
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Pria bernama Ram terlihat senang karena niat baiknya disambut oleh wanita yang mengaku bernama Ara. Meskipun Kiarra sangat membenci Jasper, tetapi sosok pria yang mirip dengannya itu memiliki sifat yang berbeda. Kiarra hanya diam mengamati di atas tunggangannya ketika Ram melucuti perlengkapan milik prajurit Ark kemudian dijadikan perbekalan. Kiarra tersenyum tipis karena yang dilakukan Ram mirip dengan sang ayah tiri—Dexter—ketika ia dulu bercerita mengenai cara bertempur usai anak-anak Tora tahu latar belakang keluarga.
"Mm, Ara. Bisakah kau lepas cadarmu? Maaf, hanya saja, kita akan menjadi teman seperjalanan. Aku ingin tahu paras dari wanita yang akan menghabiskan waktunya denganku, meski ku yakin jika kau sangat cantik karena bisa kulihat dari matamu," ucap Ram meminta.
Kiarra diam terlihat memikirkan permintaan Ram dengan serius. Entah kenapa, ia tak bisa menolak. Kiarra melepaskan cadarnya dan memasang wajah datar kepada pria di hadapan.
"Wow, kau ... cantik," ucapnya memuji terdengar jujur dengan ekspresinya menggambarkan demikian. Kiarra diam tanpa ekspresi. "Hanya saja, aku tak tahu di mana lokasi buah naga itu. Namun, aku tahu wujudnya," ucap Ram saat ia mengakuisisi seekor kuda milik salah satu prajurit yang telah tewas sebagai tunggangan.
"Oke, kita bertukar informasi. Aku tahu cara ke sana, dan kau tahu seperti apa wujud buah naga. Kau kuiizinkan ikut, bukan berarti aku menganggapmu teman. Aku bisa meninggalkanmu kapan saja," tegasnya.
Ram tersenyum tipis. "Sepertinya ... kau sangat membenciku, padahal kita baru saja bertemu. Kau bahkan tak mengucapkan terima kasih karena bagaimanapun, aku juga telah menolongmu," ujarnya.
"Kalau begitu selamat tinggal. Aku muak dengan orang yang memiliki sifat pengemis. Urusan aku ingin mengucapkan terima kasih atau tidak, tak perlu kau minta. Kau tak tulus menolongku. Aku saja tak minta kau berterima kasih karena sudah membunuh prajurit Ark ketika mereka ingin menghabisimu. Jika tahu sifatmu begini, aku menyesal sudah menolong," ucap Kiarra yang kemudian memacu ayam besarnya untuk segera pergi.
Praktis, Ram terkejut. Ia berlari mengejar Kiarra dengan tergesa.
"Aku minta maaf, aku sungguh minta maaf. Aku hanya bercanda. Aku hanya ingin bicara padamu karena sudah lama sekali aku tidak mengobrol dengan seorang wanita. Senang rasanya memiliki teman seperjalanan meski kuyakin kau tak sepemikiran denganku," ujarnya seraya berlari.
Seketika, Kiarra menghentikan laju tunggangannya. Napas Ram tersengal dengan keringat mulai terlihat membasahi tubuh yang atletis terbalut jubah.
"Ingin tahu alasannya kenapa aku sangat membencimu?" tanya Kiarra dengan sorot mata tajam.
"Ya, kenapa?" tanya Ram menatap wanita cantik di depannya dengan kening berkerut.
"Karena wajahmu sangat mirip dengan calon suamiku. Tepat sebelum kami resmi bertunangan, aku melihatnya bermesraan dengan dua wanita sekaligus. Jadi, nasib buruk untukmu karena mirip dengannya," tegas Kiarra.
Ram terkejut sampai matanya melotot. Ia berdiri mematung, tetapi kemudian terkekeh geli sampai menutup mulut dengan jari-jari kekarnya. Kiarra menyipitkan mata.
"Ma-maaf, hanya saja ... jangan karena kami mirip lantas kau samakan aku dengan calon suamimu itu. Kau juga tak mau kan jika kusamakan dengan seseorang yang menyebalkan padahal kau tidak demikian. Baiklah, aku bisa memaklumi hal itu. Namun, aku bukan pria itu. Aku adalah Ram dan bukan seorang pria peselingkuh," tegasnya.
"Terserah," jawab Kiarra enggan membahas hal ini lebih lanjut.
__ADS_1
Kiarra kembali memacu ayamnya, tetapi kali ini hanya berjalan. Ram tersenyum tipis lalu menoleh ke arah kuda yang sudah siap dengan perbekalan miliknya. Seekor kuda berwarna ungu yang menunjukkan jika hewan itu hanya bisa beraktivitas saat bulan ungu muncul.
"Fiu ... wit!" Ram bersiul memanggil kuda itu.
Kiarra menoleh dan melihat si kuda berjalan ke arah Ram seperti sudah jinak. Ram bergegas naik dan mengejar ketinggalan karena Kiarra sudah di depan.
"Sepertinya kau mahir berkuda, Ram," ucap Kiarra dengan pandangan lurus ke depan.
"Dulunya aku pengurus kuda di sebuah peternakan kerajaan Ark. Kuda-kuda itu nantinya akan menjadi kendaraan para prajurit di istana. Aku mengajarkan kuda-kuda itu untuk mengerti tugas-tugasnya seperti ketika dipanggil," ucapnya menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan kuda-kuda yang ditinggalkan," tanya Kiarra saat melihat kuda-kuda milik prajurit yang tewas masih berada di sekitar hutan tak melarikan diri usai pertempuran.
"Sebaiknya kita bergegas. Setahuku, akan ada patroli keliling tiap satu jam sekali. Kejadian di hutan ini akan diketahui oleh kerajaan. Kita segera pergi dari sini," ajak Ram seraya melihat sekitar dengan wajah tegang.
"Aku setuju. Namun, tunjukkan wilayah perbatasan antara Ark dan Zen. Lebih bagus lagi, jika kau tahu di mana lokasi pohon jembatan di antara dua kerajaan itu," ujar Kiarra mulai cepat memacu ayamnya sehingga hewan itu mulai berlari kecil.
"Pohon jembatan? Aku tahu. Hanya saja, kemungkinan kita harus beristirahat saat bulan merah muncul. Kudaku tak bisa berlari saat bulan tersebut mulai bersinar. Sedangkan ayammu, jujur, Aaa adalah makhluk langka. Di mana kau mendapatkannya? Dia sangat sulit ditangkap dan penyendiri. Ia bahkan bisa terus bergerak ketika bulan merah atau ungu muncul," tanya Ram menatap ayam besar milik Kiarra.
"Ya, aku mendapatkannya. Dia yang mendatangiku, jadi aku tak tahu jika jenis hewan ini adalah penyendiri," jawabnya meyakinkan.
Ram tampak kagum dan mengangguk dengan senyuman. Kiarra melirik saat Ram memacu kudanya lebih dahulu di depan sebagai penunjuk jalan. Kiarra menahan senyum karena hatinya tiba-tiba merasa bahagia. Terasa debaran aneh seperti kasmaran. Kiarra menatap sosok Ram yang tampak gagah dan menawan meski hanya punggungnya.
"Sadarlah, Ara. Yakinkan dirimu itu bukan cinta. Kau sudah dewasa, bukan anak kecil. Mana ada cinta pada pandangan pertama. Pasti ini hanya cinta monyet seperti yang terjadi ketika aku sekolah dulu," gumamnya memantapkan hati.
Kuda Ram dan ayam raksasa Kiarra berlari kencang membelah padang rumput menuju ke suatu tempat. Kiarra bisa melihat perubahan langit saat pergantian bulan ungu ke bulan merah. Pertanyaannya terjawab mengenai Aaa, apakah bisa terus melaju tanpa harus menunggu bulan berganti? Ia juga merasa heran karena Lon memberikan hewan itu di mana katanya, Aaa adalah satu-satunya tunggangan yang tersisa di desa.
Hewan itu datang dengan sendirinya ke pemukiman tersebut. Aaa yang dianggap langka, dijaga dan dirawat dengan baik oleh penduduk desa. Hingga ketika Kiarra menjelaskan tentang misinya, pemimpin desa menyerahkan Aaa sebagai kendaraan Kiarra agar bisa mendapatkan buah naga demi menyelamatkan Dra. Aaa sendiri terlihat jinak meskipun awalnya Kiarra sempat takut pada hewan yang memiliki paruh besar dengan tubuh dua kali lebih tinggi darinya.
"Kita akan segera tiba. Hanya saja, pohon jembatan di perbatasan dijaga ketat oleh pasukan Ark. Kita harus berhati-hati," ujar Ram saat Aaa berhasil menyusul dan kini berlari di samping kuda ungu.
Kiarra diam sejenak terlihat memikirkan sesuatu. "Adakah tempat beristirahat yang aman sebelum bulan merah muncul? Aku rasa, perjalanan kita baru bisa dilanjutkan saat bulan ungu kembali terlihat," ucapnya.
__ADS_1
"Ya, aku setuju. Aku tahu tempat aman. Ayo!" ajak Ram kembali memacu kudanya kencang.
Kiarra mengikuti Ram di belakang. Ia merasa beruntung karena Ram tahu banyak hal tentang Negeri Kaa dan bagaimana mengamankan diri dari pasukan musuh. Kiarra melihat ke langit di mana bulan ungu mulai bergerak sebagai pertanda jika pergantian bulan akan segera terjadi. Kiarra tak cemas dengan tunggangannya karena Aaa bisa terus melaju tanpa mengkhawatirkan bulan ungu atau merah yang bersinar. Namun, kuda ungu Ram akan tertidur dengan sendirinya ketika bulan merah terbit.
"Ara! Cepat! Pintu masuk ke desa ilusi hanya terbuka ketika perpindahan bulan terjadi!" seru Ram terlihat tegang.
"Desa Ilusi?" gumannya dengan mata menyipit. "Oke!" sahutnya cepat dan melaju ayam besarnya cepat.
"O-ke?" gumam Ram terlihat bingung dengan bahasa Ara.
Kaki-kaki hewan itu bergerak cepat menerobos hutan. Kiarra terlihat gelisah karena kuda Ram mulai terlihat lamban dan kepala mengangguk-angguk seperti orang menahan kantuk.
Benar saja, BRUKK!!
"Agh, sial! Tinggalkan saja, ayo!" ajak Ram saat ia merasakan kudanya akan ambruk.
Dengan sigap, Ram melompat. Ia segera melucuti perbekalannya ketika hewan itu mulai duduk dengan mata sayu siap untuk tidur. Kiarra yang bingung mengikuti Ram yang berlari tergesa terus masuk ke hutan hingga terlihat dua buah pohon yang membentuk layaknya gapura, tetapi tertutupi oleh sulur. Kiarra tetap duduk di atas ayam besarnya saat tiba-tiba saja, cahaya merah dan ungu dari bulan menyinari sulur itu yang membuatnya terbuka.
"Woah!" seru Kiarra dengan mata berbinar ketika melihat pemandangan menakjubkan di depannya.
"Cepat masuk sebelum pintunya tertutup kembali!" seru Ram yang dengan segera melangkah masuk.
Kiarra mengangguk dan mengajak ayamnya masuk ke dalam wilayah seperti sebuah desa, tetapi terasa seperti berada di dimensi lain karena auranya berbeda. Saat Kiarra dan Aaa telah masuk ke dalam, tiba-tiba saja sulur yang saling melilit menutup pintu yang hanya terbuka sekitar 5 menit saja. Kiarra kagum dengan keajaiban Negeri Kaa dan kejutannya. Ram tersenyum saat ia melangkah dengan santai seraya membawa buntalan.
"Hebat bukan?" ujarnya seraya menoleh dan menunjukkan senyum menawan. Jantung Kiarra berdebar. Ia hanya mengangguk usai turun dari punggung Aaa yang telah berjasa membawanya sampai sejauh ini.
"Ini keren," jawab Kiarra yang akhirnya kembali buka suara seraya mengikuti Ram.
***
Jangan lupa dukungannya ya biar lele semangat up di tengah keriwehan yang merajalele💪 Vote semua harta kalian di NT untuk lele. kwkwkw maruk😆mumpung Ramadhan biar pahalanya dobel2🥰 kuy kuy❤️
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE