Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Keluarga Besar Kiarra*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Semua orang terharu meneteskan air mata, tak terkecuali Boh, Rak dan Lon. Putra putri Tora menyalami sang ayah sembari memperkenalkan diri. Namun, saat Tora menatap tiga sosok asing karena namanya tak dikenal, keningnya berkerut.


"Siapa katamu tadi? Mereka anak-anak siapa?" tanya Tora melotot menatap Kiarra lekat.


Praktis, anak dari tiga pion langsung diam terlihat takut. Kenta dan lainnya ikut pucat karena tak menduga respon dari sang ayah yang ternyata marah kepada ibu mereka.


"Ya. Mereka anak dari tiga pion The Circle," jawab Azumi gugup.


Napas Tora menderu. Ia langsung berbalik dan melangkah dengan cepat menuju ke kolam naga. Kiarra bergegas mengejar sang ayah yang umurnya terlihat muda. Termasuk saudara saudarinya yang dibangkitkan dengan umur sama sepertinya.


"Ayah, ayah, tunggu! Aku mengerti perasaanmu. Kau sangat mencintai tiga istrimu. Namun, mengertilah jika keadaan saat itu sangat sulit," ucap Kiarra mencoba memberikan pengertian.


"Apanya yang sulit! Hidup mereka sudah nyaman karena anak-anak Vesper-sama berjanji padaku untuk mengurus kalian setelah aku mati! Apakah kematianku sia-sia saat itu, hem?" tanya Tora dengan wajah penuh kebencian.


"Kami minta maaf. Kami tahu cerita itu, tetapi ... kumohon. Kami sangat menghormatimu, Tora-san," ujar Michelle gugup.


"Untung saja ibu tak jadi dibangkitkan. Bisa gawat jika terjadi," celetuk Chiko yang membuat mata Tora langsung melotot.


Chiko spontan menundukkan wajah. Ia tak menyangka bisa melihat ayahnya semarah itu meski hanya dengan sebuah tatapan tajam. Nyali anak-anak Tora ciut seketika, termasuk anak-anak para pion. Kiarra mencoba membujuk sang ayah yang dilanda amarah. Kiarra meraih dua tangannya lalu tersenyum manis.


"Apa kau tahu, Ayah? Keadaan sangat sulit setelah kematianmu. Banyak hal buruk terjadi di Bumi. Para pion sudah menjadi sekutu 13 Demon Heads. Kami menjadi keluarga besar sampai turun-temurun. Kami saling membantu ketika keluarga lain terkena musibah. Jika tak ada tiga pion itu, mungkin ... anak-anakmu telah mati," ujar Kiarra yang membuat wajah Tora berkerut.


"Ceritakan," pinta lelaki gundul itu.


Kiarra mengangguk pelan lalu mengajak sang ayah duduk di bawah pohon naga. Rak dan lainnya yang dibuat penasaran akan kisah Kiarra serta keluarganya di Bumi mendengarkan dengan serius. Cukup lama Kiarra dan anggota keluarganya bercerita untuk meyakinkan Tora jika putra putrinya dengan anak-anak para pion saling menyayangi. Hingga ekspresi marah itu berubah menjadi senyuman. Tora menatap bayi Kristal yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Hem, cucuku. Dia cantik sekali, sepertimu. Hanya saja ... unik," ujar Tora saat mengambil Kristal dari gendongan Rak.


"Akan tetapi, ... soal ayahnya," sambung Kiarra terlihat sedih.


"Tak usah dipikirkan. Selama Kristal hidup dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, suatu saat nanti, ia pasti bisa menerima kejadian silam tentang latar belakangnya. Tugasmu sekarang sebagai seorang ibu adalah memastikan jika putrimu tak seperti ayahnya," ujar Tora seraya mengelus rambut biru yang terasa halus itu.


Kiarra mengangguk paham. Kehadiran Tora membuat hatinya damai. Kiarra memeluk sang ayah dari samping. Saudara dan saudari Kiarra bernapas lega karena akhirnya ayah mereka bisa menerima kehadiran tiga anak-anak para pion The Circle. Saat suasana bahagia sedang merundung hati semua orang, tiba-tiba datang segerombolan orang dari pintu pohon naga. Sontak, keluarga Kiarra langsung berdiri terlihat waspada.


"Kami sudah mendengar semuanya. Luar biasa. Sungguh sebuah pengalaman hidup yang mengagumkan," ujar Laksamana Noh dengan pincang karena kehilangan salah satu kakinya.


"Akan kuperkenalkan satu per satu orang-orang di Negeri Kaa yang kini menjadi kawan-kawan kami," ujar Kiarra seraya berjalan mendekati Laksamana Noh.


"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan ayah dari Ratu Kerajaan Vom sekaligus penyihir agung di Negeri Kaa. Putri Anda adalah pejuang yang tangguh," ujar Noh seraya meletakkan telapak tangan kanan di dada sebelah kiri.


Tora membungkuk sebagai salam hormat seperti yang dulu ia lakukan saat hidup. Anggota keluarga Kiarra lainnya melakukan hal yang sama. Noh terlihat canggung dan balas membungkuk. Kiarra menahan senyum.


Satu per satu dari mereka saling bersalaman seraya memperkenalkan diri masing-masing. Lon yang terlihat menyukai Michelle selalu mengekor padanya. Michelle tampak terbantu karena Lon menjawab semua pertanyaannya tentang Negeri Kaa. Kiarra menahan senyum saat Lon berlagak layaknya pria dewasa dan memamerkan jabatan sebagai penyihir agung.


"Kalau begitu, bagaimana jika berkunjung ke istanaku? Kenta juga menjadi raja di salah satu kerjaan. Kalian perlu mempelajari banyak hal selama di Negeri Kaa agar mudah beradaptasi," ujar Kiarra saat berjalan bersama keluarganya.


"Wah, kita berpetualang lagi!" seru Azumi gembira.


Kiarra terlihat begitu bahagia. Suasana penuh suka cita kembali terjadi saat mereka menaiki kapal balon udara. Tora dibuat kagum saat berada di atas kapal itu. Noh tampak mengagumi sosok ayah Kiarra yang baginya terlihat tangguh dan cerdas.


Tora bahkan bisa menggendong bayi Kiarra hanya dengan sebuah kain di punggung layaknya sebuah ransel. Kiarra awalnya cemas, tetapi sang ayah meyakinkan jika ia melakukan hal serupa saat mengasuh anak-anaknya dulu. Kiarra tak berani membantah dan membiarkan hal itu. Hatinya begitu bahagia karena sang ayah hidup kembali dan bisa menggendong cucunya.


"Hahahaha, lucu sekali! Kristal hanya terlihat rambut birunya saja!" teriak Hiro geli.


"Namun, lihat! Kristal tertidur lelap! Dia sungguh menyukai ayah!" sahut Rein ikut mengintip di balik gendongan.

__ADS_1


"Ara! Kulihat kau belum menyusui putrimu. Kau harus menyusuinya sesering mungkin agar nutrisinya terjaga. Jangan terlalu berambisi untuk menjadi penguasa. Kau mengingatkanku akan Vesper-sama. Dia mungkin berkuasa, hebat, dan tak tertandingi. Namun, buruk dalam mengasuh anak. Ingat saja yang terjadi kepada empat anak durhaka itu. Vesper-sama tak mendampingi anak-anaknya karena sibuk dengan musuh-musuh yang ingin menghancurkan kita sehingga mengabaikan keluarga," ujar Tora yang berdiri tegap di hadapan sang anak dengan Kristal digendong di punggung.


"A-aku mengerti, Ayah," jawab Kiarra gugup.


Noh dan lainnya dibuat kagum. Tak satu pun dari anak-anak pria bernama Tora berani menentang ucapan sang ayah. Ketika Tora meminta mereka melakukan 'A', anak-anak itu menurut dan segera melakukannya.


"Mungkin aku harus segera menjadi ayah agar menjadi sepertinya," ujar Lon ikut kagum, tetapi mendapat pukulan di kepala oleh Kenta. "Hei!" teriak Lon marah.


"Fokus pada kemampuan sihirmu yang masih seujung kuku itu. Kau terlalu banyak berhalusinasi," sindir Kenta yang mendapat tawa dari orang-orang di sekitar.


Keluarga Kiarra tampak menikmati perjalanan seru dari atas kapal balon udara. Mereka saling menilai saat melihat suatu hal yang dirasa janggal. Diam-diam, Kiarra menyimak pembicaraan saudara-saudarinya itu. Ia lalu mendekati Kenta dan berbisik di sampingnya.


"Bagaimana jika mereka kita tempatkan di beberapa kerajaan untuk membantu perekonomian dan juga pembangunan?" tanya Kiarra mengusulkan.


"Heh, kita sepemikiran," jawab Kenta lalu tos kepalan tangan dengan sang adik.


Sedangkan Kristal, terlihat lengket dengan sang kakek. Ketika Kristal terbangun, Tora meminta Kiarra untuk menyusuinya. Sang Ratu terlihat gugup dan membawa Kristal ke dalam ruangan untuk disusui. Ternyata, para saudari Kiarra bisa melihat hal tersebut. Mereka mengikuti Kiarra sampai ke kamar.


"Ada apa?" tanya Kiarra yang hendak menyusui putrinya di sebuah ranjang kayu.


"Kau tak bisa membohongi kami, Ara. Kami adalah seorang ibu. Kami bisa melihat kekhawatiranmu. Sini, aku ajari bagaimana cara menyusui," ujar Azumi yang membuat Kiarra canggung seketika.


"Kau mungkin lupa jika kami meninggal saat sudah tua. Kami telah menikah dan memiliki anak. Kami tahu bagaimana cara mengasuh bayi dan mendidik anak," sahut Aiko yang mendapat senyuman dari Kiarra.


Sang Ratu terharu. Ia tak menduga jika kedatangan para saudarinya bisa menolongnya sampai sejauh itu. Dirinya memang lupa jika para wanita cantik yang kembali menjadi muda itu telah berkeluarga. Ia saja yang meninggal lebih dulu sehingga tak tahu bagaimana kehidupan mereka selama di Bumi hingga ajal menjemput. Kiarra merasa tertolong dan sangat berterima kasih.


"Kita keluarga. Sudah sewajarnya selalu ada dalam suka dan duka. Bagilah bebanmu dengan kami. Sudah cukup kau berkorban banyak, Ara," ucap Rein yang membuat Kiarra menangis saat menyusui Kristal.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Timid Magazine)


__ADS_2