
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Perjalanan yang cukup panjang meskipun pergantian bulan sampai tak terlihat karena kabut hijau menyelimuti kawasan itu, membuat Kiarra lega ketika melihat sebuah istana di depannya. Mata wanita itu menyipit saat melihat ada banyak warga berkumpul di sepanjang jalanan batu menuju bangunan megah tersebut. Mereka saling berbisik entah apa yang dibicarakan, tetapi Kiarra yakin jika para manusia setengah binatang itu membicarakannya.
"Aku akan mengadakan upacara pernikahan selama tujuh hari berturut-turut untuk memanjakanmu, Ratuku," ucap Raja Tur yang membuat Kiarra berwajah malas seketika.
Ia tak peduli jika harus dinikahi oleh pria berwujud seperti macan itu. Namun, tiba-tiba, kengerian muncul di pikirannya saat membayangkan harus melakukan malam pertama. Kiarra memeras otaknya seketika.
"Jangan lupa, Raja Tur. Aku sedang hamil," ucap Kiarra menegaskan sampai rahangnya mengeras.
"Aku tahu. Pernikahan ini sengaja dilakukan agar saat bayimu lahir, orang-orang berpikir jika itu adalah anakku. Ya, seorang anak manusia, bukan manusia setengah binatang," jawab sang Raja dengan kepala menoleh ke arah wanita cantik di belakangnya.
Kiarra diam sejenak. Logika dan hatinya seperti menyadari sesuatu.
Tunggu. Si macan ini mengatakan suatu hal yang masuk akal sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Kenapa yang diucapkannya terdengar seperti orang waras? Berbeda dengan yang dikatakan oleh putri dan pangeran? Siapa yang berbohong di sini? batin Kiarra mulai meragukan pengakuan para pemberontak Tur kala itu.
Hingga akhirnya, gerbang istana yang tertutup rapat terbuka lebar. Kiarra tegang melihat sekumpulan manusia setengah binatang menyambut kehadirannya. Kiarra mengamati mereka satu per satu di mana baginya, kumpulan orang-orang itu malah terlihat menggemaskan. Seperti berkunjung ke Taman Safari. Bedanya, hewan-hewan itu bisa berbicara dan melakukan pekerjaan seperti manusia. Kiarra tersenyum tipis.
"Apa yang lucu?" tanya sang Raja tiba-tiba.
"Oh. Aneh saja. Maaf, bukan menyinggung, tetapi ... sepertinya hanya aku manusia berwujud normal di sini. Maksudku ... manusia sesungguhnya," jawab Kiarra enteng. "Agh!" rintih wanita itu tiba-tiba, saat tubuh sang Raja berbalik. Seolah tak memiliki tulang karena sangat lentur. Mata Kiarra terbelalak lebar karena lehernya dicekik.
"Jangan merasa kau paling sempurna, Jenderal. Kami dulunya sepertimu, hingga Grr mengutuk kami. Semua karena Ark!" tegasnya geram yang membuat sosoknya semakin mengerikan.
"Jika kau pintar, kenapa saat itu percaya pada ucapan Ark untuk menebang pohon jembatan?" tanya Kiarra dengan wajah tegang saat merasa cekikan di lehernya sedikit melemah.
"Tipu daya Ark seperti menghipnotis. Dia pintar dan licik," jawabnya menatap Kiarra tajam.
"Ya, kau benar. Sayangnya, Ark sudah mati dipenggal olehku. Jadi, tunjukkan rasa hormatmu padaku, Raja Tur. Aku bisa saja melakukan hal yang sama padamu jika tak teringat akan calon bayiku," jawab Kiarra balas menatap tajam tak terlihat takut.
__ADS_1
Kening Tur berkerut. "Kau ... membunuh Ark? Jadi ... kabar itu benar adanya?"
"Heh, terkejut? Jadi, perlakukan aku dengan baik. Singkirkan tangan berbulumu itu sebelum aku membakarmu. Aku masih bisa melakukannya," ancam Kiarra.
Mata sang Raja menyipit. Ia lalu melepaskan cengkeramannya perlahan. Tubuhnya kembali menghadap ke depan dan langkah Ggg tak terhenti meski terdapat perdebatan di punggungnya.
"Aku beruntung, memiliki Ratu sekaligus penyihir. Latar belakangmu hampir sama dengan Ark. Bedanya, kau wanita dan aku menyukai wanita dengan segala keindahannya. Hehehe," kekehnya yang membuat Kiarra bergidik ngeri seketika.
Sabar ... sabar ..., ucapnya dalam hati menguatkan mental selama menjadi tawanan Tur.
Kiarra akhirnya tiba di bagian dalam istana. Ia terlihat takjub karena istana Tur lebih besar ketimbang Vom. Ikatan Kiarra dilepas, tetapi tangannya digenggam erat oleh sang Raja. Kiarra tak keberatan karena baginya, ia seperti memelihara seekor kucing besar yang bisa bicara. Ia merasa, Kerajaan Tur bagaikan kebun binatang karena ditumbuhi banyak tanaman di sekitar.
"Beri hormat kepada Ratu Kia!" seru seorang prajurit yang memimpin jalan di depan.
"Hidup Ratu Kia!" ucap orang-orang serempak.
Kiarra tersenyum seraya mengangkat salah satu tangan sebagai bentuk penerimaan salam. Ia lalu kembali berjalan mengikuti sang Raja yang membawanya ke suatu tempat karena menyusuri koridor panjang dan menaiki anak tangga sampai lantai kedua. Saat mereka tiba di sebuah pintu kayu yang besar, tiba-tiba saja pria setengah serigala seperti menghadang. Kening Kiarra berkerut.
NGEKK!
Para pelayan istana masuk ke ruangan dan menyalakan lilin yang menempel di dinding sehingga tempat itu menjadi terang.
"Oh!" kejut Kiarra dengan wajah sedikit berbinar karena melihat sebuah kamar yang baginya cukup unik karena bergaya kuno.
Raja Tur mempersilakan Kiarra masuk ke dalam. Wanita cantik itu melangkah perlahan terlihat gugup dan menjaga pijakan kakinya agar alas sepatu tak mengotori tempat itu.
"Mulai sekarang, kau gunakan kamar ini. Kau ratuku," ucap Raja Tur yang membuat Kiarra menyipitkan mata.
Tiba-tiba, kamar tersebut ditutup. Kiarra bergegas mendekat, tetapi lelaki serigala dengan cepat berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Kau beruntung. Kau satu-satunya tawanan yang dimanjakan oleh Raja. Jangan melakukan hal bodoh, atau kau akan menyesalinya," tegas lelaki itu dengan sorot mata tajam lalu menutup pintu.
Kiarra mematung di depan pintu yang tertutup. Kepala dan tubuhnya bergerak untuk memeriksa sekitar. Kiarra menyentuh benda-benda di ruangan itu yang meninggalkan banyak debu seperti dibiarkan begitu saja dalam waktu yang lama. Namun, herannya, tak ada hewan pengerat atau lainnya yang merusak barang-barang. Kiarra mengembuskan napas panjang karena ia tahu jika yang harus dilakukan adalah berbenah.
"Sial. Aku harus membereskan ini semua. Hempf, seandainya dayang-dayangku di sini, aku tinggal makan enak, dan tidur dengan nyenyak tanpa harus menyusahkan diri sendiri," gerutu Kiarra seraya melihat sekitar dengan wajah malas.
Wanita berambut panjang tersebut akhirnya menanggalkan pakaian tempurnya dan meletakkan di atas meja. Ia hanya menggunakan pakaian dalam pelapis karena tempat itu terasa pengap. Saat membuka jendela, Kiarra tertegun karena hanya warna hijau yang terlihat sehingga langit tertutupi kabut. Wanita itu tak mau ambil pusing dan segera merapikan.
Saat Kiarra ingin mencari peralatan untuk membersihkan, ia menemukan sebuah pintu kayu yang tertutupi tirai sebagian. Kiarra mendatangi pintu tersebut dengan hati-hati. Ia mengamati sekitar dan mendorongnya perlahan.
KREKKK ....
Kiarra melihat ada lukisan dinding di ruangan tersebut. Ia mengambil sebuah lilin di ruangan sebelumnya untuk menerangi ruangan temuannya.
"Bukankah ... itu ... pohon jembatan?" tanya Kiarra saat mendapati lukisan dinding berwarna biru yang memanjakan mata.
Mata Kiarra memindai sekitar karena penasaran dengan ruangan yang tak begitu besar, tetapi memiliki beberapa koleksi pada lemari-lemari kayu. Hingga keningnya berkerut saat mendapati beberapa wadah yang memancarkan cahaya dengan warna beragam. Tubuh Kiarra sampai membungkuk ketika mengamati satu per satu isi dari wadah kaca dengan serius.
"Bebaskan ... bebaskan ...."
"Oh!" kejut Kiarra saat ia mendengar suara berbisik dari dalam wadah-wadah kaca itu sampai melangkah mundur.
Wanita cantik itu tertegun dan menatap isi dari wajah kaca yang bergerak-gerak seperti memiliki nyawa meski menjaga jarak.
"Kia-rra ... bebaskan ... bebaskan ...," ucap benda dari dalam toples yang membuat mata sang Jenderal terbelalak lebar.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE