Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Hasil Akhir*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Mata Mun terbelalak lebar, ia tak menyangka jika akan tewas dengan cara mengenaskan seperti ini. Terjebak dalam sihir es oleh sekutunya sendiri. Namun, Mun tak gentar. Ia percaya jika keajaiban akan terjadi. Benar saja ....


"Heahhh!"


KREKK! BRUSHH!


"Argh!" erang Kapten Mos saat tiba-tiba saja tanah yang dipijak retak dan kakinya terjepit dalam celah.


Meski tangan Lon terluka, tetapi tangan lainnya masih berfungsi dengan baik. Penyihir muda itu berusaha keras meski hanya dengan satu tangan untuk menghentikan aksi keji pria beruang putih tersebut.


"Hem ...," gumam Rak dengan mata terpejam saat ia mengambil kesempatan dengan mendatangi Mun lalu melelehkan esnya.


KRAKK!


"Hah, hah, oh, Rak. Sungguh, hati-hati dengan kekuatan maha dahsyatmu itu," ujar Mun masih terlihat panik.


"Maaf," ujar Rak meringis, tetapi kemudian waspada saat Mos berhasil keluar dari retakan tersebut dengan menggunakan ujung tongkat Lon sebagai penahan agar tanah yang menjepit kakinya tak bergerak lagi.


"Hei!" teriak Lon marah karena khawatir jika tongkatnya remuk. Seketika, mata kuningnya lenyap berikut tangan batu.


"Lon, fokus! Kau mudah sekali teralihkan!" teriak Rak gusar dan Lon baru menyadari hal itu.


"Hahahaha! Amatiran!" ledek Mos saat ia berhasil naik ke permukaan dan bergegas menjauh dari retakan. Ia masih memegang pedang dan tongkat sihir Lon dalam genggaman.


"Kembalikan tongkatku!" pinta Lon kesal.


"Kemari dan ambil sendiri, cengeng," ledek Mos seraya memutar-mutar tongkat kayu tersebut.


"Argh! Menyebalkan!" teriak Lon marah.


Saat pemuda itu sedang melangkah untuk menghajar Mos, tiba-tiba saja Kapten Mun telah mendahuluinya. Lon tertegun dan menghentikan langkah. Rak menggeleng sebagai tanda agar ia tak boleh terlibat. Lon mengangguk dan memilih untuk mengobati lukanya dengan penyembuhan es ala Rak. Dua penyihir itu mengamati pertarungan Mos dan Mun yang ingin membuktikan kejantanan masing-masing. Saat keduanya terpaku, tiba-tiba muncul sosok Kiarra dan Boh melintasi langit.

__ADS_1


"Mereka datang!" seru Lon gembira.


"Ayo!" ajak Rak usai mengobati luka Lon yang bengkak dan diyakini tulangnya retak.


Lon bisa menahan rasa sakitnya itu. Ia yang selalu membawa buah ceri penyembuh dari rumah Naga, dengan cepat memakan lima buah sekaligus sampai mulutnya belepotan. Rak terpaku.


"Uwayo!" ajaknya seraya mengunyah.


Lon membonceng Rak menggunakan tongkat penyihir es tersebut. Lon kesal karena tongkatnya masih dikuasai oleh Mos. Akan tetapi, pria itu bukanlah penyihir dan tak tahu cara menggunakannya. Lon sedikit lega dan mempercayakan tongkatnya untuk direbut Kapten Mun.


Di tempat Kiarra dan Boh berada.


Ternyata, Kiarra dan Boh sedang menyemburkan gas sihir untuk menyadarkan para prajurit Tur yang terpengaruh mantra dari Raja Tur. Para manusia setengah binatang itu terkejut dan berhenti bertarung. Mereka memang sadar jika sedang bertempur melawan musuh, tetapi tak menduga jika serangan yang dilakukan begitu kejam dan brutal. Buf, salah satu pemberontak Tur yang tadi bertarung melawan kawan-kawannya dulu mendekati Kiarra. Ia lega karena penyihir terkuat di Negeri Kaa akhirnya muncul dan menyadarkan orang-orang tersesat itu.


"Apa? Kau pernah terkena mantra jahat Raja Tur? Lalu ... bagaimana kau bisa sembuh dan tak terpengaruh lagi?" tanya Rak heran. Lon dan Boh ikut dibuat penasaran.


"Ceritakan," pinta Kiarra dan manusia setengah banteng itu mengangguk. Semua orang dari kubu pemberontak dan pasukan Tur menatapnya lekat.



"Ya, itu benar," sahut Boh dengan wajah berpaling karena memiliki kenangan serupa. Semua orang makin serius mendengarkan.


"Kala itu, perang pertamaku adalah ketika ingin menguasai perbatasan untuk merebut wilayah Zen. Mungkin bisa dikatakan, hanya aku satu-satunya orang berpikiran waras dalam pasukan. Aku melihat kekejaman kawan-kawanku yang tanpa belas kasih melakukan pembantaian bahkan kepada anak kecil dan wanita. Saat aku menyadari jika ada hal tak beres, setiap jamuan minum diadakan, aku sengaja memberikan ramuan khusus untuk membuat kawan-kawanku muntah. Benar saja, mereka tak terpengaruh mantra jahat dari sang Raja. Saat kami mulai menyadari jika Raja adalah orang yang licik, kami mulai melakukan pemberontakan. Ternyata, Boh juga menyadarinya, tetapi tak bisa melakukan perlawanan karena Tur sangat kuat," terang Buf yang membuat semua orang tertegun.


"Licik sekali," ucap Bre seorang manusia setengah zebra yang teringat akan kejadian silam.


"Dari mana mantra-mantra jahat itu berasal?" tanya Kiarra penasaran.


"Dari gabungan beberapa mantra yang sudah ada sebelumnya. Lalu ditambah dengan beberapa ramuan yang berasal dari makhluk-makhluk jahat. Bagian tubuh mereka diambil lalu dimakan. Dulu, banyak penyihir jahat yang menyalahgunakan kemampuan dari sang Naga. Banyak dari mereka mati mengenaskan karena tak sanggup mengendalikan mantra jahat ciptaan sendiri. Oleh karena itu, banyak kesatria yang membakar kuil-kuil para penyihir terkutuk berikut buku-buku serta ramuan jahat tersebut. Namun, entah bagaimana, Ram dan Raja Tur bisa memilikinya," ucap Boh menjelaskan. Kiarra akhirnya memahami hal tersebut.


"Ara!" panggil Lon saat melihat orang-orang yang terkena gas penetralisir dari mantra jahat mulai sadar. Mereka saling berpandangan dan bingung karena mengamati sekitar dengan wajah lugu.


"Boh akan jelaskan semua!" ucap Kiarra dan diangguki wanita setengah hyena itu.

__ADS_1


Buf dan para pemberontak Tur menggiring pasukan Tur ke dalam istana. Sedangkan Rak, Lon dan Kiarra kembali fokus melihat satu-satunya orang yang masih bertempur karena meyakini jika Raja Tur adalah seorang pemimpin bijak. Ia bahkan tak peduli jika Tur telah tewas dan bermaksud untuk menggantikan posisinya.


"Dasar gila!" teriak Mun marah usai mendengar penyataan lawannya itu.


"Dibutuhkan kegilaan untuk menjadi penguasa!" jawab Mos lantang dengan ujung pedang siap ditusukkan ke lawan.


Mun melihat gerakan itu dan dengan sigap melangkah mundur dengan cepat. Ujung pedangnya sengaja ia jatuhkan dan mengenai kerikil dan pasir. Mun melihat kesempatan dan segera mencongkel permukaan tanah yang dipenuhi benda-benda itu ke wajah Mos. Seketika, pandangan si manusia beruang kabur seketika.


"ARGHHH!"


KRASS!


"HOORGHHH!" raung Mos saat tangan kanannya yang memegang tongkat Lon terputus.


Darah langsung mengucur deras dari luka potongan. Manusia setengah beruang putih itu tak bisa menutupi rasa sakitnya. Mun berdiri tegak lalu berjalan mengambil tongkat sihir Lon yang masih dipegang oleh potongan tangan Mos. Mun melihat Mos berusaha untuk menahan rasa sakitnya, tetapi Mun ingin segera menyelesaikannya.


"Heahhh!"


KRASSS!!


"Oh!" kejut Lon, Kiarra dan Rak ketika melihat Kapten Mun melompat seraya mengayunkan pedangnya.


Mos menoleh dan wajahnya tertusuk ujung pedang tajam itu. Mata Mos terbelalak lebar, terkejut dengan kematiannya yang menyakitkan.


BRUKK!!


Mos jatuh terlentang dengan pedang masih tertancap di wajah. Kapten Mun berdiri di tubuh manusia beruang yang telah kehilangan nyawa dan menatapnya tajam. Wajahnya terlihat sedih saat berpaling. Ia memberikan tongkat sihir kembali pada si pemilik.


"Sangat disayangkan. Dia adalah pejuang yang hebat jika tak terkena hasutan Raja Tur," ucap Mun lalu beranjak pergi dengan wajah lesu.


"Peperangan ini ... sangat disayangkan," ujar Kiarra lirih dan diangguki Lon serta Rak karena sependapat.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Playground AI)


__ADS_2