
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kubu Kerajaan Zen kini harus berhadapan dengan prajurit di bawah komando Panglima Rat. Mereka saling mengacungkan senjata dan siap untuk bertempur. Sedangkan sang Panglima sendiri, terlihat melakukan perlawanan sengit dengan sosok berpakaian emas. Rat yang belum mengenal siapa orang tersebut, menganggap jika lawannya tak bisa diremehkan karena memiliki teknik bertarung unik, berbeda dari lawan-lawan yang pernah dijumpainya selama ini.
BRUKK!!
"Erghh," erang sang Panglima saat tubuh tikusnya menghantam wilayah yang dipenuhi oleh kerikil.
Pria tikus itu menahan sakit di lengan saat tangannya ditarik kuat. Sebelumnya, ia menaiki punggung sosok berpakaian emas, bermaksud untuk melepaskan helm besinya. Namun, lawannya dengan sigap membungkuk lalu menangkap salah satu lengan dengan tangan berlapis besi tersebut. Sang Panglima merintih ketika merasakan cengkeraman sosok tersebut sangat kuat seperti ingin meremukkan lengannya.
Tikus besar yang tak mampu melawan, pasrah ketika dirinya dilempar kuat layaknya gaya judo dengan punggung sebagai pendaratan. Sosok berpakaian emas itu berdiri gagah di hadapan Rat yang menatapnya tajam. Tiba-tiba saja ....
"Serang!" teriak Rat lantang menunjuk pria berpakaian emas.
Sontak, perintah itu mengejutkan pasukan Zen dan sang pemimpin.
TAK! WHOOM!
"Menghindar!" seru salah satu prajurit Zen saat melihat sekumpulan manusia setengah binatang itu tiba-tiba mengeluarkan botol dari dalam saku baju tempur.
Mereka menuangkan cairan tersebut ke senjata yang digenggam. Mata prajurit Zen terbelalak ketika orang-orang itu menyimpan batu pemantik api untuk membuat senjata tersebut terbakar dengan saling memukul sehingga keluar percikan.
"Maju!" teriak Panglima Rat yang dengan sigap menarik pedangnya lalu melakukan hal serupa. Ia dan pasukan yang tersisa berhasil membuat senjata terlahap api untuk menyerang.
Para prajurit Zen melakukan serangan balasan ketika pedang-pedang manusia setengah binatang itu berusaha untuk membakar tubuh mereka. Panglima Rat yang juga menyimpan cairan minyak tersebut sengaja menciprati tubuh lawan sehingga mereka dengan cepat terbakar.
"Hahahaha! Kalian akan mati terpanggang di tanah sendiri!" teriak Rat dengan wajah bengis yang kini mengincar pria berpakaian emas.
Para prajurit Zen yang terkena serangan menjatuhkan senjata mereka. Meskipun jumlah prajurit Tur hanya setengah dari prajurit Zen, tetapi dengan wujud manusia setengah binatang, orang-orang tersebut tak bisa dianggap remeh karena lincah. Mereka juga tak terlihat takut ketika berhadapan dengan makhluk Ggg yang berukuran besar. Malah, beberapa prajurit Tur berhasil menjatuhkan para penunggangnya dengan melempari mereka menggunakan batu-batu yang berada di medan pertempuran.
Di sisi lain. Sosok berpakaian emas yang dilindungi oleh beberapa prajurit Zen kini harus berhadapan dengan Panglima Rat. Wilayah yang dipenuhi oleh bebatuan dan terlihat gersang itu kini dipenuhi oleh kobaran api di beberapa tempat. Asap mengepul dengan bau menyengat beberapa manusia yang terbakar akibat serangan prajurit Rat. Manusia-manusia yang terbakar tergeletak di beberapa tempat dan menjadikan wilayah berdebu itu semakin menyeramkan.
"Heahh!" teriak Panglima Rat saat ia dengan gesitnya menyabetkan pedang yang berkobar dalam api.
__ADS_1
Gerakan tersebut berhasil membuat prajurit Zen menghindar agar tak terbakar. Mata pria berpakaian emas mengamati gaya bertarung Rat dalam helm emasnya. Sosok itu masih berdiri tegak di tempatnya di mana pasukan Zen dan Tur sudah memenuhi lapangan besar untuk saling membuktikan kekuatan masing-masing.
"Kau tak bernyali! Kemari dan lawan aku!" teriak Rat seraya melompat lalu menggunakan tubuh prajurit Zen yang ingin menghadangnya sebagai tumpuan.
Rat melompati empat prajurit Zen bergantian seraya menggenggam pedang api di tangan kanan dan tangan kiri memegang pisau. Ia tak segan menusuk dan menyayat untuk membuat manusia yang dijadikan tumpuan kakinya tak melawan akibat terluka. Satu per satu, prajurit Zen ambruk usai tubuh mereka dilukai dan dijadikan tolakan agar Panglima Rat berhasil sampai ke pemimpin pertempuran dari kubu Zen. Akan tetapi, ketika Rat siap untuk menusukkan pedang apinya saat ia melompat dari kepala salah satu prajurit Zen, tiba-tiba ....
DUAKK!
"Argh!" rintih Rat karena jatuh dengan keras.
Pedang api di tangannya terlepas dari genggaman. Punggungnya kembali menjadi pendaratan. Gigi Rat bergemeletak menahan amarah karena ia dijatuhkan dengan mudah hanya karena sebuah lemparan batu besar yang mengenai dadanya. Sosok berpakaian emas tersebut kini malah mengambil pedang api miliknya lalu digenggam erat.
Napas Panglima tersengal. Ia memegangi dadanya yang sakit karena ukuran batu itu sebesar kepala dan dilemparkan dengan mudah hanya dengan satu tangan oleh sosok berpakaian emas. Satu per satu, para prajurit Tur yang kalah dikumpulkan bersama dengan panglima mereka. Para manusia setengah binatang itu mulai panik karena serangan mereka tak membuat pasukan Zen kalah. Meski demikian, para prajurit Tur berhasil membuat lawan mereka mengalami luka serius dan tewas.
"Panglima Wen! Kami pindahkan yang terluka untuk diobati!" teriak salah satu prajurit Zen yang membuat sosok berpakaian emas itu menoleh.
Namun, nama Wen membuat kening Rat berkerut. Mata Rat dan prajuritnya terbelalak saat mengetahui jika lelaki berpakaian emas adalah Wen yang dikabarkan telah tewas. Namun, melihat lelaki tersebut ada di hadapan, membuat Rat bingung. Kubu Tur tampak waspada karena mereka masih berada di wilayah musuh dan kemungkinan besar akan dikurung lalu disiksa untuk membuat pengakuan.
Saat kubu Tur sedang membayangkan penderitaan dalam penjara nanti, tiba-tiba saja, seorang prajurit Zen melemparkan sebuah buntalan kepada pria yang diyakini adalah Wen. Orang itu menerima lemparan sebuah buntalan kain berwarna abu-abu dengan satu tangannya. Ia lalu menjatuhkan pedang Rat kemudian menginjaknya dengan satu kaki hingga remuk. Mata Rat melotot melihat api pada pedangnya padam karena ditimbun dengan tanah menggunakan sepatu besi si pria berpakaian emas.
Dengan sigap, Rat merangkak mundur karena pria di hadapan melangkah ke arahnya. Manusia setengah tikus itu meringis sembari memegangi dada. Ia masih belum bisa berdiri karena punggungnya terasa sakit meskipun sudah berlapis baju tempur. Anak buah Rat ikut panik karena senjata mereka sudah dilucuti.
"Ambil ini."
Panglima Rat spontan menangkap buntalan yang dilemparkan oleh pria berpakaian emas. Rat tak membuka buntalan tersebut dan memilih untuk menggenggamnya saja.
"Pergilah. Tak ada gunanya kami mengurung kalian di tempat ini. Hanya menambah pekerjaan pelayan karena harus memasak makanan lezat dan mengurus kalian yang bagaikan tamu kerajaan," ujar sosok yang tak menunjukkan parasnya.
Kumpulan manusia setengah binatang saling melirik dalam diam. Mereka tampak ragu karena dibebaskan begitu saja. Pria berpakaian emas tiba-tiba membalik badan lalu melangkah pergi seraya memerintahkan pasukan Zen yang tersisa untuk meninggalkan mereka. Rat tertegun.
"Kau mempermainkan kami? Kalian pikir sudah memenangkan pertempuran, ha!" teriak Panglima Rat marah dengan berusaha bangun meski terhuyung.
__ADS_1
Prajurit Tur lainnya ikut berdiri sembari memegangi bagian-bagian tubuh yang terluka akibat pertempuran. Prajurit Zen menghentikan langkah dengan senjata masih dalam genggaman, siap untuk menyerang kembali. Sosok berpakaian emas tersebut melepaskan helm besinya lalu berbalik.
"Jika ingin tahu kebenarannya, buka buntalan itu. Namun, tidak di sini. Cepatlah pergi sebelum aku melepaskan Www untuk mengusir kalian," ucap pria berambut panjang yang membuat mata Rat dan orang-orangnya melebar karena sosok di hadapan mereka adalah Panglima Wen.
Orang-orang Tur terlihat panik. Rat dibantu untuk bergerak dan pergi dari tempat tersebut. Mata mereka memindai sekitar dan tampak waspada. Benar saja, tiba-tiba.
Pada tebing batu dinding terluar kerajaan, muncul beberapa kandang besi berisi makhluk-makhluk bergigi tajam. Mata Rat melebar saat ia menyadari jika ucapan Wen serius. Pasukan Zen segera meninggalkan lokasi begitu pula Wen. Saat pintu gerbang kerajaan ditutup, pintu jeruji besi yang masih diturunkan secara perlahan itu mulai terbuka. Seketika ....
"Horg! Horg!"
"Lari!" teriak Rat panik ketika melihat hewan-hewan buas yang dikenal pemakan manusia itu saling berdesakan untuk keluar kandang.
Mereka nekat melompat dari ketinggian agar tak kehilangan buruan. Hewan-hewan tersebut berbentuk seperti kangguru karena berlari dengan cara melompat dan dua tangan kecil memiliki kuku tajam yang siap mencabik mangsa. Ujung ekornya runcing dan siap menusuk kulit hingga menembus daging. Kepala mereka seperti buaya karena memiliki moncong besar dan kulit keras. Sontak, Rat dan pasukannya berlari kencang menyelamatkan diri meninggalkan Zen.
Di benteng terluar Kerajaan Zen.
"Hehe, benar kata Ara. Panik akan membuat kecerdasan menurun," ucap Kenta geli saat melihat orang-orang dari Tur lari terbirit-birit kembali ke hutan.
"Apanya yang lucu? Meskipun Raja Tur kejam, tetapi kurasa jika Panglima Rat dan lainnya tidak. Sayang sekali mereka tak bisa menjadi sekutu karena kau bebaskan," ucap Lon melirik Kenta sadis. Pria Jepang tersebut tersenyum miring.
Pria itu lalu menghadap ke arah Lon yang berada di sampingnya. Mereka berdiri di atas benteng bersama pasukan penjaga yang siap melesatkan anak panah jika muncul penyerang lain dari Tur. Lon menatap Kenta serius karena ia merasa jika kakak Kiarra tersebut memiliki pemikiran yang aneh.
"Kita lihat saja nanti," jawab Kenta santai lalu beranjak pergi.
Lon cemberut karena ia merasa jika Kenta menyembunyikan sesuatu. Lon menatap di kejauhan saat para makhluk Www menyerang kelompok Panglima Rat.
"Kumpulkan mayat orang-orang Tur dan Zen di luar gerbang. Mereka akan kita kuburkan di dekat pohon jembatan. Kita tak perlu mengirimkan mayat prajurit Tur kembali ke asalnya. Hempf, perang ini, membuatku sakit kepala," keluh Lon seraya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan satu kepalan tangan.
"Baik, Penyihir Lon," jawab salah satu penjaga. Lon segera pergi dan kembali ke kamar.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1