Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Laut Merah*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Pelayaran yang memakan waktu cukup lama dari wilayah Ark menuju ke Tur, membuat orang-orang berkumpul di geladak saat bulan merah akan berganti dengan bulan ungu. Bendera berlayar kerajaan Ark berciri khas warna merah sengaja dibentangkan agar orang-orang Tur yang ingin menyeberang tak terkena masalah dengan penguasa wilayah itu. Namun, tak diduga jika ternyata perbatasan di wilayah laut tak dijaga sama sekali oleh prajurit Ark entah apa alasannya. Oleh karena itu, Boh dan lainnya berhasil menyeberang tanpa harus terlibat masalah dengan penjaga wilayah.



"Anda baik-baik saja, Jenderal?" tanya Fuu saat akhirnya Kiarra kembali muncul dan memilih berkumpul untuk menikmati makanan bersama yang lain.


"Ya. Hanya saja, warna air laut ini membuatku tak nyaman. Ia seperti darah," jawab Kiarra yang terus berpaling saat matanya mendapati warna merah pekat itu.


"Namun, darah di Negeri Kaa berwarna ungu. Darah Anda juga," sahut Pop seraya menunjuk wanita cantik di depannya.


Kiarra tersenyum. "Di tempatku, darah berwarna merah. Persis seperti warna lautan ini, hanya lebih pekat dan kental."


"Ceritakan pada kami tentang duniamu yang bernama Bumi. Seperti apa? Apakah ... mirip dengan Negeri Kaa? Karena jika kulihat, kau sepertinya tak begitu terkejut dengan perbedaan antara duniamu dan tempat ini," tanya Putri Xen antusias.


Kiarra bisa melihat wajah orang-orang di depannya yang penuh rasa ingin tahu. Kiarra seperti seorang guru yang memberikan sebuah ilmu kepada murid-muridnya. Kiarra membenarkan dudukan di mana ia duduk di tangga dekat kemudi yang dinahkodai oleh Jenderal Gom.


"Well, ada kemiripan. Kastil atau istana di tempat ini, banyak terdapat di duniaku. Di Inggris, sistemnya hampir mirip dengan yang ada di Negeri Kaa. Ada Ratu, Pangeran, dan lainnya. Bisa dibilang kaum bangsawan. Malah sebenarnya, keluarga besarku, jajaranku adalah kaum bangsawan."


"Woah! Jadi kau sungguh seorang ratu atau putri di negerimu?" tanya Lon dengan mata membulat penuh.


"Mm, tidak juga. Ayahku adalah seorang pelayan, begitupula ibuku. Namun, pelayan dalam kategori seperti orang kepercayaan. Agak rumit jika dijelaskan silsilah keluarga besarku karena itu sudah lama berlalu dan aku sedikit lupa dengan orang-orangnya," jawab Kiarra yang diangguki oleh para pendengar.


"Katakan hal yang paling berbeda antara Negeri Kaa dan Bumi," pinta sang Pangeran.


Kiarra diam sejenak lalu menjentikkan jari. Semua orang terkejut. "Gedung pencakar langit."

__ADS_1


"Ha?"


"Apa itu gedung? Pencakar ... langit? Ada cakar besar di langit? Woah, pasti monsternya seperti raksasa!" pekik Lon yang membuat Kiarra spontan tertawa terbahak.


Lon memasang wajah masam karena ditertawakan. Namun, Kiarra tahu jika orang-orang tersebut memang tak bisa membayangkan apa yang ia katakan. Kiarra berpikir sejenak untuk mencoba memberikan ilustrasi. Seketika, tangan Kiarra berlapis kristal biru. Akan tetapi, ia lalu meremukkannya menjadi serpihan. Kening orang-orang berkerut saat Kiarra membuat sebuah pola di atas geladak kapal dengan serpihan seperti pecahan kaca itu.


"Ini adalah gedung pencakar langit. Bangunan yang tinggi menjulang seolah menyentuh langit. Ada banyak ruangan, lift, eskalator, dan beberapa fasilitas lainnya di dalam. Aku dulu bekerja di salah satu gedung di Jakarta, walaupun bukan milikku, tetapi tempat itu sangat nyaman dan menjadi rumah keduaku," ucap Kiarra saat menggambarkan kota Jakarta dan perusahaan tempat ia bekerja dulu.


"Apakah ... bangunan ini sangat tinggi? Seperti menara istana?" tanya Rak penasaran.


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Jumlahnya ada banyak, semuanya memiliki fungsi masing-masing. Ada yang dimanfaatkan untuk apartemen, perkantoran, dan juga tempat usaha."


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Bahasamu sulit dipahami," sahut Dra yang membuat Kiarra terkekeh.


"Hem, mungkin ... saat keluargaku hidup di Negeri ini, aku bisa mewujudkannya. Meskipun kuyakin jika butuh waktu yang lama untuk mengerjakannya. Saudara lain ibu yang bernama Hiro adalah seorang kontraktor sekaligus insinyur. Atau bisa dibilang, dia bisa membuat gedung pencakar langit meski harus mengerahkan banyak pekerja untuk membuatnya nanti," jawab Kiarra teringat akan sosok saudara lelakinya.


"Apakah ... jumlah jasad yang terkumpul sudah cukup untuk seluruh keluargamu?" tanya Dra penasaran.


Kiarra diam sejenak. "Aku tak tahu. Aku berharap bisa membangkitkan yang lainnya. Namun, aku tak yakin," jawab Kiarra dengan wajah sendu menatap limpahan air merah yang membuatnya kembali merasa ngeri.


Semua orang terdiam. Mereka bisa melihat jika wanita cantik di depan mereka sangat merindukan keluarganya di Bumi.


"Yang terpenting, kumpulkan saja jasad-jasad yang kau butuhkan. Soal Naga nanti bisa menghidupkan mereka lagi atau tidak, itu urusan belakang. Kau fokus saja untuk menyiapkan tempatnya. Aku akan membantumu!" ucap Lon semangat dengan tangan mengepal depan dada.


"Terima kasih, Lon. Kau memang sangat baik," jawab Kiarra seraya mengelus kepala bocah lelaki yang siap beranjak remaja tersebut.


Akhirnya, pembahasan tentang dunia Kiarra terus berlanjut sembari menikmati santapan buatan salah satu dayang Kiarra. Orang-orang itu tampak puas karena masakan Ben memang lezat. Kiarra tidur dengan kain tebal yang digantung sembari menatap langit-langit ruangan terbuat dari kayu.

__ADS_1


"Pasti perjalanan ini tak menyenangkan untukmu, Jenderal," ucap Eur sembari masuk ke dalam ruangan dan membawakan segelas air.


"Ya, aku tak terbiasa berlayar. Biasanya aku naik pesawat," jawab Kiarra yang membuat Eur berkerut kening.


Kiarra tahu jika Eur berusaha memahami ucapannya. Pria itu lalu menyerahkan gelas dari logam kepada wanita yang dicintainya. Kiarra menerima gelas itu dan meneguknya sembari duduk di atas tempat tidur gantung.


"Jika tak bisa tidur, mungkin Anda ingin menggambar. Aku meminta banyak lembaran kertas pada Putri Xen untuk Anda. Mungkin, Anda ingin melukis tentang Bumi sehingga kami bisa membayangkan hidup di tempat itu," ucap Eur seraya memberikan setumpuk kertas berwarna cokelat kepada Kiarra.


Wanita berambut panjang itu terkekeh, tetapi mengangguk. Ia menerima lembaran tersebut dan perlahan turun dari ranjang gantungnya. Eur menemani Kiarra yang asyik menggambar selama perjalanan hingga tak terasa jika kapal telah memasuki wilayah Tur. Namun, tiba-tiba ....


BRAKK!!


"Jenderal!" pekik Pop saat masuk ke ruangan dengan mendorong pintu kayu cukup keras.


Sontak, panggilan mengejutkan itu membuat kepala sang Jenderal dan Eur menoleh ke arah Pop. Kiarra seperti tahu jika ada hal buruk terjadi. Wanita itu langsung berdiri dan mengambil pedang kristal yang ia sandarkan di samping sebuah meja. Eur dengan sigap menggulung gambar-gambar buatan Kiarra dan memasukkannya dalam tas kulit. Eur segera mengikuti Ratu Vom tersebut keluar dari pintu ruangan. Namun, saat Eur akan keluar dari pintu ....


BLUARRR!


BRUKK!!


"Agh!" erang Eur dengan tubuh terlempar ke belakang saat lantai geladak terkena lontaran meriam sehingga menghancurkannya. Dengan susah payah, salah satu dayang Kiarra itu berdiri sembari menyingkirkan bongkahan kayu yang menimpa tubuhnya. "Hah, hah, Jenderal!" teriak Eur panik berlari ke tepi geladak.


Mata Eur terbelalak lebar mencari keberadaan sang Jenderal karena ia melihat Kiarra terlempar dari kapal dan sosoknya tak terlihat di hadapannya lagi.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2