Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Gempuran 4 Kerajaan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Kenta dan Kiarra menggunakan bahasa campuran.


Hutan kabut putih belum padam dari kebakaran sepenuhnya akibat serangan monster Roo. Kini, bagian luar hutan menjadi medan pertempuran. Kapal-kapal balon udara menyerang pasukan Tur di bawah pimpinan sang Raja. Terlihat jelas perbedaan mencolok antara dua kubu itu. Tentu saja, kelompok Kiarra lebih unggul.


"Nym," panggil Kiarra menatap sang Ratu peri dengan wajah sayu.


"Pergilah. Kami bisa membereskan hutan. Buat raja gila itu jera," pinta sang Ratu yang diangguki oleh Kiarra.


Dra membantu Kiarra bangun. Rak segera memberikan ramuan khusus pada Kiarra agar ia segera pulih. Namun, pengobatan apa pun hanya berdampak sementara untuk menjaga staminanya. Kiarra merasa jika tubuhnya belum siap bertempur mengingat ia baru saja melahirkan. Namun, karena tak ingin melihat kekecewaan orang-orang yang mempercayainya, Kiarra harus bangkit.


"Hah, hah," engahnya usai menghabiskan satu botol ramuan khusus dari Rak.


"Bagaimana, kau bisa?" tanya Kenta cemas.


"Yah, tentu saja. Jangan meremehkanku. Ayo," jawab Kiarra seraya menarik kembali pedangnya yang tertancap.


"Bagus! Itu baru adikku. Ayo!" sahut Kenta dan diangguki Kiarra.


Kiarra dan lainnya segera berlari menuju ke perbatasan. Mereka bersembunyi di balik batang-batang pohon besar, mengamati pertempuran. Seorang peri pohon duduk di salah satu dahan tak terlihat takut di kelilingi kupu-kupu bercahaya. Kiarra menatap peri itu saksama yang tampak murung.


"Kami akan membalas Raja sinting itu," ujar Kiarra seraya mendongak.


"Ya, kalau aku jadi kau, sebaiknya menghindar. Tur sangat tertarik padamu. Biarkan saudaramu Ken-ta yang melawannya. Pria melawan pria. Kau urus saja yang lain," ucap peri itu terdengar polos, tetapi ucapannya mengejutkan semua pendengar.



"Hem, usulan bagus. Kita akan lihat, seberapa jantannya Ken-ta melawan sang Raja," ujar Rak berkesan menyindir.


"Haish, dia masih marah karena bukan aku yang datang menyelamatkannya," gumam Kenta cemberut.


"Aku sepakat denganmu, Nym. Kalau begitu, berpencar. Kita adalah penyihir dan sudah sepantasnya menggunakan kemampuan sihir untuk melawan," ujar Kiarra dan diangguki semua orang, kecuali Kenta.


"Kami akan mengantarkan kalian," ucap seorang peri pohon yang muncul bersama dengan tiga jenisnya.


"Great," jawab Kiarra dengan senyum terpancar.


Kenta yang ditinggal seorang diri untuk melawan Raja Tur, menguatkan mentalnya. Ia mengayunkan pedangnya ke berbagai arah seperti seorang akrobatik sebagai bentuk pemanasan. Ia tak siap mati di mana kali ini dirinya bukan manusia kloning. Jika dia mati, tak mungkin bisa dibangkitkan lagi. Dirinya akan berakhir di alam kematian untuk selamanya.


"Oke, aku siap," ucapnya gugup meyakinkan diri seraya melangkah keluar dari hutan kabut putih yang melindunginya.


"Jika kau mati, akan kubuatkan patung kayu di pintu masuk hutan kabut putih, Wen-Ken," ujar peri pohon yang memberikan idenya tadi.

__ADS_1


Kenta menghela napas karena ucapan peri tersebut membuat perasaannya tak karu-karuan. Kenta menguatkan hati dan genggaman pedang. Matanya terfokus pada Raja Tur yang dilindungi sekelompok manusia setengah binatang terlihat garang karena bertubuh besar.


"Harrghhh!" teriak Kenta lantang yang membuat para prajurit Tur langsung terfokus padanya.


Akan tetapi, Kenta yang kini dibidik, malah membuat pria itu berlari kencang menyelamatkan diri.


"Tangkap dia!" titah sang Raja yang membuat Kenta semakin cepat berlari.


"Hoorrghhh!" raung para manusia setengah binatang itu, siap untuk melenyapkan Kenta.


Di sisi barat Hutan Kabut Putih tempat Dra berada.


"Geaga! Geaga! Heraaa!"


SHOOT! JLEB! JLEB! JLEB!


"HARGHHH!"


Para prajurit Tur terkena tusukan bulu-bulu tajam dari gaun yang dikenakan Dra. Salah satu kemampuan unik Dra adalah merubah bulu menjadi benda tajam layaknya jarum atau pisau. Dia sengaja mengenakan gaun yang dihiasi bulu-bulu bukan sekedar penampilan belaka, melainkan senjata ketika tak ada objek untuk dijadikan alat menyerang untuknya.


"Bagus, Dra! Lumpuhkan mereka semua!" seru Laksamana Noh dari atas kapal saat ia ikut melawan dengan menyabetkan pedang ke arah prajurit Tur yang berhasil menaiki kapal.


"Pertahankan wilayah ini. Jangan biarkan para pencuri itu mengambil barang kita lagi!" titah sang Laksamana dan diangguki Kol, Dra dan anak buah Noh.


Di sisi utara Hutan Kabut Putih tempat Lon berada.


"Lon! Kau sudah mempelajari banyak mantra dari para penyihir agung! Saatnya untuk membuktikan diri!" teriak Kem dari atas kapal seraya menangkis serangan dari seorang prajurit Tur yang juga berhasil menaiki kapal karena sosoknya manusia setengah monyet.


Lon terlihat serius. Ia melihat sekumpulan prajurit Tur berlari kencang ke arahnya, siap untuk menyabetkan pedang. Lon menarik napas dalam dengan mata terpejam menguatkan hati. Saat matanya terbuka, cahaya kuning keemasan muncul di dahi. Dua bola matanya bersinar kuning terang. Dua tangan Lon berubah menjadi batu dan terlihat siap untuk menggunakan sihir.


"Yee ... rekaso, mee ... bega moka, ogame!" teriaknya lantang dengan dua tangan ia tempelkan kuat ke tanah.


Seketika, GRUGG ... GRUGG ....


"Argh!" erang para prajurit Tur ketika tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak berguncang hebat layaknya gempa bumi.


Permukaan tanah retak dan terlihat celah besar. Para prajurit Tur terperosok dan terjepit di antara celah.


"Herghh! Haaa!" teriak Lon lantang dengan tubuh berjongkok dan sekali lagi memukul kuat tanah itu dengan dua kepalan tangan.


BUKK!

__ADS_1


"AAAAA!"


Retakan itu tiba-tiba menjadi begitu besar. Orang-orang Tur jatuh ke dalam lubang bagaikan jurang. Lon lalu mengangkat kedua tangan dan seketika, celah itu tertutup. Para prajurit Tur terkubur di dalam sana dan tewas seketika.


"Luar biasa!" teriak Hem turut memuji yang berpegangan kuat pada tangga tali kapal.


Lon tersenyum lebar. Ia tak menyangka jika usahanya berhasil. Remaja itu semakin percaya diri dan tak gentar menghadapi lawan dengan ukuran lebih besar darinya.


"Heh, kemarin kalian semua! Aku tak takut!" ucapnya penuh percaya diri.


Di sisi timur Hutan Kabut Putih tempat Rak berada.


Penyihir agung dari kerajaan Yak tersebut berdiri di bawah kapal balon udara yang melayang di atasnya. Tej dan Kapten Kee bersama pasukannya melakukan serangan kepada para prajurit Tur dengan hujan anak panah dari atas kapal. Para prajurit Tur tewas terkena serangan saat berlari mendekati kapal. Namun, di kejauhan, kumpulan manusia setengah binatang yang menggunakan senjata berupa catapult, siap meluncurkan batu besar untuk menghancurkan kapal.


"Kola gee ... rege mela jee ... kaa geko beja cola!" teriak Yak dengan tangan terangkat ke atas dan mata berubah menjadi putih seutuhnya.


Tiba-tiba, muncul kabut putih dari tubuh Rak. Sekejap, wilayah di bawah kapal seperti tertutupi asap dengan udara dingin mengusik. Tubuh para prajurit Tur seperti membeku karena tak bisa bergerak. Kapten Kee dan kelompoknya dibuat takjub saat wanita berambut putih itu melakukan sihirnya.


"Habisi mereka sekarang sebelum kabutku lenyap!" teriak Rak dengan tangan terangkat ke atas.


"Serang!" seru Kapten Kee yang dengan sigap turun dari kapal diikuti oleh pasukannya. Tej melindungi kapal bersama para pemberontak Tur.


KRASS! JLEB!


"Ohok!"


BRUK! BRUK! BRUK!


Tanpa mampu melakukan perlawanan akibat tubuh yang tiba-tiba membeku padahal tak terkena bola es, pasukan di bawah komando Kapten Kee berhasil menumbangkan para prajurit Tur yang menguasai wilayah tersebut. Mata Rak kembali biru dan tangannya turun. Napasnya tersengal karena melakukan sihir yang menguras cukup banyak energi dan membuatnya kelelahan.


"Rak!" panggil Tej dari tepi pagar geladak.


Rak mendongak dan melihat tangga tali diturunkan untuknya. Wanita cantik itu segera menggapainya dan memanjat perlahan. Ia melihat pertempuran sengit gabungan empat kerajaan melawan satu kerajaan yang enggan untuk bersekutu demi menciptakan perdamaian. Pasukan Kapten Kee berhasil merebut catapult milik pasukan Tur dan mengamankannya.


Rak masih bertahan di tangga tali untuk mengamati sekitar. Hingga akhirnya, mata penyihir bermata biru tersebut tertuju pada Raja Tur. Pemimpin kerajaan itu terlihat seperti memiliki ilmu kebal dan sangat kuat karena semua serangan yang datang dengan mudah ditepis.


"Oh, jangan-jangan ...," gumam Rak dengan mata menyipit, mencurigai kemampuan tak lazim sang Raja.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (pinterest)

__ADS_1


__ADS_2