Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kristal Biru*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Sorak-sorai santer terdengar di wilayah itu. Tebasan tangan pedang kristal Kiarra yang membelah tubuh Ram, sukses membuat kegembiraan di hati semua orang. Mata Kiarra menajam melihat potongan tubuh Ram yang tergeletak di atas tanah. Dra dibantu oleh Aaa dengan sigap mendatangi Kiarra yang terbang melayang di atas jasad Ram.


"Kia-rra! Bakar dia! Lalu, buang abunya ke kolam naga. Itu satu-satunya cara agar Ram tak bangkit lagi!" ujar penyihir itu yang membuat Kiarra mengangguk dengan mantap.


Semua orang terdiam saat mendengar penuturan Dra tentang melenyapkan Ram. Benar saja, ketika Kiarra sedang mengumpulkan energi untuk membakar manusia iblis itu, darah Ram yang menggenangi daratan bergerak, seperti ingin menyatukan tubuhnya lagi yang terbelah.


"Di-dia akan bangkit lagi!" teriak Lon ketika darah-darah ungu itu saling melekat.


"Kia!" pekik Dra dengan mata melotot.


Praktis, kepanikan dan ketakutan kembali menyeruak di hati semua orang. Lon tiba-tiba saja memegangi salah satu tangan Ram dan menahannya kuat saat anggota tubuh lain mulai menarik.


"Jangan biarkan Ram bangkit! Pisahkan tubuhnya!" seru Panglima Wen seraya berlari mendekat.


Orang-orang mengikuti cara Lon dengan memegangi salah satu anggota tubuh Ram dan berusaha menjauhkan dari potongan lainnya. Namun, kekuatan dari sihir yang sudah diserap oleh Ram, membuat para manusia biasa itu berjuang keras karena tarikan darah begitu kuat agar tubuh bisa menyatu.


"Agghhh! A-aku sudah tak sanggup lagi!" teriak Lon dengan mata terpejam rapat dan otot-otot di tubuhnya menegang.


"Lepaskan!" titah Dra.


Segera, tangan-tangan itu melepaskan diri dari tubuh Ram.


"Terbakarlah!" teriak Kiarra saat dua tangannya mengeluarkan api yang menyembur dahsyat.


Aaa sampai melangkah mundur karena merasakan panasnya api yang membakar raga Ram. Terlihat, tubuh Ram meronta hebat saat darah-darah itu hampir berhasil menyatukan tubuhnya yang terbelah. Kiarra fokus pada serangannya. Tubuhnya masih melayang di udara dengan dua tangan terarah pada tubuh Ram. Jantung semua orang berdebar kencang ketika melihat Ram menggelinjang disertai rintihan. Dengan cepat, api biru itu melahap seluruh raga Ram dan menjadikannya debu ungu.


"Dia berhasil! Ara berhasil!" teriak Lon gembira dan disusul sorakan orang-orang yang melihat kehebatan kekuatan sang Jenderal.


Dra bernapas lega. Ia sampai lemas karena khawatir jika Ram bangkit lagi. Penyihir itu turun dari punggung Aaa lalu mendatangi abu Ram dan menatapnya saksama.


"Kia, bisakah kau ... oh!" kejut Dra saat ia sedang menatap sang Jenderal yang tiba-tiba menggunakan sihirnya untuk menyatukan abu Ram.


Lon dan lainnya mendekat dengan jalan tergopoh ketika Kiarra menggunakan kemampuan kristal birunya untuk membuat abu Ram menjadi batuan kristal. Semua orang terkagum-kagum karena batuan itu tampak begitu indah seperti bunga.

__ADS_1



"Akk! Akk!" lengking Aaa seraya mendekati batuan biru tersebut lalu menggunakan paruhnya untuk menggelindingkan.


"Kau ingin membawanya ke kolam naga?" tanya Kiarra dan Aaa mengangguk.


"Wah! Kau bisa bahasa Aaa?" tanya Lon kagum. Kiarra hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Oke. Bawa batu ini ke sana. Pastikan dia tenggelam ke kolam yang tak berdasar itu," pinta Kiarra.


"Akk! Akk!"


Panglima Goo dengan sigap mengambil batuan biru tersebut lalu dibungkus dalam buntalan kain dari robekan baju tempurnya. Lon membantu mengikat buntalan itu di atas punggung Aaa agar tak jatuh saat berkendara. Saat Aaa siap berangkat, tiba-tiba Dra berdiri di hadapan Aaa menatapnya lekat.


"Aku akan menemani Aaa," ucapnya yang membuat semua orang terkejut.


Kiarra menatap Dra dan Aaa yang saling berpandangan dalam diam. "Oke. Hati-hati. Jika sudah selesai, segeralah kembali ke Vom. Ada hal yang harus diselesaikan segera," pintanya.


"Aku mengerti," jawab Dra dengan anggukan.


Panglima Wen dan Goo membantu Dra naik ke punggung Aaa. Ayam besar itu segera berlari meninggalkan lokasi menuju kolam naga bersama dengan Dra. Kiarra yang kini berwujud manusia kristal membuat semua orang kagum akan keajaibannya.


BRUKK!


"Jenderal!" pekik Eur panik karena Kiarra jatuh begitu saja saat ia masih terbang melayang.


Mata semua orang melebar saat melihat cahaya biru terang yang tak lain adalah bintang biru terbang ke atas langit, keluar dari tubuh Kiarra. Sang Jenderal tergeletak tak sadarkan diri di atas rumput dengan mata terpejam. Kiarra kembali menjadi manusia normal seperti raga sebelumnya. Lon dan lainnya segera mendatangi Kiarra dan merebahkannya. Mencoba menyadarkan sang Jenderal dan memastikan penolong mereka itu baik-baik saja.


"Oh, lihat itu!" seru Fuu menunjuk ke atas langit.


Semua orang terperangah ketika melihat langit yang tadinya hitam gelap gulita dan hanya bercahaya bintang biru, kini menjadi berwarna-warni. Perlahan, warna-warna indah itu memudar lalu digantikan dengan warna merah, ciri khas dari sang bulan. Daratan dan langit kembali seperti semula. Negeri Kaa memiliki perbedaan hari yakni bulan merah dan bulan ungu yang bergantian muncul layaknya siang malam di Bumi.


"Emph ...."


"Jenderal!" seru Pop gembira saat melihat wanita cantik itu mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan.

__ADS_1


"Hei," sapa Kiarra dalam pangkuan salah satu dayang.


"Hehe, hai. Anda sangat hebat, Jenderal," ujar Pop memuji.


Kiarra tersenyum saat orang-orang duduk bersimpuh mengitarinya. Lon bahkan langsung memeluk dan menangisinya. Kiarra terkekeh sewaktu mengelus kepala bocah lelaki itu yang sangat mencemaskan keadaannya.


"Kau anak yang pemberani, Lon. Aku sangat bangga padamu," puji Kiarra, tetapi Lon malah semakin menangis tersedu. Semua orang tertawa.


"Jenderal Kia berhasil! Ia mengalahkan iblis Ram!" seru salah satu penduduk yang keluar dari tempat persembunyian.


"Hidup Jenderal Kia!" teriak warga Vom lainnya.


"Hidup Jenderal Kia!"


"Hidup Ratu Kia!"


Kiarra tersenyum dengan tubuh lesu. Pop segera membopong sang Jenderal untuk dibawa kembali ke istana meski bangunan megah itu telah kehilangan sedikit pesonanya karena rusak akibat gempuran Ram. Kiarra diistirahatkan di ruangan sang Ratu yang telah tiada. Kini, wanita cantik yang disebut Dewi Kematian itu menggantikan tugas pemimpin Vom. Kiarra dirawat oleh para dayang dengan penuh perhatian. Kiarra yang merasakan dimanja oleh para dayangnya, kembali memuaskan gairah padahal ia masih penyembuhan.


"Jenderal. Bagaimana dengan jasad Ron? Anda mengatakan untuk menyimpannya. Namun, bagaimana caranya? Dan ... untuk apa?" tanya Fuu seraya menyisir lembut rambut panjang Kiarra dengan jemari tangan.


Kiarra merebahkan kepalanya di paha pria tampan itu.


"Akan kuberi tahu nanti. Aku tahu tempat yang bagus untuk mengawetkan sementara waktu sampai Aaa kembali untuk membawa jasadnya ke kolam naga," jawab Kiarra tenang menikmati belaian pria tampan itu dengan tubuh polos ditutupi selimut.


"Jadi ... di mana tempat itu?" tanya Pop seraya memijat kaki jenjang Kiarra yang diletakkan di atas paha pria berambut gondrong tersebut.


"Di manakah lokasi terdingin di Negeri Kaa?"


Para dayang Kiarra yang duduk bersimpuh di atas kasur mengelilingi sang Jenderal diam sejenak berpikir. Hingga akhirnya, mata mereka saling melirik. Kiarra tersenyum karena para dayangnya mengetahui tempat itu.


"Namun, bagaimana dengan pasukan kerajaan Yak?" tanya Ben cemas.


"Ingat tugas naga? Aku memang harus mendatangi tempat itu dan membuat perubahan di sana," jawab Kiarra dan diangguki semua dayang dengan wajah serius.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


Kwkwkw ngetiknya jam 2 pagi gegara kebangun akibat cuaca yang bikin gerah. Semoga tiponya gak berhamburan. Okeh, Ram udah mati tinggal menyelesaian misi terakhir menuju tamat. Trims dukungannya dan semoga selesai tepat waktu❤️ Lele padamu💋


__ADS_2