
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Sontak, ucapan Kiarra membuat mata Eur melotot. Pria itu menatap wanita cantik di depannya tajam yang memalingkan wajah seperti tertekan. Eur sampai tak bisa berkata-kata. Ia berdiri perlahan, berjalan ke sana kemari seperti mencoba menguatkan mental sebelum mendengar hal mengejutkan lainnya.
"Siapa lelaki itu?" tanya Eur yang akhirnya berani bertanya.
"Pria yang paling dibenci di seluruh Negeri Kaa," jawab Kiarra yang membuat kening Eur berkerut.
"Raja Tur?" tanya Eur memekik.
Kiarra mengembuskan napas panjang dengan gelengan kepala. Eur kembali berpikir, mencoba mencari sosok yang pernah dekat dengan calon istrinya. Banyak nama berlalu-lalang di pikiran dan hal itu malah membuatnya frustasi.
"Ram," jawab Kiarra kemudian yang membuat mata Eur langsung tertuju pada sang kekasih. "Aku tak mencintainya, Eur. Bisa dibilang ... itu terjadi secara tak terduga. Sangat cepat bahkan aku hampir lupa jika hal itu pernah terjadi. Mungkin ... karena aku tak menginginkannya," jawab Kiarra terdengar seperti membela diri bagi pria itu.
"Oleh karena itu, Kristal menjadi sosok penyihir yang menggantikan penyihir agung sebelumnya di Ark? Karena Ram berasal dari Ark?" tanya Eur menduga.
Kiarra mengangguk pelan karena ia juga berpikir demikian. Eur membalik tubuhnya, memunggungi wanita yang selama ini dicintainya. Entah kenapa, hati Kiarra pilu melihat ia diabaikan oleh pria yang selama ini mengagumi dan ada untuknya. Bahkan, Eur terlihat paling mencintai putrinya di antara dayang lain. Setetes air mata penyesalan meluncur di pipi halus itu, tetapi Kiarra dengan cepat menghapusnya menggunakan satu tangan.
"Aku minta maaf, Eur. Aku juga tak bisa memaafkan diriku atas kecerobohan itu. Namun, setelah melihat Kristal lahir, kebencianku pada Ram sirna. Kristal tak bersalah, aku yang salah. Jika saja dia sungguh putrimu, pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia di Negeri Kaa karena ia lahir dari pria yang kucintai," ucap Kiarra dengan suara bergetar mencoba menahan isak tangis yang siap lolos dari bibirnya.
Kiarra menarik napas dalam lalu berdiri perlahan. Eur masih enggan untuk melihatnya, apalagi menyentuh. Kiarra tak menyalahkan pria baik itu dan memilih untuk pergi. Ia akan menerima segala keputusan Eur jika memilih untuk pergi darinya dan mencari kehidupan baru. Negeri Kaa telah aman dan damai, pasti tak akan sulit bagi Eur untuk menjajakinya, begitu pikir Kiarra.
Sang Ratu menutup pintu kamar milik Panglima Goo lalu melangkah dengan lesu. Rasa bersalahnya tak kunjung hilang. Ia juga enggan kembali ke kamar di mana para dayang sedang tertidur lelap bersama sang buah hati. Kiarra melangkah begitu saja dengan pandangan tertunduk seperti pasrah, ke mana dua kaki akan membawanya pergi. Hingga ia dikejutkan oleh dua kaki yang memiliki bulut lebat. Kiarra mendongak dan mendapati Kol berdiri di hadapan. Kiarra tersenyum kaku.
"Kenapa Anda belum tidur, Ratu Ara?" tanya Kol si manusia setengah macan kumbang menatap pemimpin barunya lekat.
Kiarra yang tak ingin menunjukkan kesedihan, meski ia tahu jika Kol menyadari perubahan ekspresinya, berusaha untuk tak terpuruk.
"Aku ... sedang memikirkan keluargaku di Bumi. Ibuku, kakakku, adikku, dan lainnya. Apa kabar mereka?" tanya Kiarra dengan pandangan tertuju ke arah lain.
Kol menatap Kiarra saksama. "Anda beruntung karena memiliki banyak orang yang disayangi. Sedangkan saya, tidak. Saya sampai tak tahu siapa yang harus dilindungi dan siapa yang bisa kucintai," jawab Kol yang membuat pandangan Kiarra tertuju pada pria berbulu hitam tersebut.
"Ceritakan kisahmu, Kol. Sebelum kau berwujud seperti ini, kau seperti apa?" tanya Kiarra penasaran. Kol terkekeh, tetapi wajahnya yang berupa macan, membuatnya sedikit menyeramkan.
__ADS_1
"Yah. Saya tampan, hebat dalam bertarung, dan ... kandidat suami yang patut untuk diperhitungkan."
Spontan, tawa Kiarra meledak. Ia tak pernah tahu jika sosok Kol yang garang ternyata memiliki sisi jenaka. Kol ikut tersenyum lalu mengajak Kiarra untuk berjalan bersamanya menuju kuil Dra. Kiarra setuju karena ia juga merindukan penyihir tersebut.
Saat keduanya mulai terlihat nyaman dalam berbincang sepanjang koridor dengan sisi kiri terbuka, tiba-tiba, warna langit berubah. Suara seperti guntur dan petir menyambar mengejutkan dua manusia itu. Bulan merah menghilang karena tertutupi gumpalan awan hitam yang begitu pekat. Kening Kiarra berkerut dan spontan mendongak ke atas.
"Apa yang terjadi?" tanya Kol dengan kening berkerut yang ikut melihat perubahan di langit.
Tak lama, terdengar derap langkah dari dalam istana. Kiarra bisa merasakan hal besar sedang terjadi. Kedua tangannya bergetar dan energi di tubuhnya seperti meledak-ledak.
"Ratu! A-Anda ...," pekik Kol langsung melangkah mundur saat melihat perubahan fantastis dalam diri Kiarra.
"Oh! Kia-rra?" pekik Rak terkejut saat ia datang bersama segerombolan orang.
"Di-dia berubah!" pekik Boh menunjuk.
"Hah, hah, agg ... arghhh!" teriak Kiarra kemudian saat merasakan tubuhnya seperti terjadi pergolakan.
Di kamar tempat Kristal berada.
"Apa yang terjadi?" tanya Ben terkejut karena Kristal tiba-tiba menangis kencang.
Tiga dayang itu bergegas bangun dan mendatangi si bayi cantik. Seketika, mata mereka terbelalak lebar. Kristal melayang di udara dan terus menangis. Namun, ajaibnya. Air mata yang menetes dan jatuh ke pipi berubah menjadi butir-butir kristal berwana putih bening yang berkilau.
Ben dan lainnya dibuat takjub, tetapi juga bingung. Mereka tak tahu bagaimana menyikapi hal ini karena belum pernah terjadi sebelumnya. Rambut biru Kristal bersinar terang, begitu pula tubuhnya yang menjadi putih berseri. Mereka tak berani mendekat apalagi menyentuhnya.
BRAKK!
"Eur! Bayimu! Apa yang terjadi pada Kristal?" tanya Fuu panik saat melihat kawannya datang dengan napas memburu.
Eur diam sejenak. Ia tahu jika semua orang menganggap Kristal adalah putrinya. Namun, setelah mendengar pengakuan Kiarra tadi, membuat hatinya merancu.
__ADS_1
"Eur!" panggil Pop panik karena Kristal terus menangis dan lantai ruangan perlahan dipenuhi oleh bulir-bulir kristal putih yang menggelinding.
Eur menarik napas dalam. Ia berjalan dengan wajah serius. Ben, Pop dan Fuu menatap Eur saksama yang terlihat begitu tegang dan seperti ada amarah di wajahnya. Eur berdiri di depan Kristal yang melayang dan terus menangis entah apa yang terjadi.
Perlahan, Eur mengulurkan tangannya. Ia mengambil Kristal lalu menggendongnya. Entah keajaiban apa, tetapi tangisan bayi cantik itu berhenti seketika. Pop dan lainnya dibuat terkejut, tapi kagum.
"Jangan takut, Putriku. Ayah di sini," ucap Eur lembut dengan senyuman seraya mengelus lembut pipi yang merona itu.
"Emm ... emm," jawab Kristal yang membuat para pria itu terharu.
"Kau sungguh ayah yang hebat, Eur! Jika aku memiliki anak nanti, aku ingin menjadi ayah sepertimu. Kau sangat pintar dalam mengasuh anak," ucap Pop memuji lalu ikut mengelus kepala Kristal yang bersinar biru terang.
Eur hanya tersenyum. Hatinya masih pilu, tetapi melihat tiga kawannya bahagia, membuat kebencian kepada Kiarra mereda. Ditambah, Kristal terlihat begitu lengket padanya. Bayi itu terlihat nyaman berada dalam gondongan sang ayah tiri.
"Hei, turun cepat! Ratu Kia-rra dalam bahaya! Ia seperti akan meledak!" pekik Pangeran Owe yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Sontak, ucapan tersebut membuat para dayang tertegun. Mereka bergegas keluar dari kamar lalu menuruni tangga. Di bawah sana, semua orang telah berkumpul. Eur dibuat melotot saat melihat Kiarra terbang melayang seperti yang terjadi pada Kristal tadi.
Namun, tubuhnya memancarkan cahaya biru terang. Kiarra terus mengerang seperti merasakan sakit yang teramat sangat. Semua orang yang mendengar pilu melihatnya. Boh, Rak dan Lon tak tahu apa yang harus dilakukan karena hal ini tak pernah terjadi. Semua orang dibuat melotot, tetapi tak bisa melakukan apa pun.
Hingga tiba-tiba, BLUARRR!
"ARA!" teriak Kenta lantang saat melihat adiknya terbang ke atas dan bersinar terang bagaikan bintang, lalu tiba-tiba meledak.
"Ara! Ara!" panggil Lon histeris dan membuat semua orang kebingungan dengan yang terjadi.
Langit yang tadinya seperti memiliki guratan kini menjadi biru terang. Eur melihat Kristal kembali tidur dan rambut birunya tak lagi bersinar. Tubuh lelaki itu gemetaran dan rasa takut kehilangan langsung menyeruak di jiwanya.
"Ra-Ratu Kia-rra," panggilnya dengan suara bergetar.
Boh, Lon dan Rak bergegas terbang menggunakan tongkat sihir untuk mencari keberadaan Kiarra. Hem, Kem dan Kenta dengan sigap menunggangi Eee. Semua orang dibuat panik lalu berhamburan keluar istana untuk melihat kondisi Ratu baru mereka.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Wallpaper Flare)