
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra dan Lon akhirnya tiba di Tur. Tempat terakhir yang menjadi penentu keberhasilan misi dari sang Naga. Pangeran Owe, Tej dan kelompoknya ditugaskan merebut kekuasaan di tempat tersebut. Namun, karena dua penyihir itu menggunakan pohon jembatan, mereka tiba lebih cepat. Kapal balon udara yang dikemudikan Tej belum tiba di kerjaan Tur. Hanya saja, ada yang aneh. Wilayah Tur sepi seperti tak berpenghuni. Kiarra khawatir jika ada jebakan telah menunggu mereka.
"Ara?" tanya Lon yang terbang di samping Kiarra dengan wajah tegang dan mata melirik ke kanan dan ke kiri memindai sekitar.
"Hati-hati, Lon. Aku merasa kita se— awas!"
DUAKK!
"AAAA!"
BRUKK!!
"Lon!" teriak Kiarra panik karena tiba-tiba saja, penyihir cilik itu terkena lemparan sebuah batu dan mengenai kepalanya.
Lon yang tak siap dengan serangan dari balik rimbunan pohon jatuh dari ketinggian dan menghantam sebuah pohon besar. Kiarra yang melihat arah lontaran itu dengan sigap mengepakkan sayap kristalnya kuat. Seketika, terpaan angin kencang menerjang pohon-pohon rindang di tepi hutan hingga daun-daun berterbangan.
WHUSS!!
"AAAAA!"
BRUKK! SRAKK!
Kiarra segera terbang mendekat dan menciptakan kristal-kristal tajam bagaikan duri yang mengelilingi tubuhnya, siap dilesatkan ke arah musuh. Wanita cantik itu melihat beberapa manusia setengah binatang jatuh dari atas pohon ke semak rimbun di bawahnya. Akan tetapi, ....
"Eh?" kejut Kiarra.
"Ratu? Maaf, apakah ... Anda Ratu Kia-rra? Maksudku ... Jenderal Kia dari Vom?" tanya seorang wanita dengan tubuh setengah kucing. Kiarra mengangguk pelan dan melirik ke arah semak rimbun di mana Lon jatuh di sana.
"Ara! Hah, hah! Ada banyak orang-orang Tur di sini!" teriak Lon panik yang muncul seraya mengarahkan tongkat sihir ke lawan, tetapi tak menyadari jika tubuhnya menempel banyak daun dan ranting kecil. Kiarra tersenyum tipis.
"Tentu saja. Kita di wilayah Tur. Dasar pelupa," sindir Kiarra.
__ADS_1
"Eh, iya," sahutnya lalu bergerak mundur ketika para manusia setengah binatang itu perlahan muncul dari balik hutan.
"Apa mau kalian? Raja Tur telah tewas, begitupula pemimpin pasukan kepercayaannya. Empat kerjaan telah direbut dan tersisa satu yakni Kerajaan Tur yang harus kami kuasai," tegas Kiarra dengan jarum kristal biru siap meluncur dan membunuh orang-orang itu.
"Sungguh? Raja Tur telah tewas?" tanya seorang wanita dengan tubuh setengah kambing. Lon dan Kiarra mengangguk bersamaan.
"Terima kasih, Naga, terima kasih!" ujar seorang wanita setengah bebek penuh syukur lalu memeluk jenisnya erat.
Kiarra dan Lon saling melirik. Wanita cantik bersayap kristal itu terbang turun. Kiarra menghancurkan kristal seperti ratusan jarum tersebut menjadi kepingan yang menghiasi rumput. Lon kembali dibuat terkejut saat mendapati jika ternyata ada banyak sekali manusia setengah binatang yang muncul dari dalam hutan. Lon mendekati Kiarra karena khawatir mereka menjadi ancaman. Tiba-tiba ....
TOOTT!
Seorang wanita setengah kadal meniup terompet dari tanduk Ggg. Kiarra dan Lon kembali waspada. Kiarra yang penasaran terbang ke langit diikuti Lon untuk melihat apa yang terjadi. Di atas langit, mata mereka terbelalak lebar ketika melihat sekelompok manusia setengah binatang dalam jumlah besar berduyun-duyun mendatangi hutan. Kiarra dan Lon bersiap dengan segala jenis serangan, tetapi dugaan mereka kembali salah.
"Apakah kita bebas? Sungguh?" tanya seorang wanita yang baru saja datang usai meninggalkan istana.
Kiarra dan Lon diam menyimak.
"Ya! Ratu Kia-rra dan penyihir cilik itu berhasil mengalahkan Raja Tur! Kita bebas!" jawab seorang wanita setengah panda gembira.
"Kami tersiksa selama ini. Suami kami pergi bertempur dan tak kembali. Apakah ... mereka tewas di pertempuran?" tanya seorang wanita setengah sapi terlihat sedih.
Kiarra mengembuskan napas panjang. "Banyak yang kami selamatkan dari pengaruh sihir jahat Raja Tur. Namun, sisanya ... kami minta maaf," jawab Kiarra lesu.
Para wanita dan anak-anak itu menangis. Mereka tahu apa yang terjadi dengan para suami dan ayah. Kiarra yang awalnya telah siap bertempur kini telah kehilangan semangat. Lon ikut sedih karena bisa merasakan duka di wajah orang-orang itu. Lon menatap Kiarra saksama dan sang Ratu tersenyum.
"Apakah kalian berpihak pada Raja Tur?" tanya Kiarra curiga.
"Berpihak padanya? Tentu saja tidak! Dia kejam dan tamak! Dia memisahkan ayah dan suami dari keluarganya! Dia adalah iblis!" ujar seorang wanita setengah ayam terlihat marah.
"Lalu ... kepada siapa kalian berpihak?" tanya Kiarra memastikan.
"Naga!" jawab orang-orang itu serempak. Lon bernapas lega lalu tersenyum.
__ADS_1
"Jadi ... kalian rela jika Kerajaan Tur bergabung dengan empat kerjaan lain untuk menciptakan perdamaian seperti harapan sang Naga?" tanya Kiarra.
"Tentu saja! Meskipun kami belum pernah bertemu Naga, tapi kami percaya padanya," jawab seorang wanita setengah badak.
Tiba-tiba ....
"Oh!" kejut warga Tur saat tiba-tiba saja cuaca berubah.
Langit yang tadinya masih terselimuti kabut hijau berubah menjadi biru keunguan seperti cahaya bulan yang bersinar saat itu. Wilayah itu menjadi sangat terang. Kiarra dan Lon tersenyum karena sadar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mata warga Tur terbelalak lebar dengan kepala mendongak saat muncul sosok begitu besar menguasai langit yang awalnya seperti gumpalan asap lalu perlahan memadat.
"I-itu ...," ucap seorang wanita setengah jerapah tergagap.
"Ya, itu adalah sang Naga. Heh, tukang pamer," ledek Kiarra yang membuat Lon malah pucat seketika.
"Warga Tur ... aku adalah sang Naga. Raja Tur telah tewas dan kalian bebas. Jadilah pengikutku untuk menciptakan kedamaian sejati di Negeri Kaa," ucap sang Naga dengan sayap terkembang lebar dan suara besarnya.
Segera, sekumpulan manusia setengah binatang itu bersujud sebagai bentuk pengakuan terhadap sang Dewa. Lon ikut bersujud, tetapi tidak dengan Kiarra. Wanita itu hanya membungkuk seperti seorang ratu dengan menekuk lutut lalu kembali berdiri tegak.
"Kiarra akan membimbing kalian. Kerajaan Tur, Yak, Vom, Zen dan Ark kini telah bersatu. Tak ada lagi perang, tak ada lagi perselisihan dan kebencian. Kita telah berdamai untuk selamanya."
"Hidup Naga! Hidup Negeri Kaa!" seru orang-orang itu serempak dengan rona wajah bahagia.
Sang Naga mengangguk dengan senyuman lalu perlahan hilang. Warga Tur dibuat kagum dan tak percaya jika sang Naga sampai mendatangi mereka. Saat orang-orang mendekati Kiarra karena dipercaya jika dia adalah utusan Naga, tiba-tiba ....
"Serang!" teriak seseorang dari atas langit.
Seketika, kepala semua orang mendongak ke atas.
"Tidak! Jangan!" teriak Lon panik.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Wallpaper Tip)