Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Ingatan Dra


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kematian Dra tentu saja menimbulkan duka mendalam bagi Kiarra. Wanita cantik itu mendatangi jasad penyihir agung kebanggan Kerjaan Vom dengan langkah berat. Tangan Kiarra sampai bergetar saat hendak menyentuh kepala wanita cantik itu. Namun, seketika, keajaiban terjadi. Mata Kiarra menyala biru terang. Ia melihat kejadian masa lalu yang teringat jelas dalam kenangan Dra. Lon yang menyadari jika Kiarra seperti mendapatkan berkah, bergegas mendekatinya.


"Lon, ada apa?" tanya Noh bergegas mendatangi.


"Entahlah, aku tak yakin. Namun, jika melihat yang terjadi, tampaknya Ara mendapatkan penglihatan tentang kenangan Dra," jawabnya yang membuat orang-orang di tempat itu terkejut.


Mereka ikut mendekat dan menatap Kiarra saksama yang bergumam lirih, seperti menceritakan kejadian silam. Tentu saja, hal yang jarang terjadi itu menjadi tontonan menarik bagi semua orang.


Dalam penglihatan Kiarra, ia seolah-olah berada di tempat tersebut. Ia melihat Dra kecil ternyata sudah memiliki sihir, tetapi belum sempurna. Kia, yang sudah mengetahui bakat sang adik, tampak begitu bahagia. Sampai akhirnya kemampuan Dra diketahui oleh orang kerjaan dan membuat kakak beradik itu mengabdi kepada raja zalim demi mewujudkan impiannya.


"Kalian memperbudak Dra sejak ia masih kecil. Manusia-manusia terkutuk," geram Kiarra yang tiba-tiba saja, rambutnya berubah menjadi merah menyala dan berkibar. Seolah, ada terpaan angin kencang di sekitarnya.


"Bahaya! Menyingkir! Tinggalkan tempat ini!" titah Lon yang bisa merasakan sihir kuat dari tubuh Kiarra.


Segera, orang-orang itu meninggalkan kuil Dra. Noh masih bertahan di tempat tersebut karena tak ingin ketinggalan hal-hal mengejutkan.


"Aku harus melihatnya! Jangan berani mengusirku!" tegas Noh menunjuk Lon, meski satu tangannya merangkul tiang batu kuil kuat sebagai penopang tubuhnya.


"Hiss, dasar kakek keras kepala!" gerutu Lon, tetapi ia memilih untuk tak berdebat dengan pria berambut putih panjang itu.


Lon menggunakan sihirnya dengan membuat dua kakinya seperti terperangkap dalam gundukan batu dan tanah di lantai kuil. Sedangkan Kiarra, melihat dengan jelas kejadian-kejadian mengerikan saat Dra dan Kia terlibat peperangan sengit melawan musuh serta monster-monster iblis. Dari penglihatan inilah, Kiarra teringat akan botol-botol berisi makhluk-makhluk Negeri Kaa yang disegel oleh sang Raja di ruang rahasia. Kiarra bergumam dan Lon dengan sigap berjongkok. Anak lelaki itu menuliskan nama-nama monster yang pernah ia dengar sebagai cerita horor pengantar tidur menggunakan batu putih di atas lantai batu.


"Woah, banyak sekali!" pekiknya yang membuat Laksamana Noh merangkak ke arahnya untuk menghindari terpaan.


"Ini apa?" tanya Laksamana yang melihat ada sekitar 15 nama yang tertulis di lantai batu.


"Para monster iblis di Negeri Kaa," jawabnya yang membuat mata Laksamana melebar seketika.


"Lalu ... di mana monster-monster itu berada?" tanya Laksamana dan Lon menggeleng tidak tahu.


Dua lelaki itu menatap Kiarra lekat yang masih memancarkan aura sihir dahsyat. Ternyata, hal tersebut dirasakan oleh Rak, Boh, dan bayi Kiarra.

__ADS_1


Di tempat bayi Kiarra berada.


"Oh, rambutnya menyala biru terang! Persis seperti pohon naga!" pekik Eur ketika melihat bayi yang digendongnya membuka mata lalu berceloteh entah apa yang dikatakan.


"Sebaiknya kita segera ke Vom. Ayo!" ajak Ben dan diangguki semua orang.


Mereka bergegas meninggalkan lokasi istirahat dan kembali melanjutkan perjalanan ke Vom. Eur memeluk bayinya erat. Ia bisa merasakan si cantik itu seperti ingin melakukan sesuatu, tetapi tak tahu apa karena menggeliat dan terus berceloteh seperti membaca sebuah mantra yang tak jelas. Sedangkan Rak dan Boh, mereka terbang meninggalkan Yak. Para prajurit dan orang-orang yang dipercaya untuk membangun ulang kerajaan, merasa jika mereka harus pergi ke Vom.


"Bagaimana, Pangeran?" tanya Tej menatap Pangeran Owe saksama.


"Tinggalkan Tur. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika benar kabar penyihir agung Dra meninggal dan akan diadakan pemakaman, kita harus pergi ke sana segera untuk menghormatinya," jawab Owe yang mendapatkan pesan dari burung khusus kiriman Noh.


Hari itu, Kerajaan Tur dikosongkan. Warga Tur berbondong-bondong meninggalkan rumah menuju Vom. Beberapa dari mereka yang belum pernah meninggalkan Tur terlihat gugup, tetapi penasaran dengan keadaan dunia luar. Mereka yang awalnya takut jika diserang oleh para monster iblis, kini bernapas lega. Makhluk-makhluk keji itu seperti tertidur. Mereka yang tak ingin mengusiknya, melintasi wilayah dengan santun tak melakukan keributan.


"Bagus, terus seperti itu. Jangan melakukan hal-hal yang membuat para monster marah," ujar Owe yang diangguki warga saat mereka berjalan mengikuti pemimpin melintasi kawasan kekuasaan Grr.


Ternyata, semua pemimpin kerajaan memenuhi panggilan Laksamana Noh untuk berkumpul di Vom. Sekumpulan manusia dalam jumlah ratusan berbondong-bondong menuju kerjaan ungu tersebut yang berada di barat daya. Tentu saja, para pengamat langit yakni Kem dan Hem yang melihat pergerakan besar itu, segera menginformasikan kepada orang-orang di Vom untuk melakukan penyambutan.


Di kuil Dra.


"Ara, Ara!" panggil Lon tiba-tiba yang membuat mata biru Kiarra redup seketika.


Rambut wanita cantik tersebut kembali berubah hitam dan aura sihir kuat langsung lenyap seketika. Kiarra mengedipkan mata lalu melepaskan tangannya dari dahi Dra.


"Kau tak apa?" tanya Boh yang ternyata telah berada di sisi Lon.


"Kalian di sini?" tanya Kiarra lalu membalik badan.


"Kau pasti tak sadar jika sudah terjebak dalam ingatan Dra sangat lama. Kau berdiri di sana sampai bulan ungu berganti dua kali! Semua warga dari lima kerjaan sudah datang memenuhi Vom!" pekik Lon menggebu.


"Benarkah? Wow, aku tak menyangka hal tersebut," jawab Kiarra yang mendadak merasa kakinya pegal.


"Jadi ... Dra sungguh tewas?" tanya Rak terlihat sedih saat menatap jasad Dra di kejauhan.

__ADS_1


Kiarra mengangguk pelan dengan wajah sendu, tetapi kemudian tersenyum. "Aku ... tak merasakan kehilangan atas kematiannya. Entahlah. Setelah melihat kenangan Dra yang tersimpan apik selama ini, aku merasa ... Dra masih hidup di dalam pikiranku," jawab Kiarra yang membuat para pendengarnya tersenyum.


"Jika demikian, mungkin kau bisa menggunakan raganya untuk salah seorang dari anggota keluargamu. Bawa dia ke kolam naga seperti lainnya," ujar Boh yang diangguki Lon serta Rak karena sependapat.


Kiarra menoleh dan menatap Dra saksama. Ia tersenyum dengan anggukan.


"Tentu saja. Aku tahu siapa orang yang cocok untuk menggantikan dirinya," jawab Kiarra yang disambut senyuman semua orang. "Oh, lalu ... kapan kira-kira reinkarnasi dari Dra muncul?"


"Hem, tak pernah tahu. Hanya Naga yang mengetahuinya. Orang itu akan muncul dengan sendirinya tanpa kau harus mencari," ujar Rak tenang.


"Oh, ngomong-ngomong. Ada satu hal yang mengganjal pikiranku selama ini. Kurasa, Wen juga tak memiliki jawabannya," sahut Kenta yang tiba-tiba muncul bersama para dayang Kiarra.


"Kristal!" teriak Kiarra yang membuat kening semua orang berkerut. Kenta jadi lupa dengan pertanyaannya.


"Siapa? Dia? Putrimu? Kau beri nama Kri-sss-tal?" tanya Lon mencoba untuk mengeja nama sulit tersebut.


"Ya. Kristal. Cantik bukan?" tanya Kiarra lalu memeluk bayinya yang menyambut pelukan sang ibu dengan senyuman.


"Dia tak mirip denganku," ujar Eur yang membuat wajah Kiarra tegang seketika. "Namun, tak masalah. Bagaimanapun, aku tetap ayahnya."


Kiarra tersenyum lalu mendekati Eur dengan Kristal dalam gendongannya. "Terima kasih, Eur," ucapnya lalu mengecup pipi pria tampan itu mesra.


"Kami juga ayahnya, Ratu Ara," sahut Pop dengan wajah masam.


"Emm ... apakah ... ucapanmu kala itu sungguhan? Kau ... akan menikahi empat lelaki ini?" tanya Lon memastikan terlihat ragu.


"Oh, kau benar! Ya, kita akan menikah!" jawab Kiarra gembira, tetapi membuat wajah semua orang tertegun.


"Pemakaman dulu, Ara, baru menikah. Kau sungguh tidak tahu diri," sindir Kenta yang dibalas suara mendesis bagai ular oleh Kiarra. Orang-orang menahan senyum.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2