
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Saat pergantian bulan berikutnya, Kiarra pergi bersama empat dayang menuju ke Kerajaan Tur untuk mengambil sisa dari bagian-bagian pohon jembatan yang selama ini disimpan oleh sang Raja. Kerajaan dipercayakan kepada Raiden dan Rein untuk melanjutkan tugas mereka yakni menata ulang sistem pemerintahan Vom. Sedangkan Tora, betah menjadi pengasuh Kristal seraya mengajarkan seni bertarung kepada para prajurit pemula Vom.
Kiarra pergi cukup lama dan terpaksa tak menyusui Kristal karena tugas penting ini. Kali ini, Tora tak keberatan karena Kristal ternyata sudah bisa mengkonsumsi makanan layaknya orang dewasa. Bayi ajaib itu sudah seperti berumur 1 tahun, padahal seharusnya ia baru berumur kurang lebih 3 bulan. Hari itu, di tepi pantai Vom, Tora mempraktikkan ilmu pedang yang dipelajari selama ini kepada prajurit muda.
"Ilmu pedang Sen-sei sangat mengagumkan. Berbeda dengan teknik yang dilakukan oleh orang-orang Negeri Kaa selama ini," ujar Kem menilai.
Tora membuat sebuah pedang dari kayu, berbentuk mirip katana. Bahkan, Tora meminta kepada salah satu penjahit istana untuk membuatkan yukata sebagai pakaian kesehariannya. Tentu saja cara berpakaian Tora yang unik membuat beberapa orang meniru gayanya. Tora tak keberatan dan mengganggap mereka sebagai muridnya.
"Ya, Sen-sei sangat gesit. Tubuhnya begitu lentur dan pergerakannya lincah. Tatapannya tajam dan fokus. Lihat cara ia menebas kayu-kayu yang dilemparkan Kapten Mun padanya. Semua terpotong rapi. Jika pedang yang dikatakan Sen-sei jadi, pasti akan sangat hebat," sahut Hem.
Kem mengangguk setuju. Tora mengajarkan cara memotong benda-benda menggunakan pedang. Hanya saja, bukan katana. Melainkan pedang bergagang berat, dengan bilah besar yang melengkung, seperti pedang para bajak laut. Namun, Tora tetap bisa menunjukkan kepiawaiannya meski jenis pedang tersebut berbeda.
"Sebelum sampai ke tahap ini, lari susuri tepi pantai hingga ke perbatasan. Selanjutnya, kembali ke sini. Kerjakan!"
Sontak, perintah itu membuat mata semua orang melotot. Mereka mengira akan langsung diajarkan teknik super keren itu. Namun, ternyata harapan mereka terlalu cepat. Kem, Hem dan Kapten Mun bahkan ikut berlari karena bagaimanapun, mereka pemimpin pasukan. Tora menunggu di pantai bersama bayi Kristal yang asyik memakan buah seperti pisang, tetapi berkulit merah muda.
"Makan yang banyak dan kau akan menjadi gadis yang kuat," ujar Tora seraya mengelus rambut biru Kristal.
Sepeninggalan Kiarra. Sang Ratu mendatangi kerajaan-kerajaan yang telah kehilangan pohon jembatan akibat tumbang. Ia mengajarkan bagaimana cara untuk menghidupkan mereka kembali. Tentu saja hal ini disambut baik oleh semua orang. Mereka tak sabar untuk melihat pohon berdaun biru bercahaya itu tumbuh. Tiap kerajaan mengutus satu orang setiap harinya untuk menyirami pohon tersebut menggunakan air kolam naga begitu tunas terlihat.
"Tugas Anda telah selesai, Ratu," ujar Pop yang diangguki Kiarra, tetapi hatinya belum lega.
__ADS_1
"Pohon yang akan ditinggali oleh para monster akan tumbuh. Kita harus bersiap dengan segala kemungkinan terburuk ketika para raksasa itu dilepaskan kembali," ujar Kiarra cemas karena kemampuan dari bintang birunya telah lenyap.
"Jangan khawatir, Ratu. Kami akan melindungimu meski nyawa harus terenggut," ujar Ben yang membuat Kiarra terharu.
Para suami Kiarra memeluk wanita cantik itu beramai-ramai. Kiarra lalu pergi meninggalkan wilayah Zen menggunakan kapal laut dengan botol-botol berisi monster iblis yang disegel oleh sang Raja. Nantinya, ia akan menyimpan benda-benda itu di kuil Dra sembari memperkuat ilmu sihirnya. Siapa sangka, selama 30 kali bulan ungu berganti, kemajuan Vom sangat pesat, termasuk pohon-pohon jembatan yang mulai tumbuh besar. Kiarra sengaja membiarkan pohon-pohon itu terus membesar dan nantinya akan membebaskan makhluk iblis penjaga bersama-sama.
Di kuil Dra, Kerajaan Vom.
"Ratu Ara, Ratu!" panggil Fuu dengan langkah tergesa saat Kiarra sedang mempelajari mantra-mantra yang pernah ditulis Dra dalam bukunya. Kiarra menatap Fuu lekat yang kini berdiri di hadapannya dengan napas tersengal.
"Ada apa, suamiku?" tanya Kiarra tersenyum manis.
"Tampaknya para monster iblis sudah bisa menghuni pohon-pohon jembatan. Saya mendapat kabar dari anggota pasukan burung Eee jika para penyihir agung telah bersiap di pohon jembatan yang berada di wilayah mereka."
"Oh, benarkah? Tahu dari mana?" tanya Kiarra lalu menutup buku mantra.
"Ah, aku mengerti. Jadi ... para monster iblis yang sudah terhubung dengan pohon jembatan, menunjukkan jalan ke rumahnya. Luar biasa!" ucap Kiarra kagum.
"Tunggu apalagi? Ayo, kita segera ke sana, Ratu. Anda sudah ditunggu banyak orang," ajak Fuu semangat.
Kiarra menyambut gandengan tangan suaminya itu. Mereka berlari menyusuri koridor sampai ke lapangan tempat burung Eee siap mengantarkan. Kiarra akan terbang ke Ark di mana monster iblis Okk yang ditidurkan kala itu akan dibangunkan dan siap ditempatkan.
"Ratu, lihat!" seru Fuu yang terbang sebagai pengendali dan Kiarra membonceng di belakang.
__ADS_1
"Wahh ... indah sekali!" ucap Kiarra kagum karena langit berubah menjadi berwarna-warni seperti ciri khas para monster iblis penjaga.
Banyak orang yang ikut menyaksikan fenomena menakjubkan itu, termasuk bayi Kristal. Rambut biru bayi cantik tersebut menyala terang seperti daun pohon jembatan. Tora bisa merasakan cucunya memancarkan energi luar biasa karena tubuh si kecil bersinar.
"Itu Penyihir Agung Kia-rra!" seru Kapten Mun yang ternyata telah tiba lebih dulu bersama para petinggi Kerajaan Vom dan Ark.
Napas Kiarra tersengal ketika melihat monster Okk ternyata telah terjaga, tetapi ia duduk diam sembari menyuarakan sebuah panggilan. Suara para monster terdengar seperti bersahut-sahutan di kejauhan dan menggema. Ketika Kiarra dibuat takjub sekaligus bingung, tiba-tiba, sosok sang Naga muncul di langit. Kiarra dan lainnya kembali dibuat terkejut karena sang naga kali ini berwujud lain sebab sisiknya berwarna-warni seperti langit saat ini.
"Saatnya membebaskan para makhluk iblis penjaga pohon jembatan, para penyihir agung Negeri Kaa," ujar sang Naga yang ternyata sosoknya bisa dilihat dari kelima penjuru kerajaan sebab ukurannya begitu besar.
Kiarra mengangguk paham, begitupula Boh, Rak dan Lon. Kiarra memecahkan kristalnya dengan mantra penghancur. Seketika, kristal-kristal biru itu menjadi serpihan. Semua orang dibuat waspada karena khawatir jika monster iblis akan mengamuk seperti sebelum-sebelumnya.
Namun, dugaan mereka salah. Para monster itu berjalan mengikuti garis cahaya biru di permukaan yang menuntun ke rumah. Semua orang yang menyaksikan hal tersebut di wilayah kerajaan masing-masing dibuat terharu. Monster iblis Wii yang ikut terbangun, berenang sampai ke sebuah wilayah Yak terujung di mana tumbuh sebuah pohon jembatan di tepi pesisir pantai.
"Okkk!" raung monster berwarna ungu itu ketika ia melintasi wilayah Ark terujung, tempat rumahnya berada.
Kiarra dan orang-orangnya mengikuti perginya monster Okk yang tetap terlihat tenang seraya terus melakukan panggilan dengan kepala mendongak ke atas langit.
"Hebat sekali. Aku tak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya," ujar Tora yang tak bisa menutupi rasa takjub.
Orang-orang itu beramai-ramai mengikuti Okk. Ada pula yang menggunakan burung Eee dan juga kuda. Ternyata, fenomena unik ini, membuat hewan-hewan di Negeri Kaa semua terbangun, seolah mereka tak menghiraukan adanya perbedaan bulan ungu dan merah. Hewan-hewan yang dilewati oleh para monster iblis penjaga pohon jembatan membungkuk, seperti melakukan hormat padanya.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Peakpx)