Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Bantuan Terselubung*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Praktis, serangan lanjutan dari pasukan Tur yang tersisa, membuat Noh dan kelompoknya panik setengah mati. Para manusia setengah binatang itu, siap membantai kelompok dari Vom yang mencoba untuk melarikan diri dari area pertempuran. Gor sengaja membiarkan mereka di sana sampai kematian merenggut dengan sendirinya. Akan tetapi, jika para sipil datang membantu, hal buruk bisa terjadi seperti adanya penyerangan susulan dari Vom.


"Tinggalkan kami! Pergi dari sini!" teriak Aim sang pemimpin pasukan burung Eee seraya mendorong dada seorang pria yang ingin menolongnya untuk dibawa ke hutan.


Para warga panik. Mereka kebingungan antara kabur atau menolong orang-orang yang sekarat demi mempertahankan benteng dari musuh.


"Cepat pergi! Lindungi diri kalian sampai bantuan datang!" seru Noh seraya memegangi kakinya yang berdarah hebat.


Kepala desa tersebut akhirnya mengangguk setuju. Mereka terpaksa meninggalkan para prajurit Vom. Akan tetapi, diam-diam mereka meninggalkan senjata untuk para pejuang agar bisa mempertahankan diri. Para sipil berlari kencang menyelamatkan diri.


Aim dan prajurit-prajuritnya sigap menyembunyikan senjata tersebut dengan mendudukinya. Beruntung, pasukan Tur sudah tak memiliki senjata panah untuk melakukan serangan jarak jauh. Langkah para manusia setengah binatang itu terhenti di depan kumpulan prajurit Vom. Seorang prajurit dengan sosok manusia setengah musang melangkah maju ke depan menatap mereka tajam.


"Kalian akan mati terhormat di sini. Jangan jadi pengecut dengan kabur dari ladang pertempuran," tegasnya dengan pedang dalam genggaman.


Laksamana Noh menatap prajurit itu dengan tubuh tergeletak miring di atas tanah. Ia dan pasukan Eee yang tersisa hanya bisa pasrah menerima kematian yang mungkin sebentar lagi akan merenggut entah dengan cara apa. Pasukan Tur membentengi orang-orang yang terluka itu dengan bongkahan batu yang disusun membentuk lingkaran. Gor melangkah maju dengan kapak ia arahkan ke tumpukan lingkaran batu.


"Jika sampai kalian berani keluar dari lingkaran ini, aku tak segan membunuh dan kubiarkan mayat itu berada di sini. Kulakukan, sebagai pengingat," tegas Gor yang membuat napas 10 orang dari Vom itu memburu.



Saat bulan ungu digantikan merah, terlihat Gor dan pasukannya berpesta pora di dalam reruntuhan benteng. Mereka menemukan persediaan dan menikmatinya dengan membuat api unggun. Sedangkan di luar sana, tubuh Laksamana Noh menggigil hebat. Ia kehilangan banyak darah. Wajahnya pucat dan bibirnya mengering. Aim dan lainnya dibuat cemas melihat kondisi Noh yang semakin memburuk dari menit ke menit.


"Jika terus seperti ini, Laksamana bisa mati," bisik Aim ke hadapan kawan-kawannya.


"Bunuh saja aku. Luka ini sungguh menyiksa. Aku ... aku tak sanggup bertahan lebih lama lagi," ucap Noh dengan suara bergetar yang membuat kesedihan menyeruak di hati semua orang.

__ADS_1


"Anda pria hebat dan kuat, Laksamana. Kami yakin, Vom tak akan membiarkan kita mati di sini. Bertahanlah," ujar salah satu prajurit Eee yang mengalami patah tulang di lengan kirinya.


Noh kembali memejamkan mata. Lukanya telah dibalut oleh kain hasil robekan dari para prajurit yang merelakan pakaian mereka. Noh dikerubungi para penunggang Eee di mana pria berambut putih panjang itu terlentang di tengah-tengah. Saat duka menyelimuti hati semua orang tiba-tiba ....


"Hem? Apa ini? Kalian merasakan itu?" tanya Aim saat merasakan jika tanah yang didudukinya bergetar.


"Kau benar!" jawab prajurit lain yang membuat kumpulan orang-orang itu panik dengan mata terfokus pada tanah di bawah mereka.


Seketika ....


"Oh!" kejut salah seorang penunggang Eee yang ikut mengagetkan prajurit lainnya.


Tiba-tiba saja, muncul sebuah lubang besar dari dalam tanah di samping Aim. Orang-orang itu menyingkir dan melihat ke arah lubang besar itu saksama. Tak lama, muncul sosok yang terlihat sedikit mengerikan karena hewan tersebut cukup besar layaknya manusia.


"Ssttt ... aku Cok. Aku kelompok pemberontak Tur. Jangan membuat gerakan yang mencurigakan. Ikuti saja perkataanku dan kalian akan aman," ucap Cok si manusia tikus tanah berbisik.


Aim dan anggota timnya mengangguk pelan. Dengan sigap, mereka menutupi sosok Cok dengan membentuk setengah lingkaran. Lima dari mereka menghadap ke arah pasukan Tur di kejauhan ketika lainnya mendengarkan pesan dari Cok.


Aim dan lainnya mengangguk paham. Sebagian tubuh Cok masih berada dalam lubang. Pria tikus tanah itu lalu memberikan sebuah tas kain berisi banyak perlengkapan. Cok kemudian pamit pergi karena ia bisa merasakan getaran di tanah di mana seorang prajurit Tur datang mendekat. Aim dengan sigap menutupi lubang galian Cok dengan melepas baju besinya. Tas kain yang dibawakan oleh Cok ditutupi dengan pakaian tempur prajurit lain agar tak terlihat.


"Kalian sangat mencurigakan," ucap seorang prajurit Tur menatap Aim dan lainnya tajam.


"Kami lapar, haus dan kesakitan. Wajar jika perilaku kami aneh atau bahkan mencurigakan," tegas Aim gusar.


Prajurit tersebut tersenyum miring lalu berpaling. Aim lega karena alasannya yang diucapkan spontan, berhasil meyakinkan musuh. Noh sekarat dan berulang kali mengigau. Pasukan Tur kembali berpesta pora merayakan kemenangan.


"Tutupi aku," pinta Aim dengan mata terfokus pada pergerakan prajurit Tur di kejauhan.

__ADS_1


Tiga orang dari kelompoknya dengan sigap bergerak menutupi Noh dan Aim. Sang kapten menyeret kaki kirinya yang sakit dan terlihat bengkak karena tertindih tubuh Eee saat jatuh dengan keras ke permukaan. Pria itu membuka isi tas dan menemukan sebuah kain dengan tulisan di sana. Aim memunggungi pasukan Tur saat membacanya.


"Ini dia," ucapnya lirih saat menemukan sebuah botol berisi cairan berwana hijau yang mengeluarkan cahaya. Semua orang terpukau melihat dalam botol tersebut seperti ada sebuah pohon. Terlihat kerlip di dalamnya seperti terdapat sihir kuat.



"Ini obat dari Boh," gumam Aim saat membuka penutup botol perlahan.


Semua orang terlihat tegang ketika Aim membuka ikatan kain yang sudah basah karena darah Noh mengucur deras. Para prajurit yang melihat luka tersebut memalingkan wajah karena tak tega melihat potongan daging segar yang masih berkedut itu.


"Kau akan baik-baik saja, Laksamana," ucap Aim terlihat tegang saat meneteskan sedikit demi sedikit cairan hijau ke telapak tangan kirinya. Seketika, cairan itu berubah menjadi kental.


Kepala Noh sampai bergeleng-geleng seperti terusik akan sesuatu. Aim mengoleskan cairan lengket bagai madu itu ke luka potongan dengan hati-hati menggunakan telunjuk kanannya. Ia kemudian membungkus luka itu lagi dengan kain baru berwarna ungu yang berada dalam tas di mana terasa seperti ada serbuk yang menempel di sana. Tak sampai di situ saja, Aim kemudian membuka sebuah penutup botol lagi.


Di sana terdapat daun-daun kecil berwarna merah yang tergenang dalam cairan berwarna kuning. Aim mengambil sebuah daun menggunakan kayu layaknya sumpit dari tutup botol lalu ia masukkan dalam mulut Laksamana dan meletakkannya di lidah. Mata para prajurit yang mengelilingi pria berambut putih panjang itu membulat penuh saat melihat keajaiban dari pengobatan dari para penyihir.


"Lihat! Wajah Laksamana sudah tak pucat lagi. Bibirnya tak kering!" pekik salah seorang penunggang sampai melotot.


"Diam! Jangan banyak bicara. Kita juga harus segera pulih untuk menyelesaikan pertempuran. Kita belum kalah," tegas Aim balas melotot.


"Ya ... kesalahan Tur adalah, membiarkan kita hidup," ucap Laksamana Noh mengejutkan semua orang di sekitarnya.


"Hehe, Anda memang hebat, Laksamana," puji Aim geleng-geleng kepala.


"Sial. Aku buntung. Menjijikkan," gerutunya.


Semua orang menahan senyum. Mereka tak menyangka jika sang Laksamana masih bisa bicara banyak padahal ia sekarat.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2