
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra memilih untuk menyembunyikan jati diri ayah dari bayi cantiknya. Semua orang mengerubungi bayi dengan kulit putih bersinar, rambut biru muda dan dua warna mata seperti bulan di Negeri Kaa. Bayi cantik itu terlihat senang dan nyaman saat tubuh menggemaskannya dielus serta diajak bercanda. Orang-orang percaya jika bayi itu adalah reinkarnasi dari penyihir Ark dan akan menjadi penggantinya.
"Wah, keponakanku sungguh luar biasa! Jadi, siapa namanya?" tanya Kenta yang membuat Kiarra terdiam.
"Oh, soal nama ...."
BRUKK!
"Jenderal!"
"Ratu!"
"Ara!"
Semua orang terkejut ketika tiba-tiba saja wanita cantik itu ambruk saat sedang menjawab pertanyaan Kenta. Beruntung, ia roboh dalam posisi seperti orang berlutut. Kenta sempat menangkap tubuhnya, tetapi karena tak menduga gerakan itu, ia juga ikut jatuh bersama sang adik.
"Kau kenapa? Oh, kau dingin. Kau terlihat pucat," tanya Kenta menatap Kiarra yang berwajah sayu dan matanya seperti orang mengantuk.
"Aku ... aku lelah sekali. Mungkin, karena aku belum pulih usai melahirkan dalam telur, begitu keluar dari cangkang, aku dan para peri menyegel See di hutan kabut putih," jawab Kiarra lemah.
"Hiss, dasar gila," keluh Kenta, tetapi ia kagum akan kemampuan sang adik yang tak menyerah meski kondisinya lemah.
"Ara, Ara, makan buah ini. Aku pulih dengan cepat saat memakan buah yang disebut Ken-ta adalah ceri," ujar Lon seraya menyodorkan beberapa buah dalam dua tangannya yang menengadah.
"Oh, terima kasih, Lon," jawab Kiarra yang dibaringkan di atas rumput dengan tubuh Kenta sebagai sandaran.
Lon menyuapi Kiarra dengan penuh perhatian. Semua orang terlihat mencemaskan keadaan Ratu Vom tersebut. Saat Dra melihat sekitar, ia menyadari jika Boh tak ada.
"Oh, Boh! Kau benar, Dra! Ia masih berada di hutan kabut putih! Aku diungsikan oleh para peri karena Raja Tur datang! Ia tahu jika aku telah melahirkan. Boh dalam bahaya!" pekik Kiarra langsung duduk saat Dra menanyai keberadaan kawan penyihirnya itu.
Sontak, kabar dari Kiarra membuat panik semua orang. Namun, tiba-tiba saja, para kapten pasukan dari empat kerajaan bersiap, berikut dengan para kesatrianya. Kiarra mengerutkan kening saat mereka berkumpul dan saling berbisik untuk melakukan sesuatu.
"Jangan katakan kalian ingin menyerang Raja gila itu," tanya Kiarra yang bisa menduga dari gelagat sekumpulan pria di depannya.
"Ini kesempatan bagus, Jenderal. Raja Tur meninggalkan istana. Ia berada di luar hutan kabut putih. Kita akan menyerangnya dari segala penjuru. Air, darat dan udara. Kita pasti bisa!" ujar Kapten Kee—manusia setengah serigala putih.
"Benar. Pasukan Tur tersebar di empat kerajaan dan masih bertahan di sana untuk menjaga dari serangan susulan. Kita harus hentikan kegilaannya sekarang juga!" sahut Tej tegas.
"Benar!" sahut semua kesatria.
__ADS_1
Mereka bersahut-sahutan mendukung aksi para kapten pasukan untuk membalas sang Raja. Kenta menatap Kiarra tajam dan akhirnya, wanita yang baru saja pulih itu mengangguk siap.
"Kita tunjukkan pada Tur saat lima bangsa bersatu untuk mewujudkan impian Naga demi kedamaian Negeri Kaa!"
"Yeah! Hidup Naga!" jawab semua orang serempak.
Semua orang bergegas mempersiapkan armada berupa kapal balon udara. Para sipil yang tak ikut dalam berperang karena harus melindungi anak-anak dan orang tua, mengumpulkan persenjataan, obat-obatan dan persediaan ke dalam kapal. Kiarra membagi beberapa kelompok untuk penyerangan. Ia menunjuk beberapa orang yang dipercaya untuk menjadi kapten pasukan, dan sisanya sebagai prajurit dan tim penyelamat. Hanya saja, untuk tiba di hutan kabut putih jika menggunakan kapal balon udara akan membutuhkan waktu hingga bulan berganti.
"Percayakan bayi Anda kepada kami, Ratu Kiarra. Dia berada di rumah Naga. Tempat teraman di seluruh negeri Kaa," ucap seorang warga Vom yang dulunya adalah pelayan istana.
Sipil lain mengangguk sependapat, berharap agar sang ibu bayi ajaib mempercayai mereka.
"Ya, tentu saja. Tolong jaga dia. Kami akan berusaha untuk menyelesaikan pertikaian ini untuk mewujudkan perdamaian abadi," ujar Kiarra dan disambut senyum semua orang.
"Kami mendoakanmu, Ratu! Kami mendoakan kalian semua!" seru seorang wanita Yak seraya menggendong seorang anak.
Kiarra mengangguk mantap. Para kesatria dari Vom, Yak, Zen, Ark dan Tur bergegas menaiki kapal balon udara meninggalkan rumah Naga. Sedangkan Kiarra, Dra, Kenta, Lon dan Rak terlihat begitu serius. Mereka berdiri di tepi kolam di mana orang-orang itu akan memanfaatkan kolam naga sebagai akses menuju hutan kabut putih.
"Ayo!" ajak Kiarra mantap.
BYURR!!
"Tolong, lindungi para pejuangmu, Naga. Berkati tujuan mulia mereka," ucap seorang nenek penuh harap, yang diamini oleh semua orang.
Di hutan kabut putih.
Gempuran Raja Tur tak main-main. Ia melakukan serangan penuh dari segala sisi ke hutan kabut putih karena para peri tak menepati janji. Meskipun terdapat dinding pelindung, tetapi para peri tetap waspada jikalau Raja Tur memiliki cara untuk menembusnya. Benar saja, Raja melihat jika serangannya tak berdampak satu pun kepada hutan yang selalu diselimuti kabut putih itu.
"Hentikan!" teriak sang Raja lantang.
Sekejap, serangan dari para prajurit Tur terhenti. Raja tiba-tiba mengambil sebuah belati dari pinggul sisi kanan. Para prajurit menatap gerak-gerik pemimpin mereka lekat, termasuk para peri dan Boh.
"Apa yang dia lakukan?" tanya peri kupu-kupu waspada.
SRETT! TES ... TES ... TES ....
"Dia ... dia menyayat lengannya dan meneteskan darah ke belati itu," jawab Boh dengan kening berkerut di balik dinding pelindung.
Semua makhluk melihat Raja Tur seperti bergumam sesuatu. Matanya terpejam dan memegang belati dalam genggaman tangan kanan di mana darahnya terus menetes dari telapak tangan kirinya di bilah belati. Seketika ....
"ROOO!"
__ADS_1
"Tidak mungkin!" pekik Ratu Nym langsung menoleh ke asal suara raungan besar di dalam hutan kabut putih.
Penyihir Boh bergegas berlari di mana ia juga merasakan sesuatu.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa!" pekik Boh panik langsung meninggalkan tepi hutan di mana sedari tadi ia saling bertatapan dengan Raja Tur.
"Hahahaha! Hahaha! Hancurkan hutan kabut putih untukku, Roo! Kau kubebaskan!" serunya lantang dengan seringai terpancar.
Benar saja ....
"Nym!" panggil Boh saat ia akhirnya melihat sosok monster muncul di tengah wilayah bebatuan hutan kabut putih.
"AAAA!" teriak para Nym ketakutan saat tiba-tiba saja muncul monster iblis penjaga salah satu pohon jembatan di tengah-tengah mereka.
Mata Boh memindai sekitar. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah botol yang tergeletak tak jauh dari kemunculan monster iblis. Boh mengenali botol itu.
"Oh! Bagaimana bisa botol segel itu ada di tempat ini? Siapa yang membawanya?" tanyanya dengan pandangan tak menentu.
Pergerakan mata Boh terhenti ketika melihat ada sebuah tas kain telah robek di tak jauh dari tempatnya berdiri. Boh mengambil tas itu lalu mengendus baunya. Seketika, matanya terbelalak lebar.
Di tempat salah satu pasukan kapal balon udara.
Raungan monster iblis Roo membuat seluruh makhluk di Negeri Kaa menyadari kebangkitannya. Entah apa yang menggerakkan hati Kol, pria macan kumbang itu langsung membuka tas kain miliknya dengan tergesa. Laksamana Noh yang satu kapal dengannya mendekati Kol dengan tatapan curiga.
"Jangan-jangan ...."
"Kau tahu sesuatu?" tanya Laksamana menatap Kol lekat yang berjongkok seraya membuka isi tasnya.
"Sial. Aku sudah curiga sejak awal ketika Kapten Mos memberikan botol aneh itu padaku saat di benteng," jawabnya panik.
"Jangan katakan kau meninggalkan botol berisi monster iblis di hutan kabut putih!" tanya Laksamana Noh yang ikut mengejutkan semua orang dalam kapal.
"Aku ... aku membawa tas yang salah," jawab Kol yang baru menyadari jika tas kain dalam genggaman bukan miliknya.
Praktis, pengakuan Kol membuat panik semua orang.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (WallpaperFlare)
__ADS_1