Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Manusia Setengah Binatang*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Praktis, hal mengejutkan itu membuat Kiarra tampak frustasi. Ia tertekan dengan kehamilannya. Kiarra tiba-tiba berdiri dan pergi meninggalkan ruangan besar itu begitu saja.


"Jenderal!" panggil Ben, tetapi Kiarra menjawabnya dengan menaikkan salah satu tangan seraya berjalan, tak menoleh sedikit pun seperti enggan untuk diganggu.


Para dayang Kiarra bingung, tetapi mereka seperti memahami kebingungan dan kekhawatiran sang Jenderal. Dra bergegas mengikuti Kiarra, sedangkan Rak dan yang lain tetap berada di aula bersama orang-orang dari Tur.


"Dengar. Sebelum kemari, kami sudah mendengar kabar tentang kehebatan ratu kalian, Kia-rra. Kami nekat keluar dari wilayah Tur diam-diam tanpa sepengetahuan raja," ujar Boh yang mengejutkan orang-orang di ruangan itu.


"Ya. Mereka datang dengan kapal. Jenderal terbang untuk membuktikannya dan ternyata benar. Kapal itu berlabuh di Laut Merah," sahut Eur yang membuat wajah semua orang serius seketika.


"Apa kau tahu tujuan dari Kia-rra?" tanya Rak memancing.


"Hem. Sejak awal, kami semua sudah melakukan pemberontakan atas kepemimpinan Raja Tur. Bahkan, putri dan pangeran kerajaan ikut dihukum karena memihak kami. Namun, aku dan Panglima Gom berhasil membebaskan mereka," ujar Boh yang membuat kening Lon berkerut.


Penyihir cilik itu melongok ke balik tubuh di mana ada dua sosok manusia setengah hewan di belakang Boh yang sedari tadi diam saja semenjak datang ke tempat itu.


"Jangan bilang yang seperti hewan aneh dan wanita ular itu adalah mereka," tanya Lon menduga.


"Kau pintar, tebakanmu benar, keturunan Zen," ucap seorang wanita cantik, tetapi sebagian tubuhnya adalah ular.


"Kau tahu dari mana aku keturunan Zen?" tanya Lon dengan mata membulat penuh.


"Tanda di tubuhmu," jawab wanita setengah ular itu dengan suara seperti mendesis. Lon menelan ludah dan melangkah mundur perlahan. "Aku adalah Putri Xen dari Kerajaan Tur. Senang mengenal kalian," sapa sang putri berwajah datar.

__ADS_1



Lon membungkuk hormat dengan canggung termasuk lainnya. Hanya saja, wujud dari sang putri membuat Lon bergidik ngeri. Bocah lelaki itu memilih untuk menjaga jarak karena melihat dua tangan sang putri berupa kepala ular yang menjulurkan lidah. Semua orang tampak pucat karena sebagian kulit wanita itu juga bersisik dan dua kepala ular itu mendesis.


"Aku selaku pangeran dari Kerajaan Tur meminta maaf jika penampilan kami menakutkan bagi kalian. Kami bisa memahami itu. Perkenalkan, aku adalah Pangeran Owe. Terima kasih atas keramahan kalian yang bersedia menerima kami," ucap sang pangeran yang dibalas dengan anggukan berwajah tegang dari orang-orang.



"Bagaimana cara melenyapkan sihir yang sudah menjangkit kalian?" tanya Fuu penasaran.


"Sepertinya, tidak bisa. Racun dari asap hijau yang disemburkan oleh Grr sudah mengalir dalam darah kami. Selamanya, kami akan seperti ini. Hal ini terbukti saat adanya bayi-bayi yang lahir. Mereka ... berwujud setengah binatang seperti kami," jawab Owe yang membuat hati semua ibu pilu mendengarnya.


"Aku turut bersedih, sungguh. Namun, aku percaya jika naga tak akan membiarkan pengikutnya menderita. Ia mengirimkan Kia-rra untuk menyelesaikan kekacauan di Negeri Kaa," ujar Pop yang diangguki semua orang.


"Ya, aku setuju. Pasti ada cara, hanya saja kita tidak pernah tahu. Ara dan Dra pernah bertemu sang naga. Pasti mereka punya jalan keluarnya!" sahut Lon yakin yang membuat wajah para manusia setengah hewan itu berbinar seketika.


"Oleh karena itu, bergabunglah. Hanya tinggal Tur yang belum dikuasai oleh Kia-rra. Raja Tur harus dibinasakan, meski aku yakin jika kalian berdua akan merasa sangat kehilangan akan kematiannya nanti," ujar Rak menjelaskan.


"Rasa sayang kami pada ayah telah musnah semenjak ia tega menumbalkan ibu karena dipercaya, jika Ratu Tur adalah wanita paling suci di kerajaan. Namun, setelah kematian ibu, kutukan ini tak juga sirna. Sejak saat itu, kebencian kami pada ayah semakin memuncak. Tak ada maaf lagi untuknya," ujar sang pangeran dengan napas menderu.


"Sepertinya Raja benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Bagaimana bisa dia percaya begitu saja dan tega mengorbankan istrinya sendiri?" tanya Ben heran.


"Itu karena informasi dari mata-mata yang ia percaya. Sejak lama, aku sudah curiga dengan lelaki itu. Kulihat jika Sok adalah orang yang penuh tipu muslihat. Ia bisa berkeliaran dengan mudah di seluruh wilayah Tur. Hingga akhirnya, setelah ia ketahuan mengambil benda berharga milik Boh, lelaki itu menghilang tak terlihat lagi," ujar Xen terlihat begitu membenci sosok Sok.


"Jangan katakan jika Sok adalah Ram," sahut Lon yang mengejutkan semua orang.

__ADS_1


"Ya, itu bisa jadi. Lon, coba kau keluarkan temuanmu dari dalam tas Ram kala itu. Apakah ada benda yang dimaksud dan ada hubungannya dengan Boh?" pinta Rak.


Segera, Lon melakukan yang diminta. Boh berjalan mendekat dan mengambil sebuah benda yang disinyalir adalah miliknya. Kening semua orang berkerut. Wanita itu terlihat marah hingga taring di giginya terlihat mencuat. Lon menelan ludah.


"Pria itu, walaupun ia sudah mati, tetap saja kebencianku padanya tak akan hilang! Sok!" teriak Boh marah.


Seketika, benda itu remuk ketika ia mencengkeramnya kuat. Semua orang baru sadar jika kekuatan penyihir Boh sangat besar. Benda seperti cakar itu menjadi serpihan dan berhamburan di lantai. Rak diam saja melihat kemarahan Boh di mana sebelumnya ia juga melakukan hal yang sama.


"Dia mengambil kekuatanmu. Pantas saja, Ram sangat kuat. Wujudnya juga tak lazim. Mungkin ada hubungannya dengan racun yang sudah terserap oleh cakarmu sebelumnya sehingga berdampak pada perubahannya ketika ia menjadi raksasa," ucap Lon berpendapat.


"Hem, bisa jadi. Sudah, jangan bahas lelaki brengsekk itu lagi. Aku tak mau kalian semua terluka karena amukanku nanti. Sebaiknya kurung aku di sebuah kamar sampai ratu bisa ditemui lagi," pinta Boh berusaha menenangkan dirinya.


"Mm, baiklah," jawab Lon gugup.


Seorang wanita dari warga Ark mengantarkan tamu-tamunya ke ruangan yang akan menjadi tempat istirahat sementara waktu. Eur mendekati Rak dengan wajah serius saat ruangan besar itu mulai kosong.


"Masih ada satu orang yang menunggu di kapal milik kerajaan Tur. Namanya Jenderal Gom. Dia juga manusia setengah hewan. Jenderal Kia-rra sudah bicara padanya. Hanya saja kami tak tahu tentang apa. Pria itu berjaga di sana sampai urusan utusan Tur selesai di sini," ucap Eur pelan.


"Aku mengerti. Kalian sebaiknya istirahat. Biarkan ratu menenangkan diri. Kami juga sangat lelah dan butuh waktu untuk menenangkan diri. Kita akan bertemu saat jamuan," ujar Rak dan diangguki keempat dayang Kiarra.


Warga di kastil itu mempersilakan para tamunya untuk beristirahat. Para prajurit Kiarra disambut baik termasuk orang-orang dari Kerajaan Ark. Hanya saja, keempat dayang Kiarra terlihat cemas karena sang Jenderal masih enggan ditemui. Mereka takut jika dicampakkan mengingat keempat laki-laki itu sudah terlanjur mencintai wanita perkasa pemimpin Vom.


***


Makasih tipsnya Riana ❤️ lele padamu 💋

__ADS_1



ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2