Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Meninggalkan Rumah*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Waktu terasa begitu lama di Kerajaan Tur yang hampir seluruh wilayahnya tertutupi kabut hijau. Penduduk kerajaan tersebut dikutuk karena kesalahan masa lalu sehingga menjadikan wujud mereka manusia setengah binatang. Raja Tur mengamati jam-jam pasir sebagai penunjuk waktu yang berjejer di meja. Sisi pada wadah bagian atas mulai berkurang secara perlahan yang menunjukkan jika bulan ungu akan kembali datang.


Para prajurit yang berada di sekitar sang Raja semakin waspada saat pemimpin mereka menunjukkan kemurkaan karena lelah menanti akibat musuh yang tak kunjung datang seperti laporan Kun. Tiba-tiba saja, Raja Tur berdiri dari kursinya. Semua orang dalam ruangan tertegun dan menatap sosok menyeramkan di depan mata dengan saksama.


"Kalian pastinya sudah bosan tinggal di tempat terkutuk ini. Apakah itu benar?" tanya Tur yang membuat para pendengarnya spontan mengangguk. "Jika demikian, tunggu apalagi! Saatnya kita keluar dan mengambil alih kerajaan musuh sebagai rumah baru!"


"Yeah! Hidup Raja Tur!" jawab para prajurit serempak.


Raja Tur memimpin pasukannya seorang diri. Kol dan beberapa penjaga di benteng terkejut melihat Raja mereka keluar dari persembunyian. Kol segera menghadap Tuannya untuk menerima perintah.


"Gantung semua tahanan kita di benteng seluruh wilayah Tur. Biarkan musuh-musuh kita melihatnya. Dan ... tinggalkan perusak di masing-masing wilayah. Kita akan pergi dari Tur dan menghuni tempat baru," ucap sang Raja yang mengejutkan Kol.


"Ki-kita meninggalkan Tur? Meninggalkan rumah?" tanya Kol bingung. "Agh!" rintih pria macan kumbang itu terkejut saat tiba-tiba saja lehernya dicekik. Semua prajurit yang berdiri di sekitar Kol tampak tegang.


"Jika kau masih ingin di sini, aku persilakan, Kol. Bahkan, dengan senang hati aku tugaskan kau untuk menjaga kerajaan jangan sampai jatuh di tangan musuh selagi aku melakukan penyerangan. Bagaimana?" tanya sang Raja memicingkan mata.


Kol bingung dan sulit berpikir jernih karena permintaan sang Raja tiba-tiba. Namun, ia melihat kesempatan di mana sejak dulu dirinya memang ingin menjadi raja menggantikan kepemimpinan Tur yang otoriter. Kol mengangguk pelan dan sang Raja tersenyum lebar. Ia melepaskan cengkraman di leher Kol lalu melirik ke arah orang kepercayaannya yang berdiri di sisi kanan.

__ADS_1


Kol melihat gerak-gerik Raja yang berjalan begitu saja meninggalkan benteng bersama para prajuritnya. Tiba-tiba saja, benteng kosong. Pria yang masih berdiri di samping Kol tersenyum seraya memberikan sebuah botol padanya. Kol menerimanya dengan kening berkerut.


"Pasukanmu sekarang adalah para warga Tur, Jenderal Kol. Gunakan mereka sebagai prajuritmu untuk mempertahankan benteng. Jika keadaan terdesak, pecahkan botol ini dan kau akan mendapatkan bantuan darinya," ucap Kapten Mos yang membuat kening Kol berkerut.


Saat Kol sedang berpikir, ia mendengar suara raungan makhluk Ggg yang menarik gerobak-gerobak besar berisi banyak muatan entah apa yang diangkutnya. Kol benar-benar tak menduga jika sang Raja akan pergi meninggalkan kerajaan. Tangan kanan Raja si manusia beruang putih juga segera beranjak pergi lalu menunggangi Eee meninggalkan benteng. Burung besar itu terbang menembus gumpalan awan dan membuat sosoknya tak terlihat.


Kol melihat kawanan dalam jumlah besar itu berbondong-bondong meninggalkan wilayah kerajaan menuju barat. Kening Kol berkerut dengan banyak pertanyaan mengenai ke mana tujuan sang Raja. Saat kumpulan manusia setengah binatang itu tak terlihat lagi dalam jarak pandangannya, ia lalu teringat kepada para tahanan yang digantung pada benteng kerajaan. Kol berlari ke arah dua anak Panglima Rat di sisi selatan benteng.


"Hei!" panggil Kol saat melihat dua anak malang itu terkulai lemah dengan mata sayu.


Saat Kol akan menarik tali itu untuk menolong putra sang Panglima, tiba-tiba saja, ia mendengar raungan seperti hewan pemangsa mendekat. Ternyata, Kun, Mor dan Tar juga merasakan ancaman itu. Mata mereka terbuka perlahan ketika melihat pergerakan yang berlari cepat ke arah benteng dari balik kabut hijau.


"Horghh!"


Makhluk beringas itu berusaha mencabik tubuh orang-orang yang tergantung di dinding luar dengan berusaha memanjat. Kol panik dan bergegas menarik tubuh Tar. Akan tetapi, matanya yang tajam, melihat pergerakan beberapa Www yang bergerak ke arah pintu gerbang. Kol teringat jika pintu gerbang dibuka lebar di mana jalan itu satu-satunya akses masuk ke wilayah kerajaan dan menembus sampai ke pemukiman. Kol yang sendirian panik bukan main.


"Horghh!"


"AAAA! Ayah! Ayah!" panggil Tar histeris saat melihat para Www berusaha menangkap dua kakinya yang tak berlapis alas sebagai pelindung.


Sang kakak yang ikut diincar para Www dibuat panik. Rakun yang terluka parah tak bisa berbuat banyak karena ia juga dibidik akibat tubuhnya berbau amis dan mengundang gairah hewan-hewan buas itu untuk menyantapnya. Kol terpaksa meninggalkan tiga tahanan itu. Ia berusaha untuk menutup pintu gerbang dari atas dengan memutar tuas besar yang seharusnya dilakukan oleh dua orang pada dua sisi pintu.

__ADS_1


Sayangnya, meskipun Kol dikenal adalah pria yang perkasa, tetapi ia benar-benar tak mampu untuk melakukannya seorang diri. Para tahanan yang digantung di semua sisi dinding istana megah itu bersahut-sahutan meminta tolong. Kol merasa tak berdaya. Ditambah, para Www akhirnya berhasil menerobos pintu yang tak dijaga sama sekali. Mereka memasuki istana yang tak lagi dihuni. Para makhluk yang menyukai daging manusia itu bergerak ke arah pemukiman di mana santapan lezat telah menunggu di sana.


"Aku harus memperingatkan warga!" pekik Kol saat ia menyadari pergerakan para Www.


Kol berlari kencang di atas benteng menuju menara untuk membunyikan lonceng tanda bahaya. Ia yakin, jika para Www adalah hewan-hewan yang diceritakan Kun kala itu. Para Www yang tertidur di hutan saat bulan merah bercahaya, kembali bergerak saat bulan ungu muncul. Www yang tak menemukan buruan, akhirnya menerobos hutan dan memasuki wilayah Tur yang tak lagi dijaga karena prajurit-prajurit tersebut mengikuti sang Raja. Kol panik dan sekuat tenaga menaiki puluhan anak tangga untuk tiba di menara. Akhirnya ....


TENG! TENG! TENG!


"Apa itu? Apakah para penyerang sudah datang dan berhasil menerobos benteng?" tanya salah satu warga panik yang berada di luar rumah usai mengambil air dari sumur.


Ketika warga lain yang ikut mendengar suara lonceng besar dibunyikan saling berbisik, tiba-tiba ....


"Horg! Horg!"


"Aaaa!"


Praktis, kepanikan langsung melanda pemukiman Desa Tur. Warga yang tak tahu jika sang Raja meninggalkan mereka bersama para prajurit istana, dibuat panik dan ketakutan saat para Www datang menyerang. Anak-anak menangis melihat hewan-hewan buas itu menerkam dan memangsa orang-orang dengan brutal. Mereka menyantap daging-daging segar itu dengan rakus hingga potongan-potongan tubuh berceceran di jalanan.


Warga lain yang berhasil kabur dari kejaran Www, meninggalkan rumah menuju ke istana. Mereka berharap mendapatkan perlindungan dari sang Raja. Akan tetapi, setibanya di sana, istana kosong. Warga kebingungan dan akhirnya memilih untuk mengurung diri di kamar-kamar dalam istana karena Www juga berkeliaran di tempat tersebut. Kol yang melihat suasana menjadi kacau mematung di samping lonceng. Napasnya tersengal melihat warga yang seharusnya ia lindungi dibantai tanpa ampun oleh para Www sebagai santapan.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Class Notes)


__ADS_2