
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Wilayah perbatasan Tur dengan Yak. Bagian Barat Laut, Laut Es Aim.
Wilayah es dengan kabut tebal di langit mulai menampilkan warna lain. Tepat saat bulan ungu siap berganti dengan bulan merah, para prajurit telah bersiap di posisi masing-masing. Mereka yang telah mengantongi bekal dari para mata-mata Tur tentang pergerakan penduduk dari empat kerajaan, siap untuk melakukan titah sang Raja.
Mata orang-orang itu terfokus pada pesisir pantai yang ditutupi oleh tumpukan es. Wilayah tersebut disebut sebagai salju abadi karena es menguasai daratan. Hanya penduduk Yak yang mampu bertahan dengan hawa dingin di kawasan itu. Namun, kini orang-orang Tur yang memiliki wujud setengah binatang, mampu beradaptasi dengan cuaca ekstrim di wilayah tersebut.
Bahkan, mereka bisa merasakan jika udara di tempat itu sangat sejuk dan segar, tak seperti di kerajaannya berkabut hijau. Sayangnya, mereka tak bisa berlama-lama karena akan membeku.
"Bertahan. Mereka akan muncul sebentar lagi. Mata-mata kita sudah mengawasi hingga 10 bulan ungu berganti. Orang-orang Yak menggunakan jalur yang tak pernah digunakan oleh kita karena wilayah beku. Mereka membawa hasil pertukaran dagang dengan Vom di wilayah ini untuk menghindari Tur. Kita akan rampas dan menangkap orang-orang itu. Mereka sudah berani mengolok-olok kita. Sekarang waktunya untuk membalas dendam," ujar Kapten Kee selaku pemimpin salah satu kapal perang Kerajaan Tur.
Kumpulan manusia setengah binatang itu mengangguk paham. Mereka bersiap menyerang, menunggu kedatangan para manusia berkulit pucat dan berambut putih tersebut. Namun, kali ini, sang Kapten dan awak kapalnya meninggalkan kapal di luar wilayah es. Pergerakan bongkahan es di wilayah laut tidak stabil dan bisa menghancurkan badan kapal akibat benturan. Arus laut juga sangat liar di bawah sana.
Kapten Kee memilih untuk mendekati tepian tempat penyergapan melalui jalur darat. Namun, langit yang tadinya masih memancarkan warna keunguan karena pantulan bulan ungu, perlahan semakin memerah. Bulan merah mulai menguasai langit. Lama mereka menunggu hingga tubuh mulai menggigil.
Meskipun tubuh mereka sudah dilindungi oleh bulu yang tebal, tetapi orang-orang tersebut belum terbiasa melawan cuaca dingin. Terlebih, angin dingin mulai berembus dan membuat mereka mematung.
"Kapten! Ini sudah terlalu lama. Aku bahkan tak bisa menggerakkan jari tangan. Dia seperti membeku dan menyatu dengan tongkat kapakku ini," ucap salah seorang prajurit dengan tubuh manusia setengah kucing.
"Diam! Ucapanmu akan membuat prajurit lain yang mendengar ikut kedinginan. Anggap saja ini penantian setimpal dengan kutukan yang kita dapatkan seumur hidup!" pekik sang Kapten melotot.
Para prajurit yang bersembunyi di balik bongkahan batu besar sekitar pantai, berusaha keras menahan hawa dingin yang datang dari arah bukit dan laut. Angin hari itu sangat kencang dan terus berembus. Para prajurit mulai tak tahan dan beberapa dari mereka seperti orang mengantuk. Benar saja, satu per satu, para manusia setengah binatang itu tertidur dengan senjata masih dalam genggaman seraya berjongkok.
__ADS_1
Namun, sang Kapten yang memiliki penciuman tajam karena ia manusia setengah serigala berbulu putih, mulai merasakan kehadiran sosok lain di wilayah tersebut. Hidungnya bergerak, mengikuti angin yang membawa aroma itu. Saat ia mendongak, tiba-tiba ....
"Serangan!" teriaknya dengan mata terbelalak lebar ketika melihat benda besar yang mampu terbang di langit.
Para prajurit yang masih mampu bertahan, langsung mengarahkan senjata ke atas. Namun, sebagian tubuh yang membeku, membuat orang-orang itu ambruk.
"Tembak! Apa yang kalian lakukan!" teriak Kapten Kee marah karena para prajuritnya gemetaran.
"Ta-tangan kami membeku, Ka-Kapten. Ka-kami tak bisa menarik anak panah!" jawab seorang prajurit dengan tubuh setengah musang.
Banyaknya prajurit Tur di wilayah itu di mana tadinya mereka siap untuk menyergap, ternyata tak mampu mengalahkan kekuatan alam. Senyum Rak terkembang saat ia melihat para prajurit musuh yang berada di bawah sana tak bisa berkutik karena kedinginan.
"Jatuhkan," titah Rak yang menaiki sebuah balon udara hasil ide Kenta.
Kenta memerintahkan kepada orang-orang yang dia percaya untuk membuat benda tersebut sesuai permintaan Kiarra ketika mereka bertemu secara ajaib dalam telur kristal. Kenta adalah salah seorang kolektor kendaraan unik dari berbagai zaman sewaktu hidup di Bumi. Balon terbang adalah salah satu transportasi yang ia gemari termasuk jenis kendaraan lain. Nantinya, kendaraan-kendaraan itu akan diterapkan di Negeri Kaa seperti harapan Kiarra.
"Awas! Bola es!" teriak Kapten Kee saat melihat orang-orang Yak melempari mereka dengan bola-bola es yang bisa membekukan tubuh.
Prajurit Yak menjatuhkan bola-bola tersebut dari atas benda terbang yang tak dikenali musuh. Para manusia setengah bintang itu panik. Tubuh mereka yang kedinginan dan nyaris membeku, kini harus melawan serangan bola es. Senyum Rak dan orang-orangnya terkembang.
Baru kali ini, prajurit Tur tak berdaya. Mereka hanya bisa lari, tak bisa melawan balik karena udara dingin yang mencekam. Praktis, pasukan Kerjaan Tur kalah telak dengan mudah.
"Tangkap dia! Jangan biarkan satu pun prajurit Tur lolos dari tempat ini!" teriak Rak saat mendapati kapten pasukan musuh melarikan diri dari area pertempuran.
Kapten Kee berusaha keras lari sekencang-kencangnya. Sosoknya setengah serigala, membuatnya cukup lincah bergerak. Ia menerobos salju yang menutupi daratan, menuju ke wilayah di mana pasukan bantuan siap untuk menjemputnya.
__ADS_1
"Auuuu!" Kapten Kee melolong seraya terus berlari dengan dua tangan dan kakinya.
Ternyata, lolongan itu didengar oleh kapten pasukan lain yang menunggu di wilayah Tur. Manusia setengah beruang putih tersebut melihat Kapten Kee berlari kencang seperti kabur dari sesuatu.
"Hah, hah! Kapten Mos! Pergi dari sini! Ini je—"
KREKK!
"Oh!" kejut sang kapten beruang putih ketika melihat raga Kapten Kee membeku saat berlari.
Tubuhnya terkena lemparan bola es dan menjadikan pria itu membeku. Mata Kapten Mos membulat penuh saat mendapati sebuah benda terbang bergerak cepat ke arahnya. Terlihat orang-orang Yak berada di sebuah kotak kayu, siap untuk melemparkan bola-bola es ke arah mereka.
"Pergi dari sini!" teriak Kapten Mos panik.
Seketika, pasukan yang berjaga di dekat perbatasan langsung berlari menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan Kapten Kee dan pasukannya yang terjebak di wilayah musuh. Rak yang melihat kabut hijau berada di atas hutan tempat pasukan bantuan Tur, memerintahkan prajuritnya untuk mundur. Rak ditugaskan oleh Kenta hanya untuk melumpuhkan pasukan Tur di pantai, tidak boleh memasuki wilayah Tur. Rak menuruti perintah kekasihnya dan segera terbang menjauh.
"HORGHH!"
"Rak! Pasukan putih mulai mengangkut dan membawa pasukan Tur!" ucap salah satu pria yang bertugas untuk meneropong dari atas balon udara berwarna putih seperti kondisi wilayah tersebut.
"Bagus. Kita akan bertemu dengan mereka di istana," ucap Rak yang ikut melihat sekumpulan hewan seperti bison berukuran besar, menarik sebuah peti besar berisi para prajurit Tur yang membeku.
Orang-orang Yak yang ditugaskan untuk mengumpulkan prajurit musuh, dengan sigap keluar dari persembunyian di balik bukit. Tur tak tahu jika sebenarnya mereka dijebak. Pedagang Yak sengaja dimata-matai agar Tur datang menyergap mereka. Sayang, Tur tak secerdik Kenta dan Kiarra yang telah merencanakan hal ini.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE