
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra memimpin pasukan kerajaan Vom dengan gagah berani. Ia sudah menyiapkan banyak strategi untuk menghadapi lawan dan telah mengetahui kelemahan prajurit Yak dari ingatan peperangan Kia.
WUU ... WUUU!
Kiarra meniupkan terompet dari bangkai tanduk makhluk besar bernama Ggg sebagai kodenya.
"Awas!" seru salah satu prajurit Yak saat melihat ratusan anak panah dengan ujung membawa buntalan, melesat cepat ke arah mereka.
Padahal, pasukan Kiarra hanya bersenjata pedang dan menunggangi kuda. Panah-panah itu seperti meluncur dari barisan belakang sang Jenderal yang tak terlihat oleh pasukan Yak.
"Menghindar!" titah Kiarra yang tiba-tiba mengubah haluan pasukan dan membaginya menjadi dua.
Pasukan Kiarra mengepung pasukan Yak dengan mengapitnya di sisi kiri dan kanan. Praktis, formasi tak terduga itu, membuat prajurit Yak bingung dalam membidik. Pasukan Vom dibawah kepemimpinan Panglima Goo masuk melalui celah tersebut dengan para prajurit berkuda yang terus melesatkan anak panah ke kumpulan pasukan Yak. Pasukan musuh yang tak fokus, menjadi sasaran empuk prajurit Vom.
JLEB! JLEB! JLEB!
CRAT!
"Arghh!"
Para prajurit Yak berjatuhan satu per satu saat cairan dalam buntalan itu pecah terkena tubuh dan permukaan es. Buntalan berisi minyak membuat pasukan Yak tergelincir dan jatuh saling menimpa. Panah-panah tajam juga berhasil menembus perisai pakaian tempur prajurit dan menewaskan orang-orang.
WUU ... WUUU!
Lagi, suara terompet membuat prajurit Yak panik. Benar saja ....
"Ekk!! Ekkk!"
"Serang!" seru Panglima Wen datang dari langit menunggangi makhluk terbang bernama Eee seraya melepaskan panah berisi api biru ciptaan Kiarra saat ia belajar membuat api tahan air bersama Dra kala itu.
SHOOT!
JLEB! JLEB! JLEB!
WHOOM!
"Arghhh!"
Senyum Kiarra terkembang. Ia dan pasukannya sengaja menjadi pengecoh terus melaju kencang dengan tunggangan mereka menuju istana Yak. Konon katanya, benteng istana itu tak ada yang berhasil ditembus selama puluhan tahun lamanya. Kaki-kaki kuda telah dilapisi oleh tapal besi sehingga bisa memijak lantai es dan tak tergelincir.
"Maju!" seru Kiarra lantang memimpin pasukan berkuda.
Pasukan Yak terkepung dan terlahap api biru yang dahsyat. Panglima Goo dan Wen meninggalkan lawan mereka karena incaran sang Jenderal adalah Raja dan para petinggi kerjaan yang zalim. Kuda-kuda di Negeri Kaa ternyata sangat mampu melintasi jalanan licin es dan tumpukan salju. Mereka juga tahan dengan udara dingin.
WHOOM!!
"Ayo!" ajak Kiarra saat ia menggunakan kemampuan api birunya untuk membuka jalan yang tertutupi salju setinggi pinggul.
Salju meleleh dan membuat tempat yang didominasi warna putih itu dapat diterobos dengan mudah layaknya lorong bersuhu dingin. Udara dingin juga mampu ditahan oleh pasukan Vom saat Kiarra berhasil menguasai mantra panas tubuh. Berbeda dengan Dra. Sihirnya hanya berlaku 1000 kedipan. Sedangkan Kiarra, sihirnya akan sirna pada orang tersebut jika yang bersangkutan berkedip sebanyak 1000 kali. Kiarra tak terbebani dengan konsekuensi tersebut karena ditanggung oleh si pengguna sihir.
__ADS_1
WUU ... WUUU!!
Kiarra meniupkan terompet saat ia sudah berada di halaman terluar Istana Kerajaan Yak. Panglima Wen dengan sigap mengomandoi pasukan terbangnya untuk mengawasi sekitar Istana Yak. Saat Wen sedang mengitari istana es itu, tiba-tiba saja ....
"Awas!" teriak Wen ketika melihat luncuran bola es ke langit dari menara.
Beruntung, Wen berhasil menghindar, tetapi anak buah dari pasukannya ada yang terkena lontaran. Mata Kiarra melebar saat ia menyaksikan dampak dari bola es itu. Prajurit dengan hewan terbang bernama Eee langsung membeku menjadi seperti patung es. Mereka jatuh dengan cepat ke halaman istana.
PRANGG!!
"Gila! Sihir macam apa itu?" pekik Kiarra sampai melotot.
"Jangan sampai terkena bola esnya!" teriak Panglima Wen seraya melakukan serangan dengan menjatuhkan gumpalan batu yang terselimuti api biru Kiarra.
Mata Kiarra terfokus pada pergerakan pasukan terbang Panglima Wen yang bertujuan menggempur bagian tertinggi istana. Bola-bola api sengaja dijatuhkan untuk meruntuhkan menara. Pasukan Kia kalah waktu itu karena serangan bola es dari puncak tertinggi istana tersebut.
WUUU ....
Kiarra meniupkan terompet lagi saat ia melihat pergerakan lontaran bola es. Segera, pasukan Panglima Goo datang dengan anak panah berisi buntalan yang sama.
"Tembak!" seru Goo sesuai strategi yang sudah diinformasikan oleh Kiarra sebelumnya saat mereka siap menggempur Yak.
SHOOT! SHOOT!
CRATT!
Seketika, halaman luas istana es Kerajaan Yak terlahap api. Buntalan berisi minyak membuat rute tersendiri seperti jalanan menuju ke pintu utama istana. Jilatan api biru bergerak cepat mengikuti cairan minyak yang tergenang di atas permukaan lantai es. Perlahan, permukaan tersebut meleleh dan terlihat jalanan batu yang selama ini tertutupi es.
"Serang!" seru Kiarra saat melihat es di pekarangan istana mencair.
"Heahhh!"
Pasukan berkuda Kiarra berlari dengan kencang di atas tanah yang tak terkena minyak. Es yang sudah menjadi genangan air, memudahkan pasukan Kiarra untuk bergerak cepat mendatangi istana. Sedangkan sang Jenderal, Kiarra masih duduk dengan gagah di atas kuda menyaksikan serangan dari atas oleh Panglima Wen dan serangan dari bawah oleh prajurit Vom dibawah komandonya.
"Jenderal. Anda benar. Es di wilayah kerajaan Yak ternyata mengandung sihir. Saya bisa melihat kemenangan di depan kita," ucap Goo senang.
"Apa kau seorang cenayang sehingga bisa melihat masa depan? Aku saja belum bisa menyimpulkan kemenangan kita," jawab Kiarra dengan mata bergerak fokus mengikuti serangan dari pasukan Kerajaan Yak yang masih bertahan di dalam istana.
Panglima Goo diam seketika. Kiarra memberikan kode dengan jentikan jari kiri dengan mata tertuju pada istana. Goo paham hal itu dan segera melakukan tugasnya.
"Bersiap!" teriak panglima itu dengan busur panah terangkat ke atas.
Kiarra melirik pergerakan Goo saat ia menarik anak panah dari kantong di punggung. Pria itu lalu mencelupkan ujung anak panah pada sebuah kendi kecil yang diikat di pinggul berisi api biru yang menyala.
"Tembak!"
SHOOT! SHOOT! SHOOT!
Ratusan anak panah melesat ke arah istana Yak. Panah-panah berisi api biru tersebut ternyata mampu melelehkan dinding istana es. Pasukan Kiarra yang berhasil mendekati istana karena prajurit Yak sibuk melontarkan bola es sebagai serangan pamungkas, membuat mereka panik karena udara panas mulai menyelimuti wilayah istana.
__ADS_1
"Jangan berhenti! Terus serang!" titah Kiarra di samping Panglima Goo.
Panglima Wen yang juga mendengar hal tersebut terus menjatuhkan bola-bola batu terselimuti api ke dalam wilayah istana. Praktis, istana itu terbakar saat barang-barang seperti kayu terlahap oleh api biru. Orang-orang berhambur keluar dari istana Yak dengan panik. Wen, Goo dan pasukan Vom sengaja menyerang bangunan dan prajurit. Meskipun para sipil juga terkena dampak, tetapi mereka tak mengusik para penduduk ketika orang-orang itu berusaha menyelamatkan diri.
"Jenderal! Istana kosong!" teriak Wen dari hasil pantauan di langit.
"Cari raja dan pejabat-pejabat zalim itu! Jangan biarkan lolos!" titah Kiarra saat Wen terbang ke arahnya.
Panglima Wen bergegas terbang memasuki istana. Kiarra memerintahkan pasukan Panglima Goo untuk mengepung penduduk yang kini berhambur di pekarangan terluar istana. Warga Yak ketakutan dan saling berpelukan ketika Panglima Goo bersama pasukannya membentuk barikade dengan mengelilingi mereka yang terapit di tengah-tengah. Kiarra turun dari tunggangannya dan berjalan dengan gagah mendatangi penduduk Yak.
"Di mana Raja Yak?" tanya Kiarra dengan sorot mata tajam.
"Kami tak tahu," jawab seorang wanita sembari memeluk anaknya erat yang ketakutan. Dari pakaiannya, Kiarra menduga jika ia seorang pelayan kerajaan.
"Kuberikan kebebasan bagi siapa pun yang memberitahuku di mana para pejabat kerajaan berada!"
Praktis, ucapan Kiarra membuat mata orang-orang berwajah pucat itu saling memandang.
"Kau bersumpah?" tanya seorang pria.
"Aku bersumpah atas nama Naga," jawab Kiarra yang kemudian menunjukkan pedang kristalnya.
Semua orang tertegun saat Kiarra menunjukkan sihir kristalnya. Orang-orang terperanjat saat punggung Kiarra tiba-tiba tumbuh sayap kristal biru yang besar kemudian ia terbang melayang.
"Di-dia bisa terbang!" pekik seorang penduduk menunjuk sang Jenderal.
"Aku memiliki misi dari sang Naga. Negeri Kaa telah rusak oleh para pemimpin zalim. Mereka harus dimusnahkan agar Negeri Kaa kembali damai," ucap Kiarra tegas dengan sayap besar mengepak.
"Kau titisan sang Naga?" tanya seorang wanita tua dan Kiarra mengangguk.
"Kau sendiri dari Vom. Bagaimana dengan raja dan ... aaaaa!" teriak seorang wanita histeris ketika Dra muncul seraya menunggangi Aaa.
Dra menggelindingkan kepala raja dan juga ratu Vom. Untuk hal ini, adalah ide dari Dra sendiri. Kiarra sebenarnya tidak setuju, tetapi Dra bersikeras. Dra yang sejak lama menyimpan dendam pada pasangan itu kini bisa melampiaskannya.
"Jenderal Kia dijuluki Dewi Kematian. Ia datang ke Yak untuk menjalankan perintah naga. Raja, Ratu dan para pejabat tinggi kerajaan harus bernasib sama dengan Raja dan Ratu Vom. Jadi, berpihaklah atau kami tak segan melenyapkan kalian di sini. Membangkang, sama saja kalian menentang sang Naga," tegas Dra dengan wajah bengis.
Penduduk Yak saling memandang terlihat ragu. Mereka melihat Kiarra dan pasukannya yang sudah mengepung mereka dengan wajah serius menunggu jawaban.
"Ka-kami ...."
"Jenderal!" seru Wen lantang dari punggung Eee yang sedang terbang menuju ke arah Kiarra. "Mereka bukan pelayan dan penduduk Yak! Mereka adalah pejabat-pejabat tinggi kerajaan!"
Praktis, mata Kiarra dan pasukannya terbelalak lebar saat orang-orang menunjukkan wajah bengis dan mengambil bola-bola es yang disimpan dalam baju berlapis mereka.
"Oh, shitt!!"
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
smg tiponya gak parah ya😩 lele tgn kiri keplintir dan baru dipijit hari ini pdhl udh seminggu. jadinya susah buat ngetik. pas udh enakan lah kena sariawan di lidah 3 biji. ya ampun amazing lah pokoknya 😆
__ADS_1