Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Ingatan yang Hilang*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Bulan ungu kembali muncul dan bersinar terang. Kiarra termenung di balkon menara istananya. Hatinya sedih karena melewatkan kemunculan bintang biru untuk pertama kali dalam hidupnya di Negeri Kaa. Padahal, ia bisa kembali ke Bumi seperti janji Naga kala itu. Kiarra hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia berencana memberitahukan tentang perjanjiannya dengan sang Naga kepada keluarganya agar mereka bisa berkumpul di Negeri Kaa saat meninggal nanti.


"Oh!" kejut sang Jenderal ketika muncul kupu-kupu bercahaya yang terbang ke arahnya dan berkumpul di hadapan.


Kiarra menoleh ke bawah di mana terlihat Dra yang tersenyum di depan pintu kuil tempatnya tinggal selama di Kerajaan Vom. Kiarra yang kini memiliki sayap, dengan segera meninggalkan menara dan terbang ke kuil.


"Apakah kau siap untuk menyerang Ark?" tanya Dra yang membuat Kiarra terkejut.


"Sebenarnya ... aku belum memikirkan strategi apa pun. Aku ... entahlah, aku sedang tak bersemangat," jawab Kiarra dengan wajah berpaling.


Dra melirik Rak yang juga tinggal di kuil bersama dirinya. Keduanya saling diam, tetapi seperti memiliki pikiran yang sama.


"Ara. Apa yang kau ingat tentang Kerajaan Ark?" tanya Dra tiba-tiba saat Kiarra mempersilakan dirinya sendiri untuk masuk dan duduk di salah satu kursi kayu.


"Entahlah, samar. Kenapa?" jawabnya yang tampak cuek karena malah sibuk melihat berbagai jenis perabotan unik di kediaman Dra.


"Apa kau ingat tentang Ark?" tanya Dra seraya berjalan mendekat.


"Ark? Hem ...," jawab Kiarra dengan kening berkerut. "No. E-em, tak ada." Kiarra menggeleng dengan bibir mengerucut.


Dra terlihat serius menatap raga kakaknya yang kini telah menjadi milik Kiarra. Rak mendekat lalu menatap Dra saksama.


"Aku menghapus ingatan kakakku kala itu tentang hal apa pun yang berhubungan dengan Ark."


"Wow! Apa katamu barusan? Menghapus ingatan? Kukira hal itu tak bisa dilakukan di tempat ini, ternyata bisa juga, ya? Di duniaku, cukup menggunakan gas halusinasi," sahut Kiarra yang masih terlihat santai di tempat duduknya menanggapi hal tersebut.


"Ark bukan pria yang bisa kau remehkan, Ratu," imbuh Rak.


"Itu benar. Aku sengaja menghapusnya karena kau memiliki trauma hebat dengan lelaki itu sebelum kau tahu jika dia adalah raja sekaligus penyihir Kerajaan Ark," ucap Dra yang membuat Kiarra hampir menyemburkan minuman ungu yang baru saja ia teguk.


"Uhuk! Hah? Apa katamu?" pekik Kiarra seraya mengelap bibirnya yang basah karena air di dalam mulutnya keluar sedikit.


Dra mengembuskan napas panjang. Rak juga terlihat tegang.



"Ark, satu-satunya penyihir yang juga menjabat menjadi raja di sebuah kerajaan. Awalnya, ia memang berhati mulia. Namun, setelah ia dinobatkan menjadi raja, semuanya berubah. Ia yang pertama kali mengajak seluruh raja di Negeri Kaa untuk menebang pohon jembatan. Ia memulainya di wilayahnya sendiri. Hal itu membuat kemurkaan alam," ucap Dra yang membuat wajah Kiarra serius seketika.


"Tiap ada pohon jembatan yang ditebang, makhluk iblis muncul. Penyihir sekalipun seperti kami, belum tentu bisa memusnahkan mereka karena jumlahnya sangat banyak. Kami hanya bisa bertahan dan membentengi diri," imbuh Rak.

__ADS_1


Entah kenapa, cerita Rak dan Dra membuat jantung Kiarra berdebar semakin cepat. Tubuhnya menjadi tegang dengan sendirinya.


"Akibat banyaknya pohon yang ditebang, makhluk-makhluk iblis jadi mendominasi beberapa wilayah. Tempat-tempat itu tak bisa ditinggali karena berbahaya. Mereka berkeliaran di mana-mana. Bahkan, mereka bisa dibangkitkan jika dibutuhkan, tetapi membutuhkan tumbal berupa anak-anak sebagai pengganti kebangkitannya," sambung Dra.


Kiarra ingat dengan tuduhan yang dilayangkan kepada Desa Gul di perbatasan Vom dan Ark tentang hal itu. Kini, Kiarra semakin paham dengan yang terjadi di Negeri Kaa. Alasan kenapa populasi dan jumlah pemukiman tak banyak saat ia berkelana kala itu untuk mencari pohon jembatan. Kiarra masih serius menyimak.


"Ark kemudian dianggap petaka bagi seluruh kerajaan di Negeri Kaa. Mereka menjadi saling bermusuhan. Hubungan antar kerajaan menjadi retak termasuk perdagangan. Mereka saling membenci dan menyalahkan," sambung Dra.


"Untung saja, beberapa pohon jembatan masih belum tersentuh sehingga para makhluk raksasa penjaga pohon bisa melindungi wilayah sekitar. Namun, mereka menjadi tak percaya lagi pada manusia. Lalu, mengenai kenapa kau bisa diserang saat melakukan misi untuk mengambil tiap bagian dari pohon jembatan, aku merasa, para penjaga bisa merasakan kebusukan dari Ram. Mereka bisa mencium kejahatan dari dirinya. Hanya saja, biasanya hal itu juga dipacu dengan adanya ilmu sihir yang kuat dalam diri Ram," tegas Rak.


Kiarra menyipitkan mata. Ia seperti memiliki pemikiran akan sesuatu.


"Sebenarnya, Ram berasal dari mana? Apakah kalian tahu?" tanya Kiarra mulai serius menanggapi hal ini.


Akan tetapi, Rak dan Dra saling menggeleng.


"Aku tahu."


"Lon!" seru Kiarra saat bocah lelaki bermata sipit itu muncul dengan senyuman.


Lon ikut kembali ke Vom karena tak tahan udara dingin Yak. Anak lelaki itu memasuki ruangan seraya membawa sebuah tas. Kening Kiarra berkerut. Ia seperti mengenali benda itu.


"Oh, tunggu! Bukankah itu ...."


Sang Ratu segera menerima tas kulit itu. Dra dan Rak ikut merapat karena penasaran. Seketika, mata mereka melebar. Dalam tas Ram, terdapat benda-benda seperti kumpulan dari beberapa bagian tiap kerajaan yang disinggahi.


"Ara! Apa yang kau ingat tentang Ram?" tanya Dra langsung menatap raga kakaknya lekat.


"Mm ... banyak. Tunggu dulu. Apakah ... kalian bisa memberikanku gambaran seperti apa Ark? Aku rasa, Ram dan Ark memiliki hubungan," pinta Kiarra.


Rak dengan sigap meletakkan tangan kirinya di kepala Kiarra. Seketika, mata biru Kiarra menyala terang. Ia melihat sosok Ark yang mampu mengendalikan api merah. Ia juga terlihat kejam dan tak berbelas kasih. Hingga ia menyadari satu hal tentang raja sekaligus penyihir itu.


"Mungkinkah ...."


"Apa?" tanya Rak dan Dra bersamaan usai Kiarra memundurkan tubuhnya sehingga tangan Rak terlepas dari kepala.


"Ram anak dari Ark? Mungkinkah ... dia putranya?"


Praktis, ucapan Kiarra membuat mata Lon, Dra dan Rak melebar.


"Kau tahu dari mana?" tanya Lon dengan wajah tegang.

__ADS_1


"Entahlah, tapi firasatku mengatakan demikian. Kau juga? Kenapa bisa bilang, tahu dari mana Ram berasal?" tanya Kiarra memicingkan mata.


Lon meringis. "Aku melihat gambar api di pinggul Ram saat api birumu membakar pakaiannya. Tanda itu dimiliki oleh warga Ark," jawab Lon yang membuat Kiarra heran karena ia saja tak menyadari hal tersebut.


"Pengamatan yang bagus," puji Rak. Senyum Lon makin terkembang.


"Jika benar demikian, aku sangat yakin jika istri Ark telah tiada. Oia, apakah ... ilmu sihir bisa diturunkan kepada anak?" tanya Kiarra.


"Setahu kami tidak," jawab Dra terlihat jujur.


"Namun, jika melihat benda-benda ini, kemungkinan besar Ram menjadi penyihir tak sah karena ia mengambil bagian dari para penyihir di sebuah kerajaan. Mantra di kulit hewan ini, adalah jenis mantra ramuan untuk mendapatkan kekuatan dari benda yang diambil milik seseorang. Lalu, lihatlah. Ram juga memberikan tanda pada tiap lembar kertas yang menunjukkan, jika ia berhasil memiliki kekuatan dari sihir seorang penyihir di kerajaan itu," imbuh Dra seraya menyusun benda-benda dalam tas Ram.


"Apakah ... benda milik kalian berdua juga ada di sini?" tanya Kiarra menatap dua penyihir cantik di depannya.


Dua wanita itu mengangguk.


"Aku ingat benda ini saat pertarungan terakhir bersamamu. Saat aku membangkitkanmu. Bulu-bulu di pakaianku terbang untuk membunuh para makhluk iblis. Semua benda yang kukendalikan, telah terkena sihirku. Dugaanku, Ram mengambil dan menggunakannya untuk menyerap sihirku yang tertinggal di benda itu," jawab Dra yang membuat mulut Lon menganga lebar.


"Lalu ... lihatlah ini. Rambut putih ini hanya dimiliki oleh warga Yak. Ini rambutku. Aku bisa mengenalinya karena ia berkilau dan bercahaya putih saat merasakan kehadiran makhluk iblis di sekitar," timpal Rak seraya memungut beberapa helai rambutnya.


"Oh, pantas saja. Saat itu, aku mendengar Ram seperti mengucapkan mantra. Ia bahkan bertelanjang dada tak kedinginan ketika berada di wilayah Yak! Mungkin ia memiliki kekuatan sihirmu sehingga tak terkena dampak udara dingin menyiksa itu!" pekik Kiarra teringat kenangan silam.


Rak mengangguk mantap.


"Mungkin karena ia mempelajari sihir, Ram bisa menghisap kekuatan dan membuatnya menjadi makhluk setengah iblis. Dasar orang gila!" pekik Kiarra geram saat teringat Ram yang mengambil kekuatan Dra kala itu.


Empat orang di ruangan tersebut dibuat tegang karena sosok Ram meskipun lelaki itu telah mati. Kiarra menarik napas dalam dan kembali fokus.


"Lalu ... apa yang harus kuwaspadai dari sosok Ark?" tanya Kiarra menatap Dra tajam.


"Apa kau siap jika kukembalikan ingatan Kia tentang Ark? Aku khawatir itu akan mengguncangmu, tetapi ... aku juga yakin kau bisa mengatasinya. Entah kau manusia terbuat dari apa, tetapi ... kau bisa bertahan dengan hal-hal yang menyakiti mental," ucap Dra yang membuat kening Kiarra berkerut.


"Well, kuanggap itu sebagai pujian," jawab Kiarra dengan mata berkedip.


Lon terkekeh dan dua penyihir di depannya hanya menunjukkan senyuman.


"Ara bisa mengatasinya! Kembalikan ingatan Kia, Dra! Kia-rra harus tahu musuh yang akan dihadapinya!" seru Lon membujuk.


"Heh, anak pintar," puji Kiarra seraya mengelus kepala anak lelaki itu.


"Baiklah. Ayo, kita mulai ritualnya," ajak Dra dan diangguki Kiarra.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2