Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Perang Terakhir*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra mengajak Lon dan Rak untuk ikut dengannya mendatangi Yak. Saat mereka bersiap untuk terbang, Boh muncul dengan sebuah pertanyaan mengejutkan.


"Kenapa tak ada tanda-tanda dari Dra? Apa dia baik-baik saja?" tanya Boh yang akan ikut bersama para penyihir Negeri Kaa tersebut.


"Entahlah. Apakah kita perlu pergi ke Vom?" tanya Rak, tetapi Kiarra menggeleng.


"Dra bersama orang-orang hebat. Dia akan baik-baik saja. Kita masih harus mendatangi Yak dan Tur untuk memastikan kedamaian Negeri Kaa benar-benar terjamin," tegas Kiarra.


"Sesuai perintahmu. Ayo," ajak Rak yang telah siap dengan tongkat sihir dalam genggaman.


Sayap kristal biru Kiarra kembali muncul. Sayap besar tersebut terkembang. Lon dan lainnya terbang menggunakan tongkat sihir mengikuti Kiarra di belakang meninggalkan Zen. Mereka memanfaatkan pohon jembatan untuk mempersingkat waktu. Begitu berhasil berteleportasi, mereka bergegas menuju ke Yak—terakhir kali dalam ingatan Kiarra saat ia menjadi roh dan berhasil menidurkan Wii—untuk memastikan jika kelompok dari pasukan dari Hem dan Kem berhasil merebut kerajaan es tersebut. Benar saja, begitu para penyihir terbang mendekati wilayah Yak, luncuran ketapel api sudah menyambut mereka.


"Berpencar!" titah Kiarra dan para penyihir agung langsung menghindar.


Di sisi lain. Pasukan Kiarra melakukan perlawanan sengit dengan pasukan Tur.


"Menyingkir!" teriak Hem yang kembali menggunakan burung Eee untuk menggempur sisa pasukan Tur.


BOOM!!


"Arghh!" erang para prajurit gabungan dari beberapa kerajaan yang terkena bola api batu.


Batu-batu berukuran besar yang terselimuti api praktis membakar persenjataan kubu Kiarra. Benda-benda itu sengaja diturunkan dari kapal agar pasukan gabungan bisa menyerang dari darat. Hem dan Kem bertugas melakukan serangan dari langit bersama kapal balon udara yang dinahkodai oleh Bit si manusia kelinci.



"Agh, sial! Jika saja ada yang bisa menggantikanku, maka aku bisa melakukan rencana itu," ujar Bit yang tampak kewalahan mengendalikan laju balon udara karena diserang oleh bola-bola meriam dari benteng istana.


"Kukabulkan permintaanmu, Bit!" sahut Boh yang terbang turun lalu menaiki geladak bersama Lon.


"Kalian datang!" sambut Zeb si manusia zebra terlihat senang.


"Sangat merepotkan di luar sana, tetapi kami berhasil. Seharusnya, Yak juga bisa kita rebut," ujar Boh yang dengan sigap menggantikan tugas Bit. "Lakukan strategimu, Bit, dan rebut kemenangan untuk sang Naga."


"Hem!"


Bit mengangguk mantap. Ia bergegas menuruni tangga tali lalu melompat di atas tumpukan salju. Zeb melihat kawannya itu bersembunyi di balik batu besar ketika kapal balon udara terus terbang menghindari serangan ketapel agar bisa mendekati istana.


"Bola-bola itu sangat berbahaya, Boh! Mereka ingin menghancurkan kapal kita!" seru Zeb cemas yang sedari tadi serangan anak panahnya berhasil ditahan oleh perisai-perisai tempur pasukan Tur.


"Serahkan padaku!" sahut Lon yang telah sembuh karena memakan banyak buah ceri Naga. Boh tersenyum melihat bocah lelaki itu dengan sigap menuju anjungan lalu menggunakan sihir batunya.


"Serangan!" teriak Zeb yang melihat sebuah batu dalam kobaran api, tepat menuju ke arah kapal, siap menghancurkan.


"Harghhh!"

__ADS_1


BLUARRR!


"Woahhh!" kagum para pemberontak Tur saat Lon meninju batu tersebut dengan satu tangan hingga serpihannya berhamburan di geladak kapal.


"Gunakan batu-batu api itu dan hujani mereka!" titah Lon dengan mata kuning menyala terang.


"Heh, pintar," puji Boh yang makin kagum akan kecerdikan keturunan Zen tersebut.


Zeb bersama kawan-kawannya berhenti melakukan serangan anak panah. Mereka menyerok batu-batu api tersebut ke dalam ember besi lalu ditumpahkan dari atas kapal. Pasukan Tur yang awalnya ingin membidik dengan anak panah api karena bertujuan untuk membakar benda terbang tersebut dibuat panik akibat hujan batu api.


"Hahaha! Rasakan!" teriak Zeb gembira.


Lon terus menghancurkan setiap batu ketapel api yang ditujukan ke arah kapal balon udara. Boh berhasil membawa kapal berlayar besar itu ke istana. Para pemberontak Tur bersiap untuk melakukan serangan jarak dekat ke dalam istana dan mengusir penjajah.


"Lompat!" teriak Boh karena tak bisa merapatkan kapal atau akan menabrak dinding istana.


"Heahhh!"


Para pemberontak Tur memanfaatkan tali pada tiang layar dengan bergelantungan. Mereka berayun dan berhasil mendarat ke teras lantai tiga istana. Zeb dan kawan-kawannya langsung menyerbu bagian dalam istana. Boh segera pergi untuk mengamankan kendaraan terbangnya agar tak rusak. Lon melindungi kapal dengan kemampuan sihir pengendalian tanah sampai benda tersebut berhasil merapat.


Di tempat Bit berada.


"Oh! Bit?" tanya Cok terkejut ketika kawannya muncul dari sebuah lubang tepat di sampingnya.


Kelompok Cok menjadi pasukan penembak meriam dan berada di bagian dalam benteng istana.


"Aku mengerti!" jawab si manusia tikus tanah cepat.


Para pemberontak Tur yang membuat barikade berupa gerobak berisi meriam-meriam kecil, melindungi Bit dan Cok agar aksi mereka tak ketahuan. Dua orang itu dengan cepat membuat terowongan dalam tanah dan akan menyerang pasukan Tur dari belakang. Kem dan Hem terus meluncurkan serangan dari atas langit meski mereka juga dibuat kerepotan karena ikut diserang dengan panah api. Namun, Kiarra dan Rak tak membiarkan kawan-kawan mereka mati demi membebaskan Yak.


"Yeka! Yeka! Hegosa!"


Rak menggunakan mantra yang sama dengan Boh untuk membalikkan arah senjata ke lawan dari atas tongkat sihir.


JLEB! JLEB! JLEB!


"Ogg!" rintih para prajurit Tur saat wajah mereka terkena tusukan anak panah lalu menewaskan.


"Jangan gunakan panah untuk menyerangnya! Habisi dia dalam jarak dekat!" titah seorang manusia setengah singa yang kini menjadi pemimpin pasukan menggantikan Kapten Tom si manusia burung.


"Horrghhh!"


Rak terkejut. Ia dilempari oleh pecahan batu hasil peperangan silam yang sepertinya memang telah dipersiapkan oleh musuh sebagai senjata. Rak langsung menghindar karena ia terkena lemparan dan membuat tubuhnya sakit.


"Menyebalkan!" teriak Rak kesal karena tak bisa menggunakan mantranya akibat takut jatuh dari tongkat.


Hingga ia melihat sebuah lubang di belakang prajurit Tur yang berada di halaman depan istana. Matanya melebar ketika mendapati Cok dan Bit muncul dari dalam lubang, tepat di belakang para prajurit itu. Rak melihat jika ada prajurit Tur yang bergerak ke arah mereka untuk mengambil sebuah batu sebesar kepala sebagai senjata ketapel.

__ADS_1


"Cepat, cepat!" ajak Cok yang bersembunyi di balik tumpukan batu.


"Gawat!" pekik Rak panik. Penyihir Yak tersebut langsung berputar arah lalu turun di atas tumpukan salju. Ia menggenggam tongkat sihirnya kuat di tangan kiri dan tangan kanan terjulur ke depan. Seketika, mata putihnya kembali. "Heya! Heya! Norame!"


GRUG! GRUNG! GRUG!


"Oh, apa itu!" pekik seorang manusia setengah ayam yang merasakan getaran dan udara dingin semakin mencekik.


Benar saja, "Awas!" teriak salah seorang prajurit Tur ketika melihat Rak muncul dengan es-es berujung tajam layaknya bilah pisau melayang di sekitar.


"Perisai!" titah seorang manusia setengah kerbau.


JLEB! JLEB! JLEB! KLANG! KLANG!


"Arghhh!"


Para prajurit Tur yang tak siap dengan perisai terkena serangan mematikan tersebut. Tubuh mereka tertancap ujung es yang tajam, tetapi tak menewaskan.


"Bit, saatnya!" ajak Cok.


"Heahhh!" teriak dua orang itu yang dengan sigap menyabetkan ujung pedang untuk menuntaskan tugas. Rak tersenyum karena dibantu oleh Bit dan Cok untuk menjatuhkan lawan. Dua orang itu menusuk tubuh prajurit Tur yang telah terluka parah agar tak mengganggu lagi.


"Rak! Mereka tak bisa disembuhkan! Mantra jahat Raja Tur sangat kuat! Tak ada cara lain, habisi semua!" seru Kiarra yang tiba-tiba datang dengan sayap kristal.


Rak memejamkan mata sejenak lalu menatap lawannya tajam. "Semoga kalian tenang di alam kematian," ucap Rak yang kini membuat lapisan salju lembut itu menjadi berujung tajam. Para prajurit Tur yang berada di atas salju-salju tersebut mengerang kesakitan karena tertusuk.



"Selesaikan!" titah Kiarra lantang dengan pedang kristal terangkat ke atas.


"Heahhh! Serang!" sahut Kem dan diikuti Hem serta pasukan Kiarra lainnya.


Para prajurit Tur tak bisa berkutik. Mereka diserang dari berbagai arah. Ditambah, pasukan Kiarra unggul karena ada para penyihir agung. Istana akhirnya berhasil direbut meski para pasukan Tur tewas akibat pengaruh sihir jahat sang Raja yang tak bisa dihilangkan. Kiarra yang tak sanggup melihat orang-orang itu tewas dengan mengenaskan memilih pergi.


"Ara! Kau mau ke mana?" tanya Lon yang melihat Kiarra terbang melewati kapalnya.


"Aku akan pergi ke Tur. Tempat terakhir," jawabnya.


"Aku ikut!" sahut Lon yang dengan sigap naik ke atas tongkat sihir lalu terbang di sebelahnya.


Kiarra tersenyum dan mengangguk. Boh dipercaya untuk membereskan tempat itu bersama Rak. Para kesatria Kiarra akhirnya berhasil merebut Yak dan mengambil kembali kerajaan es selamanya.


"Hidup sang Naga!" teriak Kem lantang dari atas punggung Eee yang terbang memutari area pertempuran.


"Hoiii!" jawab seluruh prajurit Kiarra dengan pedang terangkat ke atas.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (PlaygroundAI & Earth Island Institute)


__ADS_2