
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra berdiri dari tempatnya duduk. Eur tersenyum saat calon istrinya beranjak dan berjalan menuju ke mimbar di mana lima buah kursi telah berjejer rapi di sana. Kiarra berdiri dengan beberapa petinggi kerajaan ada di bawah mimbar. Warga dari seluruh kerajaan yang datang pada hari itu tampak mengembangkan senyuman.
Mereka berdiri di samping kursi masing-masing untuk melihat acara penobatan yang paling dinantikan dan jarang terjadi di Negeri Kaa. Boh, Lon dan Rak berjalan menuju mimbar. Lon membawa sebuah nampan dengan lapisan es membungkusnya. Mata semua orang dibuat takjub ketika terlihat sebuah mahkota indah dengan hiasan kristal biru ciri khas Kiarra. Senyum Kiarra terkembang. Terlihat jelas ia sangat menyukai hiasan kepala sebagai bentuk kekuasaan di sebuah kerajaan tersebut.
"Salam perdamaian untuk seluruh makhluk di Negeri Kaa," ucap Rak lantang yang akan memimpin jalannya penobatan tersebut.
"Salam!" jawab semua orang dengan tangan kanan mengepal di dada sebelah kiri.
Kenta yang baru pertama kali mengikuti prosesi itu, ikut serta di dalamnya. Ia menjadi saksi atas keberhasilan sang adik dan juga bukti pengakuannya jika Kiarra memang pantas untuk memimpin salah satu kerjaan di Negeri Kaa. Kenta tersenyum sebagai bentuk dukungan dan Kiarra membalasnya dengan senyum yang sama.
"Jenderal Kia yang telah bertansmigrasi dengan arwah baru yakni Kia-rra, telah dipercaya oleh bintang biru. Kia-rra mendapatkan berkah dan misi dari sang Naga untuk menciptakan perdamaian di Negeri Kaa. Kia-rra menyatukan kelima kerjaan. Kini, kita semua berkumpul di tempat ini sebagai bentuk puji syukur dan pengakuan atas keberhasilannya. Mulai hari ini hingga ajal Kia-rra menjemput, dia akan dinobatkan menjadi Ratu di Kerajaan Vom! Kekuasaan dan kepiawaiannya diakui oleh empat kerajaan lain yakni Yak, Zen, Tur dan Ark. Beri hormat kepada Ratu Kia-rra dari Vom! Terberkatilah dan panjang umur Ratu Kia-rra!"
"Terberkatilah dan panjang umur Ratu Kia-rra!" seru semua orang serempak dengan kepalan tangan kanan terjulur ke atas.
Kenta bertepuk tangan dan Kiarra menjawabnya dengan senyum terkembang. Boh mengambil mahkota kristal tersebut lalu diletakkan di atas kepala Ratu Vom. Kiarra tampak begitu gembira karena tak pernah menduga jika dipercaya menjadi seorang ratu sebuah kerajaan besar di suatu negeri.
"Yeah!" teriak Kenta bersorak.
Orang-orang yang berkumpul di tempat itu ikut memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk dukungan. Kiarra bergaya layaknya seorang ratu di Bumi dengan mengangkat rok pada gaunnya seraya menekuk dua lututnya sedikit. Kenta terkekeh karena tahu jika Kiarra menikmati peran barunya.
"Selanjutnya. Penobatan untuk keempat pemimpin kerajaan di Negeri Kaa. Ratu Kia-rra sebagai satu-satunya manusia yang mendapatkan berkah melimpah di Negeri Kaa, kami persilakan untuk memilih calon pemimpin tersebut. Mereka nantinya akan berdampingan denganmu untuk mewujudkan perdamaian abadi selamanya," ujar Rak yang diangguki Kiarra.
Wajah semua orang terlihat tegang. Kiarra yang mengenakan gaun cantik berwarna senada seperti mahkotanya berdiri tegak di atas mimbar. Tangan kanannya perlahan terjulur ke depan dan membuat kepala semua orang mengikuti arah telunjuk tersebut.
"Pangeran Owe. Berjanjilah padaku jika kau akan mensejahterakan warga Tur di bawah kepemipinanmu. Meskipun kau putra dari Raja Tur, tetapi ... aku percaya kau tak sepertinya. Kau akan menjadi pemimpin yang bijak dan kuat untuk mengemban tugas berat demi kebahagiaan rakyatmu. Apakah kau sanggup menerima tugas berat itu?" tanya Kiarra tajam menunjuk manusia setengah rakun yang berdiri di kejauhan pada sebuah meja bundar.
"Kujaga kepercayaanmu padaku, Ratu Kia-rra. Aku sanggup!" jawab Owe mantap.
Kiarra mengangguk lalu menjulurkan tangan, meminta sang pangeran untuk berdiri di sisinya. Kenta yang merasa jika orang-orang di Negeri Kaa sangat kaku, kembali bertepuk tangan seraya bersorak. Kiarra membantu saudaranya agar tak malu karena hanya Kenta yang melakukan hal tersebut. Orang-orang akhirnya ikut bertepuk tangan untuk memberikan dukungan pada Pangeran Owe tersebut.
"Selanjutnya, Ratu Kia-rra," ucap Rak yang berdiri dengan dua penyihir di sisinya.
__ADS_1
"Kenta."
"He??" pekik pria itu yang mengejutkan semua orang karena sang Ratu menunjuknya.
"Kemari. Jangan seperti orang bodoh yang hanya berdiri di sana."
Kenta yang gugup berjalan ke atas mimbar dengan ragu. Rak tersenyum tipis karena kekasihnya tampak kaku ketika diminta berdiri di samping Kiarra. Semua orang ikut berwajah tegang.
"Panglima Wen. Jasa Anda tak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun, termasuk Kenta saudaraku." Kenta langsung memasang wajah malas. Kiarra menahan senyum. "Dengan izin dari sang Naga, Kenta kini merasuki jasadmu. Ia berjuang keras untuk mewujudkan impian sang Naga. Berusaha keras untuk membahagiakan Rak kekasihmu." Ternyata, ucapan Kiarra berhasil membuat wajah Rak langsung sendu seketika. Pandangannya tertunduk. "Dan kau, Kenta. Manusia dari Bumi yang tak lain adalah saudara laki-laki lain ibu dariku. Apakah kau bisa menjaga Yak untukku? Kau pernah menjadi pemimpin di tempat asalmu dulu. Pernah mengikuti peperangan dan permainan gila pada zamannya. Kurasa, Yak tepat berada di tanganmu dengan Rak yang akan menjadi pendamping. Bagaimana, apakah kau bisa menerima tugas berat yang kupercayakan padamu ini?"
Kenta terlihat ragu. Ia menatap Rak yang masih menundukkan wajah. Kenta menoleh dan melihat beberapa warga Yak yang ikut dalam acara hari itu balas menatapnya saksama.
"Jawaban itu baru bisa kujawab jika warga Yak dan Rak percaya padaku. Bagaimana, apakah kalian menerimaku sebagai pemimpin?"
Seketika, pertanyaan itu membuat warga Yak saling memandang. Mereka berbisik kemudian tersenyum.
"Hidup Raja Ken-ta!" seru seorang pria yang pernah ikut bertempur bersama pria Jepang tersebut.
"Hidup Raja Ken-ta!" sahut warga lain yang diikuti warga lainnya dengan kepalan tangan kanan terjulur ke atas. Kenta tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
Rak mengembuskan napas panjang lalu mengangguk pelan. "Kau rajaku, Ken-ta."
"Yeah!" seru Lon semangat lalu meletakkan nampan di lantai begitu saja. Boh melirik dalam diam lalu menggelengkan kepala dengan wajah malas.
Kenta lalu berdiri di samping Kiarra dengan Rak dalam gandengan tangannya.
"Berikutnya, Ratu Kia-rra," ujar Rak terlihat bahagia berdiri di samping Kenta.
Suasana kembali tenang saat Kiarra mengangkat dua tangannya ke depan. Matanya memindai sekitar lalu tersenyum saat menunjuk seseorang yang berdiri di kejauhan. Sontak, semua orang terkejut karena tak menduga hal itu.
"Aku tak pantas, Kia-rra," ujar Laksamana Noh di kejauhan.
"Yang menilai orang lain, bukan kau, Laksamana Noh. Katakan padaku, sebelum aku masuk dalam jasad Kia, apakah kau telah melihat banyak kematian?" tanya Kiarra yang membuat Noh mengangguk pelan membenarkan. Semua orang diam menyimak. "Apakah kau menyesal dan kecewa pada dirimu sendiri karena orang-orang yang kau sayangi tewas sebab tak bisa menyelamatkan mereka?" Noh mengangguk lagi dengan wajah sendu. "Kau pilihan tepat, Laksamana," ujar Kiarra yang membuat Noh langsung menatap pemimpin barunya lekat.
"Katakan alasannya, Kia-rra," pinta Boh. Kiarra tersenyum.
__ADS_1
"Noh kecewa, sedih dan marah. Namun, ia bangkit dari keterpurukan. Dia berhasil memenangkan pertempuran. Dia kalah, tetapi tak menyerah dan kembali berjuang bersama kawan-kawannya untuk mewujudkan harapan sang Naga. Tak semua orang mampu melakukan hal berat seperti itu. Sejauh ini, hanya Noh yang kulihat memiliki kepiawaian dalam bertempur dan membangun semangat orang-orang di sekitarnya. Siapa yang sependapat denganku?" tanya Kiarra lantang.
"Aku!" jawab Hem mantap dengan tangan terjulur ke atas.
"Ya, aku juga!" jawab Kem ikut memberikan dukungan.
Satu per satu, tangan orang-orang terjulur ke atas. Noh tersenyum tipis lalu mengembuskan napas keras. "Kau ingin aku ditempatkan di mana, Ratu Kia-rra?" tanya Noh yang pada akhirnya menerima jabatan barunya sebagai pemimpin sebuah kerajaan.
"Zen. Tempat itu butuh banyak perubahan, Laksamana. Kau hanya belum melihatnya secara keseluruhan karena tak pernah bisa menjelajahinya. Lon akan membantumu untuk membangun kembali Zen dalam pemerintahan yang baru. Era perdamaian," ujar Kiarra yang membuat semua orang terperangah termasuk Lon karena dipercaya sebagai asisten sekaligus penasihat bagi pria tua itu.
"Laksanakan!" ujar Noh mantap dan diangguki Kiarra.
"Yang terakhir," ucap Kiarra seraya melirik Rak. Wanita berambut putih itu mengangguk.
"Ark. Tempat itu benar-benar membutuhkan seseorang yang tahu betul bagaimana kondisi warga dan wilayahnya. Kapten Bum, kau kupercaya untuk membangun kembali Ark menjadi tempat yang nyaman bagi warganya. Kau sanggup?"
"Aku? A-Anda menunjuk saya? Sungguh?" tanya pria itu gugup.
"Kau tuli?" sindir Noh.
Semua orang terkekeh karena Laksamana Noh tetap menunjukkan sisi garang meskipun hanya menjawab seadanya.
"Laksanakan, Ratu Kia-rra!" jawab Bum mantap yang membuat Kiarra tersenyum.
"Kemarilah para pemimpin kerajaan Negeri Kaa. Biarkan warga dari kelima kerajaan melihat kita secara bersama-sama. Agar mereka selalu ingat jika kitalah tempat untuk mendengarkan keluh kesah dan juga kegembiraan atas suatu kesuksesan yang akan datang," pinta Kiarra dengan tangan direntangkan, lalu mengajak bergandengan.
Laksamana Noh didampingi Bum naik ke atas mimbar. Kelima orang itu saling bergandengan tangan. Rak, Boh dan Lon ikut serta. Semua orang tersenyum lebar lalu bertepuk tangan ketika Kiarra mengangkat tangannya ke atas diikuti para pemimpin kerajaan.
"Hidup Negeri Kaa! Hidup sang Naga!" teriak Kiarra lantang.
"Hidup Negeri Kaa! Hidup sang Naga!" jawab semua orang serempak.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Deviant Art)
__ADS_1