Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Menuju Tur*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Di kamar tempat Kiarra beristirahat.


Dra terlihat cemas karena Kiarra tampak murung dan diam saja di ranjang. Ratu Kerajaan Vom tersebut juga menutup diri dari penyihir tersebut. Dra yang merasa usahanya sia-sia untuk mengetahui alasan Kiarra mengurung diri, akhirnya memilih untuk pergi. Kiarra dibiarkan istirahat di kamar barunya. Akan tetapi, makanan dan minuman tetap diantar oleh pelayan kastil. Hanya saja, sang Jenderal tetap diam saja seolah orang-orang yang keluar masuk ke kamar tak terlihat olehnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Ben saat melihat Eur seperti ingin pergi karena meninggalkan jamuan pesta penyambutan.


"Aku mencemaskan keadaan Jenderal. Ia bahkan tak ikut pesta, padahal kalian tahu jika dia sangat menyukai kemeriahan," ucap Eur yang sudah memahami karakter wanita itu.


"Aku mengerti. Pergilah dan segera sampaikan pada kami apa yang terjadi. Dra dan Rak ingin bicara padaku. Jadi, aku tak bisa ikut," ujar Ben dan diangguki oleh Eur.


Pop dan Fuu yang ikut disibukkan dengan acara di tengah bulan ungu, membuat waktu mereka tersita selama acara. Hingga saat Eur sudah berada di koridor menuju kamar sang Jenderal, ia terkejut dan segera bersembunyi di balik dinding ketika melihat orang-orang dari Tur keluar. Eur berusaha agar dirinya tak ketahuan ketika melihat tiga orang dengan wujud setengah binatang itu berjalan menyusuri lorong menuju ke tempat jamuan. Eur yang penasaran, segera menyelinap masuk.


"Jenderal! Anda mau ke mana? Anda sedang hamil!" tanya Eur langsung berjalan dengan tergesa mendekati kekasih hatinya yang berpakaian tempur lengkap seperti siap berperang.


"Urusanku dengan Tur belum selesai, Eur. Aku harus segera menuntaskannya," tegas Kiarra seraya menyarungkan pedang kristalnya.


Mata Eur terbelalak lebar. Tangannya dengan sigap memegangi kedua lengan Kiarra. Sang Jenderal tertegun dan menatap dayangnya lekat.


"Aku ikut. Percuma menahan kepergian Anda. Namun, Anda kini berbadan dua. Aku tak bisa membiarkan calon anak kita tewas karena usahamu menyelesaikan misi dari sang Naga," ujar Eur yang membuat kening Kiarra berkerut.


"Anak kita?" tanya Kiarra mengulang. Eur mengangguk.


"Coba kau ingat, Jenderal. Terakhir kali, sebelum kau pergi, hanya aku yang menemanimu. Benarkan?" tanyanya yang membuat Kiarra diam dengan mata tertuju ke arah lain, mencoba mengingat kejadian yang dimaksud oleh sang dayang.


"Kau benar. Ya, ini ... ini pasti anakmu," ucap Kiarra lega karena ia sempat khawatir jika itu adalah benih Ram.

__ADS_1


Eur tersenyum dan memegang wajah sang Jenderal yang ditatap lekat. "Aku tak bisa membiarkan ibu dan calon anak kita tewas. Jadi, biarkan aku menemani Anda. Lebih baik aku yang mati, asalkan Anda selamat."


Ucapan Eur membuat Kiarra langsung memeluk pria tampan itu erat. Ia terlihat seperti takut kehilangan Eur. Sang Dayang tampak begitu bahagia. Ia mengecup kening sang Jenderal penuh dengan kasih. Kiarra merasa lega. Kekhawatirannya meredup dan digantikan dengan kebahagiaan.


"Aku memang tak ahli dalam berperang. Namun, aku tak akan menyerah," ucap Eur saat melepaskan pelukan.


"Aku tahu itu," jawab Kiarra dengan senyuman.


Eur bergegas menyiapkan diri. Kiarra dengan sabar menunggu pria yang akan menjadi calon ayah dari bayinya itu. Saat Eur dan Kiarra bersiap pergi, betapa terkejutnya ketika Lon, Dra, Rak, dan tiga dayang Kiarra lainnya muncul di depan pintu kamar. Kiarra dan Eur hanya bisa berdiri mematung saat orang-orang itu memasang wajah masam.


"Bisa-bisanya kalian akan menyelinap pergi," ucap Dra terlihat marah.


"Jika benar bayi dalam kandungan Jenderal adalah anakmu, bukan berarti kami tak berhak melindunginya. Jangan egois, Eur," tegas Pop memasang wajah garang.


Kiarra dan Eur saling memandang dengan senyuman. Keduanya bahagia karena orang-orang di hadapan sangat peduli pada nasib mereka.


"Well, sekeras apa pun aku melarang, kalian tetap akan merengek ikut. Baiklah, ayo," ucap Kiarra santai yang berjalan melenggang keluar dari kamar.


"Jaga diri Anda, Jenderal. Semoga, Naga melindungi perjalananmu. Kami tunggu kabar baik darimu di sini. Jangan khawatir, kami bisa menjaga diri," ucap seorang wanita dari warga Ark seraya menggenggam tangan Kiarra erat.


"Hem. Kali ini, aku tak mengajak pasukanku. Aku percayakan pada mereka untuk menjaga tempat ini," ucap Kiarra seraya memandangi pasukannya.


"Siap, Jenderal!" jawab para prajurit itu dengan mantap.


Jasad-jasad yang sudah dilindungi dalam kristal Kiarra akan dipindahkan saat bulan berganti oleh sebagian pasukan Kiarra berikut para orang tua yang penasaran dengan wilayah Yak. Hari itu, Kiarra diantar oleh beberapa prajuritnya sampai ke tempat perahu dari utusan Tur merapat di Sungai Agung. Selanjutnya, Kiarra dan tim barunya menyusuri sungai hingga ke tempat kapal merapat di laut merah.


Begitu tiba, Dra dan lainnya dibuat terkejut saat melihat sosok lain dan dia adalah Jenderal Gom. Pria yang juga setengah binatang itu menyambut kehadiran Kiarra dan orang-orangnya dengan jabat tangan dari tangan berbulunya di atas kapal. Kiarra menatap orang-orang Tur tajam yang terlihat siap untuk melawan pemimpin zalim mereka.

__ADS_1



"Selamat datang dan terima kasih karena bersedia menolong kami," ujar Gom yang diangguki Kiarra dan timnya.


"Seperti janji kami padamu, Kia-rra. Kami akan bersatu denganmu begitu ayah kami berhasil dikalahkan. Kerajaan Tur sudah lama menderita. Kini saatnya untuk memperjuangkan kedamaian," ucap Putri Xen.


"Kita berangkat," jawab Kiarra mantap.


Segera, kapal yang dinahkodai oleh Jenderal Gom bergerak. Layar terbentang saat bulan kembali merah. Kiarra terlihat cukup ngeri saat memandangi Laut Merah yang bagaikan genangan darah itu. Para dayang yang menyadari jika sang Jenderal pucat segera mendekat. Kiarra kembali berdiri tegak di mana sedari tadi ia menatap lautan di tepi geladak.


"Ada apa?" tanya Kiarra tenang.


"Anda tak bisa membohongi kami, Jenderal. Kondisi fisik Anda tidak baik-baik saja," ujar Fuu yang membuat Kiarra tersenyum.


Kiarra tiba-tiba mengecup kening keempat dayangnya bergantian. Orang-orang di sekitar mereka tampak terkejut, tetapi diam saja tak berkomentar.


"Begitu semua selesai, aku ingin kita menikah."


"Ha!" kejut keempat dayang itu serempak.


Kiarra hanya tersenyum sebagai jawaban. Ia mendekati sang putri seperti membicarakan sesuatu. Kiarra lalu masuk ke dalam kapal di mana orang-orang bisa menebak jika wanita hamil itu ingin beristirahat.


"Menikah? Kita menikahi Jenderal Kia? Oh, maksudku ... Kia-rra? Sungguh?" tanya Pop sampai bingung dalam bicara.


"Ya, begitulah. Aku sangat yakin jika pendengaranku sempurna," sahut Fuu tampak tegang dengan hal ini.


Dra hanya tersenyum karena ikut tak menduga dengan hal tersebut. Namun, jika Kiarra sudah bertitah, semuanya bisa terjadi. Sekilas, tampak senyuman terbit di wajah empat dayang itu meski mereka berusaha untuk menutupinya dengan bekerja seperti menggulung tali, merapikan geladak, dan pekerjaan lainnya. Jenderal Gom sampai geleng-geleng kepala karena ia merasa jika calon pemimpin Negeri Kaa cukup unik di mana hal tersebut tak pernah terjadi sebelumnya.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2