
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Di peperangan wilayah istana Ark.
Pasukan gabungan yang membela Kiarra berhasil menjebol pertahanan pasukan Ark. Orang-orang yang bersikukuh mengabdi pada raja mereka terdahulu—Ark—terpaksa dibunuh demi terciptanya kedamaian tanpa adanya pengkhianat di masa depan. Mereka memasuki istana dengan senjata dalam genggaman setelah menguasai bagian luar istana yang telah kehabisan para prajurit penjaga. Saat Dra dan lainnya mencari keberadaan orang-orang Ark yang setia pada raja mereka, tibalah di ruangan terakhir yang belum tersentuh. Ternyata, pasukan dari dua Laksamana, dan Panglima Goo juga mendatangi tempat itu. Ruangan tersebut adalah singgasana sang Raja.
"Hati-hati," ucap Goo serius saat Laksamana Yoh akan membukanya.
Senjata-senjata tajam siap dalam genggaman para prajurit untuk digunakan jika nyawa sang Laksamana terancam.
GREKKK!!
Mata semua orang menajam saat melihat ruangan tempat singgasana sang raja kosong tak ada satu pun penjaga di sana. Laksamana Yoh memberanikan diri masuk ke dalam dengan kewaspadaan penuh. Yoh melangkah dengan hati-hati membawa sebuah kapak dalam genggaman sebagai senjatanya. Saat ia memutar tubuhnya untuk memberikan kode kepada orang-orang yang berjaga di luar pintu, tiba-tiba saja ....
SHOOT! SHOOT!
JLEB! JLEB! JLEB!
"Yoh!" teriak Noh dengan mata membulat penuh.
Noh tertegun melihat rivalnya terkena tusukan panah di sekujur tubuh. Panah terakhir berhasil mengenai kepala belakang sang Laksamana. Darah mulai menyembur dari mulut pria dengan tubuh setengah binatang itu yang kemudian ambruk tanpa mengatakan apa pun.
"Yoh!" panggil Noh langsung masuk ke dalam usai menendang pintu kayu agar terbuka lebih lebar.
Yoh tergeletak dengan kapak masih dalam genggaman dan mata terbuka di depan pintu masuk ruangan. Noh yang diliputi kesedihan dan amarah, masuk dengan pedang dalam genggaman, siap untuk menebas orang yang menewaskan musuhnya.
"Laksamana!" teriak Goo panik dan segera menangkap tubuh sang pria berambut putih tersebut yang tersulut emosi.
Benar saja, JLEB! JLEB! JLEB!
"Goo!" teriak Boh karena tubuh Goo menjadi sasaran panah pembunuh.
Laksamana Noh tertegun dan langsung memegangi tubuh Goo saat pria yang ingin menghentikan aksi nekatnya ikut terkena tusukan panah pembunuh. Pintu itu segera ditutup rapat oleh pasukan Vom yang berada di sisi kiri dan kanan agar penyerang tak melukai orang-orangnya lagi.
"Goo, Goo, bertahanlah," pinta Noh merasa bersalah karena keegoisannya.
"Aku ... aghhhh ...."
"Goo!"
__ADS_1
"Panglima!" teriak Dra tak kalah sedihnya saat melihat Goo tewas dengan mata terbuka dan darah menetes di mulut akibat tusukan anak panah di punggung menembus baju perangnya.
Noh memeluk Goo erat merasa bersalah. Semua orang berduka dan meneteskan air mata tak bisa menutupi kesedihan mereka karena kehilangan dua orang hebat sekaligus.
"Kita harus membalas kematian Laksamana Yoh dan Panglima Goo! Mereka harus mati!" teriak salah satu prajurit Vom yang tak rela dengan kematian pemimpin perang mereka.
"Yeahhh!" teriak pasukan lainnya yang sudah memadati depan ruangan.
Saat orang-orang itu siap membuka pintu, tiba-tiba ....
"Sttt, jangan berisik. Biar aku saja," ucap seseorang yang membuat kepala Dra dan lainnya langsung menoleh.
"Pa-Panglima Wen? Anda selamat?" tanya Kem yang menjadi salah satu anggota pasukan burung terbangnya.
"Yep, aku panjang umur," jawab Wen santai di mana rohnya kini adalah Kenta. "Rak sayang, tolong," pinta Kenta yang membuat kening semua orang berkerut.
"Sa-sayang? Apa dia mengatakan hal itu?" tanya Dra sampai lupa dengan dukanya. Boh mengangguk cepat membenarkan.
Rak mendekati pintu lalu berjongkok di depannya. Kenta yang datang dengan pakaian emas pemberian sang Naga terlihat siap dengan serangan yang akan diterima. Ia mengeluarkan perisai emas yang digenggam di tangan kiri melindungi tubuh. Beberapa pisau terselip di balik tameng itu. Mata Dra dan lainnya menyipit melihat Wen terlihat berbeda dari biasanya.
"Segaaa ... sega mee ... hah!" ucap Rak dengan suara mendesis.
Seketika, lantai di bawah pintu tersebut membeku dengan lapisan es. Mata orang-orang melebar saat bisa merasakan udara dingin keluar dari celah pintu ruangan yang tak tertutup sempurna. Mata Rak menyala terang saat ia melakukan sihirnya. Kenta melindungi kepalanya dengan sebuah helm emas dan siap untuk masuk.
"Sekarang!" ucap Rak lantang yang dengan sigap menyingkir dari depan pintu.
BRAKKK!
"Hah! Aku menemukanmu!" pekik Kenta usai menendang pintu.
Praktis, kedatangannya membuat seorang pria dengan pakaian kamuflase dalam ruangan melotot karena sebagian tubuhnya membeku. Kenta merampas tombak yang digenggam oleh salah satu prajurit di luar ruangan. Ia membidik pria yang berdiri dengan panik karena tak bisa bergerak akibat tubuh bagian bawahnya terperangkap.
"Heahhh!"
SHOOT! PRANGG!!
"ARGGHHH!" raung pria itu karena jatuh di lantai dengan keras.
Rak memejamkan matanya rapat dengan wajah berpaling saat melihat darah menggenangi lantai akibat separuh tubuh lelaki itu hancur menjadi kepingan es. Bagian atas pria itu masih utuh, tetapi darah mengalir deras dari potongan tubuh yang terbelah. Pria itu meronta kesakitan dan membuat semua orang bergidik ngeri melihat kekejaman Panglima Wen. Kenta membiarkan orang itu menderita akibat kehilangan sebagian tubuhnya. Mata Kenta melirik ke sisi kanan pada sudut ruangan di mana ada satu orang lain lagi dengan kondisi serupa, terperangkap sihir es Rak.
"Jangan diam saja, bodoh! Bunuh mereka semua sebelum mereka membunuhmu," ucap Kenta seraya berjalan dengan pedang dalam genggaman.
__ADS_1
"Hagg! Aggg!" raung tiga orang yang terperangkap es sehingga tak bisa bergerak.
Para prajurit Vom yang bersenjata panah dengan sigap melesatkan benda berujung tajam itu ke tubuh orang-orang tanpa es melapisi. Satu per satu dari mereka tewas dengan tubuh terjebak dalam lapisan es.
"Aku tahu kau bersembunyi di sana. Keluar, pengecut," ucap Kenta mendatangi singgasana.
Mata orang-orang mengawasi pergerakan Wen karena berjalan dengan mantap menuju kursi Ark. Benar saja, tiba-tiba muncul seorang anak perempuan yang bersembunyi di balik singgasana terlihat takut. Langkah Kenta terhenti dan menatap gadis cantik itu saksama yang memiliki lensa mata berwarna merah.
"Kau siapa?" tanya Kenta tegas.
"Aku Hye. Aku putri Ark," jawab gadis itu tampak takut yang berdiri di samping kursi sambil berpegangan pada sandarannya.
"Di mana ibumu dan lainnya?"
Gadis itu menggeleng. "Ayah sudah mati, begitupula lainnya. Apakah ... perang sudah selesai? Aku takut," jawab gadis itu yang membuat Kenta mengerutkan kening.
"Apa kau tahu yang terjadi di sini?" Gadis itu mengangguk.
"Yang kutahu, aku diminta untuk bersembunyi di sini. Kata empat orang yang kalian bunuh itu, aku penerus kerajaan dan tak boleh mati. Aku seharusnya berada bersama rakyatku, tetapi dilarang. Mereka mengatakan di sini lebih aman," jawab gadis itu lugu.
"Hei, kemarilah. Kami tak akan menyakitimu," ujar Rak seraya berjalan mendekat dan mengulurkan tangan.
Gadis itu lalu melangkah dengan mantap mendekati Rak yang berjongkok dengan senyum terkembang. Namun, pergerakan gadis itu membuat mata Kenta membulat penuh.
"Awas!" teriak Kenta yang dengan sigap menangkap tubuh Rak lalu melemparkannya jauh.
Orang-orang tertegun saat Wen tiba-tiba saja bersikap kasar dan malah melemparkan kekasihnya. Namun, ternyata ....
"Mati kalian semua!" teriak gadis itu dengan mata merah menyala terang dan mulut siap mengeluarkan api.
"Iblis kecil! Kau penyihir terkutuk!" teriak Kenta lantang.
Dengan cepat, KRASS!
"AAAAAA!" teriak Boh histeris saat Wen dengan cepat mengayunkan pedangnya dan membuat leher gadis itu terpenggal.
Kepala gadis itu menggelinding di atas lapisan es dan membuat darahnya berceceran menggenangi lantai. Jantung semua orang serasa berhenti berdetak untuk sesaat melihat Wen yang tak berbelas kasih. Namun, jika tak dilakukan, mereka yang akan mati. Mata semua orang membulat penuh karena Wen tega membunuh seorang gadis kecil.
Rak beruntung karena tak terluka akibat ditangkap oleh pasukan Vom yang masuk ke ruangan. Akan tetapi, aksi Kenta membuatnya mengalami guncangan hebat. Rak terdiam terlihat shock menyaksikan teror di depannya. Semua orang terpaku ketika Wen kembali berjalan menuju pintu dengan wajah datar.
"Sudah selesai. Ayo, pulang," ajak Wen yang membuat semua orang membisu.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE