Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Satu Lawan Satu*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Akan tetapi, tiba-tiba saja, di balik kepulan asap pekat itu, lesatan anak panah api meluncur ke atas dan tepat mengenai envelope atau bagian atas yang menggembung karena udara panas. Para prajurit Tur tertegun karena mereka mendapat serangan tak terduga dari bawah.


"Mereka masih hidup!" teriak salah satu prajurit Tur ketika melihat beberapa orang di bawah sana melesatkan anak panah menggunakan api dari balok yang mereka lemparkan.


"Sial, senjata makan tuan," geram Gor karena kini mereka tak bisa menambal robekan lagi karena habis bahan.


"Jenderal! Kita akan jatuh!" teriak salah satu prajurit Tur panik karena balon udara yang mereka tumpangi mulai terbang tak terkendali dan terbakar.


"Siapkan diri! Kita akan jatuh dengan keras!" teriak Gor yang mengejutkan sekumpulan manusia setengah binatang tersebut.


Gor dan anak buahnya berpegangan erat pada gondola atau keranjang kayu berisi para penumpangnya. Saat balon udara siap menghantam permukaan, Gor dengan sigap melompat.


"Lompat!" teriaknya usai usahanya berhasil meski harus bergulung-gulung di atas tanah.


"Harghh!" teriak para prajurit Tur mengikuti perintah dari sang komandan.


Gor dengan sigap mengambil senjatanya yang jatuh di tanah karena sengaja ia lemparkan.


"Berkumpul! Kita akan menyerang benteng!" teriak Gor lantang.


"Yeahh!" jawab pasukan Tur bersiap.


"Serang!" seru Gor memulai aksi penyerangan.


Di tempat Laksamana Noh berada.


"Mereka datang. Tetap di posisi, tak perlu maju untuk serangan jarak dekat. Jumlah mereka masih lebih banyak dari kita!" ucap sang Laksamana dan para prajuritnya mengangguk paham.


Mereka bersembunyi di belakang puing reruntuhan. Orang-orang itu sengaja tak menaiki benteng karena pijakan tersebut retak. Para prajurit khawatir mereka malah akan tertimbun dan memilih untuk bertarung di lapangan depan benteng.


"Bersiap!" seru Laksamana Noh yang mengintip dari balik kepulan asap hitam dengan api masih berkobar di beberapa tempat. Para prajurit Vom siap melesatkan anak panah. Hanya saja, jumlah yang sedikit, membuat mereka khawatir jika tak mampu bertahan. "Tembak!"


SHOOT! SHOOT!


JLEB! JLEB! JLEB!


"Arghh!"


Para pasukan Tur yang berlari dengan senjata dalam genggaman, siap untuk membantai lawan, satu per satu roboh karena anak panah prajurit Vom berhasil mengenai bagian tubuh yang tak terlindungi.


"Tameng!" teriak Gor lantang yang telah menenteng sebuah perisai dalam genggaman tangan kiri dan kapak di tangan kanan.


Para prajurit Tur serempak mengangkat tameng untuk melindungi tubuh mereka dari serangan anak panah. Gor akhirnya berhenti dan menunggu datangnya prajurit Tur untuk bergabung dengannya. Mereka membentuk blokade perlindungan layaknya tempurung besi dengan tameng menutupi tubuh.


"Dalam hitungan tiga, kita bergerak ke depan!" titah Gor.


"Hoiii!" jawab pasukan Tur yang masih tersisa 19 orang lantang.


"Satu, dua, tiga!"


BRUG! BRUG! BRUG!


Suara sepatu lapis besi saat menghentakkan kaki ke tanah, membuat ketegangan sendiri bagi lawan. Anak panah dari pasukan Vom telah habis dan mereka tak lagi bisa menyerang dari jarak jauh. Laksamana Noh mulai panik dan melihat ketakutan di balik wajah para prajuritnya.

__ADS_1


"Masih ada waktu! Cepat pergi dan kabarkan hal ini kepada Vom! Minta mereka semua bersiap!" seru Noh, tetapi mengejutkan anak buahnya.


"Lalu, bagaimana dengan Anda, Laksamana?" tanya kapten pelindung benteng.


"Aku akan melakukan hal gila dan tak ingin kalian terlibat. Pergilah, jangan sia-siakan kesempatan berharga ini," tegasnya menatap sekumpulan prajurit Vom yang tersisa 9 orang dengan mata melotot.


"Baik!" jawab para prajurit Vom.


Sembilan orang dari mereka berlari meninggalkan area pertempuran menuju Vom. Sang Laksamana menutupi kepergian para prajuritnya dengan membuat kepulan asap semakin tebal. Gor yang mengintip dari celah tameng mulai menyadari jika tak ada serangan dari para pemanah lagi.


"Berhenti!" teriaknya lantang.


Laksamana Noh akhirnya menunjukkan diri di depan benteng. Gor keluar dari balik tameng yang melindunginya. Ia menatap Laksamana Noh tajam dengan kapak dalam genggaman.


"Tunjukkan kehebatanmu! Kita bertanding satu lawan satu!" ajak Noh dengan pedang dalam genggaman.


"Jika aku menang, wilayah ini menjadi milikku," tegas Gor. Mata Laksamana Noh menyipit.


"Jika aku menang, kalian kembali ke Tur dan jangan pernah datang lagi!" jawab Noh lantang.


"Sepakat."


Gor memberikan isyarat kepada pasukannya untuk membentuk lingkaran mengepung mereka berdua. Laksamana Noh maju untuk menantang pria gorila yang diyakini adalah pemimpin pasukan penyerang Tur dengan balon udara. Para prajurit Vom berhasil meninggalkan peperangan tanpa diikuti oleh pasukan Tur. Sedangkan para penunggang Eee, harus melihat pemimpin mereka berduel satu lawan satu sembari menahan sakit di sekujur tubuh karena jatuh dari ketinggian.


Laksamana Noh dan Jenderal Gor saling bertatapan tajam. Napas mereka memburu. Tangan-tangan perkasa itu menggenggam kuat senjata masing-masing dengan keringat mulai membasahi gagang. Dua kaki memijak kuat daratan sebagai penopang tubuh mereka. Seketika ....


"Heahhh!"


"Gaarrr!"


Laksamana Noh berlari kencang, siap untuk mengayunkan pedangnya. Gor menyambut ajakan itu dan ikut mengayunkan kapaknya dengan tangan kanan.


TANG!!


"Heahhh!"


BUKK!


"Hor! Hor! Hor!"


Kapak dan pedang itu saling bertemu. Kedua senjata tajam tersebut tak mau mengalah. Terpaksa, sang empu melakukan serangan tambahan dengan menendang dada lawan menggunakan satu kaki kanan sehingga lawannya terdorong. Kapak dan pedang dua pemimpin pasukan terlepas ketika Laksamana Noh berhasil membuat kedudukannya unggul dalam sesi ini.


"Garrr!" raung Gor seraya memukul dadanya dengan tangan kiri.


Gor kembali berlari dan kini memegang gagang kapak dengan dua tangannya. Laksamana Noh bersiap dengan ikut menggenggam gagang pedang menggunakan dua tangannya. Ia menekuk dua kakinya dengan posisi menyamping. Pedang tajamnya ia angkat ke atas, terarah lurus ke tubuh lawan seperti siap menusuk.


"Harghhh!" raung Gor sembari melompat dan siap membelah sang Laksamana dengan gerakan tegak lurus.


Kepala Noh mendongak. Ia melihat gerakan itu. Kakinya bergerak cepat dan membuat tubuhnya berkelit ke samping kiri dengan cepat.


TANG!


Serangan Gor gagal. Kapaknya menancap di tanah dengan posisi tubuh membungkuk. Kepalanya spontan menoleh ke sisi kiri di mana sang Laksamana dengan sigap mengarahkan ujung pedang untuk menusuknya dari samping.


KLANG!


"Herrghhh!" erang keduanya saat Gor dengan sigap menahan ujung pedang mematikan itu dengan bilah dari satu sisi kapaknya.

__ADS_1


Kaki Gor sampai tertekuk dan membuatnya berlutut. Dua tangannya menahan kapak agar ujung pedang itu tak mengenai wajah.


DUAKK! BUKK! BRUKK!


"Argh!"


"Laksamana!" teriak Aim si pemimpin penunggang Eee panik.


Lutut Noh ditendang oleh salah satu kaki Gor saat ia menjatuhkan diri tiba-tiba. Laksamana Noh yang kehilangan keseimbangan tak menyadari gerakan itu. Gor dengan sigap memukul tangan Laksamana yang memegang pedang sehingga tubuhnya jatuh ke samping. Gor segera bangkit dan memukul kepala sang Laksamana dengan gagang kapak lalu menjatuhkannya.


Para prajurit Tur yang berada di sisi kanan langsung mengarahkan ujung pedang mereka ke kumpulan penunggang Eee yang tengkurap di atas tanah karena orang-orang itu seperti siap melawan.


"Jangan mengganggu! Ini pertarunganku!" teriak sang Laksamana yang kembali berdiri tegap usai dirinya berhasil dijatuhkan.


Laksamana Noh berdiri dengan mata terbuka tertutup karena merasakan sakit di kepala samping. Gor mengangkat kapaknya tinggi dan berteriak lantang untuk menunjukkan keperkasaannya kepada para prajurit. Laksamana Noh berhasil berdiri meski kepalanya bergeleng berulang kali untuk mengembalikan kesadarannya. Saat matanya terfokus pada para penunggang Eee di kejauhan, ia menggerakkan bibirnya. Aim sang kapten, melihat isyarat itu. Ia mengangguk pelan dan perlahan merayap ke samping saat prajurit Tur yang tadi membidiknya kembali menghadap ke depan untuk ikut menyemangati Gor.


"Senjata terlepas dari tangan, dia pemenangnya, Laksamana Noh," ucap Gor seraya menunjuk dengan kapaknya.


"Aku tahu," jawabnya garang.


Gor tersenyum miring. Ia kembali bersiap dengan tubuh membungkuk. Laksamana Noh menarik napas dalam dan kembali berlari untuk menyerang.


"Hargghhh!"


"Gaarrr!"


KRASS!


"Arrghhh!"


"Hor! Hor! Hor!"


Laksamana Noh jatuh dengan keras sampai pedangnya terlepas. Meskipun ujung pedangnya berhasil menancap di lengan kiri Gor, tetapi salah satu kakinya terpotong. Noh meraung kesakitan memegangi kaki kanannya yang tak lagi sempurna. Darah mengucur deras dan membuat tubuh sang Laksamana menegang.


CRATT! KLANGG!!


Gor menarik pedang sang Laksamana yang menancap di lengannya sampai tertembus ke belakang. Darah menetes deras dari luka itu, tetapi kapak sang manusia gorila masih digenggam kuat. Noh menggelepar di tanah berusaha untuk bertahan meski tak mampu berdiri lagi karena bagian bawah lutut hilang.


"Wilayah ini milikku! Haarghhh!" raung Gor dengan kapak kembali ia naikkan ke atas.


Laksamana Noh terlihat begitu kecewa karena gagal untuk membuat lawannya tumbang. Gor mendatangi sang Laksamana yang terkulai lemas di atas tanah lalu menarik kuat lapisan baju tempur di bagian bahunya.


"Errghhh!" rintih Noh saat ia diseret dan didekatkan ke para penunggang Eee yang sama menderitanya dengan dia.


"Kalian orang-orang lemah, tak pantas untuk menduduki wilayah ini. Tempat ini, kini menjadi milik Tur. Berani kalian merebutnya, Vom akan menjadi sasaran berikutnya," ucap Gor saat ia mendorong tubuh Laksamana di depan Aim.


Gor beranjak dan berjalan dengan gagah meninggalkan orang-orang gagal itu. Laksamana Noh memejamkan matanya rapat menahan sakit dan rasa malunya karena gagal mempertahankan benteng. Saat Aim dan anak buahnya yang tersisa berusaha untuk bangkit memberikan semangat, muncul para penduduk desa yang berlari ke arah mereka. Mata Gor melebar melihat orang-orang itu membantu Noh dan prajurit Eee untuk diamankan.


"Hentikan mereka!" teriak Gor lantang.


"Haarghhh!" teriak para prajurit Tur yang dengan sigap berlari untuk menyerang Noh dan lainnya.


Praktis, kepanikan kembali terjadi karena mereka akan dibantai.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (OpenArt)

__ADS_1


__ADS_2