Kri-sss-tal," ujar Rak yang mendapat senyum menggemaskan dari si bayi.


"Hah, hah, a-apa yang terjadi padaku?" tanya Goo yang melihat jika kulit di tubuhnya mengelupas termasuk rambut. Goo panik dan menjauh dari lapisan kulit dan rambut yang menumpuk di atas rumput.


"Siapa dia?" tanya Boh berbisik ke arah Rak.


"Entahlah, tetapi ... dia tampan," jawab Rak yang diangguki oleh Boh.


"Hehehe, selamat datang di Negeri Kaa, Chiko. Kau ... tetap jelek," ledek Kenta.


"Ya! Jaga ucapanmu, keparatt!" pekik Chiko kesal dan langsung menunjuk.


"Uhh, Negeri Kaa semakin ramai. Dan ... jaga bicara kalian. Ada anak kecil dan bayi di sini," ujar Kiarra yang mengejutkan Chiko saat melihat ada seorang bayi dengan rambut berwarna biru berkilau.


Chiko spontan mendekati bayi yang digendong oleh Rak. Wanita berambut putih itu gugup.


"Wah ... cantik sekali. Bayimu?" tanya Chiko spontan bertanya.


"Bayiku," sahut Kiarra cepat yang masih menunggu di tepi kolam untuk menyambut anggota keluarga lainnya.


"Ha? Bayimu? Kau ... memiliki anak?" tanya Chiko memekik.


"Sttt, diam. Minggir sana. Aku sedang fokus," ucap Kiarra yang membuat Chiko berdecak kesal.


Saat pria itu melangkah, ia kembali dikejutkan karena ada Rein di sana. Chiko mengedipkan mata lalu melihat sekeliling sampai tubuhnya berputar.


"Nah, lihatlah. Kebodohannya mengikuti sampai di Negeri Kaa," ledek Kenta berbisik di telinga Rein.

__ADS_1


AWanita cantik itu terkekeh. Tampak jelas, Chiko terkagum-kagum dan sesekali memekik saat melihat ada hal yang baginya luar biasa.


"Ara! Ada yang datang lagi!" seru Lon menunjuk.


Mata Kiarra menajam. Kali ini, jasad dari keturunan Raja Zen kala itu berenang bersama. Dua lelaki kembar dan seorang putri yang cantik. Kiarra dibuat penasaran, siapakah arwah dari anggota keluarganya yang merasuki mereka.


"Hah, hah," engah tiga orang itu saat berhasil mencapai tepian kolam.


Kenta membantu menarik salah seorang dari si kembar dan Kiarra menaikkan si putri cantik. Namun, pria kembar yang masih berada di kolam tampak menyadari sesuatu karena kepalanya menoleh ke sana kemari mengamati sekitar.


"Jangan bilang jika ini Negeri Kaa," ujar lelaki tersebut menatap Kiarra lekat.


"Hem, biar kutebak. Ryota?" tanya Kiarra dan pria itu mengangguk cepat.


Kiarra terkekeh, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya naik ke darat. Seketika, tiga sosok itu berganti rupa. Mulut Boh dan Rak menganga lebar karena ternyata sosok dari salah satu putra Raja Zen amatlah tampan.


"Rak ...," panggil Kenta dengan wajah dingin menatap kekasihnya yang terpesona akan ketampanan Ryota.


"Apa?" jawabnya dengan wajah tersipu lalu berpaling.


Rak tak bisa menutupi wajahnya yang bersemu merah saat melihat wujud asli Ryota karena ternyata sangat tampan mengalahkan Kenta. Kiarra memeluk saudara dan saudarinya sembari memperkenalkan mereka satu per satu. Ternyata, hal serupa juga dirasakan oleh Lon. Sosok Michelle baginya begitu rupawan.


"Hehehe, kau masih di bawah umur," ledek Kenta saat menyadari jika Lon terpesona akan sosok Michelle yang cantik jelita.


"Wah, kita hidup kembali di Negeri Kaa? Ini keren!" seru Raiden gembira sambil melompat-lompat kegirangan.


Kiarra terkekeh karena melihat salah satu saudara lelakinya ternyata bahagia bisa berkumpul dengan lainnya.


"Apakah ... kita masih menunggu yang lain?" tanya Rein yang ikut mendekat.


"Ya, belum semuanya. Jadi ... sabarlah menunggu," jawab Kiarra yang masih berdiri di tepi kolam.


Kini, semua saudara dan saudari Kiarra berdiri di sisinya. Rak, Boh dan Lon ikut dibuat gugup. Mereka tak menyangka jika jumlah anggota keluarga Kiarra cukup banyak. Mereka yang berdiri saat ini belum semuanya.


"Mereka cantik-cantik dan tampan," ujar Lon yang diangguki Boh dan Rak karena sependapat.


"Hei, lihat itu!" seru Michelle menunjuk ke arah kepulan asap di mana terlihat pergerakan seperti orang sedang berenang.


"Agh, tolong! Aku tak bisa berenang!" teriak seorang anak perempuan yang dulu menjadi korban penculikan bernama Yue.


"Bertahanlah!" seru Kenta, tetapi ditahan oleh Kiarra. Kenta bingung.


"Lihat," ucapnya kemudian dengan sentakan kepala memberikan isyarat.


Pandangan Kenta kembali ke kolam. Terlihat sosok yang telah tewas sedang membantu anak perempuan itu berenang sampai ke tepian. Tak lama, terlihat beberapa jasad berenang di belakangnya. Senyum Kiarra terkembang.

__ADS_1


"Cepat, tarik mereka!" titah Kiarra.


"AAAAA! Itu monyet besar yang bisa berenang!" teriak Michelle histeris karena takut.


"Itu ... agh, ceritanya rumit! Singkatnya, dia dulunya manusia, tetapi terkena kutukan sehingga menjadi manusia setengah monyet. Dia seorang Laksamana dari Kerajaan Tur!" jawab Kenta cepat.


Michelle masih gugup, tetapi mengangguk paham meski logikanya masih sulit menerima kenyataan tersebut. Kenta, Michelle, Ryota, Chiko dan Rein membantu dua anak perempuan naik ke daratan, termasuk Ron dayang Kiarra. Namun, sosok dari jasad Laksamana Yoh membuat kening Kiarra dan Kenta berkerut. Pria itu menampik tangan Ryota yang ingin membantunya naik. Yoh mengamati sekitar saat masih di dalam kolam ketika semua orang sudah naik ke atas.


"Oh, apa yang terjadi? Kulitku mengelupas!" pekik Yue gugup.


Mata Yoh langsung menangkap sekumpulan orang di depannya. Seketika, matanya terbelalak lebar. Ia melihat wujud anak kecil tiba-tiba berubah menjadi berukuran dewasa lalu saling berpelukan dengan


lainnya. Nama-nama yang dipanggil membuatnya berkerut kening sampai ia ditatap oleh wanita cantik di hadapan yang tak lain adalah Kiarra.


"Kau ... siapa?" tanya Kiarra penasaran yang berjongkok di depannya.


"Kau siapa?" jawabnya dengan sebuah pertanyaan.


Sontak, ucapan itu membuat semua orang tertegun. Kiarra menyipitkan mata lalu pandangannya tertuju pada saudara dan saudarinya.


"Jangan-jangan ...."


"Tora?" sahut Kenta yang langsung mendekat.


"Ha?" pekik saudara dan saudari Kiarra tertegun.


"Ya, aku Tora," jawabnya yang membuat Kiarra spontan menangis.


Pria yang mengaku Tora bingung. Ia melihat sosok makhluk besar yang diyakini adalah Naga melayang di atasnya. Sang Naga mengangkat tubuh Laksamana Yoh. Sontak, hal itu mengejutkan semua orang ketika raga yang dipenuhi bulu dan ekor itu berubah menjadi seorang pria gundul yang tampan seperti ketika ia muda dulu.


"Ayah!" teriak Azumi langsung berlari untuk memeluk sang ayah yang telah lama meninggal.


Tora bingung, tetapi menerima pelukan itu. Ia dipeluk beramai-ramai oleh wajah-wajah yang tak dikenali karena saat ia tewas, anak-anaknya masih kecil.


"Kiarra ...," panggil sang Naga yang membuat Kiarra mendongak lalu melepaskan pelukan. "Waktunya telah habis. Bintang biru telah pergi. Aku minta maaf tak bisa membangkitkan tiga istri dari ayahmu. Semoga kalian bahagia di Negeri Kaa dan kuucapkan, selamat datang."


Mata Kiarra terbelalak. Sang Naga menghilang begitu saja usai melakukan tugasnya. Tora menatap wanita cantik yang dipanggil Kiarra lekat lalu tersenyum lebar.


"Apakah ... kau Kiarra putriku dengan Rui?" tanyanya ragu. Kiarra mengangguk dengan air mata menetes. Tora tertegun lalu memeluk putrinya yang telah tumbuh dewasa dengan erat. "Ara," panggilannya yang membuat semua orang terharu.


***



Wah makasih tipsnya jeng Riana. Lele padamu💋Booster buat up banyak Kiarra otw tamat nih😍

__ADS_1


__ADS_2