
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra mengejar Ark yang melarikan diri dari pertempuran. Namun, ternyata, Ark sengaja membawa Kiarra pergi dari tempat itu ke sebuah tempat di wilayah kerajaan bersimbol warna merah. Saat Kiarra terbang melesat dan siap untuk menangkap tubuh Ark karena tak ada lagi pohon yang menghalangi, tiba-tiba ....
BOOM!! PRANG!!
"Arghh!" teriak Kiarra ketika sebuah bola batu layaknya meriam terlontar ke arahnya dan mengenai salah satu sayap kristal.
Kiarra jatuh dengan cepat dari ketinggian dan siap menghantam permukaan. Namun, Kiarra masih memiliki peluang dari satu sayap yang tersisa.
"Kau kira bisa membunuhku hanya dengan menghancurkan sayapku? Kau salah besar, Ark!" teriak Kiarra yang terbang miring karena hanya satu sayapnya mengepak.
Kiarra melihat jika ternyata banyak moncong meriam yang muncul dari dalam tanah. Mata Kiarra menajam saat menyadari jika tanah di sekitarnya digali dan dijadikan tempat persembunyian dengan menutupi diri menggunakan daun kering agar tak terlihat.
"Heh, kamuflase yang buruk. Aku melihat kalian," ujar Kiarra dengan sorot mata tajam. Seketika, "Terbakarlah!"
WHOOM!!
"Arghhh!"
Kiarra membakar tempat-tempat persembunyian itu dengan api birunya sembari terbang. Mata Ark terbelalak lebar saat melihat Kiarra terbang di sekitar wilayah perangkapnya. Para prajurit keluar dari persembunyian karena api membakar penutup kamuflase. Hal tersebut, membuat senyum licik Kiarra terkembang, dan seketika ....
KRAKK!!
JLEB! JLEB! JLEB!
"Arghhh!"
"Kau berikutnya, Ark!" teriak Kiarra usai membuat batu kristal ciptaannya muncul dari dalam tanah membentuk ujung-ujung tajam layaknya kerucut pembunuh.
Pasukan Ark tertusuk dan tewas seketika karena batu-batu kristal itu menembus tubuh mereka. Napas Ark memburu dan kembali kabur karena rencananya untuk membunuh sang Jenderal di tempat itu gagal. Kiarra menyadari pergerakan Ark yang kembali memacu tunggangannya dengan meninggalkan area pertempuran. Kiarra yang telah menuntaskan aksinya di tempat itu mengejar raja sekaligus penyihir kerajaan merah tersebut.
"Heahhh!"
KREKK!
"Hem, bagus!" ucapnya senang saat Kiarra menumbuhkan kembali sayap kristalnya yang pecah. Sang Jenderal terbang melesat tak ingin kehilangan buruannya.
Namun, usaha Kiarra untuk menyelesaikan misinya tidaklah mudah. Kiarra juga menyadari jika sedari tadi, Ark belum menggunakan sihirnya. Kiarra penasaran dengan kemampuan Ark karena pria tua itu seperti sengaja mengulur waktu entah apa yang direncanakannya.
"Kau sama pengecutnya dengan Ram, Ark!" teriak Kiarra gusar.
Seketika, Ark menghentikan laju lari tunggangannya. Kiarra tersenyum miring. Ucapan pancingannya berhasil menarik perhatian lawan. Kiarra terbang melayang dan tetap menjaga jarak dengan pemimpin kerajaan merah tersebut.
"Jangan sebut pengkhianat itu di depanku!" teriak Ark murka yang membuat Kiarra berkerut kening.
Pengkhianat? Tunggu dulu. Ada yang janggal di sini ..., batin Kiarra kembali memeras otak.
__ADS_1
"Oh, kau sadar jika dikhianati, hem? Lantas, apa yang kaulakukan? Tak ada. Kau seharusnya berterima kasih padaku karena Ram, mati di tanganku," ujar Kiarra dengan gaya tengilnya seraya terbang turun perlahan.
Ark menatap Kiarra tajam. "Aku tahu kau membunuhnya. Aku melihat pertempuran kalian. Kukira, kekuatan yang kau miliki tak abadi, ternyata aku salah," jawabnya yang membuat Kiarra semakin berpikir serius.
"Jadi ... apa hadiah atas kehebatanku membunuh pengkhianat di kerajaanmu?" tanya Kiarra seraya menutup kembali sayap kristalnya.
"Kau tak akan pernah bisa menguasai kerajaanku, Kia. Meskipun kau berhasil merebut Yak dan Zen, tetapi tidak untuk Ark," tegas pria berwajah garang itu.
"Sayangnya, aku bukan Kia. Aku adalah Kiarra. Heahhh!"
Mata Ark terbelalak lebar. Mata wanita di depannya tiba-tiba menyala biru terang. Pagar-pagar yang terbuat dari batu kristal berujung tajam muncul dari dalam tanah mengepung sang Raja. Kedua telapak tangan Kiarra bergerak dari bawah ke atas seperti sedang mengangkat sesuatu.
"Hargg! Hargg!" raung tunggangan Ark terlihat panik karena mereka kini terperangkap.
Kristal-kristal besar itu bergerak menghimpit tubuh Ark dan tunggangannya. Kiarra terus menekan sang Raja, hingga akhirnya ....
"Harghh!"
PRANGG!!
"Garrr!"
"Hah!" kejut Kiarra ketika pagar kristalnya pecah menjadi kepingan.
Kiarra melangkah mundur dengan cepat saat melihat mata Ark menyala merah dan tubuhnya berkobar dalam api. Mata Kiarra menyipit karena tunggangan Ark tak terbakar.
"Aku tahu. Aku sengaja mendesak agar kau keluarkan sihirmu, dan ... berhasil. Jadi, ayo," ucap Kiarra seraya mengayunkan dua tangannya mengajak berduel.
"Kau pikir kau hebat, ha!" teriak Ark marah dan membuat hewan berkaki empat itu berlari cepat ke arahnya dengan air liur menetes deras.
Mata Kiarra kembali menyala biru terang dengan dua tangan terjulur ke depan. Seketika, WHOOM!!
Kiarra dan Ark sama-sama mengeluarkan sihir mereka. Sihir api biru dan api merah saling berbenturan sehingga membuat gelombang besar di sekitar. Praktis, rumput-rumput di sekeliling mereka terbakar dalam api biru dan merah. Sayap kristal muncul dan mengepak.
Kiarra segera terbang saat melihat hyena iblis itu mampu menembus api biru dan tak membakarnya. Sang Jenderal menarik pedang birunya, siap untuk menusuk lawan ketika ia turun menukik. Namun, Ark belum selesai dengan aksinya.
"Kau pikir, hanya kau yang bisa, ha!"
"Hah!" kejut Kiarra saat Ark ternyata bisa terbang seperti dirinya.
Ark melompat tinggi dengan menjadikan punggung tunggangannya sebagai tumpuan lompatan. Sayap besar terbuat dari api merah berkobar di punggung raja zalim tersebut. Kiarra bertahan dengan pancaran panas api yang terasa seperti membakar wajahnya ketika ia siap beradu satu lawan satu melawan sang raja.
"Heahhh!" teriak keduanya ketika pedang Kiarra siap beradu dengan dua belati milik sang Raja yang ia tarik dari sisi pinggulnya.
KLANG!!
"Lihat!" seru Wen saat ia berhasil mengejar Kiarra dari jejak peperangan di sepanjang wilayah.
__ADS_1
Mata Panglima Wen terbelalak lebar menyaksikan Kiarra dan Ark bertarung hebat di langit. Senjata mereka saling beradu dan menimbulkan percikan api. Dra dan pasukan Kiarra berhasil membunuh para makhluk iblis yang kemudian menyusul sang Jenderal. Namun, mereka sadar jika tak bisa terlibat dalam pertarungan Kiarra dan Ark. Saat orang-orang itu terperangah, tiba-tiba ....
"Awas!" teriak Lon yang datang menyusul bersama Rak.
"Tameng!" teriak Panglima Wen lantang dari tunggangan burungnya.
Seketika, JLEB! JLEB! JLEB!
"Arghh!"
Wen melihat ratusan anak panah dilesatkan oleh pasukan berkuda Ark yang datang dari sebuah pemukiman, tak jauh dari tempat mereka berada. Belasan prajurit Kiarra tertancap anak panah pembunuh karena tak siap dengan serangan. Mereka tewas seketika tanpa bisa melawan. Lon yang melihat hal tersebut menggunakan tangan batunya untuk melindungi diri dengan menjadikannya seperti perisai.
"Terlalu banyak!" teriak Rak berusaha menangkis hujan anak panah yang datang padanya dengan membuat benda-benda tajam itu membeku saat terkena sihir dan jatuh sebelum mengenai tubuh karena berat.
"Awas! Pasukan iblis lainnya datang!" teriak Wen ketika melihat monster-monster iblis berlari kencang, keluar dari sebuah pintu gerbang pemukiman di wilayah Ark.
"Kik kik kik!"
Sontak, kedatangan makhluk-makhluk seperti campuran laba-laba berukuran besar, memiliki duri tajam di punggung bagaikan landak, gigi gergaji pada mulutnya dan memiliki tanduk di kepala, membuat nyali pasukan Kiarra ciut seketika. Jumlah makhluk-makhluk iblis itu dua kali lipat dari pasukan Kiarra. Para manusia itu diserang dari dua arah dan tak bisa kabur kecuali melawan.
"Lon! Rak!" panggil Dra di kejauhan.
Lon segera berlari seraya menarik tangan Rak agar ikut bersamanya. Dra dilindungi oleh pasukan Kiarra dengan menggunakan tameng besi agar panah-panah berujung runcing dari pasukan Ark tak melukai tubuh. Mereka membentuk formasi payung seperti yang Kiarra sampaikan dari salah satu strateginya.
"Kita terdesak!" pekik Dra saat mereka berhasil berlindung dari hujan anak panah pasukan berkuda Ark.
"Aku tahu! Erghh!"
Rak dengan sigap melakukan tugasnya untuk membuat tameng-temeng itu berlapis es pada bagian luarnya. Seketika, kumpulan orang-orang itu terbungkus oleh lapisan es seperti dalam igloo. Namun, hal itu tak membuat mereka tak terkena serangan dari para makhluk iblis.
"Kiikk! Kikkk!"
"Hah!" kejut Lon dan lainnya panik karena tempat perlindungan mereka kini dikerubungi oleh para monster iblis.
Wajah tegang dipenuhi ketakutan tampak jelas saat melihat jika lapisan es buatan Rak mulai terkikis. Ujung tajam bagaikan pisau dari kaki para laba-laba itu berusaha untuk menembus sihir es Rak. Saat mereka dilanda kepanikan, Lon menyadari sesuatu.
"Hei, diam, diam. Kalian dengar itu?" tanyanya dengan mata terbelalak lebar.
Tempat sempit bagaikan dalam tempurung berisi puluhan orang tersebut, membuat manusia di dalamnya berwajah serius ketika mendengar teriakan dari sosok yang dikenal.
"Suara itu ...."
"Panglima Goo!" seru Lon dengan wajah berbinar.
***
__ADS_1
adeh smg tiponya gak parah krn lele pusiang akibat kejatuhan rembulan. makasih tipsnya ❤️ lele padamu💋