Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Pertemuan Saudara*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Kenta dan Kiarra menggunakan bahasa campuran. Terjemahan.


Kemunculan telur kristal Kiarra yang dinantikan oleh Kenta membuat senyum pria itu terkembang. Perlahan, tubuhnya yang dililit oleh ranting pohon diturunkan. Kenta mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasih karena ia dan para peri sudah tak lagi bertikai. Seorang peri dengan sayap kupu-kupu memberikan batu kristal milik Kenta kepada pemiliknya.


"Thank you," ucap Kenta yang mendapat jawaban berupa wajah berkerut dari peri tersebut. "Terima kasih."


"Ah," jawab peri itu kemudian usai mengetahui bahasa Negeri Kaa.


Kenta mendatangi telur besar itu lalu berjongkok di sampingnya. Ia memejamkan matanya rapat lalu meletakkan dua telapak tangan ke kristal biru tersebut. Seketika, cahaya biru muncul dari kristal. Para peri yang bisa merasakan kekuatan magis dari pancaran telur, bergegas mundur dan menyaksikan dari kejauhan.


"Kenta. Sepuluh menit lagi," ucap sang Naga yang membuat pria itu membuka mata perlahan.



"Wow!" kejut pria itu sampai matanya terbelalak lebar.


Tubuh Kenta melayang seperti berada di ruang hampa udara, tetapi masih bisa bernapas dengan baik. Ia melihat sekitar di mana tempat tersebut dipenuhi oleh gumpalan seperti awan berwarna-warni. Udara di dalamnya terasa hangat. Ia lalu mencoba menstabilkan tubuhnya yang bergerak tak beraturan. Kenta membuat tubuhnya seperti orang tengkurap dengan tangan terlentang layaknya terbang.


"Oke, sepertinya ... aku bisa menjadi Superman di sini. Keren!" ucapnya senang.


Saat Kenta mulai terbiasa dengan keadaan di tempat penuh warna itu, tiba-tiba ia melihat sosok manusia di kejauhan. Mata Kenta menyipit untuk memastikan hal tersebut. Kenta menghentikan laju terbangnya dan berdiri melayang. Benar saja, ketika sosok yang dikenalnya mendekat, senyum Kenta terkembang seketika.


"Kenta?"


"Ara!"


"Hahahaha! Hahahaha!" tawa keduanya serempak seraya terbang mendekat.


Mereka berpelukan erat lalu saling menggenggam tangan berhadapan. Senyum keduanya terkembang. Kenta kembali ke wujud aslinya, bukan raga Panglima Wen. Termasuk Kiarra dalam wujudnya yang berwajah Asia, bukan sang Jenderal. Namun, tiba-tiba, senyum Kiarra memudar.


"Tunggu. Ka-kau? Kenapa bisa berada di sini?"


"Ah, soal itu. Panjang jika kuceritakan. Namun, dengan senang hati kuberitahu, tetapi mengingat waktuku tak banyak di tempat ini, jadi to the point saja."


"Ah, oke," jawab Kiarra dengan anggukan.


Kening Kenta berkerut. Ia melepaskan genggaman di kedua tangan Kiarra lalu terbang mundur. Kenta menatap salah satu bagian tubuh Kiarra yang menarik perhatiannya.


"Jadi benar jika kau hamil. Lalu ... siapa ayahnya?"


Kiarra diam tertunduk lalu mengusap perutnya yang mulai membesar.

__ADS_1


"Aku khawatir jika putriku ini bukan salah satu anak dari dayang-dayangku," jawab Kiarra sendu. Namun, Kenta malah terkekeh. Kiarra memicingkan mata.


"Ah, kau nakal, ya. Siapa yang kau perkosa, ha?" ledeknya mendekat.


Kiarra yang kesal spontan memukul lengan Kenta. Pria itu tertawa terbahak karena berhasil menggoda adiknya. Kiarra kembali serius seraya mengembuskan napas panjang.


"Ram."


"Siapa Ram?"


"Panjang jika kuceritakan," jawabnya meniru Kenta.


"Tak usah beri tahu. Akan kucari tahu di luar sana nanti. Sekarang ... bagaimana caranya mengeluarkanmu dari tempat ini?"


Saat Kiarra akan memberitahu Kenta, tiba-tiba, terlihat sesuatu berukuran besar terbang dengan cepat di bagian luar dinding pelindung. Kenta dan Kiarra terkejut. Mereka dengan sigap waspada. Mata Kenta memindai sekitar karena bisa merasakan jika bayangan besar tersebut adalah ancaman.


"Kenta! Keluarkan kami! Bebaskan kami berdua!" ucap sosok itu yang suaranya menembus dinding pelindung.


"Siapa dia?" tanya Kenta menatap Kiarra tajam.


"See. Dia adalah iblis yang kubebaskan. Hati-hati dengannya, Kenta. Dia licik, penuh tipu daya dan munafik. Jangan termakan omongannya," jawab Kiarra menatap bayangan hitam di luar dinding dengan sorot mata tajam.


"Oke. Jadi ... dia musuh. Hem, tambah satu lagi makhluk iblis yang harus disingkirkan. Baiklah, akan kucatat itu," jawab Kenta dengan anggukan mantap.


"Luar biasa," ucapnya kagum, begitu pula Kiarra karena ini pertama kalinya terjadi. "Boleh kuberi nama?" tanya Kenta dengan mata terfokus pada sosok mungil itu.


"Oke," jawab Kiarra tersenyum.


"Bright."


"Tidak. Itu mirip nama sebuah mini market," tolak Kiarra dengan wajah masam.


"Ah, kau benar. Oh, Sun!"


"Kau gila? Itu seperti nama Tuan Sun, suami dari Nyonya Siska," ucap Kiarra mengingatkan. Kenta ber-Oh karena baru menyadari hal tersebut. "Ah, sudah. Lupakan. Kita pikirkan nanti," ucap Kiarra kemudian.


"Ara. Aku harus mengeluarkanmu dan bayimu dari sini. Namun, aku juga harus memikirkan cara untuk menyingkirkan makhluk iblis itu," ucap Kenta berbisik.


Kiarra mengangguk pelan. Wanita cantik itu lalu balas berbisik di telinga Kenta. Pria tersebut mendengarkan dengan saksama. Wajahnya berkerut saat Kiarra menyampaikan strateginya yang tertunda karena terperangkap.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya See yang ternyata masih memantau di luar dinding.

__ADS_1


"Baguslah jika kau tak bisa mendengarnya. Ternyata kau tak sehebat yang kupikir," sindir Kenta.


"HARGHHH! Awas kau manusia! Aku tak segan mencabik tubuhmu saat kuterbebas nanti," ancam See.


"Hoampf," kenta menguap dan memasang wajah malas. Ia bertolak pinggang menatap bayangan hitam di luar dinding. "Kalau begitu, aku juga tak segan mengiris-ngirismu menjadi potongan kecil lalu kuberikan garam dan cabai. Sesudahnya, aku akan menumis kepalamu dan memasukkan semua bumbu ke mulutmu yang menganga penuh gigi berlubang itu. Setelahnya, kau kubakar dan kubuang ke tempat sampah! Kau dengar itu, Makhluk Jahanamm!" teriak Kenta marah menunjuk.


Kiarra terkekeh karena See salah mengancam orang. Jika saja ia mengancam adiknya Rein Mikha atau Aiko, mungkin mereka akan gemetaran. Namun, ini Kenta. Pria yang memiliki seribu pengalaman tak terduga. See yang melihat jika Kenta tak bisa diintimidasi langsung pergi. Sosok bayangan hitamnya tak lagi muncul. Kiarra bernapas lega. Sedangkan Kenta, pria itu mendesis kesal karena See ikut campur dalam urusannya.


"Ara, apa pun yang akan kulakukan nanti, kau harus percaya padaku. Oke?" pinta Kenta serius seraya memegang lengan adiknya kuat. Kiarra mengangguk mantap.


Saat Kiarra baru membuka mulutnya untuk menyampaikan sesuatu, tiba-tiba ....


"Waaa!"


"Kenta!" teriak Kiarra lantang saat sang kakak seperti tertarik oleh sesuatu dan sosoknya hilang seketika dalam gumpalan awan besar.


Kiarra yang terkejut melihat sekitar dengan panik, tetapi kemudian, ia seperti mengantuk. Mata wanita cantik itu berkedip perlahan seperti menahan kantuk. Hingga akhirnya, mata itu terpejam. Kiarra tertidur.


Di hutan kabut putih.


"Hah! Hah! Hah!"


"Oh, dia kembali!" pekik salah seorang peri berwujud manusia, tetapi kulitnya berwarna hijau, memiliki tangan panjang bergerigi dan antena di kepala layaknya belalang.


Kenta melihat telur yang disentuhnya tak lagi terasa hangat, langsung berdiri tegap. Para peri menatap Kenta lekat seperti menunggu kejutan darinya.


"Kalian sekarang percaya padaku?" tanya Kenta menatap para peri yang mengelilinginya satu per satu. Para peri saling berpandangan lalu mengangguk pelan. "Jika telur Kiarra bisa berada di hutan ini, pastilah kalian melakukan perjanjian dengan Raja Tur. Benar?" Para peri mengangguk membenarkan. "Yang kukatakan ini bisa merubah jalan takdir di Negeri Kaa. Hanya saja, aku tak ingin membuat kalian terancam. Oleh karena itu, percaya padaku dan ikuti instruksiku. Kalian mengerti?" pinta Kenta tegas.


"Ins-truk-si? Apa itu?" tanya seorang peri dengan rambut panjang bagaikan rumput hijau.


"Itu ... oh, sungguh? Kenapa orang-orang di Negeri Kaa tak bisa memahami bahasaku? Intinya ... hah, mendekat. Aku ingin menyampaikan sesuatu," ujar Kenta kemudian mulai jengah.


Para peri menurut dan mendekat mengelilingi pria itu. Kenta menjelaskan strateginya dan para peri mendengarkan dengan serius.


"Oke?" tanya Kenta seraya memberikan jempolnya.


"Kau menjamin hal itu? Kami memegang janjimu, Ken-ta. Jika kau membohongi kami, para peri tak segan menyebarkan teror di Negeri Kaa. Jangan kira kami tak memiliki senjata rahasia untuk membinasakan kalian semua," ucap salah seorang peri pohon.


"Oke. Ancaman kalian cukup serius. Aku sebagai jaminannya," ucap Kenta mantap. Pria itu lalu memberikan tangan kanannya, mengajak untuk berjabat. Salah satu Nym mengulurkan tangan lalu menerima jabat tangan itu sebagai tanda jika mereka sepakat. "Jadi, tunggu apalagi. Ayo, lakukan sekarang," pintanya. Para Nym mengangguk dengan wajah serius.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


terima kasih sudah sabar menunggu. semoga typonya gak parah ya karena lele ngeditnya langsung di halaman web bukan di apk. jangan lupa sedekah dukungannya ya supaya novel Kiarra bisa tamat dengan baik. amin. tengkiyuw LAP.


__ADS_2