Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Penghuni Baru Negeri Kaa*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Saat kapal balon udara tiba di Vom, tampak warga berkumpul memenuhi halaman istana untuk melakukan penyambutan. Kiarra tersenyum manis di hadapan anggota keluarganya yang terlihat kagum akan keberagaman manusia dan makhluknya di Negeri Kaa.


"Ini istanamu? Keren sekai!" ujar Michelle kagum karena dinding batunya berwarna ungu.


"Jujur. Aku juga belum menggali lebih dalam lagi tentang Negeri Kaa. Malah, aku ingin sekali bereksplorasi bersama kalian. Berpetualang bersama untuk menemukan hal-hal yang belum diketahui oleh masyarakatnya. Bagaimana?" tawar Kiarra.


"Aku ikut!" teriak Hiro gembira.


Sedangkan Tora, terlihat begitu gagah saat berdiri di haluan kapal. Kulit yang bersih, kepala yang gundul dan berbadan tegap, praktis membuat kaum hawa langsung terpesona akan sosoknya. Tora turun bersama keluarganya sembari menggendong bayi Kristal yang sudah bangun. Terlihat rambut biru menyembul dari balik gendongan.


"Aduh, kamu gemesin banget!" pekik Rein yang tak henti-hentinya mentoel-toel pipi itu.


"Tanganmu kotor, Rein. Aku melihatmu memegang banyak benda. Jangan sentuh kulit Kristal yang masih sensitif itu," ujar sang ayah yang membuat senyum Rein sirna seketika.


"Oke. Maaf," jawabnya cemberut.


Kiarra meringis karena merasa jika ayahnya sedikit lain. Seingatnya, Tora dulu sangat periang. Ia juga orang yang suka belajar. Namun, Tora yang dilihatnya kini berbeda. Tegas, sedikit galak dan jarang tersenyum. Kiarra penasaran dengan yang terjadi karena sikap sang ayah tak seperti ingatannya.


"Ayah," panggil Kiarra seraya berjalan di samping lelaki gundul itu.


"Hem," jawab Tora sambil melihat sekeliling saat Kenta memperkenalkan anggota keluarganya satu per satu kepada penduduk.


"Apa yang mengganggumu? Kenapa ... kau terlihat seperti tidak bahagia? Apa kau tak senang berada di sini?" tanya Kiarra sedih.


Mata Tora langsung tertuju pada putrinya yang berwajah murung. Tora mengelus kepala Kiarra lembut lalu tersenyum.


"Tidak. Hanya saja, hmm ... bagaimana mengatakannya, ya? Aku masih kesal karena ibumu menikah dengan musuh kita. Jangan minta kepada Naga untuk membangkitkan mereka. Biarkan saja mendekam di neraka. Aku rela," jawabnya dengan wajah dingin, tetapi membuat Kiarra melongo.


"Ka-kau membenci ibu?" tanya Kiarra dan Tora mengangguk dengan wajah serius. Kiarra diam seketika dan tak lagi bicara. Ia bingung bagaimana menyikapi hal ini.


"Nah, lalu ini adalah ayah kami. Tora! Bagaimana, dia tampan dan keren, bukan?" tanya Kenta saat merangkul sang ayah untuk diperkenalkan.


"Senang bertemu Anda, Paduka Tora," ucap salah satu warga Yak sungkan.


"Jangan. Panggil saja aku Sensei," pintanya yang membuat semua orang tertegun.


"Ha? Ayah bilang apa tadi?" tanya Chiko ragu.


"Sensei. Dia ingin disebut sebagai guru. Aku rasa, itu bagus untuk diterapkan di negeri ini. Kalian lihat sendiri, Negeri Kaa masih sangat kuno. Ayah sangat cocok hidup di tempat ini. Kalian ingat tentang kisah saat ayah ditemukan pertama kali oleh Vesper-sama? Kehidupannya pasti tak jauh dengan hal-hal seperti di sini," ujar Ryota berbisik.

__ADS_1


"Ah, kau benar," sahut Azumi dan diangguki lainnya.


"Sen-sei," panggil warga mengulang ucapan itu.


Tora mengangguk pelan membenarkan. Kiarra lalu mengajak ayah dan anggota keluarganya untuk berkeliling istana Vom lalu mengunjungi rumah-rumah penduduk.


"Eur, Ben, Pop dan Fuu, cepat kemari!" titah Kiarra saat ia berjalan di barisan paling belakang karena Kenta memaksa untuk menjadi seorang pemandu.


"Ya, Ratu," jawab empat orang itu langsung mengelilingi Kiarra saat mereka berjalan di koridor.


"Aku ingin kalian menulis semua hal yang diucapkan oleh saudara-saudariku. Kalian dengar sendiri 'kan, jika sedari tadi mereka berbicara tentang hal-hal yang aku sendiri tak tahu bagaimana menjawabnya. Tulis semua lalu kumpulkan padaku sebelum tidur," pintanya.


"Baik, Ratu!" jawab empat lelaki itu cepat.


Mereka bergegas meninggalkan rombongan untuk mengambil gulungan. Selama keluarga Kiarra menyusuri beberapa tempat, wanita cantik itu mengingat pertanyaan-pertanyaan dan juga solusi akan struktur serta kehidupan di tempat itu. Tak lama, empat dayang datang terlihat gugup saat akan menulis.


"Ben, tulis ini," pinta Kiarra saat pria tampan itu kembali berjalan di sisi kanannya.


"Baik," jawab lelaki itu cepat sembari membuka gulungan.


"Batu yang digunakan untuk membangun rumah, kenapa warnanya ungu? Di mana mereka mendapatkannya, lalu bagaimana cara membangun rumah-rumah tersebut? Padahal, di tempat ini tak ada semen sebagai perekat. Tulis," pinta Kiarra dan Ben segera menuliskannya dengan cepat.


"Lalu, Pop. Tulis ini," pinta Kiarra saat mendengar obrolan antara Azumi dan Michelle. "Dari mana para penjahit dan pengrajin kain mendapatkan bahan untuk membuat pakaian? Jika dari hewan, tumbuhan, atau benda lainnya, bagaimana cara mengolahnya? Termasuk pewarnaan kain-kain tersebut," imbuhnya.


"Baik, Ratu," jawab Pop cepat sembari menulis menggunakan bulu yang ujungnya dicelupkan pada sebuah tinta hitam dalam wadah seperti mangkok terbuat dari kayu. Para dayang mengantongi tinta itu di pinggul seraya terus berjalan mengikuti Kiarra.


"Inisiatif yang bagus. Tadi aku mendengar Ryota berbincang dengan Raiden. Mereka membahas tentang armada atau bisa dikatakan alat transportasi di Negeri Kaa. Mereka menyebut tentang kendaraan bermesin. Ingatkan aku untuk menanyakan hal itu lagi pada mereka."


"Saya mengerti," ujar Fuu cepat.


"Lalu Eur, tulis ini," pinta Kiarra dengan mata menatap Aiko dan Hiro yang sedang berbincang terlihat serius. Eur terlihat siap dengan bulu sebagai pena. "Pembicaraan mereka sedikit unik karena tentang metode pembelajaran. Tulis saja, seperti apa sekolah di Negeri Kaa? Siapa saja siswa-siswinya? Apa saja yang mereka pelajari? Berapa kali mereka sekolah dalam satu minggu? Peralatan apa saja yang digunakan dan bagaimana kemampuan guru-gurunya," ucap Kiarra cepat.


"Oh, tunggu sebentar, Ratu. Tadi apa? Maaf, Anda bicara terlalu cepat dan bahasa yang digunakan ... saya kurang mengerti," jawab Eur terlihat gugup. Kiarra tersenyum dan malah mengecup kening dayangnya itu lembut. Eur tersipu malu.


"Oke, aku ulangi. Bagian mana yang terlewat?" tanya Kiarra bersabar.


Eur mengulang dan Kiarra menyebutkannya lagi. Tiga dayang lainnya tersenyum. Mereka sangat menyukai Kiarra yang baru karena begitu sabar dan tak tempramental seperti sang Jenderal. Mereka merasa, jika watak Jenderal Kia telah hilang darinya. Cukup lama mereka menjelajah dan berakhir di sebuah rumah makan. Keluarga Kiarra terlihat ragu saat akan menyantap hidangan-hidangan itu karena berwujud dan memiliki warna yang tak biasa.


"Ini apa?" tanya Hiro saat mengangkat sebuah paha seperti unggas, tetapi warna kulitnya hijau keunguan dan berukuran cukup besar seperti kaki kambing. Saudara dan saudari Kiarra terbengong.


"Oh, itu adalah daging makhluk Yyy. Sangat gurih. Dia mengeluarkan banyak minyak sehingga tak perlu diberikan bumbu karena rasanya sudah enak. Minyaknya biasa kami gunakan untuk penerangan. Menyalakan api," jawab Lon yang membuat keluarga Kiarra ber-Oh.


"Aku tak pernah tahu dari mana atau nama makhluk-makhluk yang kumakan selama ini," ujar Kenta dengan wajah lugu.

__ADS_1


"Ya, aku juga. Sepertinya saat aku makan terlihat biasa saja, tak ada yang aneh. Kenapa sekarang berubah, ya?" sahut Kiarra ikut bingung.


"Mungkin karena sebelumnya, kalian dalam raga manusia Negeri Kaa. Sedang sekarang, kalian dalam raga manusia Bumi. Namun, aku yakin, apa yang kalian makan dan minum di tempat ini, sudah disesuaikan oleh sang Naga. Akan tetapi, untuk memastikan, kita harus mengetesnya," ujar Rak yang membuat anggota keluarga Kiarra terdiam.


"Mengetes bagaimana?" tanya Hiro gugup.


"Boh," panggil Rak seraya menatap wanita setengah hyena itu.


Boh mendatangi Tora lalu meminta salah satu telapak tangannya. Saat Tora mengulurkan tangan kirinya, tiba-tiba, "Argh!"


Praktis, hal itu mengejutkan anggota keluarga Kiarra. Ujung telunjuk Tora berdarah, tetapi berwarna ungu. Keningnya berkerut lalu menatap anak-anaknya saksama.


"Kalian sekarang adalah manusia Negeri Kaa, bukan Bumi lagi," ujar Boh lalu meminta tangan Raiden untuk dites dengan menusuk ujung jari menggunakan cakarnya yang tajam.


"Ah, aku mengerti," sahut Ryota dengan wajah polos.


Kiarra dan Kenta ikut diperiksa, ternyata darah mereka semua berwarna ungu. Senyum orang-orang itu terkembang karena mengalami hal unik di planet asing.


"Kita nikmati saja kehidupan baru di tempat ini," ujar Tora lalu mematahkan paha makhluk berkulit hijau yang kata Lon lezat itu.


"Oke, kita makan semuanya!" seru Hiro gembira yang disambut oleh anggota keluarga Kiarra lainnya.


Sang Ratu tersenyum lebar. Hatinya sungguh bahagia karena berkumpul bersama anggota keluarganya lagi. Meskipun mereka memiliki fisik layaknya manusia berumur 30 tahun, tetapi watak, perilaku, cara berpikir dan berbicara seperti campuran umur. Kiarra menikmati waktunya dengan keluarga didampingi oleh para dayang serta bayi Kristal. Usai acara makan, Kiarra mengajak anggota keluarga dan para petinggi kerajaan berkumpul di aula. Mereka penasaran karena undangan itu mendadak.


"Terima kasih atas kehadirannya dan aku minta maaf jika berkesan memaksa," ucap Kiarra sungkan.


"Ah, aku sudah terbiasa," sahut Kenta yang mendapat tawa ringan dari orang-orang. Tora diam menyimak dengan bayi Kristal dalam pangkuan.


"Hem, terima kasih," jawab Kiarra dengan senyuman yang berdiri di atas mimbar. Orang-orang itu duduk di kursi kayu seperti sedang menghadiri seminar. "Mengingat keluargaku telah datang dan akan hidup sampai akhir hayat di Negeri Kaa, aku memutuskan untuk menempatkan mereka di beberapa kerajaan sebagai penasihat para raja dan petinggi kerajaan agar Negeri Kaa lebih maju."


"Ha? Kau meminta kami bekerja? Tidak sopan!" gerutu Azumi.


"Aku tak keberatan," sahut Tora tenang. Azumi langsung membungkam mulut dengan wajah tertunduk. Kenta dan lainnya terkekeh pelan. "Aku menyebut diriku Sensei. Aku berharap bisa melakukan perubahan di tempat ini. Akan sangat menarik untuk menghabiskan sisa hidup demi kemajuan suatu bangsa. Apalagi ... jika dibantu oleh putra putriku."


"Uhh, apa kau merasa malu, Azumi?" sindir Kenta yang membuat Azumi berdecak kesal. Semua orang menahan senyum.


"Terima kasih, Ayah. Negeri Kaa memang sangat membutuhkan banyak perubahan. Pengalamanmu sangat berarti demi kemajuan Negeri Kaa," jawab Kiarra lega. Tora mengangguk menerima pekerjaan itu.


"Jika ayah saja bersedia, kenapa kita tidak? Ayo bekerja!" sahut Hiro semangat.


"Yeah!" sahut Ryota yang diikuti oleh anggota keluarga lain.


Kiarra bertepuk tangan dan disambut oleh orang-orang dalam ruangan tersebut. Ia sungguh tak menyangka jika keluarganya mau direpotkan demi kemajuan di Negeri Kaa agar kehidupan mereka lebih baik.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Yuriko Omura)


__ADS_2