
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Kiarra menggunakan bahasa campuran.
Beruntung, Aaa tak terluka sehingga unggas besar itu bisa berlari kencang menuju ke lokasi terakhir tempat pohon jembatan berada. Tempat itu di wilayah perbatasan antara Zen dan Ark. Kiarra sudah tak peduli lagi dengan warna jubah yang dipakainya. Dipikirannya kali ini adalah, saat bulan ungu muncul, dirinya sudah berada di tempat buah naga. Setelahnya, ia harus segera kembali untuk menyelamatkan Dra menggunakan kemampuan ajaib dari pohon jembatan demi mempersingkat waktu.
Selama perjalanan, Ram masih tak sadarkan diri dan Kiarra tak peduli. Ia bahkan mengambil makanan dari dalam buntalan Ram untuk diberikan pada Aaa sembari terus berlari. Aaa terlihat begitu lahap memakan roti yang dibawa oleh Ram. Benar saja, perjalanan itu ternyata memakan waktu cukup lama.
Beruntung, Kiarra tak bertemu bahaya. Malah, ia berpikir jika jumlah manusia di Negeri Kaa sangat sedikit. Jarang sekali ia menemukan pemukiman meskipun sekedar di tepi hutan, sungai, atau gunung. Kiarra yang berpikir untuk mencari tahu nanti, kembali fokus dengan tujuan akhirnya. Wanita cantik berambut panjang itu mencoba mengingat rute terakhir dari ingatan Dra mengenai lokasi pohon tersebut.
"Air terjun! Seharusnya ada air terjun di tempat pohon jembatan berada!"
Kiarra memacu ayam besarnya dengan mantap. Dua kaki berjalu runcing membelah jalanan yang ditumbuhi rumput berwarna biru berkilau di tengah cahaya bulan ungu. Sinar bulan mulai menerangi sekitar dan membuat beberapa wilayah memantulkan cahaya dengan warna berbeda. Mata Kiarra mulai terasa perih dan kering karena terkena angin terus-menerus.
Sang Jenderal berharap segera tiba di lokasi. Saat Kiarra kebingungan karena terlihat barisan pegunungan di depan dan tak tampak adanya aliran sungai, hutan dan sejenisnya, tiba-tiba saja Aaa mengubah arah sehingga rute mereka berbelok.
"Hei! Ada apa denganmu?" tanya Kiarra terkejut karena hampir jatuh.
Kiarra yang penasaran ke mana Aaa akan membawanya, memilih pasrah. Entah kenapa, ia percaya pada ayam itu. Aaa berlari ke arah pegunungan berbatu. Mata Kiarra menyipit saat melihat mulut gua di dinding batu tersebut.
"Oh!" kejutnya saat laju lari Aaa fokus ke pintu gua.
Kiarra membungkukkan badan karena melihat pintu gua tersebut cukup sempit. Ia menoleh ke arah Ram yang masih tengkurap tak sadarkan diri. Kiarra merapatkan tubuh Ram karena Aaa berlari cukup kencang seperti motor yang sedang ngebut. Jantung Kiarra berdebar karena lorong itu gelap meski terlihat cahaya terang keunguan di ujung sana. Kiarra terus memegangi punggung Ram yang berlapis jubah karena takut terserempet dinding gua. Hingga akhirnya, cahaya menyilaukan itu membuat mata Kiarra menyipit.
"Woahh!" serunya saat Aaa tiba-tiba saja berhenti begitu tiba di ujung gua.
Mulut Kiarra menganga lebar melihat fenomena unik yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Kiarra terkagum-kagum dan membuat wajahnya berbinar.
"Indah sekali," ucapnya dengan senyum terkembang seraya melihat sekitar.
Aaa kembali melangkah, tetapi unggas besar itu hanya berjalan santai. Kiarra melihat campuran antara warna ungu dan biru yang begitu cantik. Ia bahkan berimajinasi untuk membuat lukisan tentang air terjun itu agar semua orang yang belum pernah melihatnya, bisa membayangkan berada di sana dari gambar. Kiarra memindai sekitar di mana banyak pohon berwarna biru dan ungu, tetapi bukan jenis pohon jembatan. Aaa yang terlihat haus, mendatangi tepi sungai dekat air terjun untuk minum.
"Ya, istirahatlah, Aaa. Aku akan mencari keberadaan pohon itu," ucap Kiarra seraya turun dari tunggangannya dan mengelus kepala hewan itu lembut.
"Akk! Akk!"
"Oh! Apa yang terjadi?"
"Eh? Sudah bangun, Putri Tidur? Tepat sekali saat kita sudah berada di ujung perjalanan," sindir Kiarra saat melihat Ram tiba-tiba bangun dengan wajah kumal.
Ram yang tampak bingung segera turun. Ia mendapati kepalanya terbalut kain dan ada noda darah di sana. Ram berasumsi jika dirinya terluka. Kain tersebut ia buang begitu saja dan Kiarra membiarkannya. Sang Jenderal memberikan kode agar lelaki itu membasuh mukanya. Kiarra yang sudah mengisi ulang wadah dengan air sungai di tempat itu segera menyimpannya untuk bekal perjalanan berikutnya.
"Aku belum pernah ke tempat ini. Di mana kita?" tanya Ram berkerut kening mengamati sekitar sampai tubuhnya berputar.
"Tempat pohon jembatan terakhir," jawab Kiarra malas dengan mata memindai sekitar.
"Ka-kau sudah berhasil mengambil sisanya?" tanya Ram menatap Kiarra lekat.
"Hem, saat kau sedang mimpi indah dengan Hoo dan Grr," jawab Kiarra kesal.
__ADS_1
Ram tersenyum lalu mendatangi sang Jenderal. Kiarra tertegun ketika Ram meraih kepala dan menciumnya lembut. Kiarra masih memasang wajah masam tak tergoda, meski jantungnya berdebar kencang.
"Ayo, kita selesaikan," ajak Ram yang kemudian diangguki Kiarra.
Keduanya tampak waspada selama menyusuri tempat yang sangat mengagumkan itu. Mereka mencari sebuah pohon yang ditebang seperti sebelumnya. Namun, cukup lama mereka berkeliling, pohon itu tak ditemukan.
"Apa kau yakin di sini tempatnya?" tanya Ram mulai ragu.
"Daripada kau mengeluh, sebaiknya terus mencari," gerutu Kiarra karena sebenarnya ia juga berpikir demikian.
Ram yang tak ingin berdebat mulai berjalan kembali. Hingga langkahnya terhenti dan membuat kepalanya miring mengikuti bentuk pohon di kejauhan.
"Kau kenapa? Lehermu sakit?" ledek Kiarra.
"Kau lihat pohon itu? Dia tumbang. Lalu ... bentuknya seperti pohon jembatan," jawab Ram seraya menunjuk.
Praktis, ucapan Ram membuat Kiarra bergegas mendatanginya. Ram ikut berlari dan berdiri di samping Kiarra menatap pohon tersebut saksama.
"Kau benar! Ini pohon jembatan! Lihat! Inti batangnya berwarna biru! Pohon ini tak ditebang, tetapi tumbang!" pekik Kiarra saat melihat cahaya biru dari retakan batang pohon besar tersebut.
"Tunggu apa lagi, segera ambil dan kita dapatkan buah naga!" seru Ram dengan wajah berbinar.
Kiarra dengan sigap mengambil kulit dari batang pohon menggunakan belatinya. Senyum Kiarra terpancar saat semua bagian dari pohon jembatan telah berhasil ia kumpulkan. Kiarra mensejajarkan temuannya itu dan mulai menghitung.
"Sepuluh! Jumlahnya sudah 10, Ram!" teriak Kiarra dengan wajah gembira.
"Bagus! Lalu ... selanjutnya bagaimana? Apa yang harus kita lakukan untuk bisa tiba di tempat buah naga berada?" tanya Ram yang membuat Kiarra mematung seketika.
"Apa? Kau gila? Setelah perjuangan mempertaruhkan nyawa dan hampir mati, kau bilang tak tahu bagaimana cara menuju tempat buah naga? Argh!" pekik Ram terlihat marah.
Kiarra diam dan menatap Ram tajam. Wanita itu melihat Ram menggerutu entah apa yang diucapkan.
"Oh! Aaa!" seru Kiarra kemudian.
"Apa maksudmu? Apakah ada hubungannya dengan Aaa untuk tiba di sana?" tanya Ram penuh selidik.
"Ya! Kita harus membawa Aaa untuk ikut serta," jawab Kiarra mantap.
Ram mengangguk mengerti. Saat ia berpaling dan akan melangkah, tiba-tiba saja dirinya melihat cahaya biru terang dari wadah yang berisi bagian dari pohon jembatan. Kiarra ternyata tahu, bagaimana cara untuk tiba ke tempat buah naga. Sontak, Ram segera berlari mendekati Kiarra yang sudah memejamkan mata dan memegang batang pohon yang ambruk itu.
"Tidak!" teriak Ram karena tubuh Kiarra memancarkan cahaya biru terang yang menyilaukan mata.
Saat Kiarra membuka mata, sontak langkahnya langsung terhuyung ke belakang. Matanya terbelalak lebar dengan mulut menganga. Ia terkejut melihat sebuah pohon yang sangat besar dengan daun berwarna biru terang yang bersinar. Tubuh Kiarra sampai merinding karena bisa merasakan aura yang terpancar dari pohon tersebut. Ia bahkan tak tahu berada di mana karena langit tak berwarna ungu ataupun merah seperti biasanya.
"Pohon Naga."
"Hah?" kejut Kiarra karena Ram berhasil ikut dengannya.
__ADS_1
Mata Kiarra terbelalak saat melihat tangan Ram memegang sarung pedang yang tersangkut pada pinggulnya. Padahal, ia sengaja menyingkirkan pria itu dengan tetap berada bersama Aaa, tetapi usahanya gagal. Kiarra menatap Ram tajam karena ia mulai mencurigai pria itu. Namun, Ram tetap menunjukkan senyum menawan tak tampak seperti pria buruk seperti yang ia bayangkan.
"Tempat ini ... kukira tempat ini hanya dongeng. Ternyata benar!" ucapnya kagum sampai memegangi kepala karena tak percaya dengan apa yang dilihat.
Kiarra memilih diam. Saat ia melihat ke arah wadah tempat bagian-bagian pohon jembatan yang berhasil dikumpulkan, matanya terbelalak. Ranting, kulit pohon dan daun biru menghilang digantikan dengan sebutir telur berbentuk unik yang memiliki sisik berwarna emas dan hijau toska disertai kepala layaknya burung. Mulut Kiarra menganga lebar saat mengambilnya penuh kekaguman.
"Bu-bu ... buah naga!" seru Ram dengan mata melotot.
Kiarra merasa begitu terharu dan hampir menangis saat memandanginya. Hingga tiba-tiba ....
"Oh! Apa yang terjadi?" tanya Kiarra bingung saat buah di tangannya tiba-tiba menghilang.
Ram ikut terkejut dan memegang tangan Kiarra yang tadinya memegang buah tersebut. Kiarra yang kebingungan melihat sekitar karena berpikir menjatuhkannya, begitupula dengan Ram. Mereka melihat sekeliling sampai kepala mendongak mencari keberadaan buah spesial itu.
"I-itu! Di sana! Buah itu ada di atas pohon!" seru Ram menunjuk yang membuat mata Kiarra terfokus pada telunjuk Ram.
"Kita harus segera mengambilnya!" ucap Kiarra yang dengan sigap siap memanjat.
Kiarra bergegas menaiki pohon naga yang sangat tinggi tersebut. Ram menunggu di bawah dan mengamati Kiarra yang berusaha keras menaiki pohon sakral itu. Kiarra tak peduli jika kulit pohon menyakiti tangannya. Ia hanya ingin segera mendapatkan buah itu dan membawanya pulang untuk menyembuhkan Dra. Beruntung, batang pohon tak licin dan memiliki banyak pijakan sehingga membuat Kiarra dengan cepat tiba di atas sana.
"Hah, hah," engahnya dengan keringat mulai membasahi tubuh karena tingginya pohon untuk dipanjat. "Oh, kenapa ... kau berbentuk seperti telur?" tanya Kiarra heran saat ia berhasil tiba pada dahan pohon tempat buah naga berada.
Kiarra malah sibuk mengamati buah itu karena tak seperti buah kebanyakan yang tergantung pada dahan pohon. Buah itu bahkan tak terlihat seperti buah. Namun, Kiarra tak ingin ambil pusing. Dirinya bisa berada di tempat itu saja sudah tak masuk akal, terlebih hanya sebuah buah yang mirip dengan telur. Kiarra memegang buah itu dengan hati-hati menggunakan dua tangannya. Senyumnya terkembang saat ia berhasil mendapatkan buah itu dan akan dibawanya pulang.
"Ara! Apa kau mendapatkannya?" tanya Ram mendongak dan berteriak lantang.
"Ya!" jawab Kiarra kencang.
"Bagus! Cepat turun kemari dan segera pulang!" seru Ram tampak tak sabar menunggu pujaan hatinya turun.
Kiarra memasukkan buah itu ke dalam kain buntalannya dan digendong pada punggung. Ia kembali memanjat turun dengan hati-hati. Kedua tangannya berpegangan erat pada batang pohon yang memiliki lapisan kulit tebal sehingga bisa dicengkeram. Kiarra terus turun dengan tubuh bagian depan menempel pada kulit pohon. Saat tinggal beberapa pijakan lagi untuk tiba di daratan, tiba-tiba ....
SRETT!! BRUKK!
"Hei!" teriak Kiarra marah saat Ram merobek buntalannya dengan pisau yang membuat seluruh isinya tumpah di atas rumput.
Mata Kiarra melebar ketika melihat Ram mengambil buah itu dan berlari begitu saja. Dugaannya yang menganggap Ram adalah serigala berbulu domba adalah benar adanya. Selama ini, Ram mengincar buah naga dengan memanfaatkan dirinya. Kiarra akhirnya nekat melompat untuk mengambil yang menjadi miliknya.
Saat Kiarra akan mengejarnya, muncullah sosok besar dari balik pohon. Mata Kiarra terbelalak termasuk Ram. Laju lari pria itu sampai terhenti karena kaget. Seekor naga muncul yang terbentuk dari gumpalan aura di sekitar pohon.
"Kaa ...," ucap naga tersebut dengan suara besar yang membuat Kiarra dan Ram mematung.
Naga besar itu tiba-tiba memancarkan warna merah menyala pada kedua matanya. Mulutnya terbuka lebar dan terlihat gigi-gigi runcing, siap untuk menusuk.
"Kaa!" raungnya yang membuat Kiarra dan Ram panik seketika.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE