
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Lon mengepalkan tangan batunya kuat, siap menghajar Ark. Sang Raja yang tak ingin diremehkan oleh seorang penyihir cilik, dengan cepat menggunakan sihir apinya.
"Megaga!"
WHOOM!
"Arghhh!"
"Lon!" teriak Dra yang baru saja selesai dengan tugasnya dengan membakar para makhluk iblis laba-laba menggunakan sihir api ungu.
Dra melihat Lon menggunakan tangan berlapis batu sebagai pelindung bagaikan perisai, menahan semburan api dahsyat yang dikeluarkan oleh Ark. Lon berusaha keras agar dirinya tak terbakar, meski kakinya terus bergerak mundur, tak sanggup bertahan lebih lama lagi.
"Pa-panas," keluhnya dengan keringat bercucuran membasahi raga.
"Hisa!" teriak Rak yang tiba-tiba menyerang Rak dari samping dengan semburan udara dingin bersalju.
Ark yang tadinya fokus menyerang Lon, kini menggerakkan tangan kirinya ke arah penyihir berambut putih yang ingin membekukannya dari samping.
"Heahhh!"
"Agg!" rintih Rak yang kini ikut mendapat serangan api merah dari Ark.
Ark menyerang Lon dan Rak bersamaan dengan tangan membentuk sudut layaknya pukul 9. Dra yang melihat kesempatan, kembali berdiri tegak dan mengumpulkan kekuatan sihirnya.
"Yee, samalo! Regage! Megaga!" teriak Dra yang melempari punggung Ark dengan bola-bola api ungu.
"Arghhh!" raung Ark karena kini mendapatkan serangan di titik butanya.
Rak, Dra, dan Lon berusaha keras untuk bertahan sekaligus menyerang untuk menjatuhkan pria bengis itu. Kiarra yang mulai merasakan sakit pada lukanya berkurang karena tubuhnya bisa menyembuhkan diri, berusaha keras untuk kembali bangkit untuk membantu.
"Hah, hah, Ark!" teriak Kiarra yang melihat pria itu berusaha menjatuhkan tiga lawannya sekaligus.
Kepala Ark langsung tertuju pada Kiarra yang mulai bangun perlahan meski sempoyongan.
"Harghhh!"
"Aggg!" teriak Kiarra karena Ark menyemburkan api merah dari mulutnya.
Praktis, hal itu mengejutkan semua orang karena tak menyangka dengan kemampuan sang raja. Kiarra yang dengan sigap melindungi dirinya dengan tangan berlapis kristal dalam posisi berlutut, bergegas bergulung menghindari semburan api.
"Kau tak bisa lari dariku! Harghh!" raung Ark yang kembali menyemburkan api untuk menghanguskan Kiarra.
Namun, kali ini sang Jenderal lebih siap dalam menerima serangan.
"Heahhh!"
KREKK!!
Sebuah dinding kristal tercipta sebagai tameng di depan tubuh Kiarra. Ark terus menyemburkan apinya untuk memecahkan dinding kristal itu.
Saat retakan besar terjadi pada dinding berbatu kristal, tiba-tiba, "Ha?"
"Matilah!"
SHOOT! JLEB! JLEB! JLEB! JLEB!
__ADS_1
Kiarra terbang dengan sayap kristal birunya begitu dinding ciptaannya pecah. Ark yang terkejut karena kemunculan Kiarra dan membutuhkan waktu untuk menyemburkan api, membuat sang Raja kehilangan fokus. Kiarra melemparkan pasak-pasak kristal biru berujung runcing yang ia bentuk dari jari-jari tangannya. Praktis, serangan tak terduga itu berhasil membuat sihir sang Raja lenyap karena tubuhnya tertancap kristal biru.
"Hah, hah, hah," engah Lon, Dra dan Rak yang ambruk dengan napas tersengal.
Panglima Wen dan Goo dengan sigap berlari ke arah Ark saat melihat pria itu menggerakkan kedua tangannya meski dengan tubuh bergetar, padahal sepuluh pasak runcing telah menusuk tubuhnya.
"Jenderal!" teriak Wen dan Goo yang berhasil memegangi tangan Ark lalu menahannya kuat.
Kiarra terbang melesat ke arah Ark. Mata sang Raja terbelalak lebar ketika kedua kaki Kiarra mendarat di dua bahunya dan berjongkok. Kedua tangan wanita cantik itu memegangi kepalanya erat dan membuat wajah keduanya berhadapan. Wen dan Goo menatap Kiarra saksama yang matanya memancarkan cahaya biru terang.
"Good bye."
WHOOM!
"ARGHHHH!"
Wen dan Goo langsung tiarap di atas tanah karena semburan api biru juga Kiarra lakukan dari mulutnya. Kiarra membakar kepala sang Raja. Kedua telapak tangan Kiarra ikut mengeluarkan api sehingga tubuh lelaki itu terbakar dalam api biru. Sang Raja meraung saat merasakan sakit luar biasa dalam dirinya dan sadar jika kematian telah datang merenggut.
"Heahhh!" teriak Kiarra usai membakar raga pria itu lalu terbang mundur dengan sorot mata tajam.
KRASS! GLUNDUNG ....
"Oh!" kejut dua panglima kerajaan Vom saat melihat kepala Ark yang telah hangus terbakar menggelinding di depan mata mereka.
Keduanya terpaku dengan mata terbelalak lebar saat menyadari jika jenderal mereka berhasil menyelesaikan misinya di wilayah Ark.
"Hidup Ara!" teriak Lon senang yang disusul sorakan kemenangan dari prajurit Kiarra.
Seketika, pasukan iblis yang tersisa berjatuhan dan tak bergerak lagi. Mereka seperti mati begitu saja, persis seperti orang yang membangkitkan. Napas Kiarra tersengal, ia pucat dan ....
"Ara!" teriak Lon panik dan bergegas berlari.
Kiarra pingsan usai menghabisi nyawa sang Raja. Semua orang mendatangi Kiarra meski banyak dari mereka yang terluka. Wen bersiul memanggil tunggangannya untuk membawa sang Jenderal pergi dari area peperangan.
"Hah, hah, kita berhasil!" seru Lon dengan wajah berbinar meski terlihat berantakan.
"Oh, sungguh merepotkan," sahut Rak karena rambutnya jadi kusut.
Wen tersenyum meski harus menahan sakit. Namun, ia bahagia karena akhirnya tahu jika cintanya pada sang penyihir terbalas. Pasukan Kiarra yang selamat, tetap bertahan di wilayah itu karena tugas mereka belum selesai.
"Bawa kepala Ark. Kita teruskan perjuangan Kia-rra. Warga Ark harus tahu, jika mereka kini telah menjadi bagian dari koloni. Mereka harus mengakui Kia-rra," tegas Dra.
"Hem!" jawab semua orang mengangguk mantap.
Orang-orang yang terluka kembali ke istana untuk segera diobati. Kali ini, Panglima Wen tak ikut menuntaskan misi karena ia juga terluka parah. Hingga akhirnya, bulan merah kembali menunjukkan sinarnya. Dra dan lainnya yang merasa sudah cukup beristirahat dan menyusun ulang strategi seperti instruksi Kiarra sebelum berangkat berperang, kembali bersiap.
Semua orang yang bertahan bergegas mendatangi wilayah Kerjaan Ark yang berada di sisi terluar kerajaan utama. Daratan tersebut dipenuhi oleh batuan terjal dan gersang. Namun, tempat itu terdapat sebuah kastil yang dihuni oleh rakyat sipil yang bekerja sebagai pekerja kasar. Dra dan lainnya siap jika harus bertempur lagi. Namun, saat mereka memasuki gerbang kerajaan tersebut, hal tak terduga terjadi. Langkah mereka terhenti ketika banyak orang di depan pintu gerbang menatap mereka dengan sendu.
"Apakah ... kalian berhasil mengalahkan Ark?" tanya seorang wanita berambut merah dengan suara bergetar dan dua tangan mengepal di depan dada.
Kening Lon dan lainnya berkerut. Ia dan orang-orang dari Vom saling memandang lalu mengangguk pelan.
"Benarkah? Raja Ark sudah tewas? Bisakah kalian membuktikannya?" tanya warga lain dengan wajah berbinar.
Panglima Goo mengambil kepala Ark yang dipenggal Kiarra dari dalam karung. Sontak, bukti yang ditunjukkan Goo membuat warga tercengang.
__ADS_1
"A-Anda yang membunuhnya?" tanya seorang pria gugup.
"Bukan, tetapi pemimpin baru kami. Kia-rra. Dia juga membunuh raja, ratu dan pejabat tinggi kerajaan yang selama ini menindas rakyatnya. Yak dan Zen sudah bersatu dengan Vom. Sekarang, bagaimana dengan kalian, warga Ark?" tanya Goo tegas dengan kepala Ark masih ia pegangi kuat.
Sebuah jawaban yang tak mereka sangka. Orang-orang itu menangis seraya berpelukan. Seorang wanita tua berjalan tergopoh ke arah Dra. Sang penyihir menatap wanita itu saksama yang berlinang air mata saat memegang tangannya.
"Tentu saja kami akan bergabung. Ark selama ini menindas kami. Anak-anak ditumbalkan demi kebangkitan pasukan iblisnya. Ark tak bisa dimaafkan, dan kami selalu mendoakan kematiannya yang mengenaskan," ucap nenek itu dengan suara bergetar.
Dra tertegun berikut pasukan Vom lainnya. Penyihir dari Vom tersebut lalu memeluk tubuh renta sang nenek yang menangis terisak sembari terus memanggil nama cucunya karena telah tiada. Lon ikut bersedih.
"Dia sungguh kejam. Pasukan iblis yang menyerang kita sungguh banyak. Aku tak bisa membayangkan betapa banyak anak-anak yang menjadi korban kebiadaban, Ark!" geram Lon dengan napas menderu.
"Tunggu. Apakah ... kalian tahu di mana lokasi penumbalan itu?" tanya Rak tiba-tiba.
"Aku tahu! Aku pernah mengikuti pasukan raja saat membawa anak-anak kami," sahut seorang pria seraya melangkah maju.
"Antarkan kami ke sana," pinta Rak.
Pria itu mengangguk dan mengajak beberapa orang dari pasukan Kiarra ikut bersamanya termasuk Goo, Lon, Dra dan Rak. Sisanya, berjaga di kastil tersebut. Mereka berjalan kaki menyusuri daratan terjal hingga bertemu sebuah pegunungan yang memiliki pintu gua. Pria itu mengajak orang-orang yang mengikutinya masuk ke dalam. Betapa terkejutnya, saat mereka melihat puluhan anak-anak yang ternyata bukan dari Ark saja menjadi tumbal atas kebangkitan para makhluk-makhluk iblis.
"Mereka anak-anak Vom yang kita cari selama ini!" teriak Goo geram saat melihat tanda di tubuh layaknya tato di tengkuk seorang anak yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Dra dan lainnya membungkam mulut melihat kesadisan Ark yang merenggut nyawa anak-anak tak berdosa itu demi kepentingannya dalam memenangkan perang. Semua orang terdiam dalam duka yang mendalam. Pria itu menangis memeluk seorang jasad yang diyakini adalah putrinya.
"Yue ... Yue ...," tangisnya terisak dengan air mata mengalir deras.
Lon ikut menangis hingga air matanya menetes di tanah. Hingga ia teringat akan sesuatu dan segera menghapus air mata dengan tangannya.
"Kolam naga! Kolam naga!" teriak Lon yang mengejutkan semua orang.
"Apa maksudmu?" tanya Rak bingung.
"Ara membutuhkan raga untuk keluarganya! Aku tahu jika mereka hidup lagi bukanlah jiwa pemiliknya, tapi setidaknya, jika melihat anak-anak ini bisa hidup kembali meski harus diisi roh lain, bukankah memberikan harapan baru?" jawab Lon dengan mata berbinar.
"Apa maksudmu?" tanya pria itu yang tak lagi menangis karena mendengar penuturan Lon.
Dengan cepat, Lon menjelaskan maksud ucapannya. Mata pria itu melebar. Ia terlihat bingung dengan apa yang diucapkan oleh bocah lelaki yang baru saja ditemuinya.
"Maksudmu ... anakku Yue bisa hidup lagi, tetapi ... rohnya bukan dirinya lagi, melainkan orang lain?" tanya pria itu gugup.
"Aku tahu mungkin hal ini terdengar gila. Aku pun demikian saat mendengarnya pertama kali. Namun, melihat raga putrimu bisa memiliki nyawa lagi, hidup, dan tumbuh menjadi dewasa, bukankah ... itu juga bisa memberikanmu kebahagiaan? Selain itu seingatku, saat Jenderal Kia tewas, pikirannya masih tersimpan dalam raganya. Buktinya, Ara tahu tentang masa lalu sang Jenderal. Secara tidak langsung, mereka masih terhubung!" jawab Lon panjang lebar menjelaskan.
Orang-orang terdiam melihat pria itu tampak bingung membuat keputusan. Mata sang ayah yang telah kehilangan putrinya tampak jelas sedang menatap raga bocah dalam dekapannya dengan serius.
"Aku tak mau menjadi makhluk egois. Tanyakan ini pada lainnya. Aku ikut suara terbanyak," ucapnya menatap Lon saksama.
"Hem!" jawab Lon mantap yang diangguki oleh orang-orang Vom.
Segera, jasad-jasad itu diangkut menggunakan gerobak. Jumlah mereka yang sangat banyak membuat penduduk di kastil ikut kerepotan. Isak tangis juga mengiringi sepanjang perjalanan dari gua menuju ke tempat pembaringan.
"Jasad mereka harus diawetkan. Kita butuh Ara untuk menyimpannya dalam kristal biru," ujar Lon saat melihat mayat-mayat itu dibaringkan di aula kastil.
"Aku akan menjemputnya. Kalian, tunggulah di sini dan waspada," ucap Goo dan diangguki semua orang di tempat tersebut.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1