Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Para Monster yang Disegel*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Di wilayah perairan Vom yang dijaga oleh Kapten Mun dan awak kapalnya.


Sebuah kapal berlayar hijau muncul dari kabut hijau perbatasan antara Vom dan Tur. Mata sang Kapten menyipit ketika mendapat laporan dari kapal penjaga paling depan. Kapten Mun berjalan menuju haluan dan meneropong untuk melihat gerak-gerik musuh yang mencurigakan karena hanya ada satu kapal terlihat di sana.


"Kapten?" panggil salah satu ABK menatap sang Kapten tajam.


"Bersiap. Mereka pasti merencanakan sesuatu," ujar Kapten Mun dengan teropong masih mengintai kapal musuh.


Saat ABK tersebut memberikan isyarat berupa asap hijau di bagian buritan kapal agar kapal-kapal di belakangnya bersiap jika terjadi serangan, tiba-tiba ....


"Kapten Mun! Mereka melepaskan salah satu  makhluk penjaga pohon jembatan!" teriak manusia ubur-ubur yang muncul dari bagian depan kapal.


Sontak, mata sang Kapten melebar. Seketika, ombak menjadi ganas dan awan berubah hijau pekat. Para manusia ubur-ubur panik lalu berenang menjauh menuju ke pesisir pantai wilayah Vom. ABK kapal Vom dibuat ketakutan karena kapal terombang-ambing dan mereka hampir tercebur ke lautan. Kapten Mun berpegangan kuat pada pagar pinggiran kapal untuk melihat wujud monster air yang konon dikatakan sangat buas dan kuat. Benar saja ....


"Wii!"


"Oh, Naga," ucap sang Kapten dengan kepala perlahan bergerak ke atas ketika muncul sosok monster berwujud setengah manusia dan ular laut berwarna hijau.


Makhluk raksasa itu melengking menunjukkan keperkasaan dan kegembiraan karena terbebas dari botol yang selama ini mengurungnya. Kuku-kuku tajamnya siap untuk mencabik lawan di mana makhluk hijau tersebut dikenal sebagai pemakan daging yang rakus. Mata sosok bersirip hijau itu menyala terang saat memindai kapal-kapal perang Vom satu per satu yang berada di hadapannya.


"Itu monster laut Wii!" teriak salah satu ABK yang mengenali sosok bersisik tersebut.



Di kapal pemimpin armada laut Tur.


Raja Tur kembali mengangkat pemimpin baru untuk pasukannya. Seorang kapten kapal bernama Rhi dengan sosok manusia setengah badak yang perkasa.


"Hahahaha! Vom akan merasakan kehancuran dari kesombongannya! Wii akan memusnahkan kalian!" seru Rhi berdiri gagah di atas haluan.


"Kapten! Pasukan lain siap menggempur Vom. Kami menunggu instruksi Anda," ucap salah satu ABK Tur tampak ngeri usai melihat kebuasan Wii ketika mengayunkan ekornya yang besar dan membuat sebuah kapal Vom terbelah dengan mudah.


"Pergi dari sini. Biarkan Wii menyelesaikan urusannya. Kita akan membantu Gor untuk merebut Vom," ucap Kapten tersebut mantap.


"Laksanakan!" jawab pria itu lalu bergegas memberitahukan kepada nahkoda untuk memutar kemudi kapal.

__ADS_1


Kapten baru Tur meninggalkan laut agar tak terkena dampak dari serangan Wii. Monster laut Wii memiliki tiga cabang ekor ular dan bergerak sangat cepat saat di dalam air. Dulu, dia adalah salah satu penunggu pohon jembatan yang berdekatan dengan wilayah laut. Namun, setelah pohon itu ditebang, rohnya yang keluar dari pohon berwarna biru tersebut dengan sigap disegel dan dimasukkan dalam botol sebelum Wii murka. Kini, Wii telah terbebas dan melampiaskan amarahnya kepada para manusia. Vom, terkena imbas.


"Tembak!" seru Kapten Mun yang berhasil menghindari serangan Wii saat ujung ekornya hampir menghancurkan kapal.


Meski demikian, kapal sang kapten rusak. Salah satu tiang kapal patah dan kehilangan pagar sisi kiri di geladak. Namun, kapal tetap bisa berlayar karena tiang utama masih berdiri kokoh.


DOOM! DOOM! DOOM!


Suara dentuman meriam dari sisi kanan kapal dan tepat mengenai tubuh Wii, membuat makhluk laut itu murka.


"WIIII!" lengking monster itu yang membuat sosoknya terlihat makin menyeramkan karena mata hijaunya menyala terang.


Seketika, muncul pusaran air besar yang mengelilingi monster laut tersebut. Kapal-kapal Vom yang tersisa 5 buah mulai terseret arus.


"Arghhh!" erang para ABK yang terperosok di geladak dan membuat tubuh mereka menghantam dinding-dinding kapal.


"Ikat tubuh kalian ke bagian kapal! Siapkan pisau dan pedang! Tetap serang Wii sampai bantuan datang!" teriak Kapten Mun yang sudah basah kuyup karena terjangan ombak besar.


"Laksanakan!" jawab para ABK yang tak bisa menutupi kepanikan di wajah masing-masing.


"Serang!" teriak Hem dan Kem yang datang bersama pasukan burung Eee dari atas langit.


SHOOT! SHOOT!


WHOOM!


"HAARGHHH!"


Wii meraung saat tubuhnya diserang anak panah api. Kapten Mun dan ABK kapal yang melihat datangnya pertolongan, tersenyum penuh kemenangan.


"Kapten! Kapten!" teriak seseorang dari samping kapal yang membuat pria itu langsung menoleh ke asal suara.


Seketika, mata sang Kapten melebar saat melihat para manusia ubur-ubur kembali.


"Lompatlah dari kapal! Tak ada gunanya bertahan di sana, kalian akan mati tenggelam!" ucap manusia ubur-ubur yang ikut berenang mengikuti arus.


"Kami juga tetap akan mati jika masuk ke dalam pusaran itu!" jawab sang Kapten menatap seorang manusia ubur-ubur yang terus berenang di sisi kapalnya.

__ADS_1


"Kami akan membawa kalian ke daratan! Cepat! Sebelum Wii menyadari kedatangan kami!" jawab sosok bertentakel tersebut.


Kapten Mun yang melilitkan tali pada lengannya bergegas melepaskan jeratan. Ia berjalan dengan susah payah di hadapan para ABK yang sudah mengikat tubuh di bagian kapal.


"Potong tali-tali itu dan masuklah ke air! Manusia ubur-ubur akan membawa kita ke daratan! Cepat!" seru sang Kapten yang mengejutkan para ABK.


Orang-orang itu kebingungan. Kapten yang gemas karena anak buahnya tak segera bertindak, menebas tali-tali tersebut dan menarik satu per satu anak buahnya. Ia lalu menendang mereka hingga tercebur ke lautan.


"Arrghh!"


BYUR!


"Dasar payah! Jika ingin melamun, nanti saja saat kalian sudah berada di alam kematian! Jangan di kapalku!" teriaknya marah seraya mendorong satu per satu anak buahnya yang masih ragu untuk menceburkan diri di lautan ganas tersebut.


Siapa sangka, ucapan dan tindakan sang Kapten yang memang dikenal garang seperti Laksamana Noh, membuat para ABK berani menceburkan diri. Para manusia ubur-ubur dengan sigap menolong anak buah sang kapten. Hanya saja, tubuh mereka yang memiliki sengat dan bisa menyebabkan kematian bagi manusia, membuat manusia setengah binatang air tersebut tak bisa menyentuh orang-orang itu. Para manusia ubur-ubur terpaksa menjaring para ABK lalu menariknya menjauh dari pusaran.


Senyum Kapten Mun terkembang. ABK di kapalnya sudah kosong. Hanya saja, kapal-kapal lainnya belum melakukan hal serupa. Kapten Mun dengan sigap mengambil sebuah tali tambang dengan ujung pengait untuk membawanya menyeberang ke kapal lain.


KLANG!


"Heahhh!" serunya lantang saat berhasil menembakkan tali dengan ujung pengait menggunakan panah.


Kapten Mun melilitkan tangan kanan ke tali tambang lalu berayun pada tiang kapal berlayar ungu di kapal lainnya. Para ABK yang melihat kedatangan Kapten Mun melongo saat pria itu meluncur ke bawah dengan cepat seperti bermain perosotan, memanfaatkan bentangan kain kapal menggunakan punggung.


"Kapten!" panggil seorang ABK yang berpegangan kuat pada pagar sisi kanan kapal.


Kapten Mun berhasil mendarat dengan sempurna meski langkahnya terhuyung karena kapal bergerak cepat akibat pusaran.


"Lompat dari kapal sekarang! Manusia ubur-ubur akan menolong kalian sampai ke daratan! Cepat, sebelum kapal tenggelam!" titahnya lalu mengayunkan pedang dan memotong tali-tali yang digunakan untuk mengikat tubuh para ABK.


"Laksanakan!" jawab para ABK serempak dan bergegas melakukan perintah sang Kapten.


Kedatangan pasukan burung Eee berhasil membuat fokus monster Wii terpecah. Ia tak sadar jika Kapten Mun dibantu oleh manusia ubur-ubur berhasil lolos dari kematian. Meski demikian, Kapten Mun masih berusaha untuk menyelamatkan para ABK lain karena mereka tidak tahu dengan perintah baru itu. Kapten Mun melakukan seorang diri dan sengaja tak melibatkan ABK lain agar Wii tak melihat pergerakannya.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (PlaygroundAi)

__ADS_1


__ADS_2