
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Vom telah ditinggalkan oleh para petinggi kerajaan. Tentu saja hal itu membuat pasukan Tur mengklaim kemenangan mereka. Gor dan Rhi berhasil menguasai istana. Orang-orang yang bersembunyi di ruangan-ruangan dalam istana praktis dijadikan budak oleh pihak musuh.
Bendera Kerajaan Vom dibakar dan diganti dengan bendera Kerajaan Tur. Kabar Vom telah jatuh ternyata cepat meluas karena anak buah Tur di bawah komando Kapten Tom—pasukan manusia setengah burung—terbang ke lokasi-lokasi peperangan untuk melihat hasil. Mereka segera menginformasikan berita penting tersebut demi nama masing-masing. Berharap, sang Raja akan memberikan imbalan lebih pada mereka.
Kerajaan Tur.
"Hahahaha! Hahahaha! Hebat! Hebat! Meskipun harus melepaskan para monster iblis pohon jembatan, tetapi tujuanku untuk menaklukkan seluruh kerajaan akhirnya terwujud!"
"Hidup Raja Tur! Hidup Raja!" jawab semua orang-orang Tur yang kini menjadi prajurit sang Raja di aula istana.
"Maaf jika mengganggu kesenangan Anda, Paduka. Namun, Yak belum ditundukkan. Ark juga demikian," jawab Kapten Tom si manusia setengah burung menegaskan.
DUNG!
Seketika, ketegangan terjadi. Sorakan kemeriahan lenyap akibat penuturan sang Kapten. Terlihat, manusia berparuh itu tegang ketika didatangi oleh Tuannya. Tubuh Raja Tur yang besar, membuat semua orang yang ditatap olehnya ciut seketika. Langkahnya yang menggetarkan daratan, membuat orang-orang itu berusaha keras menutupi ketakutan di wajah.
"Hem. Yah, kau benar, Tom, kau benar. Aku sampai lupa hal itu. Jadi ... karena kau sudah mengingatkan, kini tugasmu merebut Yak. Kupermudah tugasmu karena Mos telah menyiapkan sandera. Jika sampai gagal, keluargamu tewas," tegas sang Raja yang membuat Tom mengangguk pelan.
Nasib Tom kini seperti Panglima Rat. Pria bertubuh gagah itu menarik napas dalam saat meninggalkan rumah usai berpamitan dengan keluarganya. Rumah yang berada di atas pohon besar layaknya rumah pohon itu terasa sunyi akibat ditinggalkan sang kepala keluarga. Keluarga kecil Tom hanya bisa pasrah karena mereka menjadi jaminan atas keberhasilan kapten pasukan burung Raja Tur.
Tom dan kelompoknya yang telah mengetahui rencana tipuan Raja Tur kala itu terpaksa membius keluarga masing-masing. Para manusia burung itu mengunci keluarga mereka di rumah layaknya sangkar. Saat aksi Raja Tur selesai, keluarga pasukan burung tertegun ketika sadar. Mereka dikucilkan oleh warga Tur lain yang selamat dari penyerangan karena dianggap sebagai budak raja.
"Paduka. Saya berjanji setia padamu dan membawa kemenangan merebut Yak, tetapi, saya meminta satu syarat," ucap sang Kapten sebelum ditugaskan.
"Hem, apa itu?" tanya Raja Tur menatap lawan bicaranya tajam.
"Jika saya tewas saat mewujudkan cita-cita Anda, tolong biarkan keluargaku dan keluarga prajuritku bebas di Tur. Jangan perbudak mereka seperti sipil lainnya. Anda membutuhkan mereka untuk persediaan pangan di Tur. Jika mereka mati, Anda akan kekurangan orang untuk ditugaskan. Keluarga burung sangat ahli dalam berkebun," ucap Kapten Tom berhati-hati.
Raja Tur diam menatap manusia setengah burung di depannya tajam. Tom menunjukkan keseriusan atas permintaannya. Jantung semua anggota pasukan berdetak semakin kencang menunggu jawaban.
"Setuju!" jawab sang Raja mantap yang membuat para manusia setengah burung di ruangan besar tersebut bernapas lega.
Mereka melakukan perjanjian tertulis dan gulungan itu diserahkan kepada keluarga masing-masing sebagai bukti kesepakatan. Tentu saja, pengorbanan besar tersebut membuat keluarga yang ditinggalkan bersedih. Namun, mereka hanya bisa menerima keputusan sang kepala keluarga agar kehidupan tetap terus berlangsung meski dalam tekanan. Hari itu, tepat saat bulan merah bersinar meskipun cahaya tersebut tak bisa menembus pekatnya kabut hijau kerajaan Tur.
"Akkk!" lengking Kapten Tom saat memerintahkan seluruh prajurit dalam komandonya.
Sekumpulan manusia setengah burung yang menjadi pasukan terbang Tur memadati halaman utama istana. Sang Raja menyaksikan di atas balkon kamar bagaimana salah satu pemimpin pasukannya memulai misi merebut Yak. Mata Kapten Tom memindai sekitar di mana bulan merah akan menjadi saksi kemampuannya dalam menaklukkan Yak.
__ADS_1
"Jika Vom, Zen, Yak dan Ark memiliki balon udara, maka kita akan menjadi lawan yang pantas untuk menumbangkan mereka! Rebut Yak dan jadikan Tur penguasa tunggal Negeri Kaa!" seru sang Kapten lantang.
"Hidup Raja Tur! Hidup sang Raja!" jawab semua prajurit dari pasukan burung serempak.
Senyum sang Raja terkembang. Ia meneguk minuman dari gelas emasnya ketika mata sang Kapten tertuju padanya. Tur mengangguk pelan sebagai tanda jika Tom diizinkan berangkat. Terlihat, beberapa manusia burung berukuran besar menggendong seorang sandera dari bangsa Yak di punggung.
Para sandera dijadikan layaknya kepompong karena dibungkus dengan kulit Ggg dan diikat. Hanya kepala saja yang terlihat. Mulut orang-orang itu disumpal agar tak mengganggu selama perjalanan berlangsung. Kelompok besar tersebut terbang meninggalkan wilayah kerajaan melintasi beberapa wilayah yang telah berhasil dikuasai Tur.
Hingga akhirnya, mereka tiba di perbatasan. Para pemberontak Tur yang ikut dalam kelompok Putri Xen dan Pangeran Owe berkumpul di Kerajaan Yak melindungi istana es tersebut. Pasukan burung Tom terlihat oleh para pengawas di sisi terluar istana saat burung-burung besar tersebut melintasi perairan Yak. Dengan cepat, terowongan yang dibuat oleh para manusia setengah binatang penggali mengabarkan hal itu kepada sang pemimpin di istana.
Aula Kerajaan Yak.
"Mereka datang!" seru seorang manusia setengah hamster yang menjadi pengintai perbatasan saat memasuki ruangan besar tersebut.
Sontak, kabar yang mengatakan jika Tur kembali menyerang membuat semua orang di aula tegang seketika. Kapal balon udara dari tim pecahan Laksamana Noh belum tiba entah terkendala apa saat di perjalanan. Tej dengan mantap melangkah maju karena ia tahu tugasnya.
"Kami percayakan padamu, Jenderal Tej," ucap Putri Xen menatap pria di depannya tajam.
Tej si manusia setengah harimau mengangguk mantap.
"Siapkan semua! Vom dan Zen telah jatuh. Ark belum ada kabar hingga saat ini. Kita tak boleh kalah!" seru Pangeran Owe lantang.
"Siap!"
"Mereka terlihat!" seru salah satu pengawas yang bersembunyi di balik tumpukan salju buatan dekat pantai.
Warga Yak telah diungsikan agar menjauh dari pertempuran. Mereka terpaksa menuju ke wilayah gunung sampai pasukan penjemput datang dan mengajak kembali. Warga Yak tak lagi bisa berlayar karena monster Wii terlihat muncul di antara pecahan bongkahan es seperti sedang mengincar sesuatu. Kini, Kerajaan Yak terkepung. Tur mengawasi mereka dari beberapa wilayah. Pasukan Tur telah bergerak dan siap merebut kebebasan bangsa Yak.
Pasukan burung di bawah komando Tom mendekat melalui wilayah darat, tempat di mana pasukan Kapten Kee dibekukan kala itu oleh pasukan balon udara Rak. Semenjak kemunculan Kiarra yang mendapat berkah dari bintang biru beberapa waktu silam dan berhasil mengalahkan Ram, para monster iblis penunggu pohon jembatan—yang masih berdiri kokoh—tak lagi mengusik warga Negeri Kaa. Monster-monster itu seperti tertidur. Mereka yang pernah dipanggil untuk membantu usaha Kiarra dan kawan-kawannya untuk memusnahkan Ram, tampaknya membuat hubungan antara manusia dan monster-monster iblis membaik.
Oleh karenanya, orang-orang Tur bisa melintas dengan mudah tanpa diganggu oleh monster Ggg yang selama ini mengusik setiap manusia ketika melintas di wilayahnya. Hanya saja, para monster iblis yang tak memiliki wadah karena pohon-pohon jembatan yang tumbang akibat keserakahan manusia di zaman dulu, kini berkeliaran di beberapa penjuru Negeri Kaa dengan dendam menyelimuti. Mereka yang selama ini disegel oleh Ram dibantu oleh raja-raja sebelumnya, telah dibebaskan oleh Tur. Raja Tur berhasil mengkoleksi semua monster iblis berkat kerjasamanya dengan Ram kala itu. Meskipun Ram telah mati, tetapi Negeri Kaa belum mendapatkan kedamaian sempurna karena tersisa satu raja zalim yang masih berkuasa.
"Berhenti!" titah Kapten Tom lantang yang kini melayang di udara dengan mengepakkan dua sayap besarnya.
Mata semua prajurit terbang Tur memindai sekitar. Mereka seperti bisa merasakan ada pergerakan di bawah sana sedang mengincar. Kapten Tom menoleh ke arah prajurit-prajurit yang membawa sandera. Mereka mengangguk paham lalu melakukan formasi melingkar dengan punggung di arahkan ke permukaan. Sontak, para pengintai tertegun saat melihat warga Yak diikat pada tubuh manusia-manusia setengah burung itu.
"Jika sampai satu saja dari jenis kami tewas di tanah ini, sandera yang ikut bersama kami akan mati!" teriak Kapten Tom lantang di tengah bukit bersalju.
Para pengintai tampak tegang. Mereka yang awalnya bertujuan untuk mencegat pasukan itu mulai meragukan aksi penyergapan. Namun, Tej yang memimpin pasukan Yak, tak menganggap ancaman itu nyata.
"Tembak," titahnya berbisik di balik tumpukan salju dekat batu besar.
__ADS_1
"Anda yakin, Jenderal?" tanya seorang pemberontak memastikan tugasnya.
"Kita akan tahu, apakah Tom sungguh melakukannya atau tidak. Dia tak setega itu. Aku kenal dia," jawab Tej yakin.
Manusia setengah kambing itu mengangguk pelan. Dengan mantap, SHOOT! JLEB!
"Eekkkk!"
"Penyerang!" teriak salah satu manusia burung saat melihat kawannya terkena tusukan panah dan tepat menembus lehernya.
Manusia setengah burung jalak itu jatuh dari ketinggian dan tewas seketika.
"Bunuh!" teriak Kapten Tom lantang ke arah seorang sandera di punggung manusia setengah burung rangkong.
Mata Tej dan pemberontak Tur terbelalak ketika dua manusia burung mengeluarkan pisau dari balik baju tempur mereka yang diarahkan ke seorang sandera.
"Emph! Emph! Emph!" erang seorang warga Yak dengan mata terbelalak lebar dan kepala menggeleng cepat.
Namun, naas. JLEB! JLEB!
"Oh!" kejut manusia setengah kambing yang tak menyangka jika apa yang diucapkan oleh Kapten Tom adalah benar adanya.
Warga Yak tersebut tewas tanpa bisa melakukan perlawanan. Mayatnya dijatuhkan dari punggung manusia burung dan bergulung-gulung di atas tumpukan es karena wilayah berbukit. Mata Tej melotot saat melihat mayat tersebut tergeletak tepat di depan tempat pengintaiannya. Mata elang salah satu manusia burung akhirnya melihat keberadaan Tej dan anak buahnya saat lesatan panah terlontar dari bawah sana. Ia bergegas mendatangi sang Kapten. Tom tersenyum miring dan tetap terbang di udara bersama kelompoknya.
"Jika ada satu saja anak buahku mati, dua sandera dari Yak akan tewas! Menghalangi jalan kami, kalian akan hidup dengan rasa bersalah karena membunuh sipil tak berdaya!" teriak Tom lantang.
"Harghhh!"
Tiba-tiba saja, Tej keluar dari persembunyiannya. Para manusia burung dengan sigap membidik mantan pemimpin salah satu pasukan Tur dengan anak panah siap dilesatkan. Tom tersenyum tipis.
"Kematian warga Yak karena perang ini, akan menghantui hidupmu, Tom!" teriak Tej dengan kepala mendongak.
"Dan kau, yang mengantarkan kematian itu pada mereka, Tej. Menyingkirlah. Serahkan Yak, maka kau masih berkesempatan untuk hidup sampai akhirnya Raja Tur memutuskan bagaimana mengakhiri kisahmu," jawab Tom seraya terbang turun perlahan.
Napas Tej memburu. Ia melihat ada banyak sandera yang diletakkan pada punggung manusia setengah burung tersebut. Ia seperti melakukan perhitungan dengan matanya ketika memindai satu per satu. Namun, Tom yang telah mengenal Tej dengan baik karena mereka dulu kawan karib saat memutuskan mengabdi pada sang Raja, tahu apa yang dipikirkan oleh manusia setengah harimau itu.
"Mungkin saja kau bisa menyelamatkan mereka dari pasukanku. Namun, bagaimana yang berada di sana?" tanya Tom seraya menunjuk ke arah lautan.
Mata Tej melebar. Ternyata ada pasukan susulan di mana monster Wii terlihat siap untuk menerima lemparan sandera-sandera Yak yang dicengkeram kuat dengan kaki-kaki bercakar besar itu. Warga Yak yang disandera dan akan dijadikan santapan Wii berteriak ketakutan. Mereka akan dijatuhkan dari ketinggian jika sampai Tej menolak untuk menyerah.
"Bagaimana, Tej? Pilih, bagaimana kau mengantarkan kematian pada mereka? Kami yang menusuknya sampai mati, atau Wii yang akan menyantap mereka hidup-hidup?" tanya Tom yang membuat napas Tej memburu.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Playground AI)