
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
See tiba-tiba mematung saat ditatap bayi Kiarra. Semua peri dan Boh tampak terkejut karena makhluk iblis tersebut terlihat seperti gugup ketika dipandangi oleh bayi berambut biru tersebut. Sang ibu bisa merasakan ketakutan dalam gerak-gerik See karena sesekali ia tertunduk lalu memalingkan wajah, kemudian tertunduk lagi.
"See! Kali ini aku akan menyegelmu tanpa kami berdua ikut di dalamnya!" seru Kiarra tiba-tiba dengan tangan kanan terjulur ke depan dan tangan kiri masih menggendong putrinya.
Ratu Nym yang melihat See mulai berteriak dan berusaha kabur, dengan sigap menjulurkan tangan sulurnya untuk membelenggu tubuh makhluk iblis itu. Para peri ikut membantu dengan membuat dinding pelindung di sekitar See agar makhluk tersebut tak kabur. Boh sampai mematung karena bingung harus melakukan apa. See terus menjerit saat tubuhnya ditarik ke sebuah batu dengan kuat oleh makhluk-makhluk berkemampuan sihir tersebut.
"Harghh! Arghhh!"
"Tersegel!" teriak Kiarra lantang dengan mata dan tubuh menyala biru terang.
Bayi Kiarra ikut memancarkan cahaya yang sama dengan sorot mata tertuju pada See. Ratu peri dengan sigap menarik tubuh See ke dalam batu yang ternyata bisa menghisap raganya itu. Asap ungu pekat dari See akhirnya terserap dan ia menghilang tanpa jejak di hutan kabut putih.
"Wah! Wah! Kalian berhasil menyegelnya!" seru Boh tak percaya sembari memegangi kepala.
Namun, tiba-tiba cahaya biru Kiarra redup.
BRUKK!
Beruntung, seorang peri pohon dengan sigap menangkap tubuh Kiarra yang masih menggendong putrinya. Bayi cantik itu tetap bersinar meski tak seterang tadi. Boh memberanikan diri mengambil bayi berambut biru terang itu dari ibunya yang tampak kelelahan dengan hati-hati. Akan tetapi, saat tangan kecil itu memegang lengan Boh, seketika, mata hijau penyihir itu menyala. Boh seperti mengalami perjalanan spiritual karena ia melihat hal-hal ajaib secara tiba-tiba. Ia melihat masa lalu dan masa depan. Hingga akhirnya, ia kembali di masa sekarang dan sedang menggendong bayi Kiarra.
"Ka-kau ... kau putri Ram. Oh, Naga," gumam Boh terlihat gugup saat menatap wajah menggemaskan itu.
Kiarra yang tampak kelelahan segera dibawa ke sebuah rumah pohon, tempat Boh dan pengungsi Tur tinggal. Sedangkan Ratu Peri bersama peri-peri kepercayaannya, berkumpul dalam posisi melingkar di sebuah batu di tengah-tengah kolam. Tempat itu diberikan semacam pelindung dan hanya sihir terkuat yang bisa memusnahkannya.
"Ratu, sekarang bagaimana?" tanya seorang peri kupu-kupu yang ikut memberikan sihir dinding pelindung tempat mengurung See.
"Kita harus cari tahu dan pastikan jika bayi Kia-rra bukan ancaman," tegasnya.
Para peri pergi meninggalkan kolam. Namun, ada tiga peri yang menjaga tempat itu untuk memastikan See tak lagi menjadi ancaman sampai rumahnya berhasil dipulihkan. Di rumah pohon, para Nym mengunjungi Kiarra. Boh menggendong bayi cantik itu yang terlihat menggemaskan dan tak berbahaya. Meski demikian, semua makhluk di hutan kabut putih tetap waspada karena khawatir, keturunan Ram tersebut akan menjadi ancaman di kemudian hari.
Di rumah pohon.
Kiarra dikerubungi oleh para peri dengan Boh duduk di sampingnya sembari menggendong bayi yang memiliki dua warna mata itu. Kiarra terlihat letih dan cahaya birunya redup. Para Nym berusaha memulihkan kekuatan Kiarra dengan pengobatan masing-masing. Namun, sang Jenderal mengulurkan tangan seperti meminta agar bayinya diberikan.
__ADS_1
"Dia cantik sekali, Kia-rra," ujar Boh sembari meletakkan si bayi ajaib di pelukan sang ibu yang terbaring di atas kasur.
Ranjang Kiarra terbuat dari kayu dengan alas seperti kasur berisi kapuk. Para Nym menatap si bayi cantik yang tampak nyaman dalam pelukan sang ibu.
"Ini sungguh menakjubkan. Bayimu lahir saat kau berada dalam telur. Bagaimana bisa?" tanya seorang peri dengan tubuh seperti belalang dan memiliki antena di kepala.
"Aku juga tak tahu tentang hal itu. Tiba-tiba saja, aku merasakan perutku seperti berdenyut kuat. Aku seperti mengetahui jika akan melahirkan. Aku berusaha untuk melahirkan seorang diri, meski See terlihat berulang kali terbang melintasi dinding pelindung seperti ingin mengusik kelahiranku. Lalu ... entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja, dia sudah ada dalam pelukanku. Kemudian, kulihat jika ada cahaya terang tak jauh dari tempatku melayang. Aku mencoba melangkah ke sana dan ternyata ... yah, di sinilah kami," jawabnya seraya mengecup kening bayi cantik itu.
"Benar-benar sebuah keajaiban. Bayimu bahkan sudah besar. Selain itu, matanya ... warna matanya seperti bulan di Negeri Kaa, merah dan ungu. Pasti ini anugerah dan berkat dari naga," imbuh Boh.
"Hanya saja, apakah bintang biru telah bersinar? Bukankah ... aku baru melahirkan saat bintang itu muncul?" tanya Kiarra bingung.
"Di sini kami tak bisa melihatnya. Kau harus keluar dari hutan untuk mencari tahu," ujar Ratu Peri.
"Jangan, ini berisiko. Aku saja," jawab Boh mantap dan diangguki Kiarra.
Kiarra duduk di sebuah sangkar besar seperti induk burung dan anaknya. Para peri pohon melakukan estafet saat menerima dan menyerahkan sangkar berisi Kiarra serta bayinya. Kiarra melihat Boh berjalan dengan mantap di mana kemampuan sihirnya telah kembali. Wanita yang berasal dari Jepang itu terlihat begitu bahagia karena bisa melahirkan dengan selamat dan terbebas dari telur ciptaannya.
Saat Boh sudah berada di tepi hutan, betapa terkejutnya ketika melihat pasukan Tur telah berada di luar hutan. Para Nym ikut terkejut karena tak menyadari kedatangan para manusia setengah binatang itu akibat fokus untuk menyegel See dan kelahiran Kiarra. Benar saja, sosok yang paling tidak diharapkan muncul. Raja Tur melangkah menuju ke arah hutan mendatangi Boh yang berdiri di balik dinding pelindung.
"Heh, kau di sini rupanya, Boh. Tampaknya, aku meremehkanmu. Jadi ... di mana Ratuku? Aku bisa merasakan kelahiran anakku," ucap Raja Tur yang membuat kening Boh berkerut.
Kiarra dibawa menjauh dari tepi hutan. Sarangnya kini dibuat menjadi seperti bola lalu dioper dari satu peri pohon ke peri lainnya sampai akhirnya tiba di kolam. Sangkar Kiarra terbuka perlahan ketika Ratu Peri berdiri di depannya.
"Pergilah ke rumah Naga, kau akan aman di sana. Biar kami yang mengurus Raja Tur," ujar peri bersulur itu yang membuat mata Kiarra membulat penuh.
"Tidak! Dia bisa mencelakaimu! Mencelakai para peri!" tolak Kiarra.
"Jangan meremehkan kemampuan kami, Kia-rra," sahut peri air yang berhasil membawa pengungsi Tur ke rumah Naga melalui jalur air.
"Tetap saja, ini berbahaya. Biarkan aku menolong kalian," ujar Kiarra panik.
"Lakukan tugasmu. Selamatkan yang tersisa. Wujudkan impian Naga untuk kedamaian sejati di Negeri Kaa. Lindungi bayimu," ucap seorang peri bunga.
Kiarra terlihat sedih. Ia memeluk putrinya erat. Para peri tahu jika Kiarra sangat mencemaskan mereka mengingat Raja Tur sangat kejam. Meskipun selama ini tak ada satu pun serangan yang mampu menembus pertahanan hutan kabut putih, tetapi bisa saja Tur menemukan cara untuk mengakalinya.
"Terima kasih. Akan kucari cara menyelamatkan hutan kabut putih," ujar Kiarra merasa bersalah.
__ADS_1
"Pergilah. Tak akan kami biarkan Tur seenaknya kepada kami," ucap peri tanah yang sosoknya muncul dari dalam tanah tepi kolam.
Kiarra mengangguk pelan. Peri air dengan sigap membungkus tubuh Kiarra dengan sebuah gelembung besar agar ia dan bayinya tak tenggelam. Kiarra melayang di dalam gelembung berisi udara itu. Ia melambaikan tangan saat diceburkan ke dalam kolam hingga sosok para Nym tak terlihat.
"Bertahanlah! Aku akan berenang secepat mungkin," ujar peri air itu dan diangguki oleh Kiarra.
Mata Kiarra terbuka lebar dan fokus saat melihat pergerakan peri air yang membawanya melewati dasar kolam gelap. Wanita cantik itu memeluk putrinya erat lalu memejamkan mata. Ia berharap bisa segera tiba di rumah Naga lalu memikirkan cara melenyapkan Raja Tur selama-lamanya, termasuk mengembalikan para iblis yang telah kehilangan rumah.
"Pohon jembatan, pohon jembatan. Bagaimana aku menumbuhkannya kembali?" tanya Kiarra dengan kening berkerut dan mata terpejam.
Tiba-tiba, ingatannya kembali saat dulu dibantu oleh Ram untuk mengumpulkan bagian-bagian pohon jembatan yang telah tumbang. Seketika, mata Kiarra terbuka. Ia terkejut melihat sang putri menyentuh lengannya dan terlihat sinar biru di telapak mungil itu. Kiarra menatap bayinya saksama lalu tersenyum.
"Kau sepertinya memang keturunan dari Ram, Sayang. Meski harus kuakui, ayahmu adalah pria brengsek. Namun, kupastikan kau tak akan tumbuh menjadi seperti dirinya," ujar Kiarra menatap putrinya lekat yang balas menatap dengan pandangan serupa.
"Ara!" teriak seseorang yang membuat wanita cantik itu langsung menoleh ke asal suara.
"Oh, Lon! Lon!" jawab Kiarra dengan wajah sumringah saat ia baru menyadari jika telah tiba di kolam naga.
Peri air membuat gelembung yang dinaikinya berada di atas permukaan air. Gelembung besar itu bergerak perlahan ke tepian. Saat Kiarra mengulurkan tangan dan disambut oleh Kenta, tiba-tiba, PYARR!
"Hik! Hik!"
"Oh! Dia lucu sekali!" seru Kenta yang matanya langsung terfokus pada bayi Kiarra.
Bayi cantik itu menangis karena kaget akibat tubuhnya tiba-tiba basah akibat gelembung pecah saat Kenta menyentuhnya. Beruntung, tubuh Kiarra langsung ditangkap oleh Dra dan Rak sehingga ia tak tercebur ke kolam.
"Terima kasih, Nym! Akan kubalas kebaikan kalian!" seru Kiarra dan diangguki peri air tersebut.
Nym kembali masuk dalam air dan tak menampakkan diri lagi. Orang-orang dibuat kagum karena banyak di antara mereka yang belum melihat peri.
"Jenderal Kia! Jenderal!" panggil seseorang di kejauhan yang membuat Kiarra menoleh seketika.
"Oh! Ka-kalian," jawab Kiarra terkejut saat didatangi oleh empat dayangnya.
Kiarra dipeluk beramai-ramai oleh para pria tampan itu. Sang Jenderal begitu senang karena dirindukan. Akan tetapi, senyumnya langsung memudar saat ia melihat bayinya yang ternyata, bukan salah satu anak dari para dayang. Kiarra melepaskan pelukan perlahan dengan wajah gugup. Benar saja, Eur yang merasa jika bayi tersebut adalah putrinya, langsung mendatangi Kenta lalu mengambil alih untuk menggendong.
"Cantik sekali. Dia putriku," ujar Eur yang membuat Kiarra terdiam seketika.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (DeviantArt)