
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Semua orang kembali bersiap untuk melakukan serangan kepada Ram. Tubuh pria itu kini seperti raksasa. Ram yang memiliki kemampuan menyembuhkan diri seperti Kiarra, membuat semua serangan yang ditujukan padanya hanya memberikan dampak kecil dan tak membunuh. Namun, Kiarra yakin jika pedang kristalnya mampu untuk menghancurkan Ram selama-lamanya.
SHOOT! SHOOT! BYURR!!
"Bodoh! Kalian tak akan bisa membunuhku hanya dengan ... empf, bau apa ini? Minyak?" endus Ram saat panah-panah yang diluncurkan ke tubuh besarnya membawa kantong berisi cairan berupa minyak.
"Tembak!" teriak Goo lantang menjadi pemimpin prajurit Vom sisi utara.
SHOOT! SHOOT! WHOOM!
"Arghh!" raung Ram saat tubuhnya terbakar dalam lautan api biru.
Ratusan anak panah yang dilesatkan dan mengenai tubuhnya, membuat Ram terlahap api. Ide dari Panglima Wen ternyata memberikan dampak. Sayangnya, serangan mereka hanya melukai, tak membunuhnya.
"Jenderal Kia! Tuntaskan!" seru Panglima Wen dan diangguki Kiarra.
"Harghh!" raung Kiarra seraya berlari kencang dan menggenggam pedang kristal biru di tangan kiri.
Ram berusaha memadamkan api di tubuhnya yang tak berhenti berkobar karena minyak telah melumuri. Praktis, pergerakan Kiarra tak terlihat oleh lelaki itu.
JLEB!
"HARGHH!"
JLEB! CRATT!
"ARGHHH!"
"Serang dia! Jangan berhenti!" seru Panglima Goo seraya menggiring pasukannya untuk mengitari Ram agar tak kabur.
Kiarra mengincar kedua kaki Ram dan menusuknya. Darah tersembur dari luka tusukan yang membuat pria itu meraung kesakitan. Kiarra berusaha menjatuhkan tubuh Ram yang besar karena ia mengincar sesuatu.
JLEB! BRUKK!
"ERGHH!" rintih Ram yang pada akhirnya jatuh berlutut saat punggung kakinya ditusuk.
Strategi Kiarra berhasil. Dengan sigap, ia menarik janggut Ram dan menjadikannya pegangan seperti panjat tebing. Kiarra memanjat seraya terus menusuk sehingga tubuh Ram banjir darah. Tangan lelaki itu berusaha menangkap tubuh Kiarra, tetapi sang Jenderal dengan mudah berkelit. Ia berayun untuk menghindari tangkapan tangan Ram.
"Hargh! Jenderal sialan!"
KREKK!
"Arghh!"
"Jenderal!" seru orang-orang saat mereka melihat Ram menangkap tubuh Kiarra dengan dua tangan dan berusaha untuk meremukkannya.
"Aku tak butuh sihirmu! Kau akan kumusnahkan! Harghh!"
"Arghh!" teriak Kiarra saat merasakan tubuhnya terhimpit.
Meskipun ia telah menggunakan pakaian tempur pemberian sang Naga, tetapi tetap saja, dengan kemampuan Ram yang sekarang, pakaian itu seperti tak memberikan banyak bantuan.
__ADS_1
"Bunuh Ram!" teriak Fuu lantang.
Lagi, serangan bertubi-tubi datang untuk menyelamatkan jenderal mereka. Ram terus meremat tubuh Kiarra sembari melakukan serangan balasan ke arah pasukan Vom dengan dua kakinya.
DUAKK! BRUGG!
"Arghh!" rintih orang-orang karena mereka tertimpa puing reruntuhan akibat tendangan Ram yang menghancurkan bangunan.
"Hahahaha! Mati kalian semua!" teriak Ram yang terus menendangi bangunan-bangunan di sekitarnya dan membuat orang-orang tertimpa.
Ram juga berhasil memadamkan api di tubuhnya dengan berlari keluar pekarangan istana. Ia sengaja berguling di tanah untuk membuat minyak yang melekat di tubuhnya hilang. Napas Ram memburu dengan luka bakar di sekujur tubuh. Luka tusukan dari pedang kristal juga membuat tubuhnya berangsur menyusut meski masih berukuran besar.
"Hahaha! Mati kau, Jenderal!" teriak Ram lantang dengan dua tangan membentuk gerakan seperti melakukan gumpalan untuk menekan tubuh Kiarra.
"Arghhh!" raung Kiarra saat tubuhnya ditekan kuat hingga tak terlihat dalam dua tangan Ram.
Pasukan Vom, para dayang dan para panglima kerajaan dibuat tak berdaya. Mereka ikut terluka karena serangan Ram. Kemampuan menyembuhkan diri lelaki itu sangat luar biasa karena luka di tubuhnya cepat pulih. Seringai Ram terpancar, senyum kemenangan tampak jelas di wajahnya ketika Kiarra tak bisa melawan kemampuan supernya. Namun, tiba-tiba ....
"GRRR!"
KRAUKK!
"Arghh!" raung Ram saat muncul kepulan asap hijau pekat bagaikan badai menerjang wilayah tersebut.
Kepala-kepala ular raksasa yang tak lain adalah Grr muncul. Mulut besar dengan gigi tajam yang mampu mengoyak daging itu dengan ganas menggigit tubuh Ram hingga kepala lelaki tersebut mendongak menjerit sakit.
"Hah! Hah! Li-lihat!" seru Eur saat ia berhasil menyingkirkan puing yang menimpa kakinya.
Para dayang Kiarra selamat dan takjub melihat fenomena para makhluk raksasa Negeri Kaa yang dikenal sebagai jenis pembunuh, kini malah membantu sang Jenderal untuk membunuh Ram. Pria itu diserang dari segala sisi dan melepaskan tangkapannya pada tubuh Kiarra.
Para dayang berusaha menolong, tetapi dengan tubuh yang penuh dengan luka, membuat mereka jatuh berulang kali dan tak bisa datang tepat waktu. Kiarra yang memejamkan mata karena pingsan akibat kekurangan oksigen saat tergencet dalam kurungan tangan Ram, membuatnya tak mendengar panggilan itu.
"Kaa! Kaa!"
"Oh!" kejut orang-orang ketika naga kecil tiba-tiba saja terbang mendekati tubuh Kiarra yang jatuh dengan bebas.
"Ahh!" keluh orang-orang saat tiba-tiba cahaya biru terang menyilaukan mata muncul dari tubuh sang Jenderal.
"Lihat! Naga kecil melindungi Jenderal!" seru Pop ketika melihat Jenderal mereka seperti masuk dalam sebuah telur raksasa berlapis kristal biru.
"Apa yang dilakukan naga kecil pada Jenderal?" tanya Ben panik.
"Entahlah. Namun, Jenderal akan baik-baik saja selama dalam telur yang memiliki lapisan kuat seperti kristal itu. Terlebih, naga bersamanya," jawab Eur dengan napas tersengal karena jalan tertatih.
"Kita amankan Jenderal. Ram disibukkan oleh Grr. Ayo!" ajak Pop dan diangguki dayang-dayang Kiarra lainnya.
Sedang di sisi lain. Ruang bawah tanah istana kerajaan Vom.
"Kita harus membantu Jenderal dan lainnya! Jangan jadi pengecut dengan bersembunyi. Selama ini, warga Desa Gul telah menjadi orang-orang yang mengasingkan diri agar tetap selamat dari serangan kerajaan Vom dan Ark. Namun, kedatangan Ara membuat perubahan. Kami kini memiliki keberanian dan seharusnya kalian juga! Kita memang tak sekuat para prajurit dan jenderal, tetapi kita pejuang!" seru Lon mengobarkan semangat di hadapan penduduk Vom yang berlindung di ruang bawah tanah istana.
"Jangan takut. Naga akan melindungi kita! Ayo!" ajak ayah Lon mendukung.
"Itu benar. Jika Ram sampai berkuasa, kita pasti akan diperbudak olehnya. Sudah cukup kita selama ini ditipu dan diperdaya oleh Ram. Semuanya, keluar!" seru salah satu mantan pejabat kerajaan dan diangguki semua orang.
__ADS_1
Senyum Lon terkembang, berikut warga Desa Gul karena usaha mereka berhasil untuk menyemangati penduduk Vom. Penduduk berhambur keluar dari bangunan yang melindungi mereka. Orang-orang itu menyelamatkan para pasukan dan panglima kerajaan yang tertimbun puing reruntuhan. Bahkan, para pejabat kerajaan ikut berkontribusi usai melihat kegigihan para pejuang pelindung kerajaan dari iblis bernama Ram.
"Bagaimana cara kita membantu Jenderal?" tanya seorang penduduk.
"Oh! Kalian ingat cerita tentang kekuatan Negeri Kaa yang bisa membangkitkan para monster penjaga pohon jembatan untuk melindungi rakyat dari segala jenis ancaman?" ucap Lon yang membuat kening orang-orang di sekitarnya berkerut.
"Maksudmu ...."
"Kita bisa memanggil mereka!" seru Lon penuh keyakinan.
"Ya. Akan tetapi, mantra itu hanya bisa dilafalkan oleh penyihir murni. Dia yang harus membimbing kita. Sedangkan Dra ...."
"Dra masih hidup. Jangan menyumpahiku mati."
"Dra!" teriak Lon dengan mata membulat penuh saat melihat penyihir kebanggan Vom masih hidup meski terlihat lesu di atas punggung Aaa.
Panglima Goo dan Wen segera mendatangi Dra lalu menurunkannya perlahan. Dra didudukkan di lantai batu di kelilingi semua orang.
"Yang dikatakan Lon, apakah benar bisa dilakukan?" tanya Ibu Lon menatap Dra lekat.
Dra tersenyum dengan anggukan.
"Namun, kau sudah kehilangan sihirmu. Apakah mungkin?" tanya Wen cemas karena mata Dra sudah tak menyala ungu lagi.
Dra mengetuk perisai emas di dadanya yang membentuk ukiran seperti naga. Mata Lon melebar. Ia ingat saat cangkang telur naga memerangkap dada Dra kala itu yang kemudian naga kecil menetas.
"Perisai telur naga melindungiku. Meskipun aku tak sekuat sebelumnya, tapi masih memiliki sihir. Hanya saja, untuk melakukan seperti yang dikatakan Lon, dibutuhkan energi yang sangat besar dan akan kuserap dari kalian. Apakah ... kalian bersedia?" tanya Dra dengan wajah pucat.
"Demi Ara dan kebebasan Negeri Kaa dari makhluk iblis seperti Ram, ambilah energiku!" ucap Lon penuh semangat.
"Kami juga! Ambilah!" sahut Goo mantap dan diikuti penduduk lainnya.
Dra tersenyum dan meminta semua orang duduk bersila bersamanya, saling bergandengan tangan. Dra duduk di tengah-tengah menyender pada tubuh Aaa. Para dayang datang membawa telur kristal biru berisi sang Jenderal ke kumpulan para penduduk. Dra meminta agar telur itu disandingkan dengannya.
Tangan kelima dayang, Panglima Goo dan Wen, serta Lon menempel pada tubuh Dra sebagai penyalur energi seluruh orang di tempat tersebut. Mata mereka terfokus pada Dra dan siap untuk menolong Kiarra. Mata Kiarra terpejam dengan tubuh meringkuk seperti janin dalam kandungan. Dra tersenyum saat menyentuh telur kristal berisi raga kakaknya itu.
"Nee ... bareka leka gee ... Kaa ... jora-jora ...," ucap Dra dengan mata terfokus pada Ram.
"Nee ... bareka leka gee ... Kaa ... jora-jora ...," sahut semua orang menirukan ucapan Dra.
"Nee ... bareka leka gee ... Kaa ... naga-naga."
"Nee ... bareka leka gee ... Kaa ... naga-naga."
Dra mengulang dua kalimat itu secara terus-menerus. Lantunan bagaikan lagu tersebut membuat perhatian Ram teralih karena suara penduduk makin santer terdengar. Ia melihat cahaya biru muncul dari tubuh orang-orang yang berkumpul di kejauhan dekat benteng istana. Ram berusaha menyingkirkan para Grr yang terus menyerangnya, di mana keberadaan Kiarra tak tertangkap matanya.
"Mantra itu ...," gumam Ram seraya melebarkan mata dengan seekor Grr dalam genggaman tangan kanan.
Benar saja, "GOARRR!"
"Dia datang!" seru Lon dengan mata berbinar saat melihat raksasa terbesar di Negeri Kaa muncul yang membuat Ram mematung seketika.
***
__ADS_1
makasih tipsnya jeng Reina😍 ya ampun mau setor satu bab aja dr kmrin gak sempet terus pdhl udh ditulis sejak beberapa hari yang lalu. sampai telat infoin jawaban GA. maaf ya gaes😩 kegiatan Ramadhan di Jogja menguras waktu uyy😁 trims sudah sabar menunggu❤️