Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Pohon Jembatan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Kiarra panik karena ini pertama kalinya ia melihat seekor monster sungguhan. Raungan makhluk itu berhasil membuat nyali Kiarra ciut seketika. Namun, jiwa sang Jenderal memaksanya untuk berbalik dan melawan raksasa itu.


"Kau gila! Dia sangat besar! Pedangmu tak memberikan efek apa pun pada makhluk itu. Baginya, itu hanya sebuah jarum pentul!" teriak Kiarra marah karena jiwa sang Jenderal memberontak dalam dirinya. Pengecut tak ada dalam daftar kepribadian Kia.


"Ara! Apa yang kaulakukan? Cepat kemari!" panggil Ram panik karena wanita cantik itu malah berhenti tepat saat Hoo mulai bergerak ke arahnya. "Ara!"


"Hah?" kejut Kiarra ketika Ram berteriak dengan mata melotot.


Kiarra langsung membalik tubuhnya dan tertegun ketika kepala makhluk bertanduk besar seperti rusa itu siap menerjang. Tubuh Kiarra mematung, tak siap dengan serangan yang datang padanya. Namun, tiba-tiba ....


"Akk!"


"Aaa!" panggil Kiarra gembira saat leher jenjang Aaa berhasil membuat tubuh sang Jenderal naik di atasnya. Kiarra dengan sigap melompat ke punggung dan memegang tali kendali Aaa kuat. Ia menoleh ke arah Hoo yang tak berhasil menyeruduknya. Kiarra mengamati pergerakan Hoo yang masih mengincarnya. "Dia besar, tetapi pergerakannya lambat! Kita bisa mengecohnya, Aaa, tetapi butuh umpan agar dia tak mengejarku!" seru Kiarra menilai. Hingga ia sadar jika ada umpan yang cocok untuk membuat Hoo tak mengejarnya. "Heahh!"


Si ayam besar berlari mendatangi tempat Ram berada yang sedang jalan tergopoh karena kakinya sakit. Pria itu berusaha berlindung di balik batuan besar agar tak terkena amukan Hoo. Saat Ram hampir tiba di tempat perlindungannya, tiba-tiba, "Argh!" teriaknya panik dan segera mendongak. Jubahnya dicengkeram kuat hingga membuat tubuhnya melayang beberapa centi di atas permukaan tanah.


"Jadilah umpan! Aku akan ke pohon jembatan!" titah Kiarra yang membuat mata Ram melebar.


"Apa! Kau bilang— Aaaa!" teriak Ram histeris saat tubuhnya dilempar begitu saja ke arah Hoo.


Ram melayang di udara dan siap menghantam permukaan dengan keras. Pria itu memejamkan matanya rapat karena tak sanggup merasakan sakit teramat sangat jika hal itu sungguh terjadi. Namun, apa yang ditakutkannya tidak terjadi.


"Hah?" kejut pria itu saat ia merasakan bulu yang dikenal dan tak lain adalah Aaa. "A-Ara di mana?" tanya Ram bingung saat ia menaikkan kepala karena jatuh di punggung si ayam dalam posisi tengkurap. Mata Ram melebar ketika mendapati sang Jenderal berlari dengan cara menyelinap di antara bebatuan saat Hoo mengejar si ayam. "Kali ini kau kumaafkan, Jenderal," gerutu Ram yang kemudian dengan cekatan membenarkan posisi tubuh.


Ram duduk di punggung Aaa dan memacu ayam itu agar menjauh dari pohon jembatan. Tak diduga, usaha Kiarra berhasil. Ram dan Aaa sukses membuat raksasa Hoo terfokus pada mereka. Kiarra dengan gesit berlari menuju ke pohon jembatan yang daunnya berwarna biru terang seolah sinar merah dari bulan tak mengusik keberadaannya. Kiarra tiba di bawah pohon dan mendongak ke atas dengan napas tersengal.



"Oke, hah, hah, aku tak bisa menyentuhmu atau akan berteleportasi. Namun, kau sangat tinggi!" pekik Kiarra sampai matanya menyipit dan melihat sekitar dengan kepala mendongak untuk mencari ranting terendah agar bisa digapai. "Ah, cara sebelumnya!" pekiknya yang hampir saja melupakan teknik andalan.


Kiarra dengan sigap membuka buntalan yang dijadikan seperti tas slempang itu di punggungnya. Namun, ia terkejut saat tak mendapati tali miliknya di dalam sana. Kiarra bingung dan berdecak kesal karena usahanya bisa gagal. Hingga matanya melotot saat melihat Aaa berlari ke arahnya dengan Ram di punggung ayam tersebut.


"Bego banget sih! Kenapa malah ke sini!" umpat Kiarra dengan mata melotot.


"Ara!" panggil Ram dengan wajah tegang yang membuat Kiarra panik dan semakin bingung untuk mendapatkan bagian dari pohon jembatan.

__ADS_1


Kiarra memejamkan mata sejenak mencoba menenangkan pikiran dan hatinya untuk mendapatkan solusi. "Oh, aku tahu!" pekiknya yang kemudian menarik pedang lalu menggenggamnya kuat. Kiarra mundur beberapa langkah dari batang pohon dan membidik sasarannya. "Heahhh!"


KRASS! BRUKK!


"Hahahaha! Berhasil!" serunya senang dan segera mengambil ranting pohon dengan daun biru pohon jembatan. Kiarra segera memasukkan dalam wadah khusus lalu mengikatnya kuat.


Kiarra melemparkan pedangnya ke arah salah satu ranting yang sudah diincarnya. Pedang Kia yang tajam, dengan mudah menebas ranting pohon dan membuat sasarannya jatuh tepat di samping Kiarra. Pedangnya pun tertancap di atas tanah usai menyelesaikan tugasnya. Kiarra segera mencabutnya dan disarungkan kembali. Wanita dengan rambut kuncir kuda itu berdiri di samping pohon jembatan dan terlihat serius menatap Ram serta Aaa yang semakin dekat ke arahnya.


"Hoo!" raung monster itu dengan jarak yang sangat dekat, siap untuk menyeruduk Ram.


Kiarra melihat Aaa dan Ram tak akan mendapatkan kesempatan untuk tiba tepat waktu. Kiarra memindai sekitar dan mendapati banyak batu seukuran kepalan tangan. Wanita perkasa itu segera mengambil beberapa lalu dilemparkan ke arah tanduk Hoo yang besar tersebut.


DUKK!


"Hoo!" raung makhluk tersebut saat merasakan seperti terkena hujan batu di atas kepalanya.


"Cepat!" teriak Kiarra saat Aaa berjuang keras untuk segera tiba.


Kiarra terus melempari Hoo di dekat pohon jembatan dan hal itu membuat makhluk tersebut murka.


"Hoo!"


"Arghh!" teriak Ram saat tubuhnya terhempas karena Hoo menggunakan tanduknya untuk menyapu daratan dan membuat tanah tersebut bergetar hebat layaknya gempa bumi.


Namun, siapa sangka, hal itu malah membuat Aaa terlempar dan tiba di pohon jembatan lebih cepat meski harus jatuh tersungkur.


"Aaa!" panggil Kiarra panik dan segera mendatangi ayam besarnya.


Kepulan debu yang disertai batuan membuat Aaa dan Ram terluka. Keduanya tak bisa bangun dan mengerang kesakitan di atas tanah. Mata Kiarra melebar saat melihat Hoo siap melakukan serangannya lagi. Sang Jenderal tak ingin perjuangannya sia-sia. Ia menggerakkan tubuh Kiarra untuk segera menarik Aaa dan Ram ke pohon jembatan demi menyelamatkan diri.


"Bye!" ucap Kiarra yang merangkul kepala Ram dan Aaa dalam posisi berjongkok dengan tangan kiri saat tangan kanannya menyentuh batang pohon itu.


Seketika ....


"Oh! Ber-berhasil! Hahahaha! Kita berhasil!" seru Kiarra senang dan langsung berdiri kegirangan karena berhasil melakukan teleportasi meninggalkan wilayah kerajaan Zen. Akan tetapi, saat ia melihat sekitar, keningnya berkerut seketika. "Oh, inikan ...," ucapnya terkejut karena mengenali tempat itu.


Tempat di mana ia dan Dra pertama kali bertemu. Tempat sang Jenderal tewas dan mereka harus melawan monster mengerikan yang mulutnya bisa terbuka layaknya bunga merekah. Mulut Kiarra menganga lebar. Ia bingung dengan hal ini dan segera membuka buntalan lagi untuk melihat peta. Namun, lagi-lagi, barangnya hilang tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Pe-petaku di mana!" teriaknya marah dengan mata melotot.


Napas Kiarra memburu. Pandangannya tak menentu hingga ia melihat isi buntalan milik Ram yang terbuka sedikit. Kiarra merangkak mendekati barang milik teman seperjalanannya. Awalnya, wanita itu ragu karena dirasa tak pantas melihat isi milik orang lain. Namun, ia mencurigai Ram.


Kiarra menarik napas dalam dan menarik tas yang masih dikenakan oleh pria itu. Saat Kiarra akan melepaskan benda tersebut, mata Ram terbuka. Kiarra terperanjat ketika Ram memegangi tangannya kuat dengan sorot mata tajam. Keduanya saling bertatapan dengan wajah serius.


"Apa kau mengambil yang bukan milikmu, Ram?" tanya Kiarra penuh selidik, tak gentar saat matanya beradu dengan Ram.


Pria itu diam saja, tetapi kemudian melihat sekitar. Kiarra masih mengamati gerak-gerik Ram sewaktu pria itu mengerutkan kening. "Kita ... berada di wilayah Kerajaan Tur? Bagaimana bisa?" tanyanya terkejut.


Kiarra tersenyum miring. "Buka buntalanmu atau aku tak segan mengembalikanmu ke tempat Hoo berada," ujarnya yang membuat Ram menelan ludah dan terlihat tegang.


"Kau ... bisa melakukan perpindahan tempat layaknya penyihir? Sungguh?" tanyanya penuh selidik.


"Ingin bukti? Boleh saja, tetapi setelahnya, kau kutinggal di sana. Tak perlu ikut lagi denganku untuk mencari buah naga," tegasnya.


Ram tertegun. Pria itu langsung duduk dan melepaskan cengkeramannya di tangan Kiarra. "Silakan," ucapnya dengan pandangan tertunduk.


Benar saja, saat Kiarra membuka buntalan itu, matanya terbelalak lebar. Tali, peta, dan juga beberapa barang miliknya berada di dalam sana termasuk bagian dari pohon jembatan yang berhasil ia dapatkan dengan susah payah.


"Harghh!" teriak Kiarra murka dan langsung mencekik Ram hingga pria itu jatuh terlentang.


Ram terkejut dan berusaha melepaskan cekikan sang Jenderal di lehernya. "A-aku minta maaf! Aku sengaja menyimpannya karena ... agh, uhuk! Karena ... hah, hah, kain tasmu robek!" teriaknya dengan wajah sudah memerah karena kekurangan oksigen.


Kiarra tersentak dan langsung melepaskan cekikkannya. Ia yang penasaran mendekati buntalan miliknya dan baru menyadari jika ucapan Ram benar. Kain tasnya robek meski tak besar. Kiarra menyipitkan mata dan menatap Ram tajam saat kembali duduk seraya memegangi lehernya yang sakit.


"Aku tak akan mengkhianatimu, Jenderal, sungguh. Aku ingin menolongmu. Percayalah padaku. Semua yang kulakukan demi kau agar bisa menyelamatkan Dra," ujarnya dengan wajah memelas.


Napas Kiarra tersengal. Sulit baginya percaya pada Ram meski ia sudah membuktikan ucapannya.


"Kau ... jangan sentuh barang-barangku. Berani melakukannya, aku tak segan mencabikmu dengan tanganku sendiri. Ingat itu, Ram," ancam Kiarra menunjuk.


Ram terlihat pucat dan tegang, tetapi kemudian mengangguk.


***


gegara mbk Jegeg matanya sliwer, lele kasih deh pohon jembatan dengan model berbeda😩 jangan lupa votenya lho ya udah ngerjain emak berdasteršŸ˜—

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2