Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Memboyong Ilmu Bumi ke Negeri Kaa*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra lalu melanjutkan presentasinya karena ia akan memperkenalkan empat hasil karya dari Vom. Semua orang kembali serius ketika Pop menyibakkan kain penutup gerobak yang menyembunyikan isinya.


"Woah, apa itu?" tanya Tej penasaran saat Pop mengambil benda tersebut dari atas gerobak lalu diletakkan di lantai panggung.


Kening saudara saudari Kiarra berkerut. Mereka saling memandang terlihat ragu. Kiarra tersenyum.


"Ini adalah rel kereta api," jawabnya yang membuat para manusia dari Bumi melongo, kecuali tim Kiarra. "Eur, tolong," pinta Kiarra. Suami pertamanya itu lalu membuka kain penutup gerobak kayu miliknya.


Pop dan Eur terlihat sibuk memasang sesuatu dibantu dua suami Kiarra lainnya. Mereka membuat sebuah jalur di atas panggung. Sebuah rel kereta api lurus terbuat dari besi dan kombinasi kayu. Di atas rel terdapat dua buah benda seperti mobil tanpa atap karena beroda empat. Dua mobil besi itu berada di depan dan belakang gerbong. Bagian tengah mobil bisa diduduki dua orang dan ada pedal kayuh. Rel itu ditumpangi dua buah gerbong terbuka yang saling terkait. Mobil yang berada di belakang memiliki tambahan sebuah papan besi berlapis karet layaknya pendorong di bagian bemper.


"Kau berhasil membuat mesin listrik atau semacamnya?" pekik Kenta melotot, tetapi Kiarra menggeleng.


"Ingat bagaimana kereta zaman dulu bekerja sebelum tercipta mesin bermotor?" tanya Kiarra, tetapi saudara saudarinya menggeleng. Semua orang makin dibuat penasaran. "Ini adalah ide dari Sensei," imbuhnya. Semua orang ber-Oh setelah mengetahui jika Tora pencetusnya. "Ayah mengatakan untuk pendistribusian barang selama ini, Negeri Kaa menggunakan kapal dan mungkin kedepannya adalah kapal balon udara," ujar Kiarra seraya menatap Owe. Orang-orang Tur mengangguk membenarkan. "Namun, jika lokasi itu sedikit sulit dijangkau, akan sangat merepotkan jika harus menggunakan balon udara karena ukurannya yang besar dan tak ada tempat untuk pendaratan."


Kembali, Owe dibuat diam memikirkan sisi negative dari benda terbangnya tersebut.


"Hem, benar juga," sahut Aiko yang ikut menyimak presentasi seraya melihat kapal balon udara ciptaan Tur.


"Membutuhkan banyak waktu, tenaga dan bahan untuk membuat benda itu, Ara. Jarak antar kerajaan di Negeri Kaa sangat jauh!" seru Chiko.


"Ya, itu benar. Bisa bermil-mil dan butuh tahunan untuk menyambungkan rel ke semua wilayah," sahut Azumi.


"Aku tak menggunakan ini untuk ke semua kerajaan. Bukankah kompetisi ini tentang produk ciptaan di kerajaan masing-masing? Jadi, hal ini baru aku terapkan untuk Vom dan calon desa baru Harmoni. Desa Lon dulu," jawabnya tenang.


"Kau akan membangun rel kereta api sampai ke desa itu?" tanya Ryota memekik. Kiarra mengangguk pelan. Lon terdiam.


"Semua ide ini aku dapatkan dari penduduk Desa Gul, tempat Lon dulu tinggal," jawabnya yang membuat Lon tertunduk. "Desa Harmoni nantinya akan ditinggali oleh penduduk Gul lagi, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Lebih modern," imbuhnya, "kami sedang dalam tahap pengerjaan untuk membuat rel tersebut. Semua barang yang didistribusikan ke Desa Harmoni dan sebaliknya, akan lebih cepat sampai tanpa ada halangan karena rel kereta, memiliki jalurnya sendiri."


"Ya, itu benar," sahut Eur. Semua orang menatap suami Kiarra saksama. Kiarra mempersilakan pria tampan itu meneruskan presentasinya. Eur tersenyum. "Selama ini, besi yang kita tambang digunakan untuk berperang, membuat senjata, dan kendaraan tempur. Kini, Negeri Kaa telah damai. Jadi, kami mengubah fungsi besi-besi tersebut menjadi hal yang lebih bermanfaat. Kami telah menghitung dengan cermat berkali-kali tentang lamanya pengerjaan sampai bisa terwujud. Hanya dalam waktu 120 bulan ungu berganti, jalur kereta ke Desa Harmoni akan tercipta sembari menunggu pembangunan kembali desa tersebut untuk layak ditempati."


"Ka-kalian akan membangun kembali desaku?" tanya Lon dengan suara bergetar.


"Tentu saja. Tempat itu penuh kenangan, Lon," jawab Kiarra yang membuat Lon terharu.

__ADS_1


"Mobil kayuh yang kami buat khusus untuk kereta jenis lori ini ada dua. Bagian depan sebagai penarik gerbong, dan bagian belakang sebagai pendorong gerbong. Kami akan terus mengupayakan agar sistem penarikan gerbong yang berisi banyak muatan bisa digantikan dengan hewan atau metode lain. Namun, untuk sementara, kinerja manusia sangat diperlukan untuk tahap pertama. Sudah banyak orang yang mendaftar untuk pekerjaan baru ini."


"Woah," puji orang-orang dengan tepuk tangan.


Pop dan Eur lalu mempraktikkan bagaimana mereka akan melakukan hal tersebut nantinya. Kiarra bahkan ikut naik ke dalam gerbongt bersama Fuu dan Ben. Eur dan Pop tertawa karena bagi mereka hal ini sangat menarik. Para penonton mulai berbisik membicarakan ide sang Ratu dari Vom.


"Jadi ... Vom tak lagi membuat senjata?" tanya Kol memastikan.


"Tentu saja masih, tetapi hanya sebagai pelengkap. Para prajurit kami telah dilatih dengan baik oleh Sensei agar menjadi pria kuat dan bisa melindungi kerajaan. Mereka bukan disiapkan untuk berperang, tetapi lebih sebagai penjaga keamanan," ucap Kiarra seraya berdiri dibantu oleh dua suaminya untuk keluar dari gerbong.


"Menjaga keamanan dari apa?" tanya Boh bingung.


"Dari hewan buas, para perampok, bandit, pencuri, atau apa pun. Orang-orang seperti itu masih ada di Negeri Kaa dan kita harus siap untuk melindungi warga dari segala jenis ancaman," tegasnya. Para pemimpin kerajaan mengangguk setuju.


"Aku rasa, Zen juga harus mulai memikirkan bagaimana mengolah besi-besi yang ada untuk digunakan sebagai benda bermanfaat selain perlengkapan perang," tegas Noh.


"Ya, ya, itu benar," sahut Kee sependapat. Kiarra tersenyum karena idenya untuk mengalihfungsikan senjata berhasil dan membuat olahan lain dari bahan besi demi keperluan yang lebih bermanfaat.


"Itu saja dariku dan ... terima kasih," ucap Kiarra yang mendapatkan sambutan tepuk tangan meriah.


"Selamat bulan ungu. Aku Raja Bum dari Ark dan ini timku," ucapnya sungkan.


"Bicara yang lantang! Kau ini pria atau bukan!" sindir Noh dengan wajah garang. Bum mengembuskan napas panjang dan berdiri tegap dengan dada membusung. "Baik, langsung saja!"


Ryota dengan sigap menarik sebuah kain berwarna merah sebagai penutup benda yang tersembunyi di dalamnya.


SRETTT!


"Woah! Rumah kaca!" pekik Azumi sampai matanya melebar.


"Ya, itu benar. Maaf jika nanti ucapanku menyinggung Anda, Ratu Ara," ucap Bum yang membuat Kiarra tertegun.


"Awas saja jika membuatku membencimu. Akan kulepaskan satu monster iblis ke kerajaan Ark," ancam Kiarra yang membuat mata semua orang melotot tajam padanya. "Hehehe, bercanda. Ayo, lanjutkan," imbuhnya dengan senyum lebar.


Bum sempat dibuat panik akan ancaman Ratu Vom tadi. Orang-orang geleng-geleng kepala.


"Baik. Tadi Anda menjelaskan tentang penggunaan kristal sebagai pantulan cahaya. Namun, di Ark kami sudah hampir tak menggunakan api sebagai penerang. Kami lebih memilih untuk memanfaatkan hal yang ada dari Negeri Kaa itu sendiri," ucapnya diakhiri senyuman.

__ADS_1


"Aku tak paham," ujar Cok si manusia tikus tanah bingung. Ryota lalu berbisik pada sang Raja dan Bum mengangguk pelan.


"Maaf, akan kujelaskan. Jadi begini," sahutnya seraya berdiri di atas benda berbentuk segitiga layaknya piramida. "Kalian tahu jika bangunan ini dibuat dari kaca, bukan?" Semua orang mengangguk sependapat. "Kami merekatkan tiap bagian dengan getah yang biasa digunakan untuk perekat. Getah tersebut ternyata juga bisa merekatkan kaca," imbuhnya. Beberapa orang yang mengetahui hal tersebut mengangguk membenarkan. "Cahaya dari bulan ungu dan merah menembus kaca. Bangunan-bangunan di Ark yang rusak akibat perang terlahir, kini diganti menjadi setengah kaca dan batu merah. Bagian atap kami sengaja menggunakan kaca agar cahaya bulan ungu dan merah menembus sebagai penerang ruangan."


"Ahhh, aku mengerti sekarang," sahut Pyu.


"Bagaimana jika diintip saat sedang mandi atau bercinta dari atas?" tanya Kenta polos, tetapi membuat orang-orang tertawa. Para wanita tersipu malu.


"Kami sudah memikirkan hal tersebut. Jadi, kami membuat lapisan ketika penghuni rumah menganggap cahaya yang masuk terlalu menyilaukan dengan kain layaknya gorden. Atau merasa jika dirinya terusik dan ingin menutup diri," jawab Ryota.


"Ohhh," jawab semua orang saat Ryota mempraktikkan pada bangunan segitiga yang muat dimasuki satu orang tersebut. Bangunan tersebut adalah contoh dari sekian banyak bangunan di Ark yang telah menerapkannya.


Ryota masuk ke dalam dan sosoknya terlihat dari luar. Ia lalu menarik tali dengan gulungan tampak dari luar pada bagian dalam ujung atap. Seketika, kain-kain berwarna merah yang dikombinasikan dengan warna lain menutupi bagian dalam rumah kaca tersebut sehingga tak terlihat dari luar. Ryota kembali menunjukkan diri usai mempresentasikan karyanya.


"Oke, tak terlalu buruk. Lalu, lainnya apa?" tanya Rein penasaran.


Kapten Bum mempersilahkan Ryota untuk mengambil posisinya sebagai pembicara. Ryota geleng-geleng kepala karena rajanya masih gugup melakukan presentasi. Kiarra tersenyum tipis.


"Kami tak membuat barang-barang yang membutuhkan kerumitan tertentu. Jadi, kami memilih untuk membuat barang-barang yang bisa digunakan oleh masyarakat dalam keseharian. Contohnya seperti alat untuk memangkas tanaman panen," ujarnya seraya menunjuk sebuah benda mirip alat pemotong rumput, tetapi berbentuk sederhana karena terbuat dari campuran kayu dan besi. "Lihatlah, ada pisau-pisau tajam yang secara otomatis bergerak untuk melakukan pemangkasan ketika didorong oleh Kapten Kee," tandasnya.


Orang-orang melihat ada pisau bergerak dengan cukup cepat ke kanan dan ke kiri secara bersamaan di bagian depan alat pendorong. Kee mengambil contoh dengan memotong semak di luar hutan kabut putih. Semua orang kembali dibuat kagum ketika benda berbentuk seperti troli belanja itu bekerja dengan cepat. Daun dari semak yang dipangkas masuk ke dalam sebuah karung di bagian tengah rangka yang perlahan membesar jika sudah terisi penuh.


"Akan memudahkan bagi para peternak saat harus mencari rumput untuk hewan ternak," imbuh Ryota.


"Ya, itu benar. Banyak hewan predator akan memangsa jika melepaskan hewan ternak di alam liar luar benteng. Cukup para pencari makan hewan ternak yang keluar dengan alat itu," sahut Cok si manusia tikus tanah yang diangguki beberapa orang karena sependapat.


"Apakah bisa digunakan untuk jenis tanaman lainnya?" tanya Bit si manusia kelinci penasaran.


"Tentu saja. Selama tanaman itu tak memiliki batang yang keras seperti pohon pasti bisa. Jika gagal, maka bilah pisau akan patah," jawab Ryota tenang. Semua orang mengangguk mengerti.


"Selain itu, apa ada lagi?" tanya Kapten Mun merasa tidak puas dengan presentasi dari Ark.


"Hehe, kami menyimpan yang terbaik di bagian akhir. Hanya saja, ini replika. Aslinya, kalian bisa melihatnya langsung ketika berkunjung ke Ark," jawab Ryota yang membuat semua orang makin penasaran.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2