
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Rui, yang mendapat kabar dari dua saudarinya—Lian dan Mei—tentang kebangkitan Kiarra, bergegas pulang ke Jepang untuk membuktikan hal tersebut. Sedangkan Aiko dan Rein, diterbangkan ke Hokkaido seperti saran dari Jason. Pagi itu, Regen kembali ke kediaman orang tua Jasper untuk mengambil mobil Michelle di mana kunci masih terpasang. Sedangkan Kim Arjuna, siang itu mendatangi kediaman orang tua Jasper di mana Tuan Matsumoto juga ikut hadir.
Pria tua itu mengaku tak berada di rumah karena ada urusan di Tokyo. Arjuna datang bersama Naomi, Sun dan Yusuke dengan alasan membahas bisnis karena Jasper pernah menawarkan diri untuk ikut berinvestasi. Tentu saja, Tuan Matsumoto tak ingin kehilangan kesempatan itu. Namun, saat lelaki tersebut membuka pintu rumahnya, pemandangan horor yang dilihat oleh para tamu dan tuan rumah.
"Apa yang terjadi?" tanya Naomi dengan mata melebar saat melihat rumah rekan bisnisnya berantakan dan terlihat noda darah yang mulai mengering di lantai.
Tuan Matsumoto panik. Ia berteriak memanggil Jasper dengan mengikuti jejak darah di lantai. Wajah keempat mantan mafia tersebut tegang. Mereka sungguh tak tahu dengan apa yang terjadi. Namun, empat orang itu sudah bisa menyimpulkan hasil akhirnya.
Benar saja, "Hargh! Jasper! Jasper!" teriak Tuan Matsumoto saat ia berdiri di depan pintu kamar sang anak.
Arjuna, Naomi, Yusuke dan Sun menghindari barang-barang yang berserakan di lantai serta noda darah agar tak merusak TKP. Seketika, mata mereka terbelalak dan tubuh mematung, saat melihat Jasper tewas bersimbah darah dengan kondisi mengenaskan. Naomi sampai membungkam mulutnya saat melihat jasad Kiarra memeluk Jasper dengan tangan menusuk leher menggunakan pisau.
"Kiarra? Benarkah itu dia?" tanya Sun sampai matanya terbelalak lebar.
"Hah, hah, tidak mungkin! Kiarra sudah mati! Orang mati tidak bisa hidup lagi!" teriak Tuan Matsumoto dengan wajah memerah penuh amarah. Saat pria tua itu ingin mendekati jasad putranya, Yusuke dengan sigap memegangi. Praktis, hal itu membuat si pria pemerintah semakin murka. "Jangan menghalangiku!"
"Biarkan polisi yang menyelidiki kasus ini. Anda akan menghancurkan barang bukti!" seru Yusuke menegaskan. "Juna! Bawa Tuan Matsumoto pergi," pinta kawan mantan yakuza-nya itu.
Arjuna mengangguk paham dan memaksa rekan bisnisnya untuk pergi. Sun segera menghubungi polisi atas temuan mereka di tempat itu. Pihak kepolisian bergegas datang untuk memastikan laporan pembunuhan tersebut. Namun, Tuan Matsumoto yang diliputi duka mendalam, enggan dibawa pergi.
"Kalian sudah merencanakan ini semua! Kalian sudah bersekongkol untuk menjebak dan membunuh putraku Jasper!" teriak Matsumoto seraya melepaskan cengkraman tangan Arjuna di tubuh rekannya.
"Jangan menambah kekacauan ini dengan tuduhanmu, Tuan Matsumoto. Jika ucapanmu tak terbukti, dukamu akan semakin pelik. Tak hanya kehilangan Jasper, tapi semuanya," tegas Naomi.
Akan tetapi, pria tua itu malah tertawa terbahak. Seolah peringatan Naomi lelucon baginya. Mata para mafia itu melotot tajam seketika.
"Jangan melakukan hal bodoh, Tuan Matsumoto," tegas Sun memperingatkan.
__ADS_1
"Hah, kalian pikir aku tak tahu rencana kalian, ha? Meskipun mengaku telah menjadi mantan mafia, tetapi kalian tetaplah penjahat. Kalian menggunakan jasad Kiarra untuk membunuh Jasper! Kalian menjebaknya di rumah ini karena tahu, jika hunian tak diizinkan dipasang kamera pengawas! Dengan tak adanya CCTV, maka kalian bebas bergerak semaunya. Namun, semua itu salah. Rumah ini memiliki kamera pengintai dan kalian semua akan diadili! Hahahaha!"
"Aku sudah melihat rekaman dan memang Kiarra pembunuhnya. Rekaman kejadian berikut percakapan mereka tak seperti yang kau katakan, Suamiku. Selain itu, kau sepertinya lupa dengan pembicaraanmu bersama Jasper saat merencanakan kebusukan lainnya," ucap seorang wanita tua yang muncul di depan pintu kamar Jasper didampingi beberapa pria berjas dan polisi.
Mata Matsumoto melebar. Ia tertegun melihat istrinya malah memihak lawan. Pria itu tampak tercengang dan panik.
"Kau pasti dihasut mereka! Berapa banyak uang yang diberikan para mafia itu hingga kau mengkhianati keluarga kita!" teriak Matsumoto dengan napas memburu.
"Kau membuat anak kita menjadi penjahat, Sayang. Kau mengubah Jasper menjadi alat keegoisanmu. Kau merusak perdamaian dunia dan keharmonisan keluarga kita. Lihatlah hasil didikkanmu. Jasper tewas mengenaskan. Seharusnya kau yang mati, bukan anakku!" teriak wanita beruban itu dengan mata berlinang mengungkapkan kesedihannya.
Mata Matsumoto melotot, wajahnya tegang dan kedua tangannya mengepal.
"Kalau begitu, susul anakmu di neraka!"
Praktis, mata semua orang melebar melihat Matsumoto ternyata menyembunyikan pistol di balik jasnya. Saat ia mengarahkan moncong senjata api ke tubuh sang istri, tiba-tiba ....
JLEB!
"Oh my God!"
"Di-dia hidup!" pekik salah seorang petugas polisi panik yang membuat mata semua orang tertuju pada jasad Kiarra.
"Jangan berisik. Selesaikan semua di pengadilan dunia. Di sini, hanya aku yang bersalah. Dendamku pada Jasper sudah terbalas. Dia sudah mati di tanganku," ucap Kiarra yang membuat semua orang bergidik ngeri seketika.
Kiarra mengambil salah satu pisau di tubuh Jasper dan berhasil mengenai salah satu tangan Tuan Matsumoto. Pisau yang sama untuk membunuh Jasper. Pistol yang digenggam pria tua itu terjatuh karena tangannya terluka. Tuan Matsumoto yang mematung meski pisau tersebut masih tertancap di punggung tangannya, membuat Arjuna memiliki peluang untuk menangkap sang rekan bisnis. Sun dan Yusuke dengan sigap membantu untuk membawa pria tua tersebut pergi dari ruangan.
Matsumoto akhirnya dibawa oleh polisi bersama sang istri yang akan memberikan banyak pengakuan. Bukti-bukti kejahatan Jasper yang sudah diserahkan oleh Chiko kepada sang Presiden segera diproses. Semua orang sudah bisa menebak akhir hidup Matsumoto meskipun Jasper jadi lolos dari hukuman karena kematian telah merenggut. Meski demikian, para penyidik dibuat bingung karena mereka ngeri dengan sosok Kiarra. Bahkan, Naomi saja tak berani mendekat.
"Kiarra?"
__ADS_1
Panggilan seorang wanita membuat mata semua orang kini terfokus padanya. Kiarra diam saja meski hatinya bersedih. Rasanya, air mata menetes dan dada sesak karena menahan isak tangis melihat kedatangan sang ibu.
"Nyonya Rui, awas. Hati-hati dengan barang bukti. Jangan merusaknya," ucap Naomi memperingatkan saat ibu Kiarra sedang melangkah untuk mendekati sang anak.
Rui mengangguk pelan dan berjalan dengan langkah ragu mendekati jasad Kiarra. Mata Rui dan Kiarra saling bertatapan. Kiarra tak ingin melihat ibunya menyaksikan kebiadabannya, tetapi sudah terlambat. Rui berjongkok dan mengelus kepala sang anak yang memalingkan wajah darinya.
"Kau marah pada ibu?" tanya Rui dengan wajah sendu. Kiarra menggeleng. "Apa kau merindukan ibu?" Kiarra mengangguk kali ini. Rui meneteskan air mata. Ia terlihat berusaha tegar meski harus menenangkan hatinya yang berkecamuk. "Kau yang membunuh Jasper?" Kiarra kembali mengangguk. Rui mengelus rambut sang anak yang kusam dan terasa kaku seperti sapu. "Apa kau sudah bahagia sekarang?" Kiarra menoleh dan menatap sang ibu yang tersenyum padanya.
"Aku minta maaf," ucapnya terdengar sedih.
Rui tersenyum lalu mengecup kening anaknya. Naomi dan lainnya terdiam membiarkan hal ini terjadi.
"Ibu tak pernah menyalahkanmu, malah selama ini, ibu merasa sangat berdosa padamu. Ibu tahu kau tertekan akan segala permintaan keluarga semenjak Era Evolusi. Ibu bisa melihat perubahanmu yang semakin menjauh dari keluarga. Hanya saja, ibu terlambat menyadari. Jika saja ibu lebih peka, kau tak perlu pergi selamanya dengan cara yang tragis," ucap Rui dengan tetesan air mata.
Kiarra tersenyum. "Kita semua melakukan kesalahan, Bu. Ara juga sadar akan keegoisan yang selama ini membentuk kepribadianku. Oleh karena itu, tolong jaga Rein dan Chiko untukku. Jaga Aiko dan saudara serta saudariku lainnya. Aku percaya kita semua akan bertemu lagi di alam sana," ujar Kiarra yang membuat Rui menangis.
"Ara!" panggil Michelle dan lainnya yang datang usai mendengar kabar pembunuhan Jasper oleh saudari mereka.
Rui menyingkir dan Kiarra memandangi saudara serta saudarinya.
"Jaga kebersamaan keluarga kita! Jangan biarkan siapa pun menghancurkannya! Aku menyayangi kalian semua!" seru Kiarra yang membuat semua orang melebarkan mata. "Selamat tinggal."
Sontak, semua orang tertegun. Kiarra tak bergerak lagi. Pandangannya tertunduk dengan posisi masih sama seperti saat ia ditemukan. Rui dan semua orang yang menyayangi Kiarra menangis.
Rui memeluk sang anak untuk terakhir kalinya. Naomi dan lainnya diminta untuk pergi oleh pihak kepolisian. Rui terlihat masih ingin menemani jasad sang anak, tetapi sudah tak diizinkan lagi. Mereka tak tahu, jika sebenarnya Kiarra masih terjaga. Ia hanya berpura-pura sudah pergi untuk selamanya. Kiarra masih menunggu sang Naga menjemputnya saat bulan bersinar.
***
__ADS_1
masih tips koin melimpah dari mak sis💋 makasih ya mak, lele padamu❤️ selamat menjalankan ibadah puasa🙏 lele udh bolong 3 uyy😩