Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Hutan Kabut Putih*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kerajaan Tur.


Sang Raja geram karena merasa dirugikan oleh pihak Vom jika saat itu setuju dengan kesepakatannya. Pyu, yang selalu mengekor ke mana pun telur Kiarra pergi, membuat gadis itu kini mendapatkan tugas sulit yakni sebagai penjaga.


"Anda ingin saya ke mana?" tanya Pyu gugup saat sang Raja berdiri tegak di hadapannya.


"Pergilah ke hutan kabut putih. Di sana telur Kiarra akan aman karena wilayah itu tak bisa diserang. Kuberikan hadiah yang tak mungkin ditolak pada mereka untuk melindungi telur. Di sini, tidak aman," tegas sang Raja seraya berjalan mendekati telur Kiarra dan menyentuhnya. "Aku akan menjemput saat bintang biru bersinar. Ketika telur itu menetas, kuumpankan See kepada Grr agar dua makhluk itu saling menyerang dan kubebaskan ratuku," ucap sang Raja yang membuat Pyu melongo.


"Ba-baik, saya mengerti," jawab Pyu gugup.


Pyu dikawal oleh pasukan Raja dipimpin oleh Jenderal Kol dengan wujud manusia macan kumbang, tetapi tak semengerikan sosok Tur. Kol yang dulunya tinggal di dekat wilayah hutan kabut putih, kini membawa kumpulannya menuju ke lokasi tersebut karena ia dikenali oleh penduduk penghuni kabut putih. Selama perjalanan, telur Kiarra diawasi dengan ketat dan hanya Pyu yang boleh menyentuhnya. Lama perjalanan itu untuk tiba ditujuan sampai Pyu tertidur seraya memeluk telur kristal biru.


"Pyu," panggil Kol dengan suara besar yang membuat wanita setengah panda merah itu langsung membuka mata dan duduk tegap.


"Ya?" jawab Pyu seraya merapikan rambut panjangnya di antara telinga.


"Persiapkan. Kita sudah tiba," ucap Kol tegas dan diangguki Pyu sebagai jawaban.


Telur kristal Kiarra tetap berada di atas kereta yang ditarik oleh Ggg. Pyu terlihat gugup melihat sekitar karena sudah lama sekali tak datang ke sana. Ia menunggu di luar wilayah kabut karena konon tempat itu berbahaya dan bisa merenggut jiwa. Pasukan Tur berjaga di sekitar dengan wajah tegang dan senjata siap dalam genggaman.


Hanya Jenderal Kol yang masuk ke dalam hutan untuk menyampaikan pesan raja. Pria bertubuh tegap itu melepaskan pakaiannya dan hanya mengenakan celana panjang kain tanpa alas sepatu atau perlengkapan tempur lainnya. Itu adalah syarat dari penduduk hutan kabut putih jika ingin masuk ke dalam dan tak dianggap ancaman. Kol menghormati itu meski tubuhnya yang penuh luka jadi terlihat.


Wilayah kabut putih sangat berbeda dengan wilayah Tur lainnya. Atmosfer di tempat itu seperti membawa orang-orang yang masuk ke dalam terasa berada di dimensi lain. Terlihat beberapa jenis makhluk yang tak dikenal karena bentuknya unik termasuk penduduknya. Wilayah itu tak bisa ditaklukkan karena setiap serangan yang datang pasti akan hancur dengan sendirinya.


Tempat itu seperti memiliki pelindung yang tak terlihat. Bahkan sihir Boh, tak mempan di tempat tersebut. Tur membiarkan wilayah itu, tetapi tahu kelemahan para penduduknya. Mereka gila harta.


"Kol," panggil seseorang dari dalam hutan.


"Hargh," jawab lelaki itu yang kini perilakunya terkadang mirip binatang.



Terlihat banyak bekas luka di tubuhnya akibat pertempuran-pertempuran silam dan goresan warna seperti tinta tato sebagai identitas dari mana ia berasal. Kol terlihat serius ketika muncul seorang wanita yang memanggil namanya. Pria itu berdiri tegap saat seorang wanita berambut panjang yang memiliki tubuh seperti menyatu dengan pohon menampakkan diri. Kol membungkuk sedikit sebagai salam hormat. Wanita dengan tubuh berwarna cokelat kehijauan tersebut menatap Kol lekat yang kini berdiri gagah di depannya.


__ADS_1


"Kau datang karena sesuatu. Aku tahu itu," ucap wanita bersuara lembut seperti berbisik.


Kol tak berbasa-basi. Ia membawa sebuah buntalan berukuran cukup besar dibungkus kain. Wanita pohon itu masih melekat pada batang besar seperti menyatu dengannya, mengamati Kol sedang membuka buntalan.


"Silakan. Hadiah untuk kesepakatan dengan Raja Tur," ucap Kol mulai gugup dalam posisi berjongkok.


"Sudah kubilang jika kami tak akan tunduk pada raja gilamu itu!" teriak wanita tersebut marah yang membuat pohon-pohon di sekitar langsung bergerak seperti menoleh ke arah Kol. Pria itu tegang seketika.


"Kali ini, bukan itu tujuanku kemari, Nym. Namun, hal lain," ujar Kol yang kemudian bersiul memberikan tanda kepada pasukannya di luar hutan.


Pyu yang telah bersiap tampak gugup ketika hanya dirinya saja diminta masuk ke dalam hutan seraya mendorong gerobak kayu berisi telur Kiarra. Pyu menatap pohon-pohon di sekitar yang seperti mengawasinya. Wanita itu gugup, tetapi terus melangkah seraya mendorong. Ia mengikuti siulan Kol sebagai penanda keberadaannya. Telinga hewannya bergerak dan mengarahkan langkahnya ke tempat tujuan dengan tepat.


"Oh!" kejut Pyu saat melihat sosok manusia setengah pohon yang menjuluki diri mereka peri oleh penghuni hutan kabut putih. "Sa-salam," ucap Pyu seraya membungkuk hormat. Nym mengangguk pelan menerima salam itu.


Kol menatap Pyu tajam lalu mengangguk sebagai kode. Pyu gugup saat menyibakkan kain penutup telur Kiarra untuk ditunjukkan pada Nym. Sontak, benda yang dibawa oleh Pyu membuat mata Nym melebar dan pohon-pohon bergerak. Pyu panik dan mendekat ke arah Kol yang waspada dengan dahan-dahan pohon karena bergerak seperti jari-jari tangan ke arah telur kristal.


"Siapa dia?" tanya Nym yang tubuhnya kini condong, meraba telur berisi Kiarra dan See dengan saksama.


"Wanita di dalam sana adalah Kia. Dia adalah Jenderal dari Vom. Namun, dia kini menjadi Ratu dari Raja Tur dan sedang hamil. Sayangnya, dia ditipu oleh See sehingga Kia harus menyegel makhluk iblis itu bersama dirinya," jawab Kol menceritakan.


Nym terlihat seperti waspada dengan telur kristal itu. Ia mengelilingi telur yang masih diletakkan di atas gerobak. Ia menatap Kol dan Pyu bergantian seperti memikirkan sesuatu.


"Itu karena ...," jawab Kol menggantung seraya melirik Pyu. Wanita setengah panda merah itu ikut gugup. "Jadi ...."


"Aku terima," ucap Nym tiba-tiba.


Kol dan Pyu terkejut. Tak biasanya Nym bersedia melakukan kerjasama. Pernah terjadi sekali dan itu sangat sulit bahkan pasukan Tur bersama raja berkemah di luar hutan karena kaum peri harus berdiskusi untuk memutuskan. Namun, kali ini berbeda. Bahkan, Kol belum mengatakan apa isi dari perjanjian itu.


"Tinggalkan upah kami berikut telur kristal ini. Aku tahu, jika kalian pasti akan datang saat bintang biru muncul. Saat itu tiba, hanya satu orang yang kuizinkan masuk dan itu kau, Pyu," ucap Nym seraya menunjuk dengan ujung jari kayunya.


"Ka-kau mengenalku?" tanya Pyu terkejut.


Nym tersenyum. "Tentu saja. Aku mengenalimu bahkan ketika saat kau kecil dulu. Kau sering menyelinap masuk kemari untuk bertemu kupu-kupu. Hingga akhirnya kau tak pernah datang kemari lagi setelah menangkap salah satu dari mereka. Biar kutebak, apakah ... kupu-kupu itu mati?" tanya Nym menatap Pyu lekat.


Pyu tertunduk, tetapi mengangguk. "Aku minta maaf. Aku sangat menyukai makhluk bersayap indah itu. Cantik dan ... ingin kupelihara. Namun, ternyata ... saat kubawa ke rumah, hewan itu mati. Aku tak tahu kenapa. Namun, semenjak itu aku seperti tak diizinkan datang lagi ke hutan kabut. Selalu saja ada yang menghalangi jalanku untuk menuju kemari," ucap Pyu merasa bersalah.


"Ya, itu karena kau membunuh salah satu dari kami. Kupu-kupu yang kau ambil itu, tak bisa hidup di luar hutan ini. Dunia kami berbeda dengan kalian. Namun, kalian bisa masuk kemari karena memiliki darah campuran, sedang kami, berdarah murni," ucap Nym yang membuat Kol diam untuk sesaat seperti memikirkan sesuatu. "Pergilah, dan datang kembali saat waktunya tiba."

__ADS_1


"Na-namun, aku ingin menemani Ratu Kia. Aku sudah berjanji untuk melindunginya!" ucap Pyu bersikeras.


"Harghhh!"


"AAAAA!" teriak Pyu histeris dan membuat Kol ikut terkejut karena sosok Nym yang terlihat ramah tiba-tiba menjadi seperti monster pohon mengerikan.


"Pergi," ucap Nym terdengar seperti mengusir dengan mata terbelalak lebar.


Tiba-tiba, dahan pada pohon bergerak. Kol dan Pyu panik ketika tangan serta kaki mereka terlilit oleh ranting-ranting pohon. Pyu dan Kol mencoba membebaskan diri, tetapi sia-sia. Tubuh mereka terangkat dan pohon-pohon itu menerima tubuh dua manusia itu secara bergantian seperti dioper. Pyu dan Kol tak bisa melawan. Hingga akhirnya, mereka tiba di tepi hutan dan ....


BRUKK!!


"Argh!" rintih Pyu dan Kol karena mereka dilemparkan oleh pohon di bagian luar hutan.


Pasukan Tur terkejut dan segera mendatangi dua orang yang tergeletak di atas rumput.


"Jenderal, Anda tak apa?" tanya seorang prajurit seraya membantu pemimpin mereka berdiri.


"Hah, begitulah. Bukan masalah besar," jawab Kol seraya membersihkan bulunya yang kotor lalu menoleh ke arah hutan. Pyu perlahan berdiri dan melakukan hal serupa.


"Apakah ... Ratu tak apa di sana tanpa pengawasan kita?" tanya Pyu khawatir.


"Tentu tidak. Sampai bintang biru muncul, kau akan tinggal di sini," jawab Kol yang membuat mata Pyu melebar.


"A-aku? Di sini? Sendiri?" tanya Pyu panik seraya melihat sekitar.


"Kenapa? Takut? Kalau begitu, ikut aku kembali ke istana, tetapi kau tinggal di penjara bawah tanah," tegas Kol berdiri gagah ketika pasukannya menurunkan perbekalan dan peralatan untuk Pyu selama tinggal di tempat tersebut.


Pyu melihat banyak barang di sekitarnya. Ia hanya bisa pasrah dan diam saja ketika ditinggal sendirian oleh Kol serta pasukan Kerajaan Tur. Pyu memandangi hutan kabut putih dan tersenyum. Entah kenapa, meskipun ia takut, tetapi hatinya senang karena bisa masuk kembali ke tempat itu.


"Aku akan menunggumu di sini, Ratu Kia," ucap Pyu dengan senyuman.


Pyu akhirnya mendirikan tenda dan merapikan perbekalannya. Ia senang karena seperti dibebaskan, tak dikurung dalam istana megah oleh sang Raja demi ambisinya. Pyu menikmati kesendiriannya dengan memasak, dan membuat tempat tinggal sementaranya nyaman untuk dihuni. Saat wanita itu siap tidur, tiba-tiba terdengar suara seperti alat musik dimainkan dari dalam hutan.


Pyu yang penasaran, memberanikan diri mendekati hutan meski tak masuk. Ia tahu, jika nekat menerobos, roh hutan akan marah dan Pyu tak ingin hal tersebut terjadi. Hingga matanya mendapati para peri dari berbagai jenis menari seraya memainkan alat musik pemberian Raja Tur. Benda-benda itu dianggap oleh para peri adalah harta tak ternilai karena memberikan kebahagiaan.


"Indah sekali," ucap Pyu dalam posisi merangkak, mengintip dari balik batang pohon di luar hutan ketika para peri menari dan bermain musik di antara pohon-pohon.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2