Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Jasper!


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


Pagi itu, Kiarra dan Rein mencari keberadaan Regen serta Ryota hingga siang menjelang. Kiarra meminta kepada Rein untuk tetap menjaga kebugaran dengan memberikannya waktu makan. Kamera-kamera tersembunyi yang Kiarra letakkan untuk mengawasi pergerakan Jasper, juga tak membuatnya menemukan jejak Ryota dan Regen. Nomor telepon mereka juga tidak aktif.


Rein berasumsi jika dua lelaki itu diculik oleh Jasper. Kiarra semakin cemas dan meminta pada Rein yang menyetir pagi itu untuk menjemput Aiko karena sang adik juga tak bisa dihubungi. Rein khawatir jika Jasper mengancam seluruh anggota keluarga demi mensukseskan impian jahatnya.


TING! TONG!


"Aiko! Aiko! Apa kau di dalam?" panggil Rein yang turun seorang diri ke rumah Michelle.


Kiarra mengawasi dari dalam mobil pada dudukkan tengah. Lama Rein mengetuk dan membunyikan bel rumah, tetapi tak ada jawaban. Awan gelap mulai merangkak mendekati wilayah Kyoto dan sekitarnya. Mendung menjalar dan terpaan angin kencang terlihat dari pergerakan hebat daun-daun yang bergesekan pada pohon rindang.


Tiba-tiba, DOK! DOK! DOK!


"Oh!" kejut Kiarra yang langsung menurunkan kaca jendela mobil karena melihat Aiko muncul di balik kaca. "Kau dari mana saja? Rein memanggilmu berulang kali!"


"Hah, hah, akan kujelaskan. Cepat pergi dari sini!" pintanya terlihat panik.


Kiarra mengangguk dan menelepon Rein. Beruntung, Rein yang sedari tadi menggenggam ponsel di tangan kirinya segera menerima panggilan itu dan kembali ke mobil.


"Aiko?"


"Cepat! Pergi dari sini, sebelum mereka kembali!" seru Aiko dan diangguki Rein meski ia terlihat bingung.


Mobil Rein pergi meninggalkan kediaman Michelle dengan tergesa. Kiarra menatap Aiko penuh tanda tanya karena sikapnya.


"Katakan," pinta Kiarra yang tatapannya tak lepas dari sang adik tiri.


"Anak buah Jasper, mereka datang ke sini. Beruntung, saat itu aku sedang berada di lantai atas sedang menjemur pakaian. Aku mendengar pembicaraan mereka yang mengatakan jika harus segera menemukanku untuk dijadikan sandera agar Jason Boleslav menyerahkan sahamnya di Elios Farmasi. Aku tak menyangka jika Jasper akan segila ini," jawab Aiko yang membuat mata Kiarra dan Rein melotot seketika.


"Jasper benar-benar berpikir jika Jason Boleslav adalah pria yang akan menikahimu? Kita harus beritahu ini pada Jason, Kiarra! Dia dalam bahaya!" pinta Rein yang diangguki olehnya.


Aiko dengan sigap menelepon Jason. Tentu saja, kembaran dari Jordan Boleslav tersebut kaget bukan kepalang. Aiko minta maaf karena ia juga tak tahu jika akan menjadi target mantan suaminya itu.


"Jangan khawatir. Terima kasih atas peringatanmu, Aiko-san. Aku akan menindaklanjuti hal ini. Kau sebaiknya hati-hati. Amankan dirimu untuk sementara waktu. Saranku, pergilah ke kediaman Yusuke Tendo. Aku akan bicara pada Lucy untuk melindungimu," ujar Jason yang mendapatkan sambutan baik dari Kiarra, Aiko dan Rein.


"Terima kasih, Tuan Jason, terima kasih," ucap Aiko sampai membungkuk sebagai rasa hormatnya lalu menutup panggilan.


"Kalian sebaiknya segera ke Hokkaido untuk mengamankan diri," pinta Kiarra.


"Baik, tapi setelah Michelle dinyatakan aman. Aku masih khawatir karena Jasper memintanya datang ke rumah," ujar Rein dan diangguki oleh Aiko.


"Ingat. Jangan terlibat terlalu jauh. Senjata api sudah dilarang di seluruh dunia. Kalian tetap harus berjaga-jaga dari segala jenis serangan. Gunakan alat penyetrum," saran Kiarra.


"Ambil di dashboard, Aiko. Aku sudah menyiapkannya," ucap Rein seraya mengemudi.


"Oke!"


Mobil Rein kini melaju ke rumah orang tua Jasper. Rein menyempatkan membeli makanan pada fasilitas drive thru untuk Aiko. Kiarra sedih karena misinya untuk melenyapkan Jasper, membuat dua saudarinya sampai menahan lapar. Ia yang tak merasakan apa pun merasa bersalah.


Banyak kejadian di Bumi selama bersama keluarga, mengubah pola pikir Kiarra yang kolot. Perlahan, hati wanita itu melunak. Ia berpikir jika tak semua orang patut mendapatkan perlakuan ketus darinya. Kiarra tersenyum tipis karena tak menyangka dia akan memiliki sifat baru, yakni penyayang.


Sore itu, mobil Rein berhasil tiba di kawasan kediaman orang tua Jasper. Sayangnya, hunian itu sepi. Bahkan, mobil yang biasa terparkir di halaman depan tidak terlihat, termasuk para penjaga. Rumah itu seperti dikosongkan. Kiarra curiga karena Michelle juga tak bisa dihubungi.


"Bagaimana sekarang, Ara? Tak ada tanda-tanda kedatangan Michelle," tanya Rein dengan mata terfokus pada gerbang yang tertutup di kediaman Tuan Matsumoto.


"Tunggu satu jam lagi. Jika tetap tak ada, kita akan melibatkan lebih banyak anggota keluarga. Jika perlu, satu jajaran untuk melakukan pencarian dan interogasi langsung pada Jasper," tegas Kiarra.


Saat tiga orang itu dilanda rasa cemas luar biasa karena sudah 30 menit berlalu, mobil Michelle akhirnya muncul. Rein dan Aiko bernapas lega karena saudari mereka baik-baik saja. Akan tetapi, saat Michelle turun dari mobil, betapa terkejutnya ketika yang mereka lihat adalah Jasper bersamanya. Mata tiga wanita itu melotot karena Michelle seperti orang mabuk dan tampak begitu bergairah.


Michelle memeluk dan Jasper membalasnya dengan menciumi wanita cantik itu. Jasper memapahnya masuk ke dalam rumah. Ternyata benar, tak terlihat ada penjaga di sana. Jasper akhirnya membopong saudari mereka itu dan Michelle tak terlihat lagi karena pintu ditutup.

__ADS_1


"Ada apa dengan Michelle? Kenapa dia seperti itu!" pekik Rein dengan napas tersengal.


"Mungkinkah ...," sahut Kiarra yang membuat dua saudarinya menoleh tajam ke arahnya. "Cepat! Kalian berdua masuk paksa dan bawa Michelle pergi. Sepertinya, Jasper memberikan obat perangsang padanya!"


"Bajiingan! Dia benar-benar keterlaluan!" teriak Rein garang dan segera turun dengan tergesa. Aiko ikut menyusul di mana kali ini, amarah mereka sudah memuncak.


Kiarra yang geram tak bisa tinggal diam. Ia ikut turun meski tubuhnya tak bisa digerakkan dengan sempurna. Hingga tiba-tiba, gemuruh di langit yang sedari tadi menemani perjalanan mereka berubah menjadi rintik. Gerimis yang perlahan menjadi hujan lebat, praktis membasahi tubuh Kiarra.


"Hem, terima kasih, Naga," ujarnya karena pergerakan di tubuhnya mulai membaik meski membutuhkan waktu.


"Arghh! AAAAA!"


Sontak, mata Kiarra melebar saat mendengar teriakan dari dalam kediaman orang tua Jasper. Kiarra segera mempercepat langkah dan tak menghiraukan tubuhnya yang basah kuyup dan riasannya yang luntur. Begitu Kiarra memasuki pekarangan tempat mobil Michelle parkir, sebuah pemandangan menyesakkan hati membuat kedua tangannya mengepal ketika pintu rumah besar itu terbuka lebar.


"JASPER!"


Mata pria itu terbelalak dan melepaskan cengkeramannya pada tubuh Michelle. Aiko dan Rein jatuh tersungkur dengan lebam di wajah mereka seperti mengalami kekerasan. Jasper terlihat shock dan melangkah mundur.


"Aiko! Rein! Bawa Michelle pergi!" titah Kiarra lantang saat memasuki teras rumah mewah itu.


"Hiks, Ara ... Ara ...," tangis Michelle yang hampir diperkosa oleh Jasper karena pakaian saudarinya telah terkoyak dan terlihat pakaian dalamnya.


Rein dan Aiko berusaha bangkit lalu mendatangi Michelle yang masih menangis sampai tubuhnya bergetar. Kiarra melihat alat penyetrum dua saudarinya remuk seperti dihancurkan. Kiarra menatap Jasper tajam dan membidiknya.


"Kau tipuan! Kau bukan Kiarra! Dia sudah mati!" teriak Jasper seraya berjalan mundur menjauh.


"Kenapa tak kau buktikan saja, apakah aku tipuan ... atau sungguh nyata?" ucap Kiarra bengis seraya terus berjalan saat Rein dan Aiko memapah Michelle keluar dari kediaman Jasper hingga tak terlihat lagi.


"Harg!"


DOR!


"Ouh, sakit sekali," ucap Kiarra yang membuat tawa Jasper sirna seketika. "Sekarang giliranku!"


SWING! JLEB!


"ARGHHH!"


"Hahahaha! Mati kau, Jasper!" teriak Kiarra saat ia membalas kekejaman calon tunangannya tersebut.


Paha kiri Jasper tertancap pisau yang Kiarra lemparkan. Kiarra yang sudah mempersiapkan diri untuk melakukan pembunuhan terhadap pria berhati iblis itu, diam-diam mengambil pisau-pisau di kediaman Chiko, Rein dan Ryota lalu mengumpulkannya. Kini, benda-benda itu akan menjadi senjata perenggut nyawa Jasper.


"Hah, hah, kau gila! Jika sampai aku mati, maka kau juga ...."


"Kenapa tak dilanjutkan? Baru sadar dan percaya jika aku benar-benar mayat yang bisa hidup?" ujar Kiarra seraya menyiapkan pisaunya lagi yang disimpan dalam boots setinggi lutut.


"Argghhh!" teriak Jasper seraya mengarahkan moncong pistol ke arah Kiarra.


DOR! DOR! DOR!


"Hahahaha! Hahahaha! Sakit sekali, Jasper! Sakit sekali! Habiskan semua pelurunya!"


"Hah, Kiarra-san!" pekik Aiko saat mendengar suara tembakan tak berjeda dari kediaman orang tua Jasper.


"Jangan biarkan Jasper kabur. Tutup semua pintu dan jendela seperti perintah Kiarra. Ayo!" ajak Rein usai meninggalkan Michelle dalam mobil karena saudari mereka tak bisa menahan dampak dari obat perangsang yang diberikan Jasper padanya.


"Bajiingan! Bajiingan kau, Jasper!" teriak Michelle meringkuk di atas dudukkan mobil dengan tubuh basah kuyup.


Ia teringat saat Jasper sudah menunggunya di samping mobil. Michelle yang tak bisa mengelak menerima ajakan itu. Terlebih, saat Jasper memberikan minuman dingin dan membiarkan dirinya mengemudi.


Saat Michelle meronta di dalam mobil, tiba-tiba, KLEK!

__ADS_1


"Michelle!"


"Hah, hah, Regen! Regen!" panggil Michelle langsung memeluk sang kekasih karena lelaki yang dicemaskannya menghilang.


Regen terlihat panik hingga wajahnya berkerut. Ia melepaskan jas untuk menutup tubuh rapuh wanita yang dicintainya. Regen segera membawa Michelle dan memindahkan sang kekasih ke mobilnya. Regen dan Michelle meninggalkan lokasi di mana ada sosok lain yang berdiri dalam derasnya hujan di depan kediaman orang tua Jasper.


"Rein! Aiko!"


Seketika, dua wanita dengan tubuh basah kuyup itu segera berlari mendatangi orang yang memanggil mereka.


"Ryota!"


"Kalian baik-baik saja?" tanya Ryota cemas karena melihat dua saudarinya mendapatkan lebam di wajah.


"Ya. Beruntung Kiarra datang tepat waktu. Dia ... dia sekarang bersama Jasper di dalam," ucap Rein lalu memandangi kediaman Jasper dengan perasaan berkecamuk.


"Eh, dengar. Suara tembakannya ... sudah tak terdengar lagi!" seru Aiko.


"Kau benar! Ayo selidiki!" ajak Rein cemas.


"Jangan!"


"Tu-Tuan Kim?" jawab Rein terkejut saat Kim Arjuna menunjukkan dirinya yang ternyata berada dalam mobil bersama Yusuke, Sun dan Naomi.


"Jangan terlibat. Kita akan datang kemari esok pagi. Apa yang terjadi hari ini sudah cukup sebagai bukti. Ayo!" ajak Naomi.


Rein, Ryota dan Michelle saling memandang, yang kemudian mengangguk setuju. Mereka segera masuk ke mobil Rein lalu pergi meninggalkan kediaman orang tua Jasper.


Sedangkan Kiarra ....


Beberapa benda sebagai hiasan rumah tergeletak di lantai dalam kondisi rusak. Terlihat banyak tetesan darah di sepanjang koridor dan cap tangan berdarah di dinding rumah. Pistol yang digunakan Jasper ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya karena kehabisan peluru. Beberapa pisau tergeletak dengan bekas darah segar pada bagian ujungnya.


"Hah, hah, kau mati bukan karenaku, Kiarra!" seru Jasper dengan tubuh sudah banjir darah karena luka tusukan di beberapa bagian.


Jasper seperti akan menangis. Penyiksaan dari Kiarra membuat lelaki itu roboh, tak sanggup berdiri lagi. Lantai kamarnya sudah tergenangi darah dan meninggalkan jejak kaki Kiarra yang sengaja melepaskan boots agar ditemukan kelak. Jasper merangkak mundur dengan wajah berkerut menahan sakit.


"Kau ... membuat keluargaku menderita. Jumlah pisau yang tertancap di tubuhmu, tak sepadan dengan duka yang dirasakan saudara dan saudariku," ucap Kiarra dengan jalan tertatih dan pisau dalam genggaman tangan kanan, siap membidik titik terakhir.


"A-ampuni aku, Kiarra. A-aku minta maaf. Aku tak tahu jika perbuatanku akan berdampak kematian pada orang-orang yang kau sayangi," ucap Jasper yang tak bisa menghindar lagi karena tubuhnya sudah terpepet tembok.


"Baguslah jika kau menyadarinya. Sayang, hatiku telah mati dan tak bisa merasakan penyesalanmu itu. Jangan takut, akan kuantarkan kau ke alam kematian karena ... akulah Dewi Kematianmu!"


"AAAA!" teriak Jasper histeris yang sudah duduk di lantai dan tak bisa mengelak dari kematiannya.


JLEB! SRETT ....


"Ohok! Ogg ...."


"Menyenderlah padaku, Jas ... per .... Aku tahu jika kematianmu sangat menyakitkan, tak seperti diriku. Berbahagialah, karena kematianmu memunculkan senyuman di wajah semua orang yang kau sakiti," ujar Kiarra berbisik saat ujung pisau terakhirnya menusuk kerongkongan Jasper lalu diputarnya sehingga leher itu hampir putus.


Kiarra duduk di belakang Jasper menjadi penopang tubuhnya. Kiarra menemani Jasper di saat terakhir sampai lelaki itu memejamkan mata untuk selamanya. Kiarra tersenyum meski hatinya menangis karena harus bersikap kejam seperti ini. Tangannya masih bertahan pada posisinya yang memegang pisau pada leher Jasper dan tangan kiri mendekap dadanya.


Kepala Jasper mendongak dengan mata dan mulut terbuka berlumuran darah. Kiarra memberikan bahunya sebagai sandaran kepala lelaki yang sudah terenggut nyawanya itu. Ia sengaja ada di sana karena ingin ditemukan oleh semua orang. Kiarra ingin menunjukkan jika memang dialah pembunuh anak salah seorang pejabat pemerintahan Jepang tersebut.


"Sudah selesai," ucapnya lirih dengan wajah sendu.


***



makasih tips koinnya emak sis😍 berkah syelalu💋

__ADS_1


__ADS_2