
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kol dan para pengungsi Tur begitu bahagia karena diizinkan tinggal di dalam hutan kabut putih. Meski demikian, Nym memberitahukan beberapa persyaratan selama mereka tinggal di sana.
"Ingat baik-baik peringatanku ini jika kalian ingin hidup lama di hutan kabut putih," ucap peri pohon tersebut.
"Kami mengerti, Nym. Terima kasih atas keramahanmu dan para peri lainnya," ucap Mor dengan wajah berbinar.
Nym si peri pohon tersenyum. Perlahan, tubuhnya yang sebagian seperti manusia itu masuk ke dalam batang lalu menghilang. Para manusia setengah binatang takjub. Sebenarnya, alasan lain mereka diizinkan tinggal karena wujud binatang. Hanya hewan, peri dan penyihir yang bisa hidup di dalam hutan kabut putih. Sisanya, mereka harus berhati-hati dalam menyentuh, mengkonsumsi, dan menghirup udara di sana. Kenta saat itu sungguh beruntung karena tak celaka selama berada di hutan. Para peri yakin jika pria dalam raga Wen tersebut mendapat berkah dari sang Naga.
Koloni Kiarra dalam gabungan empat kerajaan masih dibuat cemas karena keputusan Kenta. Ditambah, pria itu menghilang tanpa jejak. Rak tak bisa menutupi kesedihannya. Ia selalu menunggu di menara untuk melihat orang-orang yang dikirimkan oleh petinggi Zen untuk mencari keberadaan Kenta. Namun, hingga bulan berganti ungu, pria asal Jepang itu belum juga kembali.
"Di mana dia? Kenapa Ken-ta meninggalkanku?" tanya Rak sedih dengan air mata berubah menjadi butiran es.
Dra yang ingin berpamitan karena harus kembali ke Vom bersama orang-orangnya, harus bersabar menghadapi Rak yang ternyata sangat rapuh. Dra menarik napas dalam. Saat ia akan masuk ke ruangan tempat Rak menunggu di dekat lonceng menara, tiba-tiba ....
"Oh! Itukan ...," pekik Rak tiba-tiba yang ikut mengejutkan Dra.
Penyihir asal Vom tersebut segera berlari memasuki ruangan lalu melongok keluar pagar menara. Rak terkejut karena Dra muncul di sampingnya.
TENG! TENG! TENG!
Suara lonceng yang dibunyikan oleh Rak mengejutkan semua orang. Para penjaga istana Zen bergegas bersiap dengan senjata dalam genggaman. Mata Rak dan Dra menajam saat mereka melihat pergerakan dari balik awan seperti ada benda terbang mendekat ke arah istana.
"Eekkk!"
"Itu Hem dan Kem!" seru Dra lega ketika melihat dua pria yang ditugaskan kala itu untuk membantu pasukan gabungan misi penyelamatan anak-anak Panglima Rat muncul.
Dra dengan sigap melepaskan mantra dari dua telapak tangannya ke luar jendela menara. Seketika, muncul kupu-kupu ungu yang terbang di sekitar penjaga benteng. Para prajurit itu menurunkan senjata saat tahu jika yang datang adalah sekutu.
"Apa aku tak salah lihat?" tanya Boh ketika dua pria mantan anak buah Wen telah mendarat bersama tunggangan mereka.
"Pyu?" sahut Putri Xen saat menyadari jika ada yang membonceng.
"Sa-salam, Putri Xen, Pangeran Owe," sapanya sopan dengan membungkuk.
Para petinggi yang masih berada di Zen langsung berhambur keluar istana untuk menemui tiga orang itu. Dra dan Rak bergegas turun. Boh meminta mereka untuk masuk ke dalam memberikan laporan dari hasil misi.
Aula Kerajaan Zen.
"Kau bilang apa? Kol memimpin pengungsi Tur ke hutan kabut putih?" tanya Putri Xen sampai melebarkan mata.
"Itu benar, Putri. Hanya saja, aku tak begitu yakin dengan kondisi warga Tur saat ini. Hutan menelan mereka," jawab Pyu memberikan informasi.
__ADS_1
"Lalu ... di mana Fuu dan lainnya?" tanya Dra yang akhirnya ikut bergabung.
"Aku mengikuti mereka sampai ke sungai. Mereka berhasil bertemu dengan para manusia ubur-ubur. Hanya saja, aku tak tahu setelahnya karena ... tak bisa berenang," jawab Pyu dengan wajah tertunduk.
"Informasi darimu sudah sangat berguna, Pyu. Terima kasih," puji sang Pangeran yang membuat senyum Pyu terbit.
"Lalu, bagaimana dengan kalian?" tanya Rak menatap Kem dan Hem tajam.
"Kami berhasil menyingkirkan Neo si manusia burung dari Tur. Namun, tampaknya, kedatangan kami diketahui oleh penjaga wilayah. Kami khawatir jika pasukan Tur akan mendatangi hutan kabut putih," jawab Kem gelisah.
"Jangan khawatir. Satu-satunya tempat teraman di Negeri Kaa adalah hutan kabut putih dan rumah sang Naga. Raja Tur tak akan bisa mengusik mereka karena dia sudah pernah mencobanya," tegas Boh dan diangguki para pemberontak Tur lainnya.
"Lebih baik, kita fokus pada sang Raja. Aku mencemaskan tentang strategi cerdiknya kala itu. Aku memiliki firasat jika Raja memanfaatkan balon terbang kita. Jika hal itu benar terjadi, kita dalam bahaya," sahut Tej yang mengejutkan para pendengar.
"Gawat! Sebaiknya, kita segera kembali ke kerajaan dan bersiap! Kemampuan balon udara untuk tiba di sebuah wilayah cukup cepat meski belum bisa mengalahkan pohon jembatan," ujar Dra dan diangguki semua orang.
"Kami pergi," ucap Ben dayang Kiarra dan diikuti lainnya.
Segera, para perwakilan kerajaan bergegas meninggalkan Zen. Rak memilih untuk tinggal karena Lon akan ikut ke Vom bersama Dra dan para dayang. Sedangkan lainnya, kembali bertugas ke Ark dan Yak. Praktis, kabar mengejutkan dari Kem, Hem dan Pyu membuat empat kerajaan segera bersiap dengan serangan yang akan muncul. Akan tetapi, seperti yang dikhawatirkan oleh Tej manusia harimau, pasukan Tur tiba lebih dulu di perbatasan Vom. Desa yang dulu menjadi tempat tinggal Lon diserang.
TOOTT! TOOTT!
"Desa Lon diserang!" seru salah satu pengawas benteng yang melihat desa kecil itu terbakar dan orang-orangnya berhamburan berlari keluar menyelamatkan diri.
Segera, pasukan burung Eee terbang melesat untuk menjatuhkan balon udara milik mereka dulu.
"Tembak!" titah seorang kapten pasukan dengan tangan kanan terjulur ke depan di atas punggung Eee.
SHOOT! SHOOT!
JLEB! JLEB! JLEB!
"Arghhh!"
"Jenderal Gor! Benda terbang kita diserang! Mereka berusaha menjatuhkan kita!" teriak salah satu prajurit Tur saat melihat puluhan anak panah dilesatkan.
Panah-panah itu mengenai beberapa prajurit Tur dalam keranjang balon udara dan menewaskan mereka. Sebagian, melubangi kain yang menggelembung sehingga berlubang.
"Lakukan serangan balasan dan siapkan strategi dua!" jawab Gor yang terpaksa menghentikan aksinya dengan melemparkan kayu-kayu api dari atas keranjang ke pemukiman penduduk sehingga kebakaran hebat terjadi.
"Baik! Kami mengerti!" jawab pria setengah musang itu mantap.
WOOO! WOOO!
__ADS_1
Suara terompet dari tanduk Ggg yang dimodifikasi sehingga menghasilkan bunyi lain saat ditiup. Seketika, para prajurit Tur di dua balon udara lain bergegas melakukan strategi dua seperti yang sudah diinstruksikan Gor sebelumnya.
Saat seorang prajurit dari pasukan terbang Eee bersiap untuk melesatkan anak panah dibagian kain yang menggembung, tiba-tiba saja ....
WHOOM!!
"Eekkkk!"
"Argh!" rintih penunggang itu ketika seorang prajurit Tur menyemburkan api dari dalam mulutnya layaknya pemain sirkus.
Semburan api yang mengejutkan para Eee, membuat mereka terbang menjauh. Para penunggang gagal membidik dan melesatkan anak panah karena hewan terbang itu takut dengan api. Laksamana Noh yang melihat dari atas menara melebarkan mata saat para Eee kini diserang dengan lesatan anak panah berujung api. Serangan anak panah api dari Tur yang gagal mengenai target, bergerak turun dan menancap di tanah. Hal itu, membuat padang rumput terbakar. Warga dari desa tempat Lon dulu tinggal panik karena mereka dikejutkan oleh kobaran api yang tiba-tiba menghadang ketika hendak berlari ke benteng Vom.
"Hem, kalian cerdik. Aku penasaran, siapa pemimpin pasukan Tur sekarang," ucap Laksamana Noh memuji di balik teropongnya.
"Laksamana! Pasukan Eee tak bisa menjatuhkan balon udara. Para prajurit Tur berhasil memperbaiki benda itu dengan menambal bagian yang berlubang menggunakan lendir dan menutupnya menggunakan kulit Kkk. Sepertinya, mereka telah mempelajari cara kerja balon udara kita!" ucap salah satu penunggang Eee melaporkan dari hasil serangannya yang gagal.
"Hem, cerdik. Aku semakin bersemangat. Baiklah jika demikian. Biarkan mereka datang kemari. Tarik mundur semua pasukan Eee! Bawa warga desa Lon yang selamat ke hutan. Biarkan mereka menjaga diri sampai kita selesai menyingkirkan para perusuh itu!" tegas sang Laksamana yang bersiap turun dengan melilitkan tali di pinggang.
"Baik, Laksamana!" jawab kapten penunggang Eee tersebut lalu kembali terbang untuk mengabarkan kepada timnya.
Laksamana Noh dengan sigap melompat dari jendela menara tanpa penutup tersebut. Ia berayun layaknya sedang berada di kapal menggunakan tali tambang yang diikat pada tiang penyangga. Para prajurit Vom yang berjaga di atas benteng tertegun melihat aksi pemimpin mereka yang tak takut padahal berada di ketinggian. Noh berhasil mendarat dan berdiri tegak dengan pedang dalam genggaman tangan kanan.
BRUK!
"Jangan diam saja, Bodoh! Jika sampai ada satu saja balon udara melewati benteng, aku tak segan berbuat keji seperti Raja Tur dengan menggantung kalian di benteng!" teriak Laksamana Noh yang membuat para pendengarnya bergidik ngeri seketika.
Tanpa menjawab ancaman sang Laksamana, para prajurit penjaga benteng dengan sigap mengangkat busur panah dan membidik tiga balon udara yang datang ke arah benteng. Pasukan Eee yang berhasil selamat dari serangan balasan pasukan Tur, dengan cekatan menangkap beberapa warga dan diajak naik ke punggung Eee. Mereka mengamankan warga di dalam hutan di mana tempat itu telah dipasang perangkap jikalau ada musuh pengikut Raja Tur berusaha menyerang.
"Te-terima kasih," ucap salah seorang penduduk yang tak bisa menutupi ketakutan di wajah saat ia diturunkan oleh penunggang Eee.
"Lakukan seperti yang pernah diajarkan oleh Lon kepada kalian. Jangan manja!" tegas penunggang itu yang membuat pria tersebut mengangguk paham seraya mendekap sebuah buntalan.
Para penunggang Eee kembali terbang meninggalkan hutan untuk membantu Laksamana Noh menyingkirkan pasukan Tur.
"Ayo, bersiap! Mereka bisa menyerang kita kapan saja!" ucap pria itu yang tak lain adalah kepala desa.
"Baik!" jawab orang-orang serempak dan bergegas membuka penutup dari papan kayu berlapis semak di atasnya.
Di bawah sana, terdapat semacam bunker hasil pemikiran Kiarra kala itu. Kiarra meminta agar ruangan tersebut disediakan persenjataan dan beberapa air dalam tong-tong kayu sebagai persediaan. Para orangtua, wanita dan anak-anak bersembunyi di dalam bunker sederhana. Sedangkan para pria dewasa, bersiap untuk menyerang di balik lubang-lubang galian yang ditutupi semak dengan senjata dalam genggaman.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Freepik)