
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Hutan perbatasan wilayah Yak dan Zen sisi Timur Laut. Tepat saat peralihan bulan ungu ke bulan merah.
"Hah, hah, hah!"
Pasukan Panglima Rat terengah-engah saat mereka bersusah payah menghindari serangan dari makhluk Www yang mengejar sampai ke hutan. Para manusia setengah binatang itu panik karena mereka tak memiliki senjata untuk melawan. Serangan makhluk Www sangat fatal dan bisa membawa mereka kepada kematian. Manusia setengah tikus itu berusaha keras menahan sakit di dadanya karena lemparan batu dari Wen. Hingga tiba-tiba ....
"Horgh!"
"Argh!"
BRUKK!
"Panglima!" teriak salah satu prajurit Tur dengan sosok manusia setengah kucing panik.
Pria itu langsung menghentikan laju larinya ketika melihat pemimpin pasukannya diterkam dari belakang dan kini punggungnya yang berlapis baju tempur dicabik-cabik. Prajurit Tur yang mendengar nama panglima mereka dipanggil segera berhenti. Mata orang-orang itu melebar dengan tubuh mematung menyaksikan sang pemimpin meraung dan mencoba untuk lolos dari kematian.
KRAUK!
"Agh! Argh!" rintih Rat saat ia merasakan pundaknya yang sudah tak terbalut pakaian tempur digigit oleh rahang bergigi tajam tersebut.
Semua orang tertegun dengan mata melotot. Rat hanya bisa memejamkan mata saat ia merasa jika kematian akan segera menyambutnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja gerakan rahang bergigi tajam itu berhenti. Hanya saja, gigi-gigi tajam tersebut masih tertancap pada pundaknya. Napas sang Panglima tersengal. Ia memberanikan diri membuka mata dan menoleh di mana moncong berkulit tebal itu terlihat jelas olehnya.
"Panglima!" panggil salah satu prajurit Tur seraya berlari ke arah pemimpinnya.
Tangan Panglima Rat bergetar hebat saat rahang yang menancap itu dilepaskan paksa sekuat tenaga oleh pria setengah kelinci yang menolongnya. Tak lama, prajurit lain datang untuk membantu. Tubuh Rat yang tengkurap di atas tanah ditarik kuat agar terlepas dari Www yang berada di atasnya.
"Anda selamat, Panglima," ucap salah seorang prajurit saat merebahkan tubuh Rat.
"Ya. Aku beruntung. Www adalah makhluk bulan ungu. Hah, hah, hah," engah Rat saat melihat bulan merah bercahaya terang menembus dedaunan dan menjadikan wilayah tersebut merah seutuhnya.
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, Panglima. Kita akan sampai di Tur sebelum bulan berganti," saran manusia setengah monyet. Namun, Rat menggeleng.
"Kalian tak ingat perkataan Raja? Gagal, hukuman mati menanti kita," jawabnya yang membuat para manusia setengah binatang yang tersisa 9 orang itu lemas seketika.
"Lalu ... sekarang bagaimana?" tanya pria dengan wujud setengah tikus tanah.
Rat diam sejenak hingga ia teringat dengan buntalan yang diberikan Wen. Rat mengarahkan tangannya yang tak terluka ke depan wajahnya. Ia mengamati buntalan itu saksama.
"Bangunkan aku," pinta Rat.
Dua pria di sebelahnya membantu lelaki tikus itu duduk menghadap Www yang tidur mendengkur. Rat membuka buntalan dengan satu tangannya. Keningnya berkerut saat melihat isi kain adalah sebuah batu kristal biru yang bercahaya. Ia mengambil batu itu dan seketika, matanya menyala biru terang.
Para prajurit dibawah kepemimpinan Rat bingung dan saling memandang karena panglima mereka diam saja dengan mata terbuka lebar. Saat pria kelinci bernama Bit memegang pundak sang pemimpin, hal serupa juga terjadi padanya. Sontak, hal tersebut mengejutkan orang-orang itu.
"Pasti ini sihir! Jangan sentuh mereka!" seru pria kucing bernama Kat yang membuat orang-orang di sekitar keduanya langsung menjauh.
Mata mereka menatap tajam Rat dan Bit tajam penuh kewaspadaan. Hingga akhirnya, mata biru Rat dan Bit memudar. Kat dengan sigap mendekati dua orang itu lalu berjongkok di samping mereka.
__ADS_1
"Anda tidak apa, Panglima?" tanya Kat cemas.
"Ya, ya ...," jawab Rat seperti orang bingung.
Rat menatap Bit dan pria kelinci itu mengangguk pelan.
"Apa yang terjadi?" tanya Kat lagi.
Rat tak menjawab, tetapi memberikan batu biru yang masih digenggamnya. Kat awalnya enggan dan memilih menjauh, tetapi Rat menyodorkannya dan menatap Kat lekat.
"Kau harus melihatnya. Kalian semua," ucap Rat lalu menatap anak buahnya bergantian.
Awalnya, Kat terlihat ragu. Namun, sang Panglima meyakinkannya dengan anggukan kepala. Kat menarik napas panjang lalu membuka telapak tangannya. Seketika, mata Kat berubah biru saat menerima batu tersebut dalam genggaman tangan kanan.
Bit lalu meminta kawan-kawannya yang lain untuk menyentuh tubuh Kat. Dalam sekejap, mata kumpulan manusia setengah binatang tersebut berubah biru. Batu kristal yang berisi tentang kisah hidup Kiarra sampai kedatangan Kenta masuk ke dalam pikiran orang-orang itu. Namun, pencerahan dari sang Naga membuat sang Panglima memikirkan keputusannya dengan serius.
Hingga akhirnya, saat orang-orang Tur sudah kembali sadar usai melihat isi dari inti batu kristal biru, sang Panglima membungkus batu itu kembali ke dalam buntalan lalu menyimpannya dalam saku celana. Semua orang menatap pria tikus yang kini berdiri tegang meski harus menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Aku telah membuat keputusan. Aku harap kalian satu pemikiran denganku," ucap sang Panglima.
Di wilayah benteng terluar Kerajaan Zen.
Terlihat, pasukan Zen sedang membereskan sisa peperangan. Mereka mengangkut jasad-jasad korban pertempuran dengan gerobak untuk dikuburkan ke dekat pohon jembatan. Konon katanya, semua makhluk hidup yang mati di Negeri Kaa, akan kembali kepada sang Naga. Mereka bisa dibangkitkan lagi dalam wujud lain seperti Kia yang saat itu menjadi Aaa. Meskipun bukan manusia lagi, tetapi lahirnya orang-orang yang mati memberikan harapan bagi bangsa Kaa untuk memulai kehidupan baru. Saat semua orang tengah sibuk di luar benteng, tiba-tiba ....
TENG! TENG! TENG!
Sontak, suara pukulan dari sebuah lonceng besar di menara benteng membuat semua penjaga langsung waspada. Mereka yang sedang bekerja dengan sigap menarik pedang dan menghadap ke arah hutan. Para prajurit Zen yang mengenakan pakaian zirah berlapis emas seperti Kenta meski tak sekokoh miliknya kini membentuk formasi bertahan dan menyerang jikalau serangan datang.
Lon yang mendengar suara lonceng dari kamarnya segera berlari menuju ke atas benteng. Ia ditemani orang-orang Zen dan juga Kenta yang ternyata sudah menunggu di sana. Lon menatap Kenta lekat yang tersenyum miring di mana ia masih memakai pakaian besi, tetapi tanpa helm.
"Kau sepertinya tak terkejut. Jangan bilang kau sudah mengetahui hal ini," ucap Lon menatap Kenta tajam.
"Setelahnya, aku hanya ingin bicara dengan Rat. Sisanya, obati luka mereka," ucap Kenta santai yang membuat Lon tertegun termasuk prajurit Zen lainnya. "Buka gerbang," titah Kenta seraya berjalan menuju tangga batu.
"Dia bilang apa?" tanya Lon memastikan.
"Anda tak salah dengar, Penyihir Lon," ucap salah satu prajurit yang membuat Lon mendesis kesal.
Panglima Rat dan anak buahnya yang tersisa berjalan tertatih. Ia menunjukkan isi buntalan kain yakni batu kristal biru saat mendekati benteng. Mata Lon menajam di mana akhirnya ia tahu tentang siasat Kenta yang disembunyikan darinya.
"Awas saja kau, Ara. Kau membuat rencana tanpa melibatkanku. Ken-ta juga tak mau membagi idenya denganku. Kalian sungguh menyebalkan," gerutu Lon dengan wajah sebal.
GREKKK!
"Panglima," panggil Cok si tikus tanah saat melihat pintu gerbang terbuka.
Meskipun lelaki itu setengah tikus tanah, tetapi matanya mampu menahan silau cahaya karena masih berwajah manusia. Hanya tangannya saja yang menyerupai hewan itu. Ia juga memiliki ekor dan sebagian tubuh berbulu hitam. Para kumpulan manusia setengah hewan dari Tur berjalan dengan gugup menuju ke gerbang Zen di mana mereka sama sekali belum pernah memasukinya.
"Panglima Rat. Anda ditunggu oleh Panglima Wen, atau bisa dipanggil Ken-ta di ruangannya. Sisanya, kalian tunggu di aula. Kami sudah menyiapkan makanan, minuman dan 'Nega' untuk mengobati kalian. Setelahnya, kalian bisa beristirahat," ucap seorang pria yang diyakini adalah Komandan Pasukan Zen.
"Heh, terdengar sangat menjanjikan. Pasti itu semua hanya kiasan dari sebuah penyiksaan bukan?" ucap Kat tak percaya.
__ADS_1
"Ken-ta mengatakan seperti yang kau ucapkan pada kami. Jadi, lihat saja sendiri," ucap pria berpakaian emas itu tenang.
Kening Rat dan lainnya berkerut. Terlebih, saat Lon muncul dengan wajah masam menatap kumpulan orang-orang itu tajam di kejauhan.
"Panglima Rat, ikut aku," ajak Lon.
Rat menatap anak buahnya di mana mereka saling memandang dalam diam terlihat cemas. Rat mengangguk meyakinkan jika mereka akan baik-baik saja selama menjadi tahanan Zen. Kat dan lainnya mengembuskan napas panjang dan memilih untuk menurut. Jalan yang dilalui Rat dengan anak buahnya berbeda.
Rat menaiki tangga mengikuti bocah lelaki yang memiliki tanda di dahinya. Rat yakin jika orang itu adalah penyihir. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah pintu emas. Rat tampak takjub ketika pintu itu terbuka dan ruangan tersebut berkilau karena semua perabotan berlapis emas. Rat melongo.
"Kau bisa membawa beberapa barang sebagai hiasan di rumah. Jangan sungkan," ucap Kenta yang sudah melepaskan pakaian emasnya dan dipajang gagah di samping meja kayu layaknya meja kerja.
Kenta duduk di kursi seraya meneguk sebuah minuman dari sebuah gelas emas dengan santai. Rat terlihat gugup saat diminta duduk di hadapan Kenta dengan Lon berdiri dekat pintu. Rat duduk sembari memegangi bahunya yang masih terasa sakit dan berdarah. Ditambah, dadanya terasa sesak sehingga ia kesulitan bernapas.
Rak tiba-tiba datang dan mengejutkan Rat. Wanita berambut putih tersebut tiba-tiba menyentuh pundak Rat yang sakit. Rat tertegun dan meringis saat lukanya dicengkeram kuat, tetapi sesudahnya ia merasa bahunya membaik. Rak tersenyum tipis usai membuat darah yang mengalir dari luka itu membeku untuk sementara waktu.
"Terima kasih," ucap Rat seraya menatap Rak yang kini berdiri di samping Kenta. Rak tersenyum tipis dengan anggukan.
Lon menutup pintu rapat di mana kali ini ia harus tahu rencana Kenta. Pria Jepang itu sepertinya sadar jika Lon marah padanya. Kenta yang memiliki pengalaman dengan membuat penyihir kesal memilih untuk membiarkan Lon terlibat.
"Minumlah," pinta Kenta seraya memberikan gelas yang tadi diminumnya.
Rat terlihat ragu, tetapi Kenta memaksa. Rat menerima gelas itu dan menatap air berwarna biru yang terlihat mencurigakan.
"Kau melihatku meminumnya. Itu bukan racun, tetapi obat. Aku tahu kau pasti kesakitan karena pertempuran tadi," ucap Kenta tenang lalu duduk tegap dengan dua tangan di atas meja.
Rat melirik Rak yang menatapnya dalam diam termasuk Lon. Pria tikus itu lalu meneguknya kemudian meletakkan gelas di atas meja. Kenta tersenyum tipis lalu menyingkirkan gelas emas itu karena menghalangi pandangannya.
"Katakan. Apa yang membuatmu kembali?" tanya Kenta serius tanpa basa-basi lagi.
Panglima Rat mengambil buntalan berisi kristal biru lalu diletakkan di atas meja. Kenta tersenyum tipis.
"Sihir macam apa yang kalian gunakan? Tentunya, sihir itu sangat kuat," tanya Rat serius.
"Sihir naga. Aku tak bisa membuat semacam itu. Termasuk Rak dan Lon meskipun mereka penyihir. Level mereka jauh berbeda dengan sang Naga," jawab Kenta mantap, tetapi mendapat lirikan sadis dari Rak. Kenta menelan ludah.
"Naga?" tanya Rat mengulang. Kenta tersenyum karena yakin jika pria tikus tersebut masih meragukannya.
"Jika di Bumi, kami hanya perlu menunjukkan rekaman dari CCTV atau pantauan dari satelit. Di sini, semua hal berbau mistis. Jujur, terkadang, aku sendiri takut berada di tempat ini," ucap Kenta seraya memajukan tubuhnya.
Kening Lon, Rak dan Rat berkerut.
"Kau sepertinya memang bukan dari Negeri Kaa. Kau bilang Bumi? Seperti Jenderal Kia. Dia adalah ... Kia-rra?" tanya Rat memastikan.
"Begitulah. Sihir Naga sungguh hebat, bukan? Jadi ... masih ingin mengabdi pada rajamu atau bersekutu dengan kami untuk menciptakan perdamaian?" tanya Kenta.
"Itu semua tergantung dari jawabanmu atas semua pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan."
Kenta mengangguk pelan terlihat serius. "Oke. Tanyakan," jawabnya mantap.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : Pxfuel