Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Mengejar Waktu*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


Praktis, memo berisi catatan kematian dari Kiarra membuat Jasper mematung seketika. Wajahnya pucat pasi dengan tubuh gemetaran. Pandangannya tak menentu melihat sekitar karena beberapa orang mulai melihat ke arahnya. Saat Jasper mendongak untuk melihat kondisi anak buah kirimannya, matanya membulat penuh karena mendapati sosok dikenal berada di lantai dua gedung.


"Jas ... per ...," panggil Kiarra dengan sosok mayatnya.


"Ha ... ha ... haaaa!" teriak Jasper histeris dan langsung lari terbirit-birit meninggalkan lokasi sampai jatuh terjungkal.


Pria itu sungguh ketakutan karena Kiarra benar-benar muncul dan memanggil namanya. Jasper segera masuk ke mobil yang tadi dikemudikan Regen dan pergi begitu saja. Kiarra tersenyum tipis. Ia melihat kekacauan yang dibuatnya mulai mengundang masa. Kiarra kembali membuat dirinya seperti karyawan perusahaan itu dengan menyamar menjadi office girl.


"Tinggalkan gedung sekarang!" titah Regen ambil kendali usai melihat bosnya kabur seperti seorang pengecut tanpa berani menghadapi Kiarra.


Regen yang melihat sosok Kiarra berjalan tertatih dengan alat pembersih, berpura-pura tak mengenalnya. Kiarra juga ikut dalam kumpulan orang-orang yang panik menyelamatkan diri karena terjadi teror di perusahaan itu. Praktis, hal tersebut membuat gempar wilayah niaga sekitaran Kyoto. Media datang meliput. Sayangnya, Jasper menutup diri dan enggan diwawancarai ketika dikunjungi wartawan di rumahnya.



Kediaman Orang Tua Jasper. Otsu, Jepang. Malam hari.


"Itu tidak mungkin Kiarra. Pasti, pria yang diceritakan oleh Aiko dalangnya. Ia sengaja menakut-nakutimu, Jasper. Jangan terpancing. Orang mati tak mungkin bisa hidup lagi. Kurasa, orang-orang dari jajaran mantan mafia itu memang ingin menunjukkan diri jika mereka masih berkuasa. Sayangnya, zaman sudah berubah. Kita bisa menaklukkan Kim Arjuna. Pastinya, kita juga bisa mengendalikan mereka," tegas ayah Jasper—Tuan Matsumoto.


Jasper mengangguk meski wajahnya pucat karena sosok Kiarra terlihat sungguh nyata baginya. Ia bahkan masih enggan kembali ke kantor meski cemas dengan dokumen ilegal yang disembunyikan. Jasper terpaksa meminta kepada Regen untuk memeriksanya. Benar saja, temuan Regen membuat Jasper murka.


"Argh, sialan! Mereka mendapatkan dokumen-dokumen itu!" teriak Jasper marah besar sampai hampir membanting ponselnya ketika melakukan panggilan video call.


"Lalu, bagaimana sekarang, Tuan? Dokumen Anda tak berjejak. Jika benar Nona Kiarra yang mengambilnya, maka sebaiknya ... oh!"


"Apa? Ada apa?" tanya Jasper yang kembali menunjukkan wajahnya pada layar ponsel.


"Sepertinya, Nona Kiarra meninggalkan catatan untuk Anda. Kertas ini diletakkan olehnya pada dudukan kursi," jawab Regen.


"Bacakan!" pinta Jasper terlihat tegang.


Regen mengambil kertas itu lalu diletakkan ke atas meja secara perlahan. Ia menyenderkan ponsel pada tumpukan map agar bosnya bisa melihat aktivitasnya. Jasper menahan amarah saat melihat Regen berlagak layaknya bos karena duduk di kursi kebesarannya. Wajah Jasper kembali masam.


"Nona Kiarra menulis, 'Kembalikan aset milik adikku yang sudah kau rampas, Jasper. Kuberi waktu 1 hari untuk menyerahkan pada Aiko. Menolak, aku akan datang padamu dan membawamu bersamaku ke alam kematian. Kiarra'," ucap Regen lalu menunjukkan tulisan yang tampak sedikit berantakan dengan tinta merah seperti darah.


Napas Jasper memburu, tetapi kemudian seringainya terpancar. "Heh, coba saja. Aku tak akan sudi mengembalikan apa yang sudah menjadi milikku. Sebentar lagi, perusahaan Kim Arjuna dan Naomi juga akan jatuh ke tanganku. Kalian semua, akan jatuh miskin dan terbuang ke negara tertinggal. Hahahaha!"


Regen tersenyum kaku. Ia memasukkan kertas ancaman Kiarra ke dalam brankas dan menutupnya seperti permintaan Jasper. Regen diminta untuk memberikan pengumuman kepada seluruh karyawan untuk tetap bekerja seperti biasa dan jangan percaya rumor tentang hantu Kiarra. Anak buah Jasper yang terluka dan beberapa satpam yang tak sadarkan diri juga telah membaik usai dibawa ke rumah sakit.


Hanya saja, pengakuan mereka membuat para pekerja di perusahaan itu masih tampak ngeri untuk datang ke kantor. Gosip kembali mencuat tentang kejadian yang hampir terlupa 1,5 tahun lalu mengenai kematian Kiarra. Keterlibatan Jasper akan kecelakaan tragis itu kembali menuai sorotan. Namun, Jasper memasang muka tebal dan tak peduli akan pertanyaan para wartawan yang berhasil membidik dirinya saat turun dari mobil untuk kembali bekerja.


"Kiarra hidup kembali? Heh, hanya orang bodoh yang percaya dongeng hantu seperti itu. Jika ada pertanyaan lebih bermutu, kalian boleh menemuiku. Jika tidak, enyahlah dari hadapanku," tegasnya seraya merapikan jas lalu masuk ke gedung dengan angkuh.


Di kantor, Jasper kembali marah karena banyak karyawannya memilih untuk bekerja dari rumah akibat takut. Jasper menggunakan kekuasaannya untuk melakukan ancaman.

__ADS_1


"Kirim surat peringatan dariku kepada para karyawan yang memutuskan untuk kerja di rumah. Katakan pada mereka, jika besok tak kembali ke kantor, aku pecat tanpa gaji, tanpa tunjangan, dan tanpa uang pesangon. Tak ada ampun bagi pekerja yang merasa dirinya lebih hebat dariku!" teriak Jasper di hadapan Regen dan beberapa manager yang menaungi beberapa divisi.


"Baik, Tuan. Kami mengerti," jawab mereka dengan pandangan tertunduk.


Regen yang memang dikenal tak banyak tingkah, kembali ke mejanya seperti tak terusik akan ancaman Kiarra. Sedang Jasper, tampak gelisah di ruangannya. Ia terlihat bingung hingga akhirnya memutuskan untuk menghubungi seseorang.


"Ya, ada apa?"


"Tuan Kim, apa kabar? Apakah ... Anda memiliki waktu luang hari ini? Ada yang ingin saya bicarakan kepada Anda. Sebaiknya, di luar kantor saja. Bagaimana?" tanya Jasper sembari memutar-mutar kursi kerja.


"Oke. Di mana? Tea House?" tawar Arjuna di mana ia tahu jika sebelumnya Jasper datang ke sana bersama Aiko.


"Ya, boleh. Aku sangat menyukai kedai teh Anda itu. Sangat orisinil," ujar Jasper memuji.


"Tentu saja. Itu salah satu aset pentingku sebagai bisnis sampingan," jawab Arjuna yang membuat Jasper menghentikan aksi konyol yang membuat tubuhnya berputar dalam dudukan kursi empuk itu.


"Oh, benarkah? Wah, mungkin Anda bisa mengajak saya untuk berinvestasi di kedai teh itu. Bagaimanapun, saya salah satu pelanggan setia Tea House," ucap Jasper mulai duduk tegak.


"Hem, akan kupikirkan. Kedai itu, memang tak memiliki investor karena dikelola olehku seorang, dengan modalku sendiri saat masih muda dulu. Kita bisa bicarakan hal ini lebih detail saat bertemu sore nanti," ujar Arjuna.


"Baik, Tuan Kim. Terima kasih," jawab Jasper semangat dan segera menutup panggilan.


Regen segera mengosongkan jadwal Jasper di mana sebelumnya pria itu ingin menemui Aiko.


"Tunggu sebentar. Kiarra meminta aset Aiko dikembalikan. Hah, ini sangat ketara sekali jika memang pria itu yang membuat teror ini dengan menggunakan mayat Kiarra. Aku akan membuat orang itu diadili karena melakukan kejahatan berupa penculikan mayat, merusak bangunan milik Tuan Sun, melakukan teror di perusahaanku, dan mencoba untuk mencelakaiku. Hahaha, hukuman dia akan sangat mencekik hingga memilih untuk mati saja ketimbang dibuang ke negara terasing. Dasar bodoh. Kukira setelah wabah monster musnah, para mafia itu benar-benar akan meninggalkan dunia penuh kejahatan. Namun, begitulah. Sekalinya penjahat, tetap penjahat. Tunggu hukuman dariku," ujar Jasper saat ia bersiap pergi menemui Kim Arjuna di mana waktu Kiarra tersisa 2 hari lagi di Bumi.


"Jika kau memiliki uang sangat banyak, buatlah kedai tehmu sendiri, Jasper," tegas Kim Arjuna di mana hari itu, Yusuke Tendo juga ikut hadir.


Jasper bisa merasakan perubahan dalam diri mantan yakuza tersebut. Ditambah, Yusuke Tendo juga ada bersamanya tanpa sepengetahuan putra Matsumoto.


"Baik, saya tak akan memaksa lagi," jawabnya.


Arjuna diam saja seraya menikmati sushi yang terhidang untuk menu makan malam.


"Juna. Bagaimana perkembangan bisnis gabungan kita di Indonesia? Kudengar jika sukses besar. Hanya dalam satu tahun, kita meraup omset di atas 100%. Apakah, rencana kita untuk membuka cabang di daerah lain tetap akan dijalankan?" tanya Yusuke seraya mengambil setusuk kue dango.


"Tentu saja. Kita akan melebarkan bisnis sampai ke seluruh penjuru Indonesia," jawab Arjuna mantap dengan senyuman.


"Libatkan aku, Tuan Kim, Tuan Tendo," pinta Jasper dengan wajah berbinar.


Praktis, dua pria bertato di depannya langsung memasang wajah garang. Jasper tersentak dan terdiam saat ditatap tajam.


"Tak semua bisnisku bisa kau sentuh, Jasper. Aku akan memberikan peluang kepada keluargaku yang lain. Misalnya, keluarga Tora. Jumlah anak-anak dari lelaki gundul itu sangat banyak dan beberapa dari mereka belum sesukses pendahulunya. Aku akan mengajak mereka terutama Michelle. Kulihat ia berpotensi dan mengingatkanku akan Kiarra," jawab Arjuna tegas.


Mata Jasper menyipit. Ia tersenyum kemudian lalu mengangguk paham. Setelahnya, Jasper hanya menyimak obrolan dua seniornya dengan telinga tajam penuh rencana di kepala. Sepulang dari Tea House, Jasper kembali ke rumah. Ia menemui sang ayah yang telah menunggu hasil dari pertemuannya.

__ADS_1


"Michelle?"


"Ya, Ayah. Sasaranku berubah. Michelle akan ditempatkan oleh Arjuna di Indonesia untuk mengurus usaha barunya. Ia akan menjadi CEO di sana. Peluang besar bagi kita untuk menguasai Indonesia melalui Michelle," tegas Jasper.


"Bagaimana dengan Regen?"


"Regen? Heh, dia cukup tahu saat undangan pernikahanku dengan Michelle datang padanya. Aku akan mencari pengganti untuk calon istri asistenku itu. Bukan masalah besar," jawab Jasper, dan Tuan Matsumoto mengangguk dengan wajah datar.


Di tempat Kiarra berada. Rumah Chiko.


"Bagaimana?" tanya Kiarra saat semua saudara dan saudarinya berkumpul melalui video telekonferensi.


"Semua dokumen ini asli. Aku mengenali tanda tangan orang-orang yang bekerjasama dengan Jasper," ujar Ryota yang dulu bekerja bersama Arjuna.


"Bagus. Aku rasa ini cukup untuk menolong kalian di pengadilan nanti. Segera kirim ke presiden agar King D bertindak. Namun, serahkan langsung dan pastikan King D yang menerimanya," tegas Kiarra.


"Oke. Aku yang akan pergi," ujar Chiko mantap dan diangguki semua orang.


Malam itu juga, tim yang tergabung untuk mendukung aksi Kiarra melakukan tugasnya masing-masing. Rein mendatangi Kiarra di rumah kakaknya karena mencemaskan keadaan wanita itu.


"Aku tahu ada yang ingin kautanyakan," ujar Kiarra yang membuat Rein tertunduk malu.


"Maukah kau mengajariku mengelola perusahaan? Aku merasa ... perusahaan tak berkembang semenjak aku yang menjabat," ucap Rein murung.


Kiarra tersenyum. "Jangan samakan kepemimpinanku dan caramu bekerja, Rein. Masing-masing orang memiliki kharismanya. Kau akan mendapatkan kesempatan itu asal kau berusaha keras, peka terhadap kinerja dan pergerakan perusahaan. Jalinlah hubungan baik dengan para relasi. Tak apa menggunakan sedikit uang perusahaan untuk mengundang para rekanan dalam jamuan agar mereka merasa dihormati dan dihargai, meskipun berinvestasi sedikit. Sekecil apa pun nominalnya, jangan dianggap remeh. Uang itu, hasil kerja keras mereka selama hidup," ucap Kiarra yang membuat Rein berlinang air mata.


"Aku tak akan bisa sepertimu, Kiarra," ucap Rein dengan air mata menetes.


Kiarra memeluk adiknya dengan penuh kasih di mana ia ingat betul ketakutannya saat pertama kali dipercaya menjadi CEO oleh Naomi. Kini, Rein berada di posisinya seperti waktu itu.


"Kau dipercaya Naomi-sama, itu adalah suatu hal yang hebat dalam pencapaian hidupmu saat ini, Rein. Jangan kecewakan dia dan keluargamu. Kau bisa memimpin dan dibutuhkan mental yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin. Percayalah, perusahaan akan baik-baik saja di tanganmu. Kau gadis yang baik," ucap Kiarra yang malah membuat Rein sesenggukan.


Namun, tiba-tiba ....


"Empf, Ara ...," ucap Rein tiba-tiba melepaskan pelukan dengan wajah berkerut dan mengibaskan tangan di depan wajah.


"Ada apa?" tanya Kiarra bingung.


"Baumu ... ohok! Kau sepertinya membusuk!" ucapnya seraya melihat raga Kiarra lekat dan hampir muntah.


Kiarra tertegun. Ia yang tak bisa mencium bau tak menyadari hal itu. Kiarra segera bangkit dan melepaskan pakaiannya di depan cermin. Ia terkejut karena ucapan Rein seperti ada benarnya. Tubuhnya mulai rusak dan hal itu membuatnya panik.


"Kau tak apa?" tanya Rein cemas.


"Tak ada waktu lagi. Aku harus segera menyelesaikannya," ucap Kiarra gelisah.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE.


__ADS_2