Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Tak Terduga*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Kenta menggunakan bahasa campuran.


Di hutan kabut putih.


Wilayah hutan kabut putih tak terpengaruh oleh adanya bulan merah atau ungu. Satu-satunya tempat dengan kondisi iklim yang berbeda dan mirip dengan Bumi. Kenta menatap pancaran cahaya menyilaukan di kejauhan dari atas kapal balon udara ciptaan para Nym. Kol dan para pengungsi Tur dibuat takjub karena tempat tinggal para peri sangat berbeda dengan Negeri Kaa yang mereka ketahui. Hanya saja, karena wilayah tersebut terdapat beberapa partikel yang tak bisa sembarangan ditinggali oleh manusia, membuat hutan kabut putih cukup berbahaya bagi manusia. Terkecuali, Kenta.



"Kenapa kau menatapku seperti itu? Maaf, aku sudah memiliki kekasih dan dia adalah penyihir yang hebat," tanya Kenta karena ia menyadari jika dipandangi oleh seorang peri kupu-kupu yang terbang di hadapannya.


"Kenapa kau bisa bertahan di tempat ini? Berkah seperti apa yang Naga berikan padamu?" tanya peri tersebut.


"Aku, tidak, tahu. Aku pernah hidup di planet aneh sebelumnya, meski itu kloning. Jadi, anggap saja yang terjadi padaku ini seperti saat itu. Aku masuk dalam raga Wen, tetapi rohnya bukan. Mungkin karena itu aku bisa beradaptasi," jawab Kenta tenang.


"Aku merasakan darah naga mengalir dalam tubuhnya," ucap sang Ratu peri dengan jari-jari sulur melilit pada tali yang mengembangkan layar.


"Darah naga?" tanya Kenta mengulang karena tak tahu hal itu.


"Ya. Aku merasakan kau memiliki darah darinya. Kemari, aku ingin membuktikannya," pinta sang Ratu yang membuat mata semua makhluk di atas geladak kapal tertuju pada Kenta.


"Oke," jawab Kenta gugup seraya mendekati peri bertubuh pucat tersebut. Kenta menggulung lengan bajunya lalu mengulurkan tangan kanan. Tiba-tiba saja, tangan sulur peri bersayap biru itu melilit lengannya kuat sampai lengan pria Jepang tersebut tak terlihat. Mata peri itu menatap mata Kenta tajam. Seketika, "Arrghhh!" raung Kenta saat merasakan tangannya seperti tersayat.


Benar saja, ketika sulur peri tersebut terlepas, tampak sebuah sayatan besar di lengan bawah Kenta. Kol dan lainnya tertegun. Namun, mata Kenta membulat penuh ketika melihat darahnya berwarna ungu dan terdapat kelip seperti emas menaburinya.


"Kalian lihat itu?" tanya Kol heran.


"Seperti yang kubilang. Dia memiliki darah Naga. Warna seperti emas itu adalah berkah dari Naga. Kemampuan darinya yang telah masuk dalam raga Wen tak bisa dipindahkan ke orang lain," ucap sang Ratu lalu kembali duduk di tiang layar.

__ADS_1


Kenta meraba darah di lengannya. Perlahan, luka robekan itu tertutup kembali. Semua orang makin kagum karena Kenta seperti memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri.


"Kudengar, Jenderal Kia juga memiliki kemampuan untuk memulihkan diri dengan cepat. Bisa jadi, kau dan Jenderal Kia mendapatkan berkah dari Naga berupa darahnya," ucap Kol menjelaskan.


"Wow, itu keren," ucap Kenta kagum lalu bertolak pinggang. Semua orang terdiam karena lagi-lagi, pria di depan mereka berbicara menggunakan bahasa yang aneh.


Di langit perbatasan wilayah Tur dan Yak. Tepat saat bulan merah bercahaya terang.


Burung yang dikirim oleh Putri Xen tertangkap saat melintasi perbatasan Tur dengan Zen. Meskipun burung tersebut tetap bungkam sampai ajal menjemput, tetapi Kapten Mos tahu jika Yak mengirimkan pesan rahasia kepada salah satu kerajaan.


"Hem, sepertinya Yak mulai khawatir dengan pergerakan kita. Memang seharusnya begitu, Putri Xen. Sebuah kesalahan kau membelot dari ayahmu. Kini, kau harus menanggung akibatnya," ujar Kapten Mos usai mencekik leher pengirim pesan hingga tewas dalam genggaman tangan besarnya.


"Lalu, sekarang bagaimana, Kapten?" tanya salah seorang prajurit yang pertama kali melihat burung tersebut melintas di atas balon udara pasukan lain.


"Terus bergerak sesuai tujuan. Kita tak akan kalah," ucap sang Kapten yakin lalu melemparkan burung malang itu dari gondola balon udaranya.


Serangan yang datang dari Tur tanpa peringatan, membuat pasukan Zen kalang kabut ketika mereka sedang mengumpulkan perbekalan untuk dikirim ke wilayah-wilayah perbatasan sebagai bentuk persiapan serangan Tur. Sayangnya, mereka kalah cepat dan tak siap ketika serangan balon udara datang. Rak yang memilih tinggal karena menunggu kepulangan Kenta, kini dibuat kewalahan karena kerajaan emas itu diserang oleh pasukan Tur.


"Hah, hah, saro ... saro ...."


BRUKK!!


"Penyihir Agung!" panggil seorang prajurit Zen saat melihat satu-satunya penyihir yang melindungi kerajaan itu kini ambruk karena kelelahan akibat terus-menerus mengerahkan sihirnya.


Mata biru Rak meredup saat ia dibopong oleh prajurit tersebut untuk diamankan. Rak dilindungi dan dibawa menjauh dari area pertempuran di mana pasukan Tur sudah berhasil menjebol dinding terluar karena menggunakan balon udara sehingga tak bisa dijangkau oleh para prajurit Zen.


"Hahaha! Zen akan menjadi milik Tur!" seru Kapten Mos lantang di atas gondola balon udara.

__ADS_1


Armada terbang atas ide Kenta yang berhasil ditiru itu, telah diperbanyak oleh para sipil Tur yang dipekerjakan sebagai pembuatnya. Balon udara ciptaan Tur lebih garang dan kuat. Bagian keranjangnya dilapisi besi layaknya tameng sehingga serangan anak panah tak merusak keranjang. Lalu bagian atas atau envelope juga dilapisi oleh kulit Ggg yang tebal sehingga anak panah tak bisa menembus.


Namun, hal tersebut membuat balon udara tersebut tak bisa menampung banyak orang seperti sebelumnya karena banyaknya lapisan pelindung. Beban pada balon udara lebih banyak dan Tur menyadari hal tersebut.


BOOM! BOOM! BUZZ!


"Ohok! Ohok!"


Para prajurit Zen yang berperang di bawah sana terkena bom asap beracun. Para prajurit Tur melemparkan kantong-kantong berisi serbuk racun di mana bagian atasnya terdapat sumbu. Api dinyalakan saat kantong itu dijatuhkan dan meledak di tengah kerumuman. Para prajurit Tur yang telah meminum penawar sebelum memasuki wilayah Zen tak terkena dampak. Mereka bergerak dengan gesit dan berhasil memasuki istana.


"Arghhh!"


Suara rintihan saat tubuh tertembus ujung pedang yang tajam terdengar bersahut-sahutan hampir di seluruh penjuru istana. Jumlah para prajurit Zen menurun drastis akibat hilangnya pemimpin utama mereka—Kenta—dan hanya meninggalkan para kapten pasukan biasa. Tur yang telah membekali para pasukannya dengan persenjataan baru termasuk penggunaan balon udara, menjadi lawan tangguh dan tak sepadan bagi Zen. Kapten Mos bisa melihat kemenangan sudah di depan mata. Para prajurit Zen tewas tergeletak di beberapa tempat akibat kebuasan anak buahnya.


Di sisi lain. Pemukiman warga ikut terkena imbas saat para manusia setengah binatang itu menyerang rumah-rumah mereka. Warga ditangkap dan diseret paksa menuju halaman istana. Jika ada sipil yang nekat melawan, para prajurit Tur tak segan merenggut nyawa mereka dan meninggalkan mayat tersebut begitu saja.


Suara tangis dan jeritan duka menyeruak di seluruh wilayah Zen. Balon udara yang ditumpangi Kapten Mos mendarat usai melihat bendera Zen dibakar oleh salah satu pengikutnya. Pria itu menyeringai ketika bendera Tur berhasil dikibarkan di menara.


"Kapten!" panggil salah satu pemimpin pasukan manusia setengah serigala mendekat.


"Kumpulkan dan penjarakan seluruh warga! Kita akan jadikan mereka pertukaran!" titah Kapten Mos usai melihat para prajuritnya berhasil menguasai istana Zen.


"Laksanakan!"


Orang-orang diikat dan ditarik paksa. Mereka dibawa ke ruang bawah tanah tempat penjara Zen berada. Namun, tanpa sepengetahuan Kapten Mos dan pengikutnya, Rak bersama beberapa orang berhasil lolos. Mereka menggunakan terowongan menuju ke tempat penggalian emas. Rak dinaikkan ke sebuah gerobak kayu dan dilindungi oleh sebagian pemberontak Tur dan orang-orang Zen.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE.


__ADS_2